INICIAR SESIÓN
"Mas, aku mohon… jangan lakukan ini padaku.”
Kemuning berlutut, memeluk erat kaki Liam. Suaranya lirih, bergetar, hampir tak terdengar. “Ingat, aku ini istrimu, Mas.” “Diam!” sentak Liam kasar. Tangannya menarik tubuh Kemuning hingga terguncang. “Aku tidak peduli, meski kau menangis darah sekalipun. Kau hanya wanita pembawa petaka dalam hidupku. Mengerti?” Air mata Kemuning jatuh tanpa henti. Tubuh kecilnya tak sanggup melawan cengkeraman tangan kekar suaminya. Pria yang setahun lalu mengucap janji suci itu kini menatapnya tanpa sisa rasa. “M–Mas… aku dibawa ke mana?” tanyanya di sela isak. “Berisik,” dengus Liam. “Kau ingin tahu aku membawamu ke mana?” Tubuh Kemuning kembali diguncang kasar. “I–iya… aku ingin tahu.” “Oke.” Senyum tipis terukir di bibir Liam. “Aku akan menjadikanmu sebagai jaminan.” “Jaminan?” Kemuning tertegun. “Maksud Mas apa? Bagaimana bisa aku dijadikan jaminan?” “Mudah.” Tatapan Liam dingin. “Aku serahkan kau pada mereka. Setelah itu, semuanya aman.” “Nggak… aku nggak mau, Mas.” Kepalanya menggeleng cepat. “Jangan libatkan aku dalam masalahmu. Aku mohon.” “Berhenti merengek.” Nada Liam meninggi. “Suaramu memekakkan telinga. Cepat masuk. Jangan uji kesabaranku.” Kemuning terisak, namun masih mencoba bertahan. “Mas… sebelum kamu lakukan ini, jawab satu pertanyaanku.” “Apa lagi?” bentak Liam. “Apa sedikit pun… Mas pernah mencintaiku?” Liam tertawa keras. “Hahaha! Kau benar-benar wanita aneh.” Ia menatap Kemuning penuh ejekan. “Kau pikir aku menikahimu karena cinta? Jangan naif. Aku tidak tertarik pada perempuan sepertimu.” Matanya menyapu Kemuning dari ujung kepala hingga kaki. “Lihat penampilanmu. Cih. Aku punya tunangan. Dia wanita berkelas, cantik. Tidak seperti kamu.” Dorongan keras membuat tubuh Kemuning terjerembab ke lantai. Perlakuan kasar itu sudah menjadi hal biasa selama pernikahan mereka. “Tuan Liam, Anda sudah datang?” Seorang pria berbadan besar mendekat. “Siapa wanita yang Anda bawa?” “Dia yang akan Anda jadikan taruhan?” sambung pria lain. “Hutang Anda sangat besar pada tuan kami. Bagaimana Anda akan melunasinya?” “Ta–taruhan?” napas Kemuning tersengal. “Mas… jangan. Aku mohon…” Takut merayap cepat. Tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi kulit. Jadi inikah maksud Liam menjadikannya jaminan? “Katakan pada tuanmu,” ujar Liam tenang, “dia tidak akan kecewa dengan taruhan ini.” “Hahaha!” Pria berkulit gelap itu tertawa meremehkan. “Wanita bercadar kau jadikan taruhan? Kau pikir tuan kami buta?” “Bawa pergi wanita tidak berguna itu. Bawa wanita yang semalam bersamamu.” “Tidak!” Liam segera menghalangi. “Dia tunanganku. Jangan sentuh dia.” Kemuning memejamkan mata. Bahkan di saat genting ini, Liam masih melindungi wanita lain. “Wanita ini punya tubuh dan wajah bagus,” ujar Liam sambil mendorong Kemuning ke depan. “Kalian bisa lihat sendiri.” Kepala Kemuning membentur lantai. Cairan merah mengalir dari pelipisnya. Kali ini, tak ada lagi tangisan. Hanya pasrah. Dua pria berbaju hitam mendekat. Salah satu menarik lengannya hingga berdiri. “Kalian bisa lakukan apa pun padanya,” kata Liam dingin. “Bahkan jika kalian ingin melukainya, aku tidak peduli.” “Aku boleh pergi sekarang, kan? Aku sudah membawa taruhannya. Sebagai gantinya, aku bawa kekasihku.” “Tidak bisa,” sahut pria berkacamata hitam. “Kami harus memeriksanya terlebih dahulu sebelum diserahkan pada tuan kami.” Tangannya terulur ke arah cadar Kemuning. “Tenang saja,” Liam berkata. “Dia barang bagus. Tidak jauh berbeda dengan tunanganku.” Tatapan Liam tanpa sengaja bertemu dengan mata Kemuning. Iris sendu itu menatapnya lurus. Air mata menetes membasahi cadarnya. Sial. Liam memalingkan wajah. Ada dorongan asing yang membuat dadanya terasa sesak. Jika ini akhir takdirku… aku ikhlas, batin Kemuning. “Tunggu!” Semua mata tertuju pada Liam. “Aku terima taruhan ini,” lanjutnya. “Aku serahkan dia padamu. Lakukan apa pun. Aku tidak punya hubungan apa pun lagi dengannya.” “Kau akan pergi?” tanya pria berkacamata. “Ya.” “Tanda tangani ini,” katanya sambil menyerahkan dokumen. “Sekali kau melewati pintu itu, tidak ada jalan kembali. Dia akan menjadi milikku selamanya.” Liam menandatangani tanpa ragu. “Menyesal?” Ia tertawa kecil. “Tentu tidak. Justru aku lebih bahagia jika dia lenyap dari hidupku.” “Karena sejak dia ada… hidupku hancur.” Kemuning berusaha mendekat, meski kakinya gemetar. “Mas… aku istrimu.” Suaranya hampir habis. “Tolong jangan tinggalkan aku di sini. Jika perlu, ceraikan aku. Aku janji tak akan mengusik hidupmu lagi.” Air mata jatuh di lantai dingin. Namun Liam tak menoleh sedikit pun."Sayang aku mau shoping, Kamu bisa antar aku kan?" manja Sabrina, tanpa malu di lihat pelayan di rumah Liam."Aku tidak bisa sayang, kamu pergi sendiri ya, nanti aku transfer akan aku lebih kan untukmu sayang. Beli apapun yang kamu mau," ucap Liam tanpa berfikir dua kali. Jika apa yang di lakukannya itu akan menjadi boomerang untuknya di masa depan."Nah kalau kayak gini aku makin cinta sama kamu Liam. Oh, ya gimana wanita itu? Kenapa kamu selalu mengulur waktu untuk menceraikannya. Kapan aku jadi istri kamu Liam, aku capek harus kayak gini terus!" Kesal Sabrina, siapa yang tidak ingin menjadi istri dari Liam Pratama. Seorang pewaris tunggal dari kekayaan keluarga Pratama yang kini jatuh menjadi miliknya. Kekayaan yang begitu banyak hingga tidak akan habis jika untuk memanjakan kekasihnya."Sayang kamu tahu pengacara keluargaku itu gimana hum? Dia orang kepercayaan ibu, kalau sekarang aku ceraikan Kemuning maka semua harta ini akan menjadi milik Kemuning, apa kamu mau aku miskin?" kat
Keesokan harinya matahari bersinar lembut, tapi suasana di rumah Ardan tetap terasa dingin, seperti pemiliknya. Kemuning duduk di meja makan, memainkan sendok di atas piringnya yang hampir kosong. Sarapan sudah disiapkan oleh pembantu rumah tangga, tetapi nafsu makannya hilang sejak kejadian semalam. Suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah tangga. Tanpa perlu menoleh, Kemuning tahu itu Ardan."Lambat sekali makannya," suara dingin Ardan langsung memecah keheningan. Ia berdiri di ambang pintu ruang makan, menatap tajam ke arah Kemuning. "Kalau tidak mau makan, jangan buang-buang makanan. Peliharaan ku masih membutuhkan makanan itu." Kemuning mengangkat wajahnya pelan, menatap pria itu hanya sedetik lalu kembali menunduk. "Maaf. Kalau Anda tidak suka, jangan lihat, maksudku, Anda tidak akan melihat ini lagi," balasnya bergetar. Namun sarat akan keberanian di dalamnya.Ardan terdiam sesaat, lalu bibirnya melengkungkan senyum tipis yang sinis. "Oh, jadi sekarang kamu punya nyali
Pertanyaan Liam meluncur tiba-tiba, disertai lirikan tajam ke arah dapur. Dari sudut matanya, ia menangkap bayangan Kemuning yang sempat bergerak sebelum kembali bersembunyi di balik dinding. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya senyum yang selalu membuat Kemuning merinding.Namun sebelum Liam sempat melangkah lebih jauh, suara Ardan menghantam udara dengan dingin.“Dia lebih aman di sini daripada bersamamu.”Ardan berdiri tegak, sorot matanya mengeras. “Dan satu hal lagi. Apa pun yang aku lakukan padanya adalah urusanku. Bukan urusanmu lagi. Jangan pernah bertanya tentang dirinya. Mengerti?”Liam terdiam sesaat, lalu tertawa ringan, seolah ucapan itu hanya lelucon.“Bagus kalau begitu,” katanya santai. “Pastikan kau menjaganya baik-baik, ya.”Ia menyipitkan mata, menatap Ardan penuh selidik. “Tapi jujur saja, aku heran, Tuan Muda. Sejak kapan kau tertarik pada perempuan seperti dia? Jangan-jangan… kau jatuh cinta?”Sabrina ikut terkikik, kukunya mencengkeram lengan Liam.“Kau tahu
Hari-hari berlalu sejak kejadian beberapa hari lalu saat makan malam. Tidak ada komunikasi berarti di antara mereka. Jika pun ada, hanya satu dua kata itu pun sebatas hal penting.Kemuning perlahan mulai terbiasa dengan kehidupan barunya di rumah Ardan. Pria irit bicara itu hampir selalu menghilang sepanjang hari. Namun, ada sesuatu tentang dirinya yang membuat Kemuning diam-diam merasa penasaran. Ia sering melihat Ardan membawa sebuah kotak kecil benda yang selalu ia jaga dengan sangat hati-hati, seolah menyimpan sesuatu yang berharga.Suatu malam, saat Kemuning sedang duduk di ruang tamu, ia mendengar suara langkah kaki di luar. Ia mendekat ke jendela dan melihat Ardan berdiri di taman, berbicara dengan seseorang. Jarak yang terlalu jauh membuatnya tak mampu menangkap satu pun kata dari percakapan itu.Rasa penasaran mendorongnya membuka pintu dan melangkah keluar. Namun belum sempat ia mendekat, Ardan tiba-tiba menoleh. Tatapannyatajam, seperti elang yang menangkap mangsanya.“Kem
“Kamu benar sekali, Mas. Kita akhirnya mendapatkan apa yang kita inginkan,” ujar Sabrina sambil tertawa kecil. “Tidak sia-sia aku jadi simpananmu. Huff, enak sekali rasanya.” Ia mendengus kesal. “Aku iri padanya. Wanita itu bisa tinggal di rumahmu hanya karena ibumu yang menyebalkan. Coba saja sejak awal ibumu merestui hubungan kita.” Liam terkekeh, menarik Sabrina ke dalam pelukannya. “Sudahlah, Sayang. Jangan diingat lagi,” ucapnya ringan. “Sekarang kita sudah bersama. Sebentar lagi kita akan mengadakan pesta besar. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa kamulah istriku.” Ia mengangkat gelas minumannya tinggi-tinggi. “Malam ini pesta untukmu. Menyambut kembalinya Sabrina, wanita yang paling aku cintai!” ujarnya lembut."Liam, kau yakin tidak menaruh hati padanya? Aku takut. Takut, kau memiliki rasa saat tinggal bersama, aku tahu bagaimana ibumu yang menginginkan dia menjadi istrimu," rengek Sabrina manja. Terbesit rasa takut jika diam-diam Liam menyukai Kemuning, mengingat merek
“Sampai kapan pun aku tidak akan peduli,” ucap Liam dingin. “Justru tempat ini yang paling pantas untukmu. Supaya kamu tahu rasanya hidup tersiksa. Itulah yang aku rasakan saat harus menerima perempuan sepertimu menjadi istriku.”Hati Kemuning terasa seperti diremas. Dadanya sesak.“Dia akan menjadi milikmu,” lanjut Liam tanpa ragu. “Aku tidak peduli bagaimana kau memperlakukannya di sini. Ingat satu hal—dia masih bersegel.”Kalimat itu seperti cambukan. Liam bahkan tidak menganggapnya manusia.“Sekarang tidak ada lagi urusan di antara kita,” sambungnya santai. “Hari ini semuanya selesai. Dia milikmu. Kau bahkan bisa menjualnya. Percayalah, dia wanita cantik meskipun aku tidak pernah melihat wajahnya.”Air mata Kemuning jatuh tanpa bisa ditahan.Suaminya, pria yang seharusnya melindunginya, justru dengan ringan menyuruh orang lain menjual dirinya. Tak ada lagi yang perlu dipertahankan.Perlahan, jemarinya gemetar saat tali cadar itu terlepas. Runtuh sudah seluruh kehidupannya.Apa yan







