LOGINMalam sudah benar-benar tenang ketika mereka berdua akhirnya rebahan di ranjang, bukan dengan suasana lelah seperti beberapa hari sebelumnya, tapi lebih ke kondisi “selesai semua urusan hari itu”. Aira bersandar di dada Dipta, posisinya santai, satu tangannya main pelan di ujung selimut, sementara Dipta menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Lampu kamar sudah diredupkan, menyisakan cahaya hangat yang bikin suasana terasa lebih pelan dari biasanya, tidak ada pembicaraan besar. Sampai Dipta tiba-tiba membuka suara. “Kalau kita honeymoon gimana?” Aira yang sedang santai langsung berhenti sejenak. Dia mengangkat sedikit kepalanya, menoleh ke arah Dipta. “Honeymoon?” ulangnya pelan. Dipta mengangguk, tetap tenang. “Iya.” Aira diam sebentar. Bukan karena tidak mengerti, tapi karena kalimat itu terasa agak… terlambat, dalam arti yang tidak buruk, hanya saja baru sekarang muncul di tengah hidup yang sudah cukup panjang mereka jalani. Dia menghembuskan napas pelan. “Kita honeymoon s
Begitu keluar dari kamar mandi, Dipta hanya menemukan kamar yang sudah rapi, rapi dalam versi Aira yang khas. Tidak berantakan, tapi juga bukan tipe rapi yang “hotel banget”. Ada sentuhan hidup di sana, tas yang sudah kembali ke tempatnya, bed cover yang sedikit dirapikan, dan aroma samar sabun yang masih tertinggal di udara tapi Aira tidak ada di sana. Dipta berhenti sebentar di tengah langkah. Matanya menyapu kamar, kosong tidak ada tanda-tamda Aira disana. “Ke dapur lagi…” gumamnya pelan, sudah bisa menebak tanpa perlu banyak berpikir. Dia menghela napas kecil, lalu berjalan santai keluar kamar, masih dengan rambut setengah kering dan pakaian rumah yang sederhana. Cincin di jarinya sesekali memantulkan cahaya saat tangannya bergerak, seperti detail kecil yang sebenarnya tidak dia sadari tapi terus “ikut ada”. Begitu sampai di area dapur, benar saja. Aira sudah di sana. Suasana dapur terbuka itu hangat, bukan hanya karena kompor yang menyala, tapi juga karena suara kecil aktivi
Saat Aira masih di kamar mandi, suara air yang jatuh ke lantai keramik memenuhi kamar mandi dengan ritme yang stabil. Rumah sudah kembali tenang, hanya tersisa suara itu dan napas lelah dari dua orang yang baru saja menjalani hari cukup panjang dengan cara masing-masing. Dipta masuk kamar dengan langkah pelan. Dasinya sudah dilepas, jasnya disampirkan di kursi, dan dua kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka. Bukan karena gaya, tapi lebih ke tubuhnya yang butuh ruang untuk bernapas setelah seharian penuh aktivitas dan perjalanan. Begitu masuk, matanya langsung menangkap satu hal, tas Aira tergeletak di atas ranjang, seperti biasa. Dipta hanya tersenyum kecil. “Habit baru…” gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar. Dia mendekat, merapikan posisi tas itu sedikit ke sisi ranjang, seolah kalau tidak dia rapikan, nanti Aira sendiri akan lupa dan menumpuknya dengan barang lain lagi. Tangannya baru saja hendak menarik tas itu sedikit ketika matanya berhenti pada sebuah paperbag kecil di s
Begitu Aira masuk ke butik perhiasan itu, suasananya langsung terasa tenang dan rapi lampu hangat, kaca-kaca display yang memantulkan kilau emas dan berlian, serta pelayan toko yang menyambut dengan senyum sopan. Aira awalnya tidak langsung bicara banyak. Dia hanya berjalan pelan, melihat-lihat beberapa cincin yang dipajang, sampai akhirnya matanya berhenti di satu etalase khusus. Cincin yang ada di jari manisnya sendiri. Bukan yang baru dia pakai hari ini, tapi yang sudah lama bersama dia. Yang Dipta berikan, yang tidak pernah dia benar-benar pikirkan “nilai” nya, karena sejak awal itu terasa lebih seperti sesuatu yang personal. Aira menoleh ke pelayan toko. “Kalau model cincin kayak yang ini… kira-kira harganya berapa ya?” Pelayan itu sedikit terdiam. Matanya langsung fokus ke cincin di jari Aira, ada jeda sejenak terlihat. “Boleh saya lihat sebentar, Nyonya?” Aira mengangguk, lalu dengan hati-hati melepas cincinnya dan menyerahkannya. Gerakannya pelan, hampir refleks menjaga s
Sore itu udara Jakarta tidak terlalu panas, tapi juga tidak benar-benar sejuk. Cukup nyaman untuk keluar sebentar setelah seharian berada di rumah dan kantor. Aira sudah siap lebih dulu. Kuncir rambut sederhana, kaos santai, dan daftar belanja di ponselnya yang entah sudah sepanjang apa. Dipta baru keluar dari kamar kerja setelah dipanggil dua kali. “Ayo, belanja bulanan.” Dipta melirik sekilas. “Belanja bulanan?” Aira langsung mengangguk. “Iya. Yang di rumah itu udah hampir habis semua.” Dipta berjalan mendekat, melihat layar ponsel Aira yang penuh catatan. “Sejak kapan jadi sepanjang itu?” Aira menatapnya datar. “Sejak kamu nggak tinggal sendiri lagi.” Kalimat itu sederhana, tapi cukup bikin Dipta diam sebentar. Biasanya, belanja di rumahnya memang jarang dilakukan dalam skala besar. Dulu dia hidup sendiri, kebutuhan stabil, pola makan sederhana, barang pun tidak banyak berubah. Sekarang? Semua berubah tanpa terasa. Di mobil perjalanan ke supermarket besar, Aira duduk di ku
Hari-hari di Bandung akhirnya berjalan lebih tenang setelah itu. Tidak ada lagi drama besar, tidak ada lagi “serangan mendadak” seperti hari pertama dan kedua. Aira lebih banyak menjaga jarak bukan karena berubah pikiran, tapi lebih karena masih kapok. Sementara Dipta, entah karena sudah “menang banyak” atau memang mulai lebih bisa mengontrol diri, dia juga tidak lagi seagresif itu. Kembali ke mode normalnya dingin, fokus, profesional saat kerja tapi tetap hangat kalau hanya berdua dengan Aira. Mereka menyelesaikan semua urusan di Bandung dengan lancar. Meeting, cek proyek dan koordinasi vendor, sampai akhirnya hari terakhir tiba. Sejak pagi ponsel Aira sudah tidak berhenti berdering. Bukan dari klien dan bukan dari kantor. Tapi dari rumah, video call kembali masuk. Aira mengangkat dan seperti biasa layar langsung dipenuhi wajah kecil yang sudah sangat mereka rindukan. “MAMAAAAA!” Suara Askara langsung memenuhi ruangan. Aira langsung tersenyum. “Iya, sayang…” “Pulang!” ucapnya
Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beb
Bel pulang berbunyi nyaring, menggema sampai ke lorong-lorong gedung IPS. Siswa kelas XII IPS 1 mulai beranjak dari kursi mereka. Suara kaki kursi bergeser dan ritsleting tas yang ditarik bersahutan. Di antara keramaian itu, Dipta tetap bergerak dengan ritmenya sendiri. Ia merapikan buku ekonominya
Di kelas dekat sisi lapangan, suasana pagi begitu hidup. Beberapa murid masih asyik mengobrol, ada yang menatap papan tulis dengan serius didalam kelas, ada yang memainkan pulpen sambil setengah mengantuk saat berjalan. Di salah satu sisinya, empat murid Angger, Bayu, Raka, dan David duduk berdampi
Humaira Navya Aruna atau biasa akrab dipanggil Aira menatap halaman depan sekolah baru itu dengan mata berbinar campur gugup. Gedung tinggi, cat krem yang rapi, kaca-kaca besar memantulkan cahaya pagi yang lembut. Semua terlihat begitu megah, berbeda dari sekolah lamanya yang sederhana. Jalan setap







