/ Romansa / DIPTA / BAB 66 Dua Raga, Dua Keinginan yang Sama

공유

BAB 66 Dua Raga, Dua Keinginan yang Sama

작가: Adw_Canss781
last update 게시일: 2026-04-30 23:43:08

Di apartemen itu, sore berjalan seperti biasa. Aira sedang duduk di lantai ruang tamu, laptopnya terbuka setengah, tapi matanya lebih sering tertuju ke satu arah ke tempat kecil di mana Askara sedang bermain dengan mainannya.

Awalnya biasa saja. Askara hanya merangkak, tertawa kecil, lalu menjatuhkan balok mainan. Lalu mengambilnya lagi, lalu tertawa lagi. Sampai tiba-tiba gerakannya berhenti. Ia menoleh, seperti melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

Aira sempat tersenyum kecil. “Ken
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • DIPTA   BAB 115 Tekanan dan Rencana

    Pagi hari di gedung Rajendra Engineering kembali sibuk seperti biasa. Ada sesuatu yang berbeda, Aira datang lebih pagi dari biasanya. Wajahnya sudah segar, rapi dan terlihat profesional, seolah tidak terjadi apa-apa semalam, meski begit cara dia bergerak lebih hati-hati dan lebih menjaga jarak. Ia langsung masuk ke ruangannya, menyalakan laptop menatap layar dengan fokus atau mungkin memaksa diri untuk fokus. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Dipta masuk, langkahnya seperti biasa tenang tapi ratapannya langsung mencari satu orang. “Aira.” Aira langsung berdiri. “Iya, Pak.” jawabnya formal dan terdengar berbeda. Dipta menangkap itu. “Kamu udah sarapan?” Aira sedikit terdiam. “Sudah.” jawabnya singkat. Dipta mengangguk kecil. “Obatnya diminum?” Aira mengangguk. “Iya, Pak.” lagi-lagi jawabannya formal dan kali ini lebih jelas. Dipta menatapnya beberapa detik. “Kalau ada yang nggak enak—” “Saya akan bilang.” Aira memotong dengan halus, jarak itu terasa. Dipta tidak

  • DIPTA   BAB 114 Arah yang Sama

    Malam sudah semakin larut. Udara di luar klinik terasa lebih dingin dari biasanya. Aira berjalan pelan keluar, langkahnya masih sedikit lemah. Di sampingnya, Dipta berjalan lebih lambat dari biasanya, seolah menyesuaikan. “Pelan-pelan aja, kita lagi gak ngejar deadline.” Refleks Aira melirik “Saya nggak selemah itu, Pak.” Dipta menatapnya sekilas. “Barusan kamu pingsan.” Aira terdiam. “Itu beda.” Dipta tidak membalas. Ia tetap menjaga jarak yang cukup dekat, kalau Aira goyah ia bisa langsung menahan. Di dalam mobil, suasana kembali sunyi. Mesin menyala, mobil mulai berjalan. Lampu-lampu jalan bergantian melewati kaca. Aira bersandar menatap keluar. Pikirannya kosong atau mungkin terlalu penuh. Beberapa menit berlalu tanpa suara. Sampai akhirnya Dipta membuka pembicaraan lebih dulu. “Kepalamu masih pusing?” Aira menoleh sedikit. “Udah mendingan.” Dipta mengangguk kecil. “Kalau belum enak bilang.” Nada suaranya tetap tenang, hanya saja ada sesuatu yang lebih lembut di

  • DIPTA   BAB 113 Aira Pingsan

    Malam di gedung Rajendra Engineering mulai benar-benar sepi. Lampu di beberapa lantai sudah dimatikan. Aira keluar dari lift, langkahnya pelan. Tas masih di tangannya, bahunya sedikit turun. Hari itu terlalu panjang, fisiknya lelah dan pikirannya lebih lelah. Ucapan demi ucapan berputar di kepalanya. Rania, meeting, Dipta. “Cukup…” Ia bergumam pelan. Langkahnya terus maju ke arah pintu keluar, tapi saat sampai di area lobi pandangan Aira mulai kabur. Lampu terlihat berbayang, suara di sekitarnya mulai jauh. Langkahnya goyah, tangannya mencoba berpegangan ke meja resepsionis. “Ra?” Suara itu terdengar samar. Tubuhnya kehilangan keseimbanga dan ambruk. 'BRUK.' Tubuh Aira jatuh. “AIRA!” Suara itu langsung pecah di lobi. Beberapa orang panik dan dari arah belakang Dipta berlari. Dia benar-benar terlihat panik. “Aira! Aira!” Ia langsung berlutut di samping tubuh Aira,engangkat kepalanya. “Aira, denger aku.” Tidak ada respon, wajahnya pucat dan.apasnya pelan. “Air! Cepa

  • DIPTA   BAB 112 Rania Meledak

    Pagi hari di lantai eksekutif Rajendra Engineering berjalan seperti biasa. Aira sudah duduk di ruangannya sejak pagi lebih cepat dari biasanya. Laptop sudah menyala, jadwal sudah tersusun dan dokumen sudah rapi. Namun hari ini ada yang berbeda. Ekspresinya lebih tenang dan lebih dingin, seolah sudah mengambil keputusan. ‘Tok.’ Tanpa menunggu jawaban, pintu langsung terbuka. Rania masuk seperti kemarin dan seperti biasanya. “Pagi.” Nada suaranya santai. Aira mengangkat kepala menatapnya. “Pagi." jawabnya singkat dan datar. Rania sedikit mengernyit. Ia masuk lebih dalam, menutup pintu di belakangnya. “Udah siap perang lagi hari ini?” Aira menutup laptopnya pelan. “Kerja, bukan perang.” Jawaban itu langsung tanpa senyum. Rania tersenyum tipis. “Iya… kerja.” Ia berjalan santai ke sofa lalu duduk. “Tapi dari kemarin kelihatannya kamu lumayan menikmati posisi itu ya.” Aira tidak langsung jawab. “Posisi apa?” Rania menyandarkan tubuhnya. “Yang beda sendiri.” Aira menatapnya

  • DIPTA   BAB 111 Tekanan Dua Arah

    Sore, langit Jakarta mulai gelap. Lampu-lampu kota menyala satu persatu. Di lantai eksekutif Rajendra Engineering sebagian besar karyawan sudah pulang, koridor mulai sepi. Di dalam ruangannya Dipta masih duduk di balik meja. Laptop terbuka, beberapa dokumen tersebar. Pikirannya masih fokus pada satu hal, Andalas Energi. ‘Tok… tok…’ Dipta tidak langsung menjawab, tatapannya masih di layar. ‘Tok… tok…’ Lebih pelan kali ini. “Masuk.” Pintu terbuka dan tanpa perlu melihat pun Dipta sudah tahu siapa yang masuk, Andine. “Masih sibuk?” Suaranya ringan, seolah tidak ada ketegangan sebelumnya. Dipta menutup laptopnya perlahan baru menatap. “Perlu apa?" tanyanya langsung tanpa basa-basi. Andine tidak tersinggung, justru tersenyum tipis. “Langsung ke inti ya…” Ia melangkah masuk. Menutup pintu di belakangnya. “Bagus. Aku juga nggak suka muter-muter.” Ia duduk tanpa diminta, percaya diri seperti biasa. “Aku cuma mau pastikan…” Ia menatap Dipta. “…kamu sudah lihat revisi terbaru

  • DIPTA   BAB 110 Mulai di Ragukan

    Sore itu, suasana di kantor Rajendra Engineering mulai lebih tenang. Jam kerja hampir selesai, sebagian karyawan sudah mulai merapikan meja. Di meja Aira, laptopnya masih terbuka. Dokumen dari Andalas Energi masih terpampang di layar. Aira membaca ulang dengan pelan dari awal. Tidak ada yang terlihat salah secara langsung, angkanya masuk, penjelasannya ada, strukturnya rapi terlalu rapi. “Ini aneh.” Ia bergumam pelan. Tangannya men-scroll ke atas lalu ke bawah lagi membandingkan dan mencari sesuatu yang “hilang”. Kalimat Arjito kemarin terlintas lagi di kepalanya. “Ini bukan fluktuasi.” “Ini indikasi masalah internal.” Aira menarik napas pelan. “Tapi yang ini…” Ia menatap layar. “…bersih.” Terlalu bersih dan justru itu yang membuatnya tidak nyaman. Tangannya sempat berhenti di tombol forward email, mau langsung kirim ke Dipta seperti biasa. Namun ia tidak jadi. “Kalau aku salah gimana…” Aira menggigit bibir bawahnya pelan. Ia menutup laptop sebentar, lalu membukanya lagi beber

  • DIPTA   BAN 82 Sindiran dan Cerminan Diri

    Perjalanan pulang dari hotel menuju kantor Rajendra Engineering berlangsung seperti biasa—tenang, tapi heningnya terasa “berisi”. Dipta memilih menyetir sendiri sejak awal keberangkatan. Tidak ada supir, tidak ada pihak ketiga. Hanya dia dan Humaira Navya Aruna di kursi sebelah. Di dalam mobil, Ai

  • DIPTA   BAB 81 Pakaian dan Gosip

    Perjalanan dari Puncak menuju Jakarta akhirnya selesai saat mobil memasuki area rumah Aira. Di dalam mobil, Aira bahkan sudah tertidur sejak beberapa puluh menit terakhir. Kepalanya miring ke kaca, napasnya pelan, benar-benar kelelahan setelah rangkaian acara di penginapan Rajendra Engineering. Di

  • DIPTA   BAB 80 Hari Terakhir

    Sore itu di penginapan Rajendra Engineering, kondisi sudah jauh lebih tenang setelah rangkaian kegiatan. Aira akhirnya sudah bisa kembali ke kamarnya sendiri setelah sebelumnya beristirahat cukup lama di kamar Dipta. Langkahnya ringan, bahkan sedikit lega "Akhirnya balik kamar sendiri…” gumamnya pe

  • DIPTA   BAB 79 Kamar Inap Dipta

    Di kamar penginapan Rajendra Engineering, suasana mulai lebih tenang setelah tim medis pergi. Aira sudah terlihat lebih stabil. Teh hangat di meja masih mengepul pelan. Ia duduk di tepi kursi, lalu melirik ke arah pintu. “Pak, saya mau balik kamar saya…” ucapnya pelan, masih agak sungkan. Dipta y

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status