مشاركة

BERTIKAI

last update تاريخ النشر: 2026-08-19 19:00:27

“Kael, lo mau kemari?”

“Ya,” jawab Kael datar, tetapi nada amarahnya jelas terdengar. “Elara tidak menjawab telepon gue sejak kemarin. Sekarang tiba-tiba muncul di rumah sakit sama pria lain. Gue harus tahu apa yang terjadi.”

Marco terdiam sejenak. “Hati-hati! Alessandro itu dokter sekaligus calon pendonor buat Om Thomas. Dari penglihatan gue, Elara nyaman bersama dia.”

Kael tidak menjawab. Hanya terdengar suara pintu mobil ditutup dengan keras di seberang, disusul mesin yang dihidupkan.

“Gue s
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   ALESSANDRO TERLUKA

    Elara berbalik, matanya masih berkaca-kaca, tetapi suaranya tegas. “Papa Thomas butuh transplantasi sumsum tulang. HLA kamu tidak cocok. Sesuai hasil lab, kamu bukan anak kandungnya. Alessandro yang cocok. Dia pendonornya.”Marco yang selama ini hanya mengawasi kini menatap Kael dengan wajah ikut tegang. “Kael?"Kael terpaku. Dunia seolah berhenti sejenak. Semua amarah yang barusan meledak tiba-tiba bercampur dengan sesuatu yang jauh menekan ke dalam jantung. Ia syok, bingung, dan sakit yang tidak terduga.“Elara,” katanya pelan, hampir memohon. “Tunggu! Jelaskan—”Namun Elara sudah tidak mau mendengar. Ia menarik lengan Alessandro untuk menjauh dari koridor, melewati beberapa perawat yang mulai berbisik. Alessandro sempat melirik ke belakang sekali. Ia menatap Kael yang masih berdiri diam, sebelum akhirnya mengikuti langkah Elara.Tangan Kael masih gemetar, bukan hanya karena amarah, tetapi ia harus hadapi kenyataan pahit.Marco menepuk bahunya sekali lagi. “Kita cari tempat duduk du

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   BERTIKAI

    “Kael, lo mau kemari?”“Ya,” jawab Kael datar, tetapi nada amarahnya jelas terdengar. “Elara tidak menjawab telepon gue sejak kemarin. Sekarang tiba-tiba muncul di rumah sakit sama pria lain. Gue harus tahu apa yang terjadi.”Marco terdiam sejenak. “Hati-hati! Alessandro itu dokter sekaligus calon pendonor buat Om Thomas. Dari penglihatan gue, Elara nyaman bersama dia.”Kael tidak menjawab. Hanya terdengar suara pintu mobil ditutup dengan keras di seberang, disusul mesin yang dihidupkan.“Gue segera ke sana,” kata Kael singkat, lalu memutus telepon.Marco menatap layar ponselnya, lalu menghela napas panjang. Ia tahu, suasana di rumah sakit ini sebentar lagi akan jadi ribut, jika Kael tiba.Elara duduk di ruang tunggu poli kandungan dengan wajah masih pucat. Alessandro duduk di sampingnya, sesekali melirik jam. Tidak lama kemudian, perawat memanggil namanya.“Elara Quinn?”Elara berdiri pelan. Alessandro ikut bangkit, hendak menemani, tetapi Elara menggeleng kecil. “Tunggu di luar saja

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   BERTIKAI

    “Kael, lo mau kemari?”“Ya,” jawab Kael datar, tetapi nada amarahnya jelas terdengar. “Elara tidak menjawab telepon gue sejak kemarin. Sekarang tiba-tiba muncul di rumah sakit sama pria lain. Gue harus tahu apa yang terjadi.”Marco terdiam sejenak. “Hati-hati! Alessandro itu dokter sekaligus calon pendonor buat Om Thomas. Dari penglihatan gue, Elara nyaman bersama dia.”Kael tidak menjawab. Hanya terdengar suara pintu mobil ditutup dengan keras di seberang, disusul mesin yang dihidupkan.“Gue segera ke sana,” kata Kael singkat, lalu memutus telepon.Marco menatap layar ponselnya, lalu menghela napas panjang. Ia tahu, suasana di rumah sakit ini sebentar lagi akan jadi ribut, jika Kael tiba.Elara duduk di ruang tunggu poli kandungan dengan wajah masih pucat. Alessandro duduk di sampingnya, sesekali melirik jam. Tidak lama kemudian, perawat memanggil namanya.“Elara Quinn?”Elara berdiri pelan. Alessandro ikut bangkit, hendak menemani, tetapi Elara menggeleng kecil. “Tunggu di luar saja

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   ADA YANG CEMBURU

    “Lepaskan saja,” bisiknya rendah. “Aku ikut.”Elara mengangguk lemah, tubuhnya semakin bergetar. Alessandro menahan pinggangnya erat. Gerakan terakhirnya dalam dan penuh, hingga keduanya mencapai puncak hampir bersamaan. Desahan mereka pecah di keheningan kamar, lalu perlahan mereda.Napas masih memburu. Keringat membuat kulit mereka lengket. Alessandro tidak langsung keluar. Ia menjatuhkan diri dengan memeluk Elara. Kini tubuh mereka berhadapan. Alessandro mengecup bibir Elara pelan beberapa kali, sampai detak jantung mereka berangsur tenang. Tenaga yang terkuras membuat keduanya terdiam."Aah," erang Alessandro sambil mencabut miliknya yang sudah benar-benar lemas.Elara bergidik pelan, saat milik Alessandro lepas sepenuhnya. Ia tersenyum dengan mata berat."I love you, Honey," ucapnya lirih dan langsung menutup kelopak mata.Alessandro menarik selimut hingga ke bahu mereka, masih memeluknya erat. "I love you too, Sweety."Tidak lama kemudian, napas Elara menjadi teratur. Alessandr

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   MALAM BAHAGIA

    Alessandro menggeram rendah, keningnya menempel di bahu Elara. “El, pelan. Aku tidak tahan kalau kamu pegang seperti itu.”Elara menelan ludah, masih menatap apa yang ada di tangannya dengan ekspresi campur aduk. Rasa terkejut, penasaran, dan bercampur sedikit takut. “Ini… benar-benar masuk nanti?” tanyanya pelan, suaranya hampir berbisik.Alessandro mengecup pelipisnya, napasnya sudah tidak beraturan. “Kita pelan-pelan. Kamu yang atur, Sayang.”Alessandro melumat bibir Elara, saat tangan Elara menarik batangnya untuk masuk. Ketika Alessandro menekan sedikit masuk Elara, keduanya menggeram pelan.Elara langsung menegang. Wajahnya mengernyit, bibirnya terkatup rapat menahan rasa perih yang menusuk.“Ahh… sakit…,” desah Elara tertahan, kuku-kukunya menancap di bahu Alessandro. Namun alkohol yang masih mengalir di darahnya membuat tubuhnya bereaksi lain. Sensasi panas, sensitif, dan semakin haus akan sentuhan.Alessandro langsung berhenti. Napasnya memburu, dahi berkerut menahan diri. Se

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   MALAM PANAS

    Malam itu, restoran Bianchi yang terletak di tepi sungai terasa hangat dan intimate. Lampu-lampu kecil menggantung di atas meja, memantulkan cahaya ke permukaan air di luar jendela.Maria duduk di seberang, sesekali menyeletuk dengan ceria, sementara Alessandro lebih banyak memperhatikan Elara. Percakapan mengalir dari desain, Milan Fashion Week, hingga sedikit tentang pekerjaan Alessandro di rumah sakit—tanpa menyinggung Thomas secara mendalam.Seiring malam berjalan, Maria dengan sengaja meminta izin undur diri lebih awal dengan alasan lelah. “Kalian masih muda. Nikmati malamnya. Alessandro, antar Elara pulang nanti.”Tersisa berdua, suasana menjadi lebih tenang. Alessandro memesan sebotol wine lagi. Elara yang biasanya jarang minum, malam itu menerima gelas demi gelas. Ia mungkin ingin melupakan Kael atau memang tatapan Alessandro yang lembut membuatnya lengah.“Kamu berbeda dari yang kubayangkan,” kata Alessandro pelan, menyandarkan dagu di punggung tangan. “Di atas kertas dan di

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status