LOGINItu suara Lyra. Belum sempat Bastian berdiri, pintu depan sudah terbuka.Lyra melangkah masuk ke ruang makan dengan napas tersengal dan wajah yang masih menyisakan memar kecil dari keributan semalam.“Kau gila, ya?!” Lyra langsung menghampiri Vera, mengabaikan Bastian dan Evander, bahkan seolah tidak sadar ada sosok berbahaya seperti Dante di sana. “Kenapa kau pergi begitu saja semalam? Aku mencarimu ke seluruh klub! Kau tahu betapa takutnya aku saat melihat Nico tergeletak seperti itu dan kau menghilang?”Vera berdiri, mencoba menenangkan temannya. “Lyra, pelankan suaramu. Aku baik-baik saja.”“Baik-baik saja kepalamu! Kau hampir mati karena ulah brengsek itu!” Lyra memaki, tangannya bergerak aktif saat mengomel. “Lain kali kalau kau mau jadi pahlawan, setidaknya bawa senjata. Dan jangan matikan ponselmu!”Vera hanya bisa menghela napas, menerima omelan itu tanpa membantah. Memang salahnya yang datang ke Velvet Abyss tanpa persiapan, malah menerima tawaran menjebak dari Nico dengan
“Ya, teruskan, Vera. Lagi,” bisik Dante. Menjilati pipi Vera dan membiarkan wanita itu bertindak semaunya.Kuku-kuku Vera dengan segera mencakar dada Dante hingga menimbulkan garis darah yang samar-samar.Dan ia terus menggigit bahu pria itu setiap kali guncangan di dalam dirinya terasa semakin hebat. “Ooh, sial! Sialan kau, Dante!”Dante masih saja diam menikmati, membiarkan Vera dan otak yang kacau karena pengaruh obat.Akhirnya, Vera baru berhenti saat tubuhnya benar-benar kaku karena orgasme yang berkepanjangan. Seketika jatuh pingsan di pelukan Dante dengan sisa-sisa gairah yang masih berdenyut di sekujur tubuhnya.***Kepala Vera berdenyut hebat keesokan paginya. Ia mengerang, mencoba menggerakkan tubuhnya yang terasa remuk dan pegal di bagian-bagian sensitif.Ia merasakan beban berat di pinggangnya. Sebuah lengan berotot yang penuh dengan bekas luka kecil melingkar di sana. Lengan yang sangat ia hafal milik siapa. Vera membeku. Perlahan menoleh ke samping.Dante Obsidian sedan
“Vera? Kau kenapa?” Nada tanya suara Lyra terdengar panik. Vera berhenti berjalan. Napasnya mulai tidak teratur. “Lyra …” Ia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. “Bawa aku … ke mobilku ...” Lyra menatap Vera tajam. “Aku sudah bilang jangan minum itu, bodoh. Kau pikir pria seperti Rourke akan main adil?” Vera mencoba menjawab, tapi kakinya tiba-tiba goyah. “Vera—hei, Vera!” Tubuh Vera langsung ambruk. Lyra refleks menangkap bahu Vera, tapi seseorang lebih cepat. Sebuah tangan kasar melingkar di pinggang Vera dan menarik wanita itu menjauh dari Lyra. “Temanmu biar diurus anak buahku,” bisik Nico di telinga Vera. “Kau ikut aku, Vera Nyx.” Lyra langsung maju, meraih lengan Vera. “Lepaskan dia, Rourke.” Matanya terbelalak dengan rahang mengetat. “Urusanmu denganku, jangan libatkan Vera!” Nico hanya tersenyum tipis. “Sudah terlambat, Lyra. Dia duluan yang ikut campur.” “Selesaikan dulu urusan kita, Nico,” cegat Lyra, matanya mulai gelisah menatap Vera yang tubuhnya sudah
Vera menutup pintu kamar ibunya rapat-rapat, seolah-olah kayu tua itu bisa menahan kebisingan dari luar—terutama suara Bastian dan Evander yang masih terdengar samar di lantai bawah. Ia duduk di tepi tempat tidur. Aroma kamarnya masih sama. Campuran bedak lili yang lembut dan bau buku tua. Semuanya tampak tidak tersentuh. Seprai yang sudah pudar warnanya tetap tertata rapi, persis seperti saat Vera terakhir kali meninggalkan rumah ini. Vera merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang remang-remang. Bayangan ibunya seolah muncul di kursi dekat jendela, tempat ibunya dulu sering duduk sambil menyisir rambut Vera setiap pagi. Kenangan-kenangan kecil seperti suara tawa ibunya yang lembut dan jemari hangat yang mengusap dahinya, membuat dada Vera terasa sesak. Di sini, ia merasa menjadi Vera yang dulu, sebelum memutuskan melanjutkan hidup di Arcadia City. Sampai pada hubungan yang ia kira aman bersama Dante—cuma sebagai teman malam, lalu berakhir tertawan pada pria bajingan i
“Tentu saja boleh, Vera. Kau tidak perlu bertanya,” jawab Dante, terdengar ada nada kepuasan yang disembunyikan dalam suaranya.Dante tahu, secara mental, Vera mulai mengakui bahwa ia memimpin dalam hubungan ‘tawanan dan tuan’ mereka.Vera berdehem, mencoba menetralisir rasa malunya dengan suara ketus saat mendengar nada suara Dante yang terbaca ‘normal’ dan terasa terselubung. “Aku ... cuma memberi tahu. Daripada nanti kau panik dan mengerahkan seluruh anak buahmu untuk mencariku seperti orang hilang lalu membuat heboh satu kota, lebih baik aku bicara sekarang. Kau kan ...” Ia mulai sadar kalau terlalu banyak menjelaskan.“Kau ... selalu gila kontrol.”Dante terkekeh rendah, suara yang membuat perut Vera bergejolak. “Tampaknya kau sangat menikmati waktumu, Vera.”Vera mencoba menerka apa yang tengah dirasakan Dante lewat suaranya. Namun tetap tidak bisa. Ia pun tidak menyangka pria itu sangat santai membicarakan kepulangannya ke rumah orang tuanya yang cukup jauh dari Arcadia. “
“Sekarang, tunjukkan padaku sekali lagi ...” Dante meraih tangan Vera, memaksa wanita itu untuk meremas kejantanannya yang sudah kembali menegang keras di balik celana. “Kalau kau memang kritis, negosiasikan kebebasanmu dengan cara yang paling kotor, Sayang.” Vera tidak menolak. Rasa takut dan gairahnya menyatu menjadi satu dorongan liar. Meski sudah begitu banyak kegilaan Dante yang membuatnya marah, tetap saja ketika tubuhnya mulai terangsang, semua itu jadi tidak masalah. Membenci Dante tidak mempengaruhi gairahnya saat bercinta dengan bajingan itu. Dari awal memang sudah salah. Ia mencari teman malam, bukan kekasih. Sial karena mendapatkan rekan bercinta yang tidak waras seperti Dante, namun bukan berarti ia tidak menikmati. Jelas tidak ada pemaksaan di sini, walau Dante selalu memaksakan kehendak dalam hal lain. Ia menarik ritsleting Dante dengan giginya, lalu menggunakan tangannya yang gemetar untuk membelai kejantanan pria itu dengan tempo yang menuntut. “Kalau aku tetap
Pertanyaan yang menggantung di udara, dingin dan tajam.Dante terdiam sejenak. Bukannya marah, ia justru mempererat pelukannya, memastikan Vera merasakan setiap inci keberadaannya yang masih terbenam di dalam sana. “Selama kau tidak mencoba meninggalkanku, kau tidak perlu memikirkan jawaban dari p
Vera tersenyum sewajarnya, tipe senyum yang biasa ia gunakan saat menghadapi klien sulit. “Aku perlu ke ruang arsip di Lantai 8. Ada beberapa dokumen fisik kampanye lama yang ingin kulihat sebagai referensi.”“Kami akan mengantar Anda,” jawab salah satu pengawal tanpa ragu.“Tentu,” sahut Vera tena
Ia duduk di tepi ranjang dan menarik Vera untuk berdiri di antara kedua kakinya. Vera menutup matanya, mengantisipasi rasa sakit dan takut, namun yang ia rasakan adalah dinginnya logam yang menyentuh kulit perutnya. Dante mulai menggerakkan ujung laras senapan itu naik ke arah payudara Vera, lalu
Vera duduk dengan punggung tegak di kursi belakang taksi yang melaju menembus kemacetan Arcadia City.Di bawah balutan trench coat-nya, telapak tangan Vera basah oleh keringat. Ia terus menatap foil tembaga yang melilit pergelangan tangannya. Ia tidak tahu apakah cara ini benar-benar efektif, tapi







