LOGIN"Kamu benar-benar tidak menyerah membantu Clarissa. Apakah kamu sudah mulai termakan omonganmu sendiri?”Kedatangan William mengagetkan Sasha. Dia tidak menyangka jika lelaki itu tiba-tiba muncul saat dia baru saja selesai dihubungi Clarissa. “Will…”William berjalan mendekati Sasha, melempar sebuah buku tebal ke arah Sasha. Sasha spontan menangkapnya dan membaca sampul buku itu adalah sebuah map foto.“Apa ini?”“Bukankah kamu benar-benar ingin bertingkah seperti Hero di depan keluargamu yang penghianat itu? Coba kamu buka sekarang dan lihatlah bagaimana orang yang kamu bantu itu memperlakukan kamu sejak dulu!”Sasha membuka satu demi satu dan lembar demi lembar foto-foto yang tertempel rapi di sana. Sasya sampai tidak menyangka jika William bisa mendapatkan foto-foto masa lalunya bahkan saat masih kecil bersama dengan ayah dan ibunya.“Kamu dapatkan ini semua dari mana?” Tanya Sasha dengan bibir yang bergetar karena merasa hatinya begitu menghangat ketika melihat keluarganya yang m
Clarissa melirik jam dinding di luar bilik. "Malam ini Raka mengadakan pesta privat untuk para kolega bisnisnya di lantai atas kelab. Aku dipaksa kembali melayani di sana. Aku akan mencari cara untuk mengirimkan seseorang yang bisa kupercaya untuk mengambil dokumen itu darimu. Kirimkan kontrak itu ke alamat yang akan kukirimkan lewat pesan singkat dari nomor acak nanti. Bisakah kamu melakukannya, Sasha?""Aku berjanji, Clarissa. Jaga dirimu baik-baik sampai malam ini.""Terima kasih, Sasha."Clarissa menutup telepon dengan cepat sebelum kedua pengawalnya mulai curiga. Ia keluar dari bilik dengan wajah setenang air, mengembuskan napas panjang seolah-olah ia baru saja menyelesaikan percakungan singkat dengan ibunya.Malam kembali merayap, membawa kembali hiruk-pikuk yang memekakkan telinga ke dalam kelab malam Raka. Lantai paling atas, yang semalam menjadi saksi kebrutalan Raka dan intimidasi dingin William, kini telah disulap menjadi ruang pesta privat yang dipenuhi oleh asap cerutu, t
Pagi itu, distrik hiburan malam telah sepenuhnya mati. Lampu-lampu neon yang semalam berkedip genit kini padam, menyisakan bangunan-bangunan beton yang tampak kusam di bawah siraman matahari pagi. Di dalam kamar privatnya, Clarissa berdiri di depan cermin besar. Ia menatap lekat-lekat pantulan dirinya yang mengenakan kemeja lengan panjang berkerah tinggi. Sebuah pilihan sengaja untuk menyembunyikan memar keunguan di rahang dan bekas cengkeraman di lehernya.Ia memoleskan bedak tipis untuk menyamarkan pucat di wajahnya, lalu memulas lipstik merah samar pada sudut bibirnya yang pecah. Rasa perihnya masih ada, menjalar hingga ke ulu hati, namun Clarissa tidak meringis. Rasa sakit fisik tidak lagi sebanding dengan dinginnya tekad yang kini membeku di dalam dadanya.Saat ia memutar knop pintu, dua orang pria berbadan tegap sudah berdiri tegap di lorong. Mereka adalah anak buah Doni yang diperintahkan langsung oleh Raka untuk melekat padanya bagai bayangan."Mau ke mana, Clarissa?" tanya
Clarisa terhuyung, matanya nanar memandang Raka. Dia tak menyangka, lelaki yang dulu ia bantu keluar dari penjara justru kini memperlakukan dia bak binatang."R-Raka....." bentak Clarissa, melangkah mundur hingga punggungnya membentur pintu. Tubuhnya bergetar hebat. "Kau tahu, Clarissa... aku paling benci ketika ada wanita kotor yang mencoba bertingkah pintar dan mengemis pada orang lain," ucap Raka, suaranya rendah namun sarat akan ancaman. Ia mencengkeram rahang Clarissa dengan kasar, memaksa wanita itu menatapnya. "Kau pikir dengan menangis di depan Sasha, kau bisa lepas dari tangan William ? Kau lupa siapa yang memiliki hidupmu saat ini?""Lepas!." jerit Clarissa murka.Plak! Raka kembali membuat Clarisa merasakan perih."Kau ingin keluar dari pekerjaan malam, kan? Kau ingin dibebaskan?" Raka tersenyum sinis, sebuah seringai kejam yang membuat darah Clarissa berdesir dingin. "Maka malam ini, kau harus membayar harga untuk kelancanganmu."Tanpa memedulikan tangisan dan penolakan
Malam kian larut, namun atmosfer di kediaman William Danuarta masih menyisakan ketegangan yang pekat. William tidak memberikan jawaban pasti pada Sasha. Pria itu memilih melangkah pergi, meninggalkan istrinya yang terpaku dalam kecemasan. Bagi William, logika selalu berada di atas segalanya. Dan malam ini, logika hukum serta bisnisnya mengatakan bahwa membiarkan Clarissa lepas begitu saja adalah sebuah kebodohan yang bisa mengancam ketenangan mereka.Tanpa mengganti pakaian kerjanya, William mengambil kunci mobil di meja lobi. Kilat matanya dingin, memancarkan aura intimidasi yang biasa ia gunakan untuk meruntuhkan mental lawan-lawannya. Ia tidak akan menunggu sampai besok pagi. Baginya, setiap ancaman, sekecil apa pun itu, harus segera dipetakan, dikendalikan, dan diputus jalurnya.Mobil sedan hitam milik William membelah jalanan kota yang mulai sepi, menuju ke sebuah kawasan elit di mana distrik hiburan malam papan atas berada. Tujuannya hanya satu: sebuah kelab malam eksklusif mil
"Sha, aku mohon. Aku janji akan melakukan apapun yang kamu minta. Aku gak kuat kerja di tempat malam seperti pekerjaan kamu dulu. Ini sangat menyiksa,” Isak Clarissa.Sasha menatap Clarissa yang masih bersimpuh di hadapannya. Emosi di dalam dada Sasha bergejolakperpaduan antara sisa rasa sakit hati masa lalu dan rasa kemanusiaan yang menolak untuk abai. Setelah keheningan yang mencekam ego Clarissa, Sasha akhirnya mengembuskan napas panjang."Clarissa, dengarkan aku baik-baik," kata Sasha, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan ketegasan yang tak terbantahkan.Clarissa menahan napasnya, menatap Sasha dengan mata sembap yang dipenuhi secercah harapan."Aku akan membantumu. Tapi aku gak tahu apa William setelah ku atau tidak. Jadi, aku akan_”Mendengar hal itu, wajah Clarissa langsung berbinar. "Sha, terima kasih... terima kasih banyak—""Jangan memotong kalimatku dulu," sela Sasha dingin, membuat Clarissa kembali terdiam.Sasha melangkah satu langkah maju, menunduk untuk men
Cermin di toilet kampus lantai tiga tidak pernah berbohong. Pantulan yang menatap balik menampilkan sosok Clarissa yang nyaris sempurna. Jemarinya memoleskan lipstik merah maroon ke bibir penuh itu. Membuat dia terlihat berani, elegan, dan disengaja.Clarissa tidak pernah datang ke kampus hanya unt
"Mulai detik ini," bisik William di bibir Sasha, "berhenti memikirkan dia saat kamu bersama saya. Atau saya akan pastikan dia tahu persis apa yang sedang dilakukan pacar kesayangannya ini setiap malam."Sasha menahan napas. Ancaman itu nyata.William melepaskan cengkeramannya kasar, lalu berbalik m
Ponsel di atas meja kerja itu kembali bergetar, berdengung marah seolah mewakili emosi pemiliknya di seberang sana. Layar menyala, menampilkan nama "Raka" untuk kedua kalinya.Sasha menatap ponsel itu dengan tatapan kosong. Tubuhnya masih gemetar sisa dari pelepasan paksa dan tangisan yang baru saj
"Sshhh... sudah," bisik William, dagunya bertumpu di puncak kepala Sasha. "Kamu melakukannya dengan baik. Sangat patuh."Sasha terisak, air matanya membasahi kemeja putih William yang mahal. Ia seharusnya mendorong pria ini. Ia seharusnya lari. Tapi tubuhnya terasa lumpuh, dan anehnya ... pelukan i







