Share

BAB 2 Sebuah Pelecehan

Author: Pritca Ruby
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-20 19:54:33

Matahari sudah tidak terlihat lagi, digantikan oleh bulan sabit yang seolah tersenyum meskipun tidak ada taburan bintang yang ikut menghiasi langit yang gelap.

"Bahkan bulan saja masih mampu tersenyum walaupun dia sendirian di langit yang gelap itu," gumam Aleta yang hendak menutup jendela tetapi sekejap terpaku saat melihat bulan yang bersinar indah di gelapnya langit malam.

"Lalu bagaimana denganku? Kapan aku bisa tersenyum karena bahagia? Sepertinya lima tahun yang lalu saat aku mengenakan baju pengantin. Senyuman paling bahagia sekali rasanya. Tapi sekarang, aku lupa bagaimana caranya tersenyum, aku lupa rasanya bahagia. Akankah Roy kembali seperti dulu lagi?"

Aleta menghela nafas panjang dan menutup jendela rumah. Meski tidak ada barang berharga di rumah, tentu menutup pintu dan menguncinya adalah suatu keharusan. Bukan orang lain yang Aleta takuti, melainkan suaminya sendiri.

Beberapa bulan belakangan ini, Aleta memang menghindari kontak fisik dengan Roy. Semenjak ia mulai bekerja, ia masih bisa mentolerir sikap Roy yang berubah usai ibunya masuk ke rumah sakit, satu persatu harta dijual sampai ia harus bekerja di ladang gandum untuk membantu pemasukan.

Namun disaat Roy sudah terjun dalam perjudian, sikap Roy menjadi keterlaluan hingga tak segan melakukan kekerasan. Yang dipikirkan hanyalah uang untuk bermain judi sampai akhirnya menumpuk hutang sedangkan dia tidak mau bekerja sama sekali.

Disisi lain kebutuhan biologis Roy harus tetap terpenuhi setiap harinya. Membuat Aleta sungguh merasa lelah. Hingga akhirnya dia selalu mengunci diri di kamar ketika matahari sudah terbenam agar Roy tidak bisa memaksa dirinya untuk melayani setiap malam. Aleta tidak merasa bergairah lagi saat melakukannya dengan Roy, yang ada ia malah kelelahan, kesakitan sebab fantasi seks Roy semakin gila dari hari ke hari. Tidak heran jika Roy melampiaskan itu semua pada wanita-wanita malam di luaran sana.

Sakit hati?

Cemburu?

Entahlah, hanya hati kecil Aleta yang bisa menjawabnya.

Pukul 8 malam, Aleta sudah tidur guna menyiapkan tenaga untuk esok kembali bekerja. Tidak ada waktunya bergadang, ia juga tidak ada alasan untuk tidur larut padahal dulu ia selalu menunggu sampai Roy pulang ke rumah. Sekarang sudah tidak lagi. Ia akan tidur lebih awal, mengunci kamar dan mengabaikan kalaupun Roy memaksa untuk ingin masuk dan meminta untuk dilayani nafsunya.

Keesokan harinya, seperti biasa Aleta bangun dan bersiap untuk pergi bekerja ke rumah tetangganya sebelum pergi ke ladang gandum. Kali ini ia harus membersihkan kandang ternak, sehingga ia harus membawa baju ganti.

Aleta melihat sang suami tidur di sofa usang yang sudah berkali-kali ditendang oleh Roy ketika emosi. Ada perasaan kasihan pada Roy yang mungkin tidak terbiasa hidup susah ketika ayahnya meninggal dan ibunya sakit-sakitan, semua keluarga besar menjauh karena tidak ingin dimintai bantuan. Jika ia juga pergi begitu saja, bukankah Aleta jadi tidak ada bedanya dengan wanita-wanita yang hanya akan bertahan dimasa jaya suami, sedangkan ketika terpuruk ia akan meninggalkan suaminya.

Andai saja Roy mau mencari pekerjaan dan berjuang bersama-sama, hal itu pasti membuat Aleta lebih bahagia.

Bekerja di ladang gandum sepanjang hari, membuat Aleta terbiasa dengan berbagai cuaca. Pada musim gugur biasanya gandum dipanen bulan September atau Oktober. Pada musim dingin biasanya dipanen bulan Desember atau Januari. Lalu pada musim semi biasanya dipanen bulan Maret atau April.

Satu tahun ia sudah terbiasa dengan perubahan cuaca meski harus berlama-lama diluar rumah disaat dingin atau cuaca sedang terik-teriknya.

Tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia andalkan karena itu adalah mata pencaharian paling umum di pedesaan kecil dimana ia tinggal.

"Kamu mampir dulu ke rumahku, Aleta. Anakku dari kota baru saja pulang. Dia membelikanku banyak makanan yang tidak ada di sini. Hanya padamu aku menawarkannya," ucap Mirah sambil berjalan bersama Aleta setelah selesai bekerja.

"Tidak usah, Mirah."

"Jangan berpikir aku akan mengenalkan kamu pada anakku seperti kata-kata yang lain. Aku hanya ingin memberimu makanan yang dia bawa dari ibukota."

"Baiklah."

Tidak bisa menolak, Aleta akhirnya ikut ke rumah Mirah untuk mengambil apa yang ditawarkan untuknya.

Sayangnya disaat Aleta ke rumah Mirah, sang anak sedang keluar sehingga tidak sempat bertemu. Biarpun sudah 5 tahun tinggal di pedesaan itu, Aleta tidak pernah sekalipun bertemu dengan anak Mirah yang memang bekerja di ibukota. Sehingga sampai saat itu ia tidak tahu bagaimana rupa anak dari orang yang selalu baik padanya.

Akhirnya ia pulang ke rumah, lalu mendapati pintu depan terbuka begitu saja. Ia mempercepat langkah kakinya.

Disaat masuk, ia melihat sang suami bersama satu pria lain duduk di sofa usang bersama.

"Kamu sudah datang? Tolong buatkan minum untuk temanku."

Aleta sedikit aneh karena itu adalah kali pertamanya Roy membawa teman ke rumah. Dari awal menikah Roy cukup protektif, tidak pernah memperbolehkan dia berkenalan dengan laki-laki meskipun itu teman Roy sendiri. Maklumlah, Aleta adalah wanita yang sangat cantik, bisa dibilang mungkin paling cantik dari banyaknya wanita di pedesaan kecil itu.

Sejak pertama kali pindah setelah menikah ikut dengan Roy, Aleta sempat menjadi buah bibir karena parasnya yang jarang ditemui di sana.

Namun sekarang penampilan lusuhnya sudah melekat pada Aleta. Meski tidak sepenuhnya menutupi kecantikan alami, tetap saja Aleta tidak terlihat bugar seperti dulu.

Setelah selesai membuat minuman, Aleta ke depan dan mendapati suaminya tidak ada, hanya temannya saja duduk seorang diri.

"Di mana Roy?"

"Duduklah dulu. Roy keluar untuk membeli makanan."

Perasaan Aleta mendadak tidak enak saat itu juga. "Biar aku susul."

Dengan langkah terburu-buru, Aleta berjalan menuju pintu depan yang ternyata terkunci. Ia berusaha keras membuka pintu itu berujung sia-sia saja.

"Santai saja, memangnya kamu mau ke mana? Roy juga nanti akan kembali," ucap pria itu sambil berjalan mendekat pada Aleta.

"Bagaimana kalau kita bersenang-senang sebelum suami kamu datang?"

Mulai bertindak tidak sopan, tamu pria itu membelai rambut Aleta yang terlihat begitu ketakutan.

"Jangan kurang ajar! Jangan sentuh aku!" Dengan tenaga yang tersisa, Aleta mendorong tubuh pria itu.

Pria itu tertawa. "Tidak ada gunanya melawan. Mau dikasih yang enak kok malah jual mahal? Biarkan aku mencicipi wanita tercantik di desa ini, apakah merah muda seperti yang aku bayangkan? Roy tidak akan marah juga. Dia malah bercerita jika kamu paling jago kalau bergoyang di ranjang."

Plak!!

Aleta tidak segan menampar pria itu karena merasa telah dilecehkan dengan kata-kata yang tidak pantas barusan.

"Aku sudah membayar mahal! Jadi jangan melawan!" Tubuh kekar pria itu langsung merengkuh badan Aleta yang semakin hari semakin kurus, sehingga tidak sulit baginya menaklukan Aleta.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 52 Bayangan Masa Lalu

    Suara pecahnya porselen mahal memecah keheningan rumah klasik Eropa milik Helena. Helena berdiri di tengah ruang tamu yang luas, menatap pintu jati yang baru saja tertutup rapat oleh kepergian Antonio dan Aleta. Dadanya kembang kempis menahan amarah yang meledak-ledak. Tangannya yang dipenuhi cincin berlian gemetar hebat akibat penghinaan yang baru saja dilayangkan oleh putra tunggalnya sendiri."Kurang ajar... Benar-benar anak tidak tahu diri!" desis Helena, suaranya bergetar penuh kemurkaan.Bagi Helena, restu keluarga adalah syarat mutlak, sebuah simbol kendali yang selama ini selalu ia pegang. Ia tidak akan pernah membiarkan Antonio—anak yang seharusnya menjadi kunci kejayaan dan kekuasaan trah keluarga mereka—menikahi seorang wanita tanpa silsilah, tanpa latar belakang, dan tanpa nilai tawar di dunia kelas atas.Lebih dari itu, Helena telah menyusun rencana besar yang telah ia rancang sejak bertahun-tahun lalu. Sebuah rencana perjodohan yang tidak boleh gagal.Helena melangkah ce

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 51 Dinding Dingin di Istana Kelam

    Hari pernikahan yang kian mendekat membawa atmosfer baru di kediaman Antonio. Kesibukan persiapan terasa di mana-mana, namun di balik kesempurnaan itu, ada satu tanggung jawab yang membuat rahang Antonio mengeras setiap kali mengingatnya. Mau tidak mau, ia harus membawa Aleta menemui ibunya—satu-satunya anggota keluarga kandung Antonio yang masih hidup di dunia ini.Seumur hidupnya berada di dekat Antonio, Aleta sama sekali tidak pernah mendengar pria itu menyinggung soal keluarga. Rasa penasaran itu akhirnya memuncak saat Antonio memintanya bersiap untuk berkunjung."Antonio..." panggil Aleta pelan, melangkah mendekati meja kerja pria itu. "Sebenarnya... seperti apa keluargamu? Kenapa selama ini kamu tidak pernah menceritakan ibumu padaku?"Antonio yang sedang menyesap wiski tanpa es mendadak membeku. Pandangannya yang menatap keluar jendela seketika mengelam. Sebuah peristiwa pahit di masa lalunya—ketika sang ibu, Helena, memprioritaskan ambisi, harta, dan nama baik keluarga di atas

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 50 Jejak yang Terhapus Waktu

    Angin siang berhembus pelan, menerbangkan helai-helai rambut Aleta saat ia berdiri di tepi halaman panti asuhan yang sedang dibangun. Gelak tawa anak-anak yang berlarian mengejar bola plastik bergaung riang, memecah keheningan lokasi konstruksi. Di sampingnya, Antonio berdiri tegap, sebelah tangannya berada di dalam saku celana bahan, sementara tangan lainnya menggenggam erat jemari Aleta yang terasa dingin.Aleta memperhatikan sesosok anak perempuan kecil yang sedang dipeluk hangat oleh salah satu pengurus panti. Binar kebahagiaan di mata anak itu memicu kerinduan samar yang selama bertahun-tahun selalu ia kubur dalam-dalam di dasar hatinya."Kamu memikirkan sesuatu?" suara berat Antonio memecah lamunan Aleta, lembut dan sarat akan perhatian.Aleta menoleh, tersenyum tipis seraya menghela napas panjang. Matanya kembali menatap anak-anak yang sedang bermain sebelum akhirnya tertunduk menatap tanah."Aku cuma... mendadak teringat pada orang tuaku, Antonio," bisik Aleta pelan, suaranya

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 49 Janji di Bawah Terik Pagi

    Mentari pagi memancarkan pendar keemasan yang menembus celah gorden sutra di kamar utama. Di atas peraduan yang empuk, Aleta perlahan membuka matanya. Rasa hangat menyelimuti tubuhnya, berasal dari lengan tegap Antonio yang melingkar posesif di pinggangnya. Jemari tangan kiri Aleta terangkat perlahan ke udara, menatap pendar silau dari cincin berlian platinum yang kini melingkar indah di jari manisnya—sebuah bukti nyata bahwa peristiwa di bukit semalam bukanlah sekadar bunga tidur.Aleta tersenyum tipis, merasakan desiran hangat yang meluap di dadanya. Pria yang dulu sangat ia takuti dan benci, kini menjadi sosok yang paling ia harapkan hadir di setiap helaan napasnya."Suka dengan cincinnya?" suara berat dan serak khas bangun tidur bergaung di dekat telinganya.Aleta menoleh sedikit, mendapati Antonio sedang menatapnya dengan manik mata hitam yang teduh dan penuh pemujaan. Antonio mengecup bahu terbuka Aleta dengan lembut, sebelum akhirnya menarik tubuh wanitanya makin rapat ke dalam

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 48 Puncak dari Segala Janji

    Malam berhias ribuan bintang menyelimuti bukit tertinggi di pinggiran kota—sebuah bukit privat milik Antonio yang menyajikan pemandangan lanskap kota dengan pendar lampu-lampu indah di bawahnya. Angin malam berhembus lembut, membawa hawa sejuk yang menyegarkan.Aleta melangkah perlahan menaiki tangga batu berukir dengan gaun malam berbahan sutra lembut berwarna putih gading. Tangannya digenggam erat oleh Antonio yang mengenakan tuksedo hitam sempurna, menuntun langkah wanita itu dengan kelembutan yang amat protektif.Aleta sempat dibuat bingung saat Antonio memintanya bersiap dan membawanya berkendara cukup jauh tanpa memberitahukan tujuan mereka. Namun, rasa penasaran itu seketika sirna begitu kaki Aleta menyentuh puncak bukit.Mata Aleta membelalak lebar, jemarinya menutup mulutnya yang sedikit terbuka akibat rasa terpukau yang teramat sangat. Air mata keharuan seketika merebak di pelupuk matanya.Di atas padang rumput yang hijau, ribuan lampu fairy lights bergantungan melingkupi se

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 47 Kehangatan di Dapur Utama

    Aroma mentega leleh dan kayu manis merayap lembut di udara, memenuhi sudut-sudut dapur utama kediaman Antonio yang begitu megah dan bernuansa stainless steel mengilat. Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca tinggi, memantul di atas meja marmer tempat berbagai bahan makanan tertata rapi.Aleta melangkah pelan memasuki dapur. Baju terusan kasual berbahan katun lembut berwarna krem melambai mengikuti langkahnya. Wajahnya yang kini segar dan merona menatap sesosok pemuda yang sedang sibuk memotong buah strawberry segar dengan ketepatan seorang ahli kuliner.Sam, koki pribadi kediaman Antonio yang usianya sebaya dengan Aleta.Dulu, di masa-masa awal Aleta dibawa ke rumah ini sebagai sosok yang terasing dan ketakutan, penderitaan Aleta kerap luluh di sudut dapur ini. Sam adalah satu-satunya orang seumuran di rumah mewah ini yang memperlakukan Aleta dengan ketulusan murni tanpa penghakiman. Pemuda berwajah hangat itu tak jarang menyusupkan semangkuk sup hangat ekstra saat Aleta mele

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 5 Kesalahan

    Byur!!Satu gelas berisi air disiramkan pada wajah Aleta sampai terhenyak bangun karena terkejut."Bagaimana tidurmu semalam, Jalang?"Sepasang mata Aleta membola saat mendengar sebutan itu untuknya. Padahal dia adalah wanita baik-baik. Ia tidak ingat apa yang terjadi semalam sampai akhirnya bisa t

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 1 Nasib Malang

    "Mana uangnya?"Aleta menghela nafas panjang. "Aku baru saja sampai ke rumah, yang kamu tanyakan hanya uang. Seharian aku bekerja di ladang gandum, bahkan kamu tidak tanya selelah apa seharian aku di sana setiap hari tanpa libur.""Kamu baru bekerja satu tahun saja, lagaknya seperti sudah menghidup

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 4 Tawanan

    Roy menghentikan langkahnya dan berbalik setelah mendengar pembelaan Mirah untuk istrinya. Namun dengan sigap Aleta menahan dan meminta maaf pada semua orang yang terganggu, terutama pada Mirah karena ia merasa bersalah sudah menumpang semalam dan menyeret Mirah dalam permasalahan yang dialaminya.

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 3 Playing Victim

    "Tolong .... Tolong ...."Aleta berhasil keluar dari rumah lewat jendela kamarnya. Baju yang ia pakai sudah compang-camping karena pria itu mencoba membuka dengan merobek paksa. Untunglah Aleta bisa kabur setelah vas keramik di kamarnya ia hantam ke kepala pria itu hingga berdarah. Di momen itulah

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status