로그인Matahari sudah tidak terlihat lagi, digantikan oleh bulan sabit yang seolah tersenyum meskipun tidak ada taburan bintang yang ikut menghiasi langit yang gelap.
"Bahkan bulan saja masih mampu tersenyum walaupun dia sendirian di langit yang gelap itu," gumam Aleta yang hendak menutup jendela tetapi sekejap terpaku saat melihat bulan yang bersinar indah di gelapnya langit malam. "Lalu bagaimana denganku? Kapan aku bisa tersenyum karena bahagia? Sepertinya lima tahun yang lalu saat aku mengenakan baju pengantin. Senyuman paling bahagia sekali rasanya. Tapi sekarang, aku lupa bagaimana caranya tersenyum, aku lupa rasanya bahagia. Akankah Roy kembali seperti dulu lagi?" Aleta menghela nafas panjang dan menutup jendela rumah. Meski tidak ada barang berharga di rumah, tentu menutup pintu dan menguncinya adalah suatu keharusan. Bukan orang lain yang Aleta takuti, melainkan suaminya sendiri. Beberapa bulan belakangan ini, Aleta memang menghindari kontak fisik dengan Roy. Semenjak ia mulai bekerja, ia masih bisa mentolerir sikap Roy yang berubah usai ibunya masuk ke rumah sakit, satu persatu harta dijual sampai ia harus bekerja di ladang gandum untuk membantu pemasukan. Namun disaat Roy sudah terjun dalam perjudian, sikap Roy menjadi keterlaluan hingga tak segan melakukan kekerasan. Yang dipikirkan hanyalah uang untuk bermain judi sampai akhirnya menumpuk hutang sedangkan dia tidak mau bekerja sama sekali. Disisi lain kebutuhan biologis Roy harus tetap terpenuhi setiap harinya. Membuat Aleta sungguh merasa lelah. Hingga akhirnya dia selalu mengunci diri di kamar ketika matahari sudah terbenam agar Roy tidak bisa memaksa dirinya untuk melayani setiap malam. Aleta tidak merasa bergairah lagi saat melakukannya dengan Roy, yang ada ia malah kelelahan, kesakitan sebab fantasi seks Roy semakin gila dari hari ke hari. Tidak heran jika Roy melampiaskan itu semua pada wanita-wanita malam di luaran sana. Sakit hati? Cemburu? Entahlah, hanya hati kecil Aleta yang bisa menjawabnya. Pukul 8 malam, Aleta sudah tidur guna menyiapkan tenaga untuk esok kembali bekerja. Tidak ada waktunya bergadang, ia juga tidak ada alasan untuk tidur larut padahal dulu ia selalu menunggu sampai Roy pulang ke rumah. Sekarang sudah tidak lagi. Ia akan tidur lebih awal, mengunci kamar dan mengabaikan kalaupun Roy memaksa untuk ingin masuk dan meminta untuk dilayani nafsunya. Keesokan harinya, seperti biasa Aleta bangun dan bersiap untuk pergi bekerja ke rumah tetangganya sebelum pergi ke ladang gandum. Kali ini ia harus membersihkan kandang ternak, sehingga ia harus membawa baju ganti. Aleta melihat sang suami tidur di sofa usang yang sudah berkali-kali ditendang oleh Roy ketika emosi. Ada perasaan kasihan pada Roy yang mungkin tidak terbiasa hidup susah ketika ayahnya meninggal dan ibunya sakit-sakitan, semua keluarga besar menjauh karena tidak ingin dimintai bantuan. Jika ia juga pergi begitu saja, bukankah Aleta jadi tidak ada bedanya dengan wanita-wanita yang hanya akan bertahan dimasa jaya suami, sedangkan ketika terpuruk ia akan meninggalkan suaminya. Andai saja Roy mau mencari pekerjaan dan berjuang bersama-sama, hal itu pasti membuat Aleta lebih bahagia. Bekerja di ladang gandum sepanjang hari, membuat Aleta terbiasa dengan berbagai cuaca. Pada musim gugur biasanya gandum dipanen bulan September atau Oktober. Pada musim dingin biasanya dipanen bulan Desember atau Januari. Lalu pada musim semi biasanya dipanen bulan Maret atau April. Satu tahun ia sudah terbiasa dengan perubahan cuaca meski harus berlama-lama diluar rumah disaat dingin atau cuaca sedang terik-teriknya. Tidak ada pekerjaan lain yang bisa ia andalkan karena itu adalah mata pencaharian paling umum di pedesaan kecil dimana ia tinggal. "Kamu mampir dulu ke rumahku, Aleta. Anakku dari kota baru saja pulang. Dia membelikanku banyak makanan yang tidak ada di sini. Hanya padamu aku menawarkannya," ucap Mirah sambil berjalan bersama Aleta setelah selesai bekerja. "Tidak usah, Mirah." "Jangan berpikir aku akan mengenalkan kamu pada anakku seperti kata-kata yang lain. Aku hanya ingin memberimu makanan yang dia bawa dari ibukota." "Baiklah." Tidak bisa menolak, Aleta akhirnya ikut ke rumah Mirah untuk mengambil apa yang ditawarkan untuknya. Sayangnya disaat Aleta ke rumah Mirah, sang anak sedang keluar sehingga tidak sempat bertemu. Biarpun sudah 5 tahun tinggal di pedesaan itu, Aleta tidak pernah sekalipun bertemu dengan anak Mirah yang memang bekerja di ibukota. Sehingga sampai saat itu ia tidak tahu bagaimana rupa anak dari orang yang selalu baik padanya. Akhirnya ia pulang ke rumah, lalu mendapati pintu depan terbuka begitu saja. Ia mempercepat langkah kakinya. Disaat masuk, ia melihat sang suami bersama satu pria lain duduk di sofa usang bersama. "Kamu sudah datang? Tolong buatkan minum untuk temanku." Aleta sedikit aneh karena itu adalah kali pertamanya Roy membawa teman ke rumah. Dari awal menikah Roy cukup protektif, tidak pernah memperbolehkan dia berkenalan dengan laki-laki meskipun itu teman Roy sendiri. Maklumlah, Aleta adalah wanita yang sangat cantik, bisa dibilang mungkin paling cantik dari banyaknya wanita di pedesaan kecil itu. Sejak pertama kali pindah setelah menikah ikut dengan Roy, Aleta sempat menjadi buah bibir karena parasnya yang jarang ditemui di sana. Namun sekarang penampilan lusuhnya sudah melekat pada Aleta. Meski tidak sepenuhnya menutupi kecantikan alami, tetap saja Aleta tidak terlihat bugar seperti dulu. Setelah selesai membuat minuman, Aleta ke depan dan mendapati suaminya tidak ada, hanya temannya saja duduk seorang diri. "Di mana Roy?" "Duduklah dulu. Roy keluar untuk membeli makanan." Perasaan Aleta mendadak tidak enak saat itu juga. "Biar aku susul." Dengan langkah terburu-buru, Aleta berjalan menuju pintu depan yang ternyata terkunci. Ia berusaha keras membuka pintu itu berujung sia-sia saja. "Santai saja, memangnya kamu mau ke mana? Roy juga nanti akan kembali," ucap pria itu sambil berjalan mendekat pada Aleta. "Bagaimana kalau kita bersenang-senang sebelum suami kamu datang?" Mulai bertindak tidak sopan, tamu pria itu membelai rambut Aleta yang terlihat begitu ketakutan. "Jangan kurang ajar! Jangan sentuh aku!" Dengan tenaga yang tersisa, Aleta mendorong tubuh pria itu. Pria itu tertawa. "Tidak ada gunanya melawan. Mau dikasih yang enak kok malah jual mahal? Biarkan aku mencicipi wanita tercantik di desa ini, apakah merah muda seperti yang aku bayangkan? Roy tidak akan marah juga. Dia malah bercerita jika kamu paling jago kalau bergoyang di ranjang." Plak!! Aleta tidak segan menampar pria itu karena merasa telah dilecehkan dengan kata-kata yang tidak pantas barusan. "Aku sudah membayar mahal! Jadi jangan melawan!" Tubuh kekar pria itu langsung merengkuh badan Aleta yang semakin hari semakin kurus, sehingga tidak sulit baginya menaklukan Aleta.Suasana ruang makan utama kediaman Antonio begitu megah dan dingin. Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memantulkan pendar keemasan pada meja makan panjang berkilau. Di atasnya, hidangan makan malam mewah disajikan lengkap dengan peralatan makan perak yang tertata sempurna.Aleta berjalan pelan menuruni tangga utama, didampingi Bi Bikah di sisinya. Tubuhnya dibalut gaun malam sutra berwarna marun yang jatuh anggun hingga menyentuh lantai. Potongan gaun itu sangat elegan, memperlihatkan jenjang lehernya yang mulus, namun tetap memancarkan kesan tertutup dan berkelas.Meskipun penampilannya malam ini tampak seperti seorang bangsawan, langkah kaki Aleta terasa begitu berat. Setiap pijakannya terasa bagaikan melangkah menuju medan pertempuran baru.Di ujung meja makan, Antonio sudah duduk menanti. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang dibalut jas semi-formal tanpa dasi, memancarkan aura maskulin yang sangat kuat. Tatapan mata hitamnya yang tajam langsung mengunci perge
Matahari pagi menyinarkan cahayanya menerobos gorden tinggi di kamar tamu lantai dua. Aleta terduduk kaku di depan cermin rias berukiran emas yang megah. Di sekelilingnya, tiga orang perancang busana dan penjahit pribadi kiriman Antonio tampak sibuk mengukur lingkar dada, pinggang, hingga panjang gaun pada tubuh Aleta.Bi Bikah berdiri tak jauh dari sana, memegangi beberapa contoh kain sutra dan beludru berkualitas tinggi. Tidak ada lagi pakaian kusam atau seragam pelayan yang melekat pada tubuh Aleta. Namun, kemewahan yang kini membalutnya justru terasa bagaikan rantai besi yang dilapisi emas."Lingkar pinggangnya sangat kecil, Nyonya," puji sang perancang busana utama dengan nada kagum. "Gaun-gaun malam ini akan tampak sangat sempurna saat Anda kenakan di samping Tuan Antonio."Aleta hanya menatap hampa pantulan dirinya di cermin. Wajah pucatnya kini terbingkai sempurna oleh tataan rambut yang rapi, namun matanya kehilangan binar kehidupan. Ia tidak merespons pujian itu sedikit pun.
Suara erangan Roy yang diseret keluar secara kasar perlahan menghilang dari balik pintu. Keheningan malam kembali mencengkeram kediaman Antonio, namun atmosfer di koridor lantai dua terasa jauh lebih mencekam dari sebelumnya.Aleta menyandarkan dahinya pada daun pintu kayu yang dingin. Napasnya tersengal-sengal. Kata-kata Antonio yang terngiang di balik pintu tadi—“Dia milikku sekarang. Dan siapa pun yang menyentuh milikku, akan kubuat mati perlahan”—terus merayapi pikirannya bagaikan racun. Pria itu tidak hanya mengancam Roy, tetapi juga memperjelas garis batas yang tak bisa dilompati siapa pun: Aleta telah sepenuhnya berada dalam cengkeraman sang mafia.Klek.Suara kunci diputar dari luar membuat Aleta refleks melompat mundur. Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok Antonio yang berdiri tegap. Jas hitamnya kini terlepas, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing atas yang terbuka serta lengan yang tergulung acak hingga siku. Pria itu memancarkan aura bahaya yang sangat pekat, ber
Ancaman Antonio menggantung di udara, begitu rapat dan pekat hingga Aleta bisa merasakan deru napas hangat pria itu menyapu permukaan kulit bibirnya. Tatapan Antonio tidak lagi sekadar dingin, melainkan sarat akan dominasi yang sanggup melumpuhkan seluruh pertahanan Aleta dalam sekedip mata.Dada Aleta naik turun secara tidak teratur. Setiap sentimeter jarak yang tersisa di antara mereka seolah dipenuhi aliran listrik yang membakar. Rasa benci dan amarah berkecamuk hebat dengan getaran asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—sebuah ketakutan yang anehnya berbaur dengan debar jantung yang tak terkendali."Hitungan ketiga, Aleta," bisik Antonio rendah. Tangannya yang bebas terangkat, jemarinya secara perlahan menyelipkan helai rambut Aleta ke belakang telinganya. Sentuhan singkat itu membuat tubuh Aleta tersentak halus, memicu merinding yang menjalar hingga ke tulang belakangnya."Satu..."Aleta mengepalkan jemarinya kuat-kuat pada selimut, menatap manik mata hitam Antonio yang me
Sentuhan keras namun berhati-hati dari jemari Antonio di dagunya membuat napas Aleta terhenti. Tatapan pria itu begitu pekat, mengurung Aleta dalam hening yang sarat akan ketegangan. Bibir Antonio yang begitu dekat seolah menebar ancaman nyata bahwa kata-katanya bukanlah gertakan semata.Aleta mengepalkan jemarinya, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki. Rasa takut itu masih ada, membayangi setiap jengkal kulitnya. Namun di bawah tekanan aura Antonio yang dominan, api perlawanan di dalam diri Aleta yang selama ini terpendam justru membara."Anda pikir uang dan kekuasaan Anda bisa membeli segalanya?" desis Aleta, memberanikan diri menatap tepat ke dalam manik mata hitam pria itu. "Anda bisa mengurung tubuh saya di kamar ini, Tuan. Tapi Anda tidak akan pernah bisa menguasai saya."Sudut bibir Antonio terangkat tipis. Bukannya marah, pendar kepuasan yang samar justru berkilat di matanya. Pria itu menyukai kilat perlawanan di mata Aleta—jauh lebih baik daripada tatapan hampa
Pagi harinya, sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden tebal kamar tamu di lantai dua. Cahayanya menyiram lantai kayu yang berkilat bersih, menciptakan suasana hangat yang sangat kontras dengan badai emosi yang berkecamuk di dalam dada Aleta.Setelah kepergian Antonio semalam, Aleta tak bisa memejamkan mata sedikit pun. Kata-kata pria itu terus bergema di kepalanya bagaikan kutukan. Benci aku sesukamu... Aku yang akan menanggung seluruh hidupmu. Sentuhan dingin dan tatapan penuh dominasi yang tajam dari Antonio seolah masih membakar kulitnya.Suara ketukan pintu yang teratur memecah lamunan Aleta. Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan seorang wanita paruh baya berseragam rapi membawa nampan berisi sarapan hangat dan segelas susu, diikuti oleh Hans yang berdiri sopan di ambang pintu."Selamat pagi, Nyonya Aleta. Saya Bi Bikah, yang akan melayani kebutuhan Anda di sini," ucap wanita paruh baya itu ramah seraya meletakkan nampan di atas meja kecil di samping ranjang.Untuk pe
"Apa Aleta masih dikurung sama Roy, ya? Sudah mau tiga hari dia tidak bekerja. Biasanya jika ada masalah, dia akan tetap bekerja," ucap salah satu wanita pekerja ladang gandum sebelum mereka bersiap untuk bekerja."Kasihan sekali gadis itu, nasib baiknya hanya sebentar saja, pernikahan dengan Roy m
"Kamu tahu alasan kamu ada di sini?" Suara berat itu kemudian memecah hening kamar dingin di sudut ruangan setelah beberapa saat tak ada tanggapan atas ucapan Aleta."Aku minta maaf kalau mungkin aku ada sal --""Mungkin?" Antonio mengernyit. "Memang!"Lantas Antonio beranjak dari tempat duduknya
Byur!!Satu gelas berisi air disiramkan pada wajah Aleta sampai terhenyak bangun karena terkejut."Bagaimana tidurmu semalam, Jalang?"Sepasang mata Aleta membola saat mendengar sebutan itu untuknya. Padahal dia adalah wanita baik-baik. Ia tidak ingat apa yang terjadi semalam sampai akhirnya bisa t
Roy menghentikan langkahnya dan berbalik setelah mendengar pembelaan Mirah untuk istrinya. Namun dengan sigap Aleta menahan dan meminta maaf pada semua orang yang terganggu, terutama pada Mirah karena ia merasa bersalah sudah menumpang semalam dan menyeret Mirah dalam permasalahan yang dialaminya.







