LOGIN"Tolong .... Tolong ...."
Aleta berhasil keluar dari rumah lewat jendela kamarnya. Baju yang ia pakai sudah compang-camping karena pria itu mencoba membuka dengan merobek paksa. Untunglah Aleta bisa kabur setelah vas keramik di kamarnya ia hantam ke kepala pria itu hingga berdarah. Di momen itulah ia bisa keluar dari jendela kamar. Aleta bingung, ke mana ia harus kabur. Ke mana ia harus meminta pertolongan? Rumah-rumah di desa kecil itu tidak banyak dan cukup berjarak dari rumah ke rumah. Satu-satunya yang terpikirkan oleh Aleta adalah rumah Mirah. Ia akan bersembunyi di sana untuk sementara waktu sambil mencerna apa yang sebenarnya baru terjadi. Apakah teman suaminya itu memang sengaja mengambil kesempatan disaat Roy tengah keluar. Atau memang Roy yang sudah menjualnya apalagi dengan apa yang sudah ia dengar dari pria itu bahwa ia membayar mahal pada Roy. Disaat hendak mengetuk pintu, seseorang dari belakang memegang bahunya. Sontak Aleta terkejut langsung menoleh. "Kamu siapa?" Dengan suara beratnya. Di depan Aleta berdiri seorang pria yang bertubuh tinggi dan kekar, juga memiliki paras yang tampan. "Saya ..., mau mencari Mirah." Dipandangnya Aleta dari ujung rambut sampai ujung kaki, juga pakaian yang tidak layak karena banyak robekan. "Masuklah, dia ada di dalam. Biar saya panggilkan." Tanpa bertanya-tanya lebih lanjut, pria itu mempersilahkan Aleta untuk masuk ke dalam. "Saya anak Mirah, nama saya Erlan. Biar saya panggilkan, kamu bisa duduk dulu." Tak lama kemudian Mirah muncul dan cukup terkejut melihat keadaan Aleta yang datang ke rumahnya malam-malam dengan penampilan dan pakaian seperti itu. "Apa yang terjadi padamu, Aleta? Apa rumahmu kerampokan? Padahal di sini tidak pernah ada tindak kejahatan yang terjadi." Di desa kecil yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani juga banyak yang merantau ke kota besar, memang jarang sekali ada kejahatan terjadi. Aleta melirik sekilas pada Erlan, ia merasa sungkan untuk bercerita jika ada orang lain lagi yang akan mendengar ceritanya. "Saya akan masuk ke dalam kamar. Silakan bercerita dengan tenang." Seolah tahu jika dirinya menjadi penyebab Aleta tidak langsung bercerita, dengan tahu diri Erlan langsung masuk ke dalam kamar. "Aku akan ambilkan minum sebentar." Tak lama kemudian Mirah kembali dengan membawa air untuk Aleta. Lalu, Aleta menceritakan semuanya yang terjadi dari awal dia pulang ke rumah sampai akhirnya ia berada di rumah Mirah sekarang. "Astaga." Mirah cukup terkejut dengan cerita dari Aleta. Ia tidak menyangka kejadiannya separah itu. Meski tidak ada harta benda yang hilang, jauh lebih menakutkan jika Aleta sampai bisa ditiduri oleh pria asing yang dibawa oleh Roy ke rumah mereka. "Sebenarnya apa yang ada dipikiran Roy sampai tega berbuat begitu. Padahal dulu dia selalu memproteksi kamu dari orang-orang di desa ini terutama pada para pria. Sekarang dia malah mengundang pria asing ke rumah kalian. Dia sudah menjualmu, Aleta." Isak tangis Aleta semakin menjadi, sebab apa yang dikatakan oleh Mirah, itulah hal yang ia pikirkan juga sedari tadi. Jika pria asing itu tidak mengatakan bahwa dia telah membayar mahal pada Roy, mungkin saja Aleta masih mencoba berpikir positif. Namun pada kenyataannya tidak ada hal baik yang terbayangkan olehnya dari kejadian tadi. "Tenanglah, kamu akan aman di sini. Kamu bisa tidur bersamaku malam ini." "Maafkan aku, Mirah. Tidak ada orang lain yang aku pikirkan lagi untuk diminta pertolongan selain padamu. Aku juga tidak mau berteriak sepanjang jalan yang nantinya hanya akan menimbulkan kegaduhan." "Aku mengerti, pintu rumahku terbuka kapan saja untukmu." "Tapi, aku bingung besok bagaimana nasibku. Aku tidak mungkin terus menginap di sini. Lama-lama Roy akan tau aku ada disini. Bisa-bisa kamu kena imbasnya juga." "Jangan pikirkan hal itu dulu. Aku sudah menganggap kamu sebagai anakku sendiri, jadi sudah semestinya aku melindungimu. Kita pikirkan besok dengan kepala yang jernih. Sekarang kamu istirahat dan pakai bajuku saja. Biarlah Roy bingung sendiri mencari keberadaan kamu." Di malam itu, Aleta bisa tidur dengan nyaman meski perasaannya tidak begitu tenang karena memikirkan banyak hal. Hingga tidak terasa esok hari telah tiba, Aleta yang biasa bangun pagi sekali, hari itu ia bangun seperti biasanya. Ia keluar dari kamar dan melihat Mirah sedang menyiapkan sarapan dibantu oleh Erlan. "Mirah, sepertinya aku tidak bisa terus ada di sini. Roy pasti akan mencariku dan aku tidak mau kamu terlibat karena menampungku semalam. Aku harus pergi sekarang." "Ke mana? Ke rumah Roy lagi? Kamu tidak takut hal yang lebih buruk mungkin akan menimpa padamu lagi?" "Dari awal aku menjalin hubungan dengannya dengan cara yang baik, mungkin akan lebih baik juga jika aku mengakhiri semuanya dengan jalan yang baik pula." "Baiklah, tapi kamu harus makan dulu di sini sekarang. Semalaman perut kamu bunyi tapi aku juga tidak tega membangunkan kamu yang sudah lelap. Jadi, makanlah dulu." Aleta mengangguk, ia langsung membantu Mirah dan anaknya yang irit sekali dalam berbicara. "Mirah!! Keluar, Mirah! Jangan kamu sembunyikan istriku dalam rumahmu!! Keluar sekarang!" Terdengar suara teriakan dari luar dan itu adalah suara Roy yang jelas memancing orang-orang sekitar untuk keluar dari rumah mereka. "Itu Roy ...." "Kamu diam saja di sini, biar aku yang lihat ke depan," ucap Mirah. "Tidak, biar aku saja. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa karena Roy." "Aku akan lindungi ibuku," ucap Erlan. Mereka bertiga pun keluar untuk menemui Roy yang berteriak sepagi itu di depan rumah mereka. Sengaja sekali memang ingin membuat semua orang keluar dan menyaksikan apa yang terjadi. "Oh, jadi karena ada Erlan yang datang dari kota, kamu semalam tidur di sini, Aleta? Kamu mau mengkhianati suamimu ini? Kamu tidur dengan pria lain?" Belum ada kata apa-apa, Roy langsung playing victim. Memutar balikan fakta seolah Aleta yang bersalah dan dirinya lah yang menjadi korbannya. "Kamu tidak tau sopan santun. Dari dulu saat masih kaya, sampai sudah tidak punya apa-apa pun tingkah laku kamu sama sekali tidak berubah!" kata Erlan yang memandang Roy dengan tatapan tidak bersahabat. "Jangan karena kerja di kota, kamu bisa seenaknya membawa istri orang menginap di rumahmu. Pulang!" Roy menarik paksa Aleta untuk pulang dan membiarkan Aleta dipermalukan dengan tuduhan dia. "Semua orang di sini juga tau pasti kamu yang berulah sampai istrimu tidak tahan tinggal bersama kamu, Roy! Sekarang malah memutar balikan fakta yang sebenarnya terjadi, kamu lah yang menjual istrimu sampai dia semalam kabur dari rumah dengan pakaian yang tidak layak karena hampir disetubuhi orang lain. Otakmu di mana?" Emosi Mirah mulai tersulut karena tingkah Roy, ia mengasihani Aleta yang dipermalukan seperti itu di depan orang banyak. Sehingga ia juga tidak segan untuk pasang badan.Mentari pagi memancarkan pendar keemasan yang begitu hangat, menyinari hamparan ladang gandum emas yang meluas di belakang kediaman utama. Angin sejuk berhembus pelan, menari-nari di antara dedaunan dan membawa aroma tanah yang tenang serta kelopak mawar putih yang bermekaran sempurna di sepanjang pekarangan.Di atas teras kayu mahoni yang luas, sebuah meja bundar berlapis taplak putih menyajikan hidangan sarapan pagi. Alexander, yang kini melangkah makin lincah dengan tawa bahagianya, sibuk bermain dengan mainan kayu kecil di atas rumput tebal di bawah pengawasan lembut Bi Bikah dan Hans. Sosok penerus mungil itu tumbuh menjadi anak yang penuh kasih, kuat, dan diliputi kedamaian yang tak pernah tercemar oleh bayangan masa lalu.Aleta berdiri di tepi teras, mengamati putra kecilnya dengan senyuman anggun yang tak pernah luntur. Dalam balutan gaun sutra berwarna krem pastel yang jatuh indah menyapu lantai, Aleta memancarkan keindahan murni seorang ibu dan Nyonya rumah yang sempurna. Ta
Langit malam menyelimuti kediaman megah Antonio dengan ribuan bintang yang berpendar terang. Di dalam gedung serbaguna kediaman yang telah diubah menjadi aula perjamuan privat, suasana begitu hangat dan penuh khidmat. Malam ini bukan sekadar perayaan rutin, melainkan momen bersejarah pengukuhan resmi masa depan keluarga Antonio.Para petinggi aliansi bisnis, tokoh-tokoh berpengaruh yang paling setia, serta seluruh anggota inti lingkaran dalam berkumpul dalam balutan busana formal. Namun, tidak seperti masa lalu yang selalu diliputi ketegangan politik atau intrik kekuasaan yang mengerikan, atmosfer perjamuan kali ini sepenuhnya dipenuhi rasa hormat mutlak dan pengakuan atas era baru yang damai di bawah kepemimpinan Antonio.Aleta berdiri di samping Antonio di atas podium utama. Dalam balutan gaun malam berwarna biru murni berlapis renda emas yang anggun, Aleta memancarkan pesona seorang Nyonya Muda yang tak tertandingi. Kecantikannya yang dulu tertutup oleh ketakutan kini mekar sempurn
Satu tahun telah berlalu sejak kehadiran Alexander Vance Antonio melengkapi kehidupan di kediaman utama. Waktu bergulir membawa kedewasaan baru bagi Aleta dan kedamaian yang makin mengakar kuat dalam setiap sudut kekuasaan Antonio. Rumah yang dulunya dingin dan penuh intrik kini dipenuhi gelak tawa renyah seorang balita yang mulai aktif mengeksplorasi dunianya.Sore itu, gurat jingga mentari terbenam membias indah di sepanjang selasar marmer yang menghadap langsung ke taman depan. Alexander, yang kini berusia satu tahun tiga bulan, berlari-lari kecil dengan langkah kakinya yang belum sepenuhnya stabil. Tawa mungilnya membahana setiap kali jemari kecilnya berusaha mengejar seekor kupu-kupu yang hinggap di antara semak mawar putih.Aleta berjalan pelan beberapa langkah di belakang putranya, mengenakan gaun sutra simpel berwarna terakota yang anggun. Senyuman hangat tak pernah lepas dari bibirnya saat memperhatikan Alexander yang tumbuh menjadi anak yang sangat sehat, cerdas, dan pembera
Tiga bulan berlalu sejak tangisan pertama Alexander Vance Antonio menggema di ruang persalinan kediaman utama. Suasana di dalam benteng megah yang dulu terasa kaku kini benar-benar bertransformasi total. Taman rumah kaca tempat Aleta biasa merawat bunga mawar kini dilengkapi dengan area bersantai yang nyaman, di mana ayunan kayu beralas bantal sutra terpasang khusus untuk Aleta dan Alexander berjemur menikmati sinar mentari pagi.Pagi itu, Aleta duduk di ayunan kayu seraya menggendong Alexander. Bayi laki-laki berusia tiga bulan itu tampak makin menggemaskan dengan pipi gembul yang memerah alami dan mata hitam berbinar yang sangat mirip dengan mata Antonio. Alexander sibuk mengoceh pelan, jemari mungilnya berusaha meraih kalung emas halus yang melingkar di leher ibunya.Aleta tertawa kecil, mengecup gemas pipi gembul putranya. "Kamu ingin kalung Ibu, Alexander? Nanti kalau sudah besar, Ayah pasti memberimu yang jauh lebih bagus."Langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekati
Sinar mentari pagi menyusup hangat melalui celah tirai sutra krem kamar utama, membias lembut di atas peraduan luas yang kini terasa jauh lebih hidup. Keheningan megah yang dulu menyelimuti ruangan ini telah berganti dengan kehangatan sebuah keluarga yang utuh. Di tengah tempat tidur, Aleta bersandar nyaman pada tumpukan bantal empuk, memeluk lembut mungilnya sang buah hati yang sedang terlelap tenang dalam dekapan hangatnya.Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Antonio melangkah keluar dengan celana panjang kain hitam dan kemeja santai berwarna abu-abu yang lengannya digulung hingga siku. Rambut hitam tebalnya yang sedikit basah memberi kesan hangat yang amat kontras dengan aura dominan yang biasa ia tampilkan di luar rumah. Tatapan mata hitamnya seketika terkunci pada dua sosok paling berharga di atas peraduan.Sebuah senyuman tipis dan amat menawan terukir spontan di wajah tampan Antonio—sebuah ekspresi kebahagiaan murni yang kini tak pernah lagi ia sembunyikan dari istrinya.Antoni
Suara monitor detak jantung berbunyi teratur di dalam ruang persalinan steril, beradu dengan deru napas Aleta yang makin memburu. Udara dingin ruangan tak mampu mengikis hawa panas yang membakar pertarungan hidup dan mati di atas peraduan medis. Peluh membasahi helai-helai rambut Aleta yang menempel di dahi, sementara wajah cantiknya memucat akibat rasa sakit yang kian mencengkeram rahimnya tanpa ampun."Satu dorongan kuat lagi, Nyonya Aleta! Kepala bayinya sudah terlihat!" seru dokter senior dengan intonasi mantap yang memberi dorongan semangat.Aleta mencengkeram jemari Antonio sekuat tenaganya. Buku-buku jarinya memutih, meremas telapak tangan kokoh sang suami yang tak sedikit pun bergeser dari samping kepalanya. Suara erangan penuh perjuangan keluar dari tenggorokan Aleta saat ia mengerahkan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya."Antonio... aku... aku tidak kuat lagi..." bisik Aleta terengah-engah, matanya berkaca-kaca menatap Antonio dengan kerapuhan yang mendalam.Antonio merend
"Kamu tahu alasan kamu ada di sini?" Suara berat itu kemudian memecah hening kamar dingin di sudut ruangan setelah beberapa saat tak ada tanggapan atas ucapan Aleta."Aku minta maaf kalau mungkin aku ada sal --""Mungkin?" Antonio mengernyit. "Memang!"Lantas Antonio beranjak dari tempat duduknya
Byur!!Satu gelas berisi air disiramkan pada wajah Aleta sampai terhenyak bangun karena terkejut."Bagaimana tidurmu semalam, Jalang?"Sepasang mata Aleta membola saat mendengar sebutan itu untuknya. Padahal dia adalah wanita baik-baik. Ia tidak ingat apa yang terjadi semalam sampai akhirnya bisa t
Roy menghentikan langkahnya dan berbalik setelah mendengar pembelaan Mirah untuk istrinya. Namun dengan sigap Aleta menahan dan meminta maaf pada semua orang yang terganggu, terutama pada Mirah karena ia merasa bersalah sudah menumpang semalam dan menyeret Mirah dalam permasalahan yang dialaminya.
"Mana uangnya?"Aleta menghela nafas panjang. "Aku baru saja sampai ke rumah, yang kamu tanyakan hanya uang. Seharian aku bekerja di ladang gandum, bahkan kamu tidak tanya selelah apa seharian aku di sana setiap hari tanpa libur.""Kamu baru bekerja satu tahun saja, lagaknya seperti sudah menghidup






