Share

BAB 3 Playing Victim

Author: Pritca Ruby
last update publish date: 2025-12-20 20:55:08

"Tolong .... Tolong ...."

Aleta berhasil keluar dari rumah lewat jendela kamarnya. Baju yang ia pakai sudah compang-camping karena pria itu mencoba membuka dengan merobek paksa. Untunglah Aleta bisa kabur setelah vas keramik di kamarnya ia hantam ke kepala pria itu hingga berdarah. Di momen itulah ia bisa keluar dari jendela kamar.

Aleta bingung, ke mana ia harus kabur. Ke mana ia harus meminta pertolongan? Rumah-rumah di desa kecil itu tidak banyak dan cukup berjarak dari rumah ke rumah.

Satu-satunya yang terpikirkan oleh Aleta adalah rumah Mirah. Ia akan bersembunyi di sana untuk sementara waktu sambil mencerna apa yang sebenarnya baru terjadi. Apakah teman suaminya itu memang sengaja mengambil kesempatan disaat Roy tengah keluar. Atau memang Roy yang sudah menjualnya apalagi dengan apa yang sudah ia dengar dari pria itu bahwa ia membayar mahal pada Roy.

Disaat hendak mengetuk pintu, seseorang dari belakang memegang bahunya. Sontak Aleta terkejut langsung menoleh.

"Kamu siapa?" Dengan suara beratnya.

Di depan Aleta berdiri seorang pria yang bertubuh tinggi dan kekar, juga memiliki paras yang tampan.

"Saya ..., mau mencari Mirah."

Dipandangnya Aleta dari ujung rambut sampai ujung kaki, juga pakaian yang tidak layak karena banyak robekan.

"Masuklah, dia ada di dalam. Biar saya panggilkan."

Tanpa bertanya-tanya lebih lanjut, pria itu mempersilahkan Aleta untuk masuk ke dalam.

"Saya anak Mirah, nama saya Erlan. Biar saya panggilkan, kamu bisa duduk dulu."

Tak lama kemudian Mirah muncul dan cukup terkejut melihat keadaan Aleta yang datang ke rumahnya malam-malam dengan penampilan dan pakaian seperti itu.

"Apa yang terjadi padamu, Aleta? Apa rumahmu kerampokan? Padahal di sini tidak pernah ada tindak kejahatan yang terjadi."

Di desa kecil yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani juga banyak yang merantau ke kota besar, memang jarang sekali ada kejahatan terjadi.

Aleta melirik sekilas pada Erlan, ia merasa sungkan untuk bercerita jika ada orang lain lagi yang akan mendengar ceritanya.

"Saya akan masuk ke dalam kamar. Silakan bercerita dengan tenang."

Seolah tahu jika dirinya menjadi penyebab Aleta tidak langsung bercerita, dengan tahu diri Erlan langsung masuk ke dalam kamar.

"Aku akan ambilkan minum sebentar."

Tak lama kemudian Mirah kembali dengan membawa air untuk Aleta. Lalu, Aleta menceritakan semuanya yang terjadi dari awal dia pulang ke rumah sampai akhirnya ia berada di rumah Mirah sekarang.

"Astaga." Mirah cukup terkejut dengan cerita dari Aleta. Ia tidak menyangka kejadiannya separah itu. Meski tidak ada harta benda yang hilang, jauh lebih menakutkan jika Aleta sampai bisa ditiduri oleh pria asing yang dibawa oleh Roy ke rumah mereka.

"Sebenarnya apa yang ada dipikiran Roy sampai tega berbuat begitu. Padahal dulu dia selalu memproteksi kamu dari orang-orang di desa ini terutama pada para pria. Sekarang dia malah mengundang pria asing ke rumah kalian. Dia sudah menjualmu, Aleta."

Isak tangis Aleta semakin menjadi, sebab apa yang dikatakan oleh Mirah, itulah hal yang ia pikirkan juga sedari tadi. Jika pria asing itu tidak mengatakan bahwa dia telah membayar mahal pada Roy, mungkin saja Aleta masih mencoba berpikir positif. Namun pada kenyataannya tidak ada hal baik yang terbayangkan olehnya dari kejadian tadi.

"Tenanglah, kamu akan aman di sini. Kamu bisa tidur bersamaku malam ini."

"Maafkan aku, Mirah. Tidak ada orang lain yang aku pikirkan lagi untuk diminta pertolongan selain padamu. Aku juga tidak mau berteriak sepanjang jalan yang nantinya hanya akan menimbulkan kegaduhan."

"Aku mengerti, pintu rumahku terbuka kapan saja untukmu."

"Tapi, aku bingung besok bagaimana nasibku. Aku tidak mungkin terus menginap di sini. Lama-lama Roy akan tau aku ada disini. Bisa-bisa kamu kena imbasnya juga."

"Jangan pikirkan hal itu dulu. Aku sudah menganggap kamu sebagai anakku sendiri, jadi sudah semestinya aku melindungimu. Kita pikirkan besok dengan kepala yang jernih. Sekarang kamu istirahat dan pakai bajuku saja. Biarlah Roy bingung sendiri mencari keberadaan kamu."

Di malam itu, Aleta bisa tidur dengan nyaman meski perasaannya tidak begitu tenang karena memikirkan banyak hal.

Hingga tidak terasa esok hari telah tiba, Aleta yang biasa bangun pagi sekali, hari itu ia bangun seperti biasanya. Ia keluar dari kamar dan melihat Mirah sedang menyiapkan sarapan dibantu oleh Erlan.

"Mirah, sepertinya aku tidak bisa terus ada di sini. Roy pasti akan mencariku dan aku tidak mau kamu terlibat karena menampungku semalam. Aku harus pergi sekarang."

"Ke mana? Ke rumah Roy lagi? Kamu tidak takut hal yang lebih buruk mungkin akan menimpa padamu lagi?"

"Dari awal aku menjalin hubungan dengannya dengan cara yang baik, mungkin akan lebih baik juga jika aku mengakhiri semuanya dengan jalan yang baik pula."

"Baiklah, tapi kamu harus makan dulu di sini sekarang. Semalaman perut kamu bunyi tapi aku juga tidak tega membangunkan kamu yang sudah lelap. Jadi, makanlah dulu."

Aleta mengangguk, ia langsung membantu Mirah dan anaknya yang irit sekali dalam berbicara.

"Mirah!! Keluar, Mirah! Jangan kamu sembunyikan istriku dalam rumahmu!! Keluar sekarang!"

Terdengar suara teriakan dari luar dan itu adalah suara Roy yang jelas memancing orang-orang sekitar untuk keluar dari rumah mereka.

"Itu Roy ...."

"Kamu diam saja di sini, biar aku yang lihat ke depan," ucap Mirah.

"Tidak, biar aku saja. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa karena Roy."

"Aku akan lindungi ibuku," ucap Erlan.

Mereka bertiga pun keluar untuk menemui Roy yang berteriak sepagi itu di depan rumah mereka. Sengaja sekali memang ingin membuat semua orang keluar dan menyaksikan apa yang terjadi.

"Oh, jadi karena ada Erlan yang datang dari kota, kamu semalam tidur di sini, Aleta? Kamu mau mengkhianati suamimu ini? Kamu tidur dengan pria lain?"

Belum ada kata apa-apa, Roy langsung playing victim. Memutar balikan fakta seolah Aleta yang bersalah dan dirinya lah yang menjadi korbannya.

"Kamu tidak tau sopan santun. Dari dulu saat masih kaya, sampai sudah tidak punya apa-apa pun tingkah laku kamu sama sekali tidak berubah!" kata Erlan yang memandang Roy dengan tatapan tidak bersahabat.

"Jangan karena kerja di kota, kamu bisa seenaknya membawa istri orang menginap di rumahmu. Pulang!" Roy menarik paksa Aleta untuk pulang dan membiarkan Aleta dipermalukan dengan tuduhan dia.

"Semua orang di sini juga tau pasti kamu yang berulah sampai istrimu tidak tahan tinggal bersama kamu, Roy! Sekarang malah memutar balikan fakta yang sebenarnya terjadi, kamu lah yang menjual istrimu sampai dia semalam kabur dari rumah dengan pakaian yang tidak layak karena hampir disetubuhi orang lain. Otakmu di mana?"

Emosi Mirah mulai tersulut karena tingkah Roy, ia mengasihani Aleta yang dipermalukan seperti itu di depan orang banyak. Sehingga ia juga tidak segan untuk pasang badan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 58 Bayangan di Balik Nama

    Ketegangan di dalam rumah kaca itu makin pekat, menghimpit dada Aleta hingga terasa sesak. Angin pagi yang berhembus menembus celah ventilasi tak mampu mendinginkan kehangatan udara yang mendadak membeku oleh kedinginan sikap Antonio.Aleta menatap pria di hadapannya dengan tatapan penuh kebingungan. Kalimat Antonio yang berjanji akan melindunginya dari "siapa pun" bukannya memberi rasa tenang, melainkan justru menyulut badai pertanyaan besar di dalam kepalanya. Mengapa pencarian identitas ibu kandungnya sendiri tiba-tiba berubah menjadi urusan keamanan yang begitu menakutkan?"Antonio..." panggil Aleta dengan suara bergetar. Ia menepis pelan tangan Antonio yang merengkuh bahunya, menuntut jarak agar ia bisa menatap lurus ke dalam manik mata hitam pria itu. "Apa maksud ucapanmu tadi? Kenapa kamu menyuruh Hans mengamankan arsip itu dari ibumu? Dan... siapa sebenarnya Sofia Vance?"Antonio diam membisu. Rahangnya mengetat keras, mengunci rapat-rapat deretan giginya. Pria mafia yang bias

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 57 Perburuan Rahasia

    Di dalam kediaman mewahnya yang dingin, Helena berdiri di balik meja kerja kayu mahoni yang megah. Asap tipis dari rokok aromatik merayap pelan di udara, mengalun di sekitar wajahnya yang kaku dan penuh kedengkian. Di hadapannya, seorang pria bersetelan serba hitam menunduk hormat seraya meletakkan sebuah map cokelat tebal berstempel rahasia."Apakah ini informasi yang aku minta?" suara Helena menggelegar tenang namun sarat akan intonasi tajam yang menuntut."Benar, Nyonya Helena," jawab detektif swasta itu dengan nada rendah. "Tim kami berhasil membongkar arsip lama di rumah sakit kota seberang yang sempat terkunci selama dua dekade. Kami menemukan dokumen kelahiran Aleta."Helena menyambar map cokelat itu dengan gerakan cepat. Jemarinya yang dihiasi cincin permata membuka lembaran-lembaran kertas kusam di dalamnya. Begitu matanya meneliti baris demi baris tulisan tangan di lembaran utama, langkah napas Helena mendadak terhenti sejenak. Manik matanya membelalak lebar, membaca sebuah

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 56 Bunga-bunga Rahasia

    Suasana hati Antonio yang membaik berdampak langsung pada seluruh penghuni kediaman. Ketegangan yang sebelumnya membayangi akibat kedatangan Helena dan Giselle perlahan sirna, berganti dengan kesibukan akhir menjelang hari pernikahan yang tinggal menghitung hari.Pagi itu, udara segar bertiup di area rumah kaca pribadi milik Antonio. Aleta berdiri di antara deretan pot tanaman langka, memegang pangkas tanaman kecil seraya merawat beberapa kelopak bunga mawar putih yang mulai bermekaran. Di sudut lain rumah kaca, Bi Bikah bersama seorang pelayan muda sibuk merapikan wadah-wadah kristal yang akan digunakan untuk menghias meja jamuan."Nyonya Aleta tampak sangat bahagia hari ini," bisik pelayan muda itu pada Bi Bikah dengan senyum dikulum.Bi Bikah terkekeh pelan, mengangguk setuju. "Tuan Antonio juga sama. Sejak Tuan mengenalnya, rumah ini tidak lagi terasa seperti benteng yang dingin. Ada kehidupan di sini."Aleta yang mendengar bisik-bisik itu hanya bisa tersenyum tipis, merona halus.

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 55 Senyum di Balik Riak Cemburu

    Antonio terpaku sejenak menatap wajah Aleta. Manik mata hitamnya membaca setiap senti perubahan ekspresi wanita di hadapannya—bibir yang sedikit mengerucut, tatapan mata yang menuntut sebuah jawaban, serta keraguan samar yang terbersit di balik kelopak matanya yang indah. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu dan melewati berbagai badai kehidupan bersama, Antonio melihat Aleta menunjukkan rasa cemburu yang begitu nyata, jujur, dan polos.Alih-alih merasa terganggu, terdesak, atau terbebani oleh pertanyaan menuntut itu, sudut bibir Antonio justru perlahan-lahan terangkat. Sebuah senyuman tipis yang amat tampan, hangat, dan sarat akan rasa puas terukir di wajah tegas sang penguasa tanah. Ada gejolak kebahagiaan yang meluap hebat di dalam dadanya—sebuah perasaan yang jauh lebih memuaskan daripada kemenangan bisnis atau penaklukan musuh mana pun di dunia hitam.Bagi Antonio, kecemburuan Aleta adalah bukti sahih yang paling dinanti. Hal itu menegaskan bahwa wanita di pelukannya kini t

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 54 Riak Cemburu

    Kehadiran Antonio yang tiba-tiba membuat suhu udara di dalam aula seketika merosot dingin. Pria mafia itu berdiri menjulang di depan Aleta, memotong jarak antara wanitanya dengan dua tamu tak diundang tersebut. Pandangan mata hitamnya yang tajam mengunci Helena dan Giselle dengan binar ancaman yang begitu pekat, seolah siap meremukkan siapa saja yang berani mengusik ketenangan Aleta.Helena, yang sangat mengenali tabiat putra tunggalnya saat batas kesabarannya hampir habis, dengan cepat memegang lengan Giselle. Sebelum Antonio sempat mengeluarkan titah pengusiran yang dingin dan mempermalukan mereka di hadapan para pekerja, Helena menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa tak puas."Kami hanya berkunjung sebentar untuk melihat sejauh mana kesiapan acara besarmu, Antonio," ujar Helena datar, menetralkan suaranya agar tetap terdengar berwibawa di tengah gertakan atmosfer yang mematikan. "Ayo, Giselle. Kita tidak perlu mengganggu kesibukan calon pengantin ini lebih lama lagi."Gis

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 53 Bisikan Duri Diantara Gaun Sutra

    Persiapan pernikahan yang tinggal menghitung hari sudah mencapai sembilan puluh persen. Kesibukan di kediaman Antonio berada di puncaknya. Setiap sudut aula utama didekorasi dengan rangkaian bunga mawar putih langka dan sentuhan gandum keemasan—sebuah konsep elegan yang dirancang penuh ketelitian oleh Aleta sendiri.Pagi itu, Aleta sedang berdiri di tengah aula, mengawasi para penata bunga yang merangkai hiasan di pilar-pilar marmer. Wajahnya berseri-seri, memancarkan kedamaian dan kebahagiaan seorang calon pengantin yang siap menyongsong hidup baru.Namun, ketenangan itu seketika terusik saat pintu jati raksasa di serambi depan terbuka lebar.Langkah kaki bersepatu hak tinggi beradu nyaring dengan lantai marmer. Helena melangkah masuk dengan gaun keanggotaan aristokrat berwarna biru dongker yang dingin, memancarkan keangkuhan yang tak berkurang sedikit pun. Di sampingnya, berjalan seorang wanita muda yang amat memukau—Giselle.Giselle mengenakan terusan vanila berbahan sutra mahal, r

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 6 Malam Panjang

    "Kamu tahu alasan kamu ada di sini?" Suara berat itu kemudian memecah hening kamar dingin di sudut ruangan setelah beberapa saat tak ada tanggapan atas ucapan Aleta."Aku minta maaf kalau mungkin aku ada sal --""Mungkin?" Antonio mengernyit. "Memang!"Lantas Antonio beranjak dari tempat duduknya

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 5 Kesalahan

    Byur!!Satu gelas berisi air disiramkan pada wajah Aleta sampai terhenyak bangun karena terkejut."Bagaimana tidurmu semalam, Jalang?"Sepasang mata Aleta membola saat mendengar sebutan itu untuknya. Padahal dia adalah wanita baik-baik. Ia tidak ingat apa yang terjadi semalam sampai akhirnya bisa t

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 4 Tawanan

    Roy menghentikan langkahnya dan berbalik setelah mendengar pembelaan Mirah untuk istrinya. Namun dengan sigap Aleta menahan dan meminta maaf pada semua orang yang terganggu, terutama pada Mirah karena ia merasa bersalah sudah menumpang semalam dan menyeret Mirah dalam permasalahan yang dialaminya.

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 2 Sebuah Pelecehan

    Matahari sudah tidak terlihat lagi, digantikan oleh bulan sabit yang seolah tersenyum meskipun tidak ada taburan bintang yang ikut menghiasi langit yang gelap."Bahkan bulan saja masih mampu tersenyum walaupun dia sendirian di langit yang gelap itu," gumam Aleta yang hendak menutup jendela tetapi s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status