LOGINRoy menghentikan langkahnya dan berbalik setelah mendengar pembelaan Mirah untuk istrinya. Namun dengan sigap Aleta menahan dan meminta maaf pada semua orang yang terganggu, terutama pada Mirah karena ia merasa bersalah sudah menumpang semalam dan menyeret Mirah dalam permasalahan yang dialaminya. Apalagi sekarang dia seolah sudah menjadi alasan keributan sepagi itu di tempat yang biasanya tenang.
Aleta dan Roy pulang ke rumah diiringi tatapan banyak orang, tentunya dengan berbagai opini mereka masing-masing. Karena tidak ingin semua orang berpikiran buruk pada Aleta, juga untuk membersihkan nama anaknya secara pribadi karena tuduhan Roy tadi, Mirah menceritakan semua yang terjadi pada semua orang yang masih berkumpul selepas Roy dan Aleta pergi. Untunglah saja karena hampir semua orang di sana tahu bagaimana tabiat Roy, juga tahu bagaimana sifat Erlan dan Aleta, semua warga percaya pada penjelasan yang dikatakan oleh Mirah. "Semoga Aleta bisa berpikir jernih dan pergi dari rumah itu juga dari kehidupan Roy, sebelum hal yang lebih buruk mungkin akan terjadi," gumam Mirah. Berhari-hari berlalu .... Aleta tidak diizinkan untuk keluar rumah, bahkan tidak diberikan izin untuk bekerja seperti biasanya. Gagalnya rencana Roy menjual Aleta tempo hari, membuat hutangnya malah bertambah alih-alih berkurang. Hari itu sikap Roy memang tidak biasa, Aleta bisa merasakannya sendiri. Berhari-hari mendengar kemarahan Roy, tiba dihari itu Roy mendadak baik sekali. Roy sampai menyiapkan sarapan dan mengajak istrinya untuk berbelanja baju, meski tidak mahal tetapi itu baju baru. Selain itu, Aleta juga ia ajak ke salon untuk merapikan rambut dan membuat wajahnya kembali berseri. Aleta jelas bingung dengan perubahan Roy yang begitu mendadak. Ia juga heran dimana suaminya itu bisa mendapatkan uang untuk membeli baju dan pergi ke salon. "Apa yang kamu rencanakan lagi? Mau ke mana kita sekarang?" tanya Aleta setelah mereka naik bus antar kota. "Tidak baik menaruh curiga pada suamimu sendiri! Kita akan menemui saudaraku di kota sebelah. Aku akan meminta bantuan dan pekerjaan dari dia. Makanya aku ingin kamu tampil sedikit lebih baik dari hari-hari biasanya kamu yang selalu terlihat lusuh." Mendengar jawaban Roy, Aleta tidak banyak bertanya lagi. Ia merasa cukup senang jika hal itu benar karena berarti Roy sedang berusaha untuk mencari pekerjaan. Berjam-jam berlalu, bus tak kunjung berhenti. Sampai akhirnya bus berhenti di halte yang sangat sepi, apalagi sebelumnya mereka melewati berhektar-hektar ladang dan kebun tanpa ada pemukiman warga. "Sebenarnya saudara kamu tinggal di mana? Kenapa jauh dari pemukiman?" "Sudah ayo turun." Setelah turun, sebelum melanjutkan perjalanan lagi, Roy meminta Aleta untuk melepaskan cincin kawin mereka. Itu adalah satu-satunya harta yang paling dipertahankan oleh Aleta setelah semuanya dijual. "Kita udah sepakat kalau cincin ini tidak akan di jual. Ini ikatan janji suci pernikahan kita." "Hanya untuk jaminan saja, tidak akan lama!" Roy memaksa dan akhirnya cincin itu lepas dari jari manis Aleta. Sekitar 15 menit berjalan, mereka sampai di depan gerbang yang begitu tinggi dan megahnya. 'Rumah siapa sebesar ini tapi jauh dari mana-mana, sekelilingnya juga hutan,' batin Aleta. Setelah dipersilahkan untuk masuk karena gerbang terbuka secara otomatis, mereka berdua harus berjalan cukup jauh lagi untuk sampai ke rumah yang dituju. Mereka diminta untuk duduk dan menunggu diarea belakang rumah. Perjalanan panjang dan melelahkan bagi keduanya. Sesaat kemudian seorang pria bertubuh tinggi dan kekar menghampiri mereka. "Langsung saja, berapa yang kalian butuhkan dan jaminan apa yang kalian bawa?" Aleta melirik Roy, seolah tengah bertanya dalam diamnya mengapa dia bertanya seperti itu pada mereka. Padahal tadi Roy berkata bahwa ia akan mendapatkan pekerjaan. Bukan meminjam uang dengan jaminan. Apalagi mereka sudah tidak punya apa-apa untuk dijadikan jaminan. "Saya butuh satu juta dollar." Tidak hanya Aleta yang terkejut dengan nominal yang disebutkan suaminya, pria asing itu juga sama terkejutnya, sehingga ia merasa penasaran dengan jaminan apa yang akan ia terima. "Satu juta dollar? Nominal yang cukup besar. Lalu, apa jaminannya?" "Ini." Roy memegang tangan Aleta, membuat Aleta bukan lagi terkejut tapi marah. "Apa? Kamu menjadikanku jaminan? Kamu gila, Roy!" Aleta menepis tangan Roy dan berlari pergi dari sana. Namun Roy tidak langsung mengejar Aleta, karena pintu gerbang depan saja tertutup otomatis dan tidak bisa dibuka secara manual. "Kamu membawa wanita itu sebagai jaminan? Saya lebih suka ladang, gedung, atau rumah. Bukan wanita. Jadi silahkan pergi dari sini, saya tidak tertarik untuk membantumu." Roy tidak heran dengan reaksi dari pria bernama Antonio itu. Sebab sebelumnya juga ia sudah mendengar banyak informasi mengenai sang mafia tanah yang terkenal keji dan tidak berbelas kasih, bahwasannya dia tidak suka dengan wanita. Para pekerja dan pelayan di rumahnya saja semuanya laki-laki. Sangat berbeda dari prediksi awalnya. Namun Roy yang sudah tidak punya apa-apa untuk dijadikan jaminan, merasa putus asa dan tidak ada salahnya berusaha juga mencoba peruntungan diri sendiri. "Tapi Tuan pasti akan menyukainya. Saya jamin itu, dia bisa melakukan banyak hal, dia bisa bekerja di ladang, bisa membersihkan rumah dan kandang ternak, memasak makanan enak, mencuci pakaian dan masih banyak hal lain yang bisa dia lakukan. Apalagi dalam hal ..., ranjang." "Kau menjadikan istrimu pelacur? Pu --" "Demi pengobatan rumah sakit ibu saya, Tuan. Semua harta benda saya sudah saya jual dan menjadikan saya mempunyai hutang dimana-mana karena judi yang saya ambil sebagai jalan pintas. Lalu, istri saya juga malah berselingkuh dengan pria lain kemarin. Jadi, saya mau memberikan sedikit pelajaran untuk dia." Roy, si otak cerdik dan licik, memanfaatkan kelemahan sang mafia itu untuk keuntungan pribadinya. Ia sudah banyak mencari informasi dari banyak orang, jika masa lalu kelam sang mafia tanah itu berkaitan dengan ibu juga perselingkuhan. Antonio yang mempunyai luka batin di masa lalu, rupanya masih lemah jika hal itu menyangkut ibu juga tentang perselingkuhan. Rasanya ia tidak bisa jika harus menolak tawaran pria dihadapannya. "Berapa waktu kamu bisa lunasi hutang dan bunganya?" "Seratus hari, Tuan." "Satu bulan!" "Tidak mungkin, Tuan. Uang yang saya pinjam itu untuk bayar hutang dan biaya rumah sakit. Perlu waktu bagi saya mencari uang lagi untuk melunasi semuanya." "Jika seratus hari itu tidak bisa kau lunasi?" "Terserah, Tuan. Jual saja dia di rumah bordil dan buat dia bekerja seumur hidup pada Tuan, saya tidak peduli. Itu adalah hukuman untuk wanita peselingkuh." 'Menarik,' batin Antonio. Setelah pertimbangan cukup lama, Antonio akhirnya memberikan uang yang diminta oleh Roy dimalam itu juga. Dan disaat itu pula, Aleta menjadi barang jaminan yang harus tinggal di rumah megah tetapi cukup mengerikan, dengan entah bagaimana nasib dirinya nanti.Kehadiran Antonio yang tiba-tiba membuat suhu udara di dalam aula seketika merosot dingin. Pria mafia itu berdiri menjulang di depan Aleta, memotong jarak antara wanitanya dengan dua tamu tak diundang tersebut. Pandangan mata hitamnya yang tajam mengunci Helena dan Giselle dengan binar ancaman yang begitu pekat, seolah siap meremukkan siapa saja yang berani mengusik ketenangan Aleta.Helena, yang sangat mengenali tabiat putra tunggalnya saat batas kesabarannya hampir habis, dengan cepat memegang lengan Giselle. Sebelum Antonio sempat mengeluarkan titah pengusiran yang dingin dan mempermalukan mereka di hadapan para pekerja, Helena menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rasa tak puas."Kami hanya berkunjung sebentar untuk melihat sejauh mana kesiapan acara besarmu, Antonio," ujar Helena datar, menetralkan suaranya agar tetap terdengar berwibawa di tengah gertakan atmosfer yang mematikan. "Ayo, Giselle. Kita tidak perlu mengganggu kesibukan calon pengantin ini lebih lama lagi."Gis
Persiapan pernikahan yang tinggal menghitung hari sudah mencapai sembilan puluh persen. Kesibukan di kediaman Antonio berada di puncaknya. Setiap sudut aula utama didekorasi dengan rangkaian bunga mawar putih langka dan sentuhan gandum keemasan—sebuah konsep elegan yang dirancang penuh ketelitian oleh Aleta sendiri.Pagi itu, Aleta sedang berdiri di tengah aula, mengawasi para penata bunga yang merangkai hiasan di pilar-pilar marmer. Wajahnya berseri-seri, memancarkan kedamaian dan kebahagiaan seorang calon pengantin yang siap menyongsong hidup baru.Namun, ketenangan itu seketika terusik saat pintu jati raksasa di serambi depan terbuka lebar.Langkah kaki bersepatu hak tinggi beradu nyaring dengan lantai marmer. Helena melangkah masuk dengan gaun keanggotaan aristokrat berwarna biru dongker yang dingin, memancarkan keangkuhan yang tak berkurang sedikit pun. Di sampingnya, berjalan seorang wanita muda yang amat memukau—Giselle.Giselle mengenakan terusan vanila berbahan sutra mahal, r
Suara pecahnya porselen mahal memecah keheningan rumah klasik Eropa milik Helena. Helena berdiri di tengah ruang tamu yang luas, menatap pintu jati yang baru saja tertutup rapat oleh kepergian Antonio dan Aleta. Dadanya kembang kempis menahan amarah yang meledak-ledak. Tangannya yang dipenuhi cincin berlian gemetar hebat akibat penghinaan yang baru saja dilayangkan oleh putra tunggalnya sendiri."Kurang ajar... Benar-benar anak tidak tahu diri!" desis Helena, suaranya bergetar penuh kemurkaan.Bagi Helena, restu keluarga adalah syarat mutlak, sebuah simbol kendali yang selama ini selalu ia pegang. Ia tidak akan pernah membiarkan Antonio—anak yang seharusnya menjadi kunci kejayaan dan kekuasaan trah keluarga mereka—menikahi seorang wanita tanpa silsilah, tanpa latar belakang, dan tanpa nilai tawar di dunia kelas atas.Lebih dari itu, Helena telah menyusun rencana besar yang telah ia rancang sejak bertahun-tahun lalu. Sebuah rencana perjodohan yang tidak boleh gagal.Helena melangkah ce
Hari pernikahan yang kian mendekat membawa atmosfer baru di kediaman Antonio. Kesibukan persiapan terasa di mana-mana, namun di balik kesempurnaan itu, ada satu tanggung jawab yang membuat rahang Antonio mengeras setiap kali mengingatnya. Mau tidak mau, ia harus membawa Aleta menemui ibunya—satu-satunya anggota keluarga kandung Antonio yang masih hidup di dunia ini.Seumur hidupnya berada di dekat Antonio, Aleta sama sekali tidak pernah mendengar pria itu menyinggung soal keluarga. Rasa penasaran itu akhirnya memuncak saat Antonio memintanya bersiap untuk berkunjung."Antonio..." panggil Aleta pelan, melangkah mendekati meja kerja pria itu. "Sebenarnya... seperti apa keluargamu? Kenapa selama ini kamu tidak pernah menceritakan ibumu padaku?"Antonio yang sedang menyesap wiski tanpa es mendadak membeku. Pandangannya yang menatap keluar jendela seketika mengelam. Sebuah peristiwa pahit di masa lalunya—ketika sang ibu, Helena, memprioritaskan ambisi, harta, dan nama baik keluarga di atas
Angin siang berhembus pelan, menerbangkan helai-helai rambut Aleta saat ia berdiri di tepi halaman panti asuhan yang sedang dibangun. Gelak tawa anak-anak yang berlarian mengejar bola plastik bergaung riang, memecah keheningan lokasi konstruksi. Di sampingnya, Antonio berdiri tegap, sebelah tangannya berada di dalam saku celana bahan, sementara tangan lainnya menggenggam erat jemari Aleta yang terasa dingin.Aleta memperhatikan sesosok anak perempuan kecil yang sedang dipeluk hangat oleh salah satu pengurus panti. Binar kebahagiaan di mata anak itu memicu kerinduan samar yang selama bertahun-tahun selalu ia kubur dalam-dalam di dasar hatinya."Kamu memikirkan sesuatu?" suara berat Antonio memecah lamunan Aleta, lembut dan sarat akan perhatian.Aleta menoleh, tersenyum tipis seraya menghela napas panjang. Matanya kembali menatap anak-anak yang sedang bermain sebelum akhirnya tertunduk menatap tanah."Aku cuma... mendadak teringat pada orang tuaku, Antonio," bisik Aleta pelan, suaranya
Mentari pagi memancarkan pendar keemasan yang menembus celah gorden sutra di kamar utama. Di atas peraduan yang empuk, Aleta perlahan membuka matanya. Rasa hangat menyelimuti tubuhnya, berasal dari lengan tegap Antonio yang melingkar posesif di pinggangnya. Jemari tangan kiri Aleta terangkat perlahan ke udara, menatap pendar silau dari cincin berlian platinum yang kini melingkar indah di jari manisnya—sebuah bukti nyata bahwa peristiwa di bukit semalam bukanlah sekadar bunga tidur.Aleta tersenyum tipis, merasakan desiran hangat yang meluap di dadanya. Pria yang dulu sangat ia takuti dan benci, kini menjadi sosok yang paling ia harapkan hadir di setiap helaan napasnya."Suka dengan cincinnya?" suara berat dan serak khas bangun tidur bergaung di dekat telinganya.Aleta menoleh sedikit, mendapati Antonio sedang menatapnya dengan manik mata hitam yang teduh dan penuh pemujaan. Antonio mengecup bahu terbuka Aleta dengan lembut, sebelum akhirnya menarik tubuh wanitanya makin rapat ke dalam
"Kamu tahu alasan kamu ada di sini?" Suara berat itu kemudian memecah hening kamar dingin di sudut ruangan setelah beberapa saat tak ada tanggapan atas ucapan Aleta."Aku minta maaf kalau mungkin aku ada sal --""Mungkin?" Antonio mengernyit. "Memang!"Lantas Antonio beranjak dari tempat duduknya
Byur!!Satu gelas berisi air disiramkan pada wajah Aleta sampai terhenyak bangun karena terkejut."Bagaimana tidurmu semalam, Jalang?"Sepasang mata Aleta membola saat mendengar sebutan itu untuknya. Padahal dia adalah wanita baik-baik. Ia tidak ingat apa yang terjadi semalam sampai akhirnya bisa t
"Tolong .... Tolong ...."Aleta berhasil keluar dari rumah lewat jendela kamarnya. Baju yang ia pakai sudah compang-camping karena pria itu mencoba membuka dengan merobek paksa. Untunglah Aleta bisa kabur setelah vas keramik di kamarnya ia hantam ke kepala pria itu hingga berdarah. Di momen itulah
Matahari sudah tidak terlihat lagi, digantikan oleh bulan sabit yang seolah tersenyum meskipun tidak ada taburan bintang yang ikut menghiasi langit yang gelap."Bahkan bulan saja masih mampu tersenyum walaupun dia sendirian di langit yang gelap itu," gumam Aleta yang hendak menutup jendela tetapi s







