공유

BAB 4 Tawanan

작가: Pritca Ruby
last update 게시일: 2025-12-20 21:21:56

Roy menghentikan langkahnya dan berbalik setelah mendengar pembelaan Mirah untuk istrinya. Namun dengan sigap Aleta menahan dan meminta maaf pada semua orang yang terganggu, terutama pada Mirah karena ia merasa bersalah sudah menumpang semalam dan menyeret Mirah dalam permasalahan yang dialaminya. Apalagi sekarang dia seolah sudah menjadi alasan keributan sepagi itu di tempat yang biasanya tenang.

Aleta dan Roy pulang ke rumah diiringi tatapan banyak orang, tentunya dengan berbagai opini mereka masing-masing.

Karena tidak ingin semua orang berpikiran buruk pada Aleta, juga untuk membersihkan nama anaknya secara pribadi karena tuduhan Roy tadi, Mirah menceritakan semua yang terjadi pada semua orang yang masih berkumpul selepas Roy dan Aleta pergi.

Untunglah saja karena hampir semua orang di sana tahu bagaimana tabiat Roy, juga tahu bagaimana sifat Erlan dan Aleta, semua warga percaya pada penjelasan yang dikatakan oleh Mirah.

"Semoga Aleta bisa berpikir jernih dan pergi dari rumah itu juga dari kehidupan Roy, sebelum hal yang lebih buruk mungkin akan terjadi," gumam Mirah.

Berhari-hari berlalu ....

Aleta tidak diizinkan untuk keluar rumah, bahkan tidak diberikan izin untuk bekerja seperti biasanya.

Gagalnya rencana Roy menjual Aleta tempo hari, membuat hutangnya malah bertambah alih-alih berkurang.

Hari itu sikap Roy memang tidak biasa, Aleta bisa merasakannya sendiri. Berhari-hari mendengar kemarahan Roy, tiba dihari itu Roy mendadak baik sekali.

Roy sampai menyiapkan sarapan dan mengajak istrinya untuk berbelanja baju, meski tidak mahal tetapi itu baju baru. Selain itu, Aleta juga ia ajak ke salon untuk merapikan rambut dan membuat wajahnya kembali berseri.

Aleta jelas bingung dengan perubahan Roy yang begitu mendadak. Ia juga heran dimana suaminya itu bisa mendapatkan uang untuk membeli baju dan pergi ke salon.

"Apa yang kamu rencanakan lagi? Mau ke mana kita sekarang?" tanya Aleta setelah mereka naik bus antar kota.

"Tidak baik menaruh curiga pada suamimu sendiri! Kita akan menemui saudaraku di kota sebelah. Aku akan meminta bantuan dan pekerjaan dari dia. Makanya aku ingin kamu tampil sedikit lebih baik dari hari-hari biasanya kamu yang selalu terlihat lusuh."

Mendengar jawaban Roy, Aleta tidak banyak bertanya lagi. Ia merasa cukup senang jika hal itu benar karena berarti Roy sedang berusaha untuk mencari pekerjaan.

Berjam-jam berlalu, bus tak kunjung berhenti. Sampai akhirnya bus berhenti di halte yang sangat sepi, apalagi sebelumnya mereka melewati berhektar-hektar ladang dan kebun tanpa ada pemukiman warga.

"Sebenarnya saudara kamu tinggal di mana? Kenapa jauh dari pemukiman?"

"Sudah ayo turun."

Setelah turun, sebelum melanjutkan perjalanan lagi, Roy meminta Aleta untuk melepaskan cincin kawin mereka. Itu adalah satu-satunya harta yang paling dipertahankan oleh Aleta setelah semuanya dijual.

"Kita udah sepakat kalau cincin ini tidak akan di jual. Ini ikatan janji suci pernikahan kita."

"Hanya untuk jaminan saja, tidak akan lama!" Roy memaksa dan akhirnya cincin itu lepas dari jari manis Aleta.

Sekitar 15 menit berjalan, mereka sampai di depan gerbang yang begitu tinggi dan megahnya.

'Rumah siapa sebesar ini tapi jauh dari mana-mana, sekelilingnya juga hutan,' batin Aleta.

Setelah dipersilahkan untuk masuk karena gerbang terbuka secara otomatis, mereka berdua harus berjalan cukup jauh lagi untuk sampai ke rumah yang dituju.

Mereka diminta untuk duduk dan menunggu diarea belakang rumah. Perjalanan panjang dan melelahkan bagi keduanya.

Sesaat kemudian seorang pria bertubuh tinggi dan kekar menghampiri mereka.

"Langsung saja, berapa yang kalian butuhkan dan jaminan apa yang kalian bawa?"

Aleta melirik Roy, seolah tengah bertanya dalam diamnya mengapa dia bertanya seperti itu pada mereka. Padahal tadi Roy berkata bahwa ia akan mendapatkan pekerjaan. Bukan meminjam uang dengan jaminan. Apalagi mereka sudah tidak punya apa-apa untuk dijadikan jaminan.

"Saya butuh satu juta dollar."

Tidak hanya Aleta yang terkejut dengan nominal yang disebutkan suaminya, pria asing itu juga sama terkejutnya, sehingga ia merasa penasaran dengan jaminan apa yang akan ia terima.

"Satu juta dollar? Nominal yang cukup besar. Lalu, apa jaminannya?"

"Ini." Roy memegang tangan Aleta, membuat Aleta bukan lagi terkejut tapi marah.

"Apa? Kamu menjadikanku jaminan? Kamu gila, Roy!" Aleta menepis tangan Roy dan berlari pergi dari sana.

Namun Roy tidak langsung mengejar Aleta, karena pintu gerbang depan saja tertutup otomatis dan tidak bisa dibuka secara manual.

"Kamu membawa wanita itu sebagai jaminan? Saya lebih suka ladang, gedung, atau rumah. Bukan wanita. Jadi silahkan pergi dari sini, saya tidak tertarik untuk membantumu."

Roy tidak heran dengan reaksi dari pria bernama Antonio itu. Sebab sebelumnya juga ia sudah mendengar banyak informasi mengenai sang mafia tanah yang terkenal keji dan tidak berbelas kasih, bahwasannya dia tidak suka dengan wanita. Para pekerja dan pelayan di rumahnya saja semuanya laki-laki. Sangat berbeda dari prediksi awalnya.

Namun Roy yang sudah tidak punya apa-apa untuk dijadikan jaminan, merasa putus asa dan tidak ada salahnya berusaha juga mencoba peruntungan diri sendiri.

"Tapi Tuan pasti akan menyukainya. Saya jamin itu, dia bisa melakukan banyak hal, dia bisa bekerja di ladang, bisa membersihkan rumah dan kandang ternak, memasak makanan enak, mencuci pakaian dan masih banyak hal lain yang bisa dia lakukan. Apalagi dalam hal ..., ranjang."

"Kau menjadikan istrimu pelacur? Pu --"

"Demi pengobatan rumah sakit ibu saya, Tuan. Semua harta benda saya sudah saya jual dan menjadikan saya mempunyai hutang dimana-mana karena judi yang saya ambil sebagai jalan pintas. Lalu, istri saya juga malah berselingkuh dengan pria lain kemarin. Jadi, saya mau memberikan sedikit pelajaran untuk dia."

Roy, si otak cerdik dan licik, memanfaatkan kelemahan sang mafia itu untuk keuntungan pribadinya. Ia sudah banyak mencari informasi dari banyak orang, jika masa lalu kelam sang mafia tanah itu berkaitan dengan ibu juga perselingkuhan.

Antonio yang mempunyai luka batin di masa lalu, rupanya masih lemah jika hal itu menyangkut ibu juga tentang perselingkuhan. Rasanya ia tidak bisa jika harus menolak tawaran pria dihadapannya.

"Berapa waktu kamu bisa lunasi hutang dan bunganya?"

"Seratus hari, Tuan."

"Satu bulan!"

"Tidak mungkin, Tuan. Uang yang saya pinjam itu untuk bayar hutang dan biaya rumah sakit. Perlu waktu bagi saya mencari uang lagi untuk melunasi semuanya."

"Jika seratus hari itu tidak bisa kau lunasi?"

"Terserah, Tuan. Jual saja dia di rumah bordil dan buat dia bekerja seumur hidup pada Tuan, saya tidak peduli. Itu adalah hukuman untuk wanita peselingkuh."

'Menarik,' batin Antonio.

Setelah pertimbangan cukup lama, Antonio akhirnya memberikan uang yang diminta oleh Roy dimalam itu juga. Dan disaat itu pula, Aleta menjadi barang jaminan yang harus tinggal di rumah megah tetapi cukup mengerikan, dengan entah bagaimana nasib dirinya nanti.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 49 Janji di Bawah Terik Pagi

    Mentari pagi memancarkan pendar keemasan yang menembus celah gorden sutra di kamar utama. Di atas peraduan yang empuk, Aleta perlahan membuka matanya. Rasa hangat menyelimuti tubuhnya, berasal dari lengan tegap Antonio yang melingkar posesif di pinggangnya. Jemari tangan kiri Aleta terangkat perlahan ke udara, menatap pendar silau dari cincin berlian platinum yang kini melingkar indah di jari manisnya—sebuah bukti nyata bahwa peristiwa di bukit semalam bukanlah sekadar bunga tidur.Aleta tersenyum tipis, merasakan desiran hangat yang meluap di dadanya. Pria yang dulu sangat ia takuti dan benci, kini menjadi sosok yang paling ia harapkan hadir di setiap helaan napasnya."Suka dengan cincinnya?" suara berat dan serak khas bangun tidur bergaung di dekat telinganya.Aleta menoleh sedikit, mendapati Antonio sedang menatapnya dengan manik mata hitam yang teduh dan penuh pemujaan. Antonio mengecup bahu terbuka Aleta dengan lembut, sebelum akhirnya menarik tubuh wanitanya makin rapat ke dalam

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 48 Puncak dari Segala Janji

    Malam berhias ribuan bintang menyelimuti bukit tertinggi di pinggiran kota—sebuah bukit privat milik Antonio yang menyajikan pemandangan lanskap kota dengan pendar lampu-lampu indah di bawahnya. Angin malam berhembus lembut, membawa hawa sejuk yang menyegarkan.Aleta melangkah perlahan menaiki tangga batu berukir dengan gaun malam berbahan sutra lembut berwarna putih gading. Tangannya digenggam erat oleh Antonio yang mengenakan tuksedo hitam sempurna, menuntun langkah wanita itu dengan kelembutan yang amat protektif.Aleta sempat dibuat bingung saat Antonio memintanya bersiap dan membawanya berkendara cukup jauh tanpa memberitahukan tujuan mereka. Namun, rasa penasaran itu seketika sirna begitu kaki Aleta menyentuh puncak bukit.Mata Aleta membelalak lebar, jemarinya menutup mulutnya yang sedikit terbuka akibat rasa terpukau yang teramat sangat. Air mata keharuan seketika merebak di pelupuk matanya.Di atas padang rumput yang hijau, ribuan lampu fairy lights bergantungan melingkupi se

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 47 Kehangatan di Dapur Utama

    Aroma mentega leleh dan kayu manis merayap lembut di udara, memenuhi sudut-sudut dapur utama kediaman Antonio yang begitu megah dan bernuansa stainless steel mengilat. Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca tinggi, memantul di atas meja marmer tempat berbagai bahan makanan tertata rapi.Aleta melangkah pelan memasuki dapur. Baju terusan kasual berbahan katun lembut berwarna krem melambai mengikuti langkahnya. Wajahnya yang kini segar dan merona menatap sesosok pemuda yang sedang sibuk memotong buah strawberry segar dengan ketepatan seorang ahli kuliner.Sam, koki pribadi kediaman Antonio yang usianya sebaya dengan Aleta.Dulu, di masa-masa awal Aleta dibawa ke rumah ini sebagai sosok yang terasing dan ketakutan, penderitaan Aleta kerap luluh di sudut dapur ini. Sam adalah satu-satunya orang seumuran di rumah mewah ini yang memperlakukan Aleta dengan ketulusan murni tanpa penghakiman. Pemuda berwajah hangat itu tak jarang menyusupkan semangkuk sup hangat ekstra saat Aleta mele

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 46 Lembaran Baru di Atas Langkah Yang Asing

    Perjalanan kembali menuju kota di mana Antonio tinggal, dihiasi oleh sapuan jingga kemerahan dari langit sore yang perlahan meredup. Di dalam kabin sedan hitam yang hening dan nyaman, Aleta menyandarkan kepalanya di dada bidang Antonio, mendengarkan irama detak jantung pria itu yang teratur. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aleta tidak merasa perlu mengkhawatirkan apa yang akan ia makan esok hari, berapa banyak gandum yang harus ia panen di bawah terik matahari, atau amukan Roy yang menuntut uang.Dunia lama yang penuh dengan bau keringat, keputusasaan, dan rasa lapar telah tertinggal jauh di belakang. Kini, roda kendaraan mewah yang mereka tumpangi membawanya meluncur mulus memasuki gerbang besi raksasa kediaman Antonio—sebuah tempat yang dulu ia anggap sebagai sangkar mengerikan, namun kini bertransformasi menjadi tempat pelabuhan baru bagi langkah hidupnya.Malam itu, Aleta berdiri di tengah-tengah ruang rias pribadinya yang amat luas di lantai dua. Di hadapannya, lemari kayu

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 45 Perpisahan di Batas Kenangan

    Aura ketegangan yang sempat menyelimuti teras rumah kayu sederhana itu perlahan melandai saat Antonio menarik napas panjang, berusaha keras meredam gelombang cemburu yang berkecamuk di dadanya demi menghargai perasaan Aleta. Meskipun genggaman tangannya di pinggang Aleta masih terasa begitu protektif dan penuh rasa kepemilikan, pria mafia itu secara perlahan memberi sedikit ruang bagi Aleta untuk menyelesaikan perpisahan ini dengan cara yang pantas.Aleta menatap Erlan yang masih berdiri terpaku dengan rahang mengeras, lalu beralih menatap Mirah yang memandangnya dengan sudut mata yang kembali basah oleh air mata keharuan. Ada rasa sesak dan berat yang amat sangat menjepit dada Aleta. Kota kecil ini—dengan hamparan ladang gandum yang membentang luas ditiup angin, aroma tanah basah saat fajar menyingsing, serta gubuk kayu sederhana milik Mirah—adalah saksi bisu perjalanan hidupnya yang paling kelam sekaligus tempat ia menemukan sisa-sisa kehangatan manusia saat dunia mencampakkannya.N

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 44 Percikan Cemburu Sang Penguasa

    Di tengah suasana hangat antara Aleta dan Mirah yang dipenuhi haru, suara langkah kaki yang tergesa-gesa menepuk tanah ladang gandum mengalihkan perhatian mereka. Seorang pemuda bertubuh tegap dengan kulit kecokelatan terbakar matahari berlari kecil mendekati teras rumah sederhana tersebut.Dia adalah Erlan, anak tunggal Mirah. Pemuda itu pulalah yang dulu merasa prihatin melihat penderitaan Aleta yang harus menanggung beban hidup bersama Roy. Erlan yang prihatin lantas membantunya mendapatkan pekerjaan sampingan sebagai pelayan di sebuah klub malam elite di pusat kota—satu dari tiga pekerjaan berat yang pernah Aleta lakoni demi menghidupi dirinya sendiri dan suaminya yang tak tahu diri."Aleta?!" teriak Erlan, matanya membelalak kaget saat menangkap sosok wanita muda yang amat ia kenal berdiri anggun di halaman rumahnya.Erlan langsung mempercepat langkah kakinya, mengabaikan napasnya yang memburu dan peluh yang membasahi pelipisnya. Tanpa sadar akan kehadiran sosok pria asing bertub

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 6 Malam Panjang

    "Kamu tahu alasan kamu ada di sini?" Suara berat itu kemudian memecah hening kamar dingin di sudut ruangan setelah beberapa saat tak ada tanggapan atas ucapan Aleta."Aku minta maaf kalau mungkin aku ada sal --""Mungkin?" Antonio mengernyit. "Memang!"Lantas Antonio beranjak dari tempat duduknya

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 5 Kesalahan

    Byur!!Satu gelas berisi air disiramkan pada wajah Aleta sampai terhenyak bangun karena terkejut."Bagaimana tidurmu semalam, Jalang?"Sepasang mata Aleta membola saat mendengar sebutan itu untuknya. Padahal dia adalah wanita baik-baik. Ia tidak ingat apa yang terjadi semalam sampai akhirnya bisa t

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 3 Playing Victim

    "Tolong .... Tolong ...."Aleta berhasil keluar dari rumah lewat jendela kamarnya. Baju yang ia pakai sudah compang-camping karena pria itu mencoba membuka dengan merobek paksa. Untunglah Aleta bisa kabur setelah vas keramik di kamarnya ia hantam ke kepala pria itu hingga berdarah. Di momen itulah

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 2 Sebuah Pelecehan

    Matahari sudah tidak terlihat lagi, digantikan oleh bulan sabit yang seolah tersenyum meskipun tidak ada taburan bintang yang ikut menghiasi langit yang gelap."Bahkan bulan saja masih mampu tersenyum walaupun dia sendirian di langit yang gelap itu," gumam Aleta yang hendak menutup jendela tetapi s

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status