LOGINSenja merayap perlahan melewati jendela-jendela besar apartemen keluarga Maxwell, mengubah ruang tamu yang luas itu menjadi berwarna jingga keemasan. Namun di dalamnya, suasana sama sekali tidak muram. Musik jazz mengalun dari pengeras suara, sementara meja kaca di tengah ruangan dipenuhi berbagai hidangan mewah yang baru saja diantar oleh restoran terkenal.Ada steak wagyu yang masih beruap, pasta truffle, seafood platter berukuran besar, dan sebotol anggur merah yang baru dibuka. Atalia menyandarkan tubuhnya di sofa dengan kaki terangkat, sementara Sofia duduk anggun di sampingnya dengan gelas kristal di tangan."Cobalah ini," ujar Atalia sambil menyodorkan sepotong daging. "Enak sekali. Ini dari restoran yang biasa dipakai Adam untuk menjamu klien.""Sayang sekali Adam tidak ada di sini untuk melihat kita menikmatinya," sahut Sofia sambil tertawa kecil."Biar saja. Nanti dia juga akan tahu." Atalia mengangkat gelasnya. "Bersulang sekali lagi. Untuk har
Apartemen keluarga Maxwell terletak di lantai dua puluh sebuah gedung mewah di kawasan elite kota. Interiornya didominasi marmer putih dan perabot emas yang sengaja dipilih untuk memamerkan status. Namun siang itu, tak ada yang bisa mempercantik suasana hati penghuninya.Sofia bersandar di sofa krem dengan mata masih sembap. Kopernya berjajar tak beraturan di dekat pintu, karena dia belum ada niatan untuk membongkarnya. Atalia duduk di sampingnya, mondar-mandir sebentar, lalu akhirnya ikut duduk sambil mengeluarkan ponsel dari tas."Kita tidak boleh menunda lagi," ujar Atalia tegas. "Aku akan menghubungi Ibu sekarang.""Apa Tante Mariana tidak sedang sibuk?" tanya Sofia pelan."Dia pasti mau mendengar ini." Atalia menekan layar ponselnya dengan jari yang gemetar karena marah. "Karena ini menyangkut anak kesayangannya."Nada sambung panjang terdengar. Setelah beberapa saat, layar akhirnya menampilkan wajah seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul rapi dan balutan setelan elega
Beberapa menit kemudian aroma roti panggang dan telur dadar memenuhi ruang makan penthouse. Meja panjang itu sudah tertata rapi dengan piring porselen, serbet putih, dan teko kopi yang masih mengepul. Namun tidak seorang pun benar-benar berselera untuk makan disana.Sofia duduk di kursi yang biasa ia tempati dengan setelan kerja berwarna krem. Rambut pirangnya sudah tersisir rapi, tetapi sorot matanya terlihat letih. Di sampingnya, Atalia menyesap tehnya sambil sesekali melirik jam, dengan wajah masam yang tak berusaha disembunyikan.Langkah kaki tegas terdengar dari arah pintu. Keduanya menoleh bersamaan.Adam memasuki ruang makan dengan setelan kerja berwarna abu gelap. Dasinya terpasang sempurna dan rambutnya tersisir rapi, seolah pria yang tadi tertawa santai di kamar Chloe adalah orang yang sama sekali berbeda. Wajahnya datar dan dingin, dan aura tidak bersahabat langsung mengisi ruangan."Adam! Kau mau sarapan juga?" sapa Atalia sambil memaksakan se
Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, menimbulkan garis-garis keemasan di atas seprai putih. Chloe mengerjap pelan. Kepalanya tidak lagi berdenyut seperti kemarin, dan tubuhnya terasa jauh lebih ringan, walau tulangnya masih terasa sedikit lemas untuk digerakkan.Ia ingin meregangkan badan. Namun ada sesuatu yang berat melingkar di pinggangnya.Chloe menunduk perlahan, lalu seluruh tubuhnya membeku.Sebuah lengan kokoh melingkari pinggangnya dengan posesif. Pipinya menempel di dada bidang yang naik turun secara teratur, dan di bawah telinganya terdengar detak jantung yang tenang dan mantap. Dengan gerakan sangat lambat, Chloe mendongak.Wajah tidur Adam berada tepat di atasnya.Alisnya yang biasanya selalu berkerut kini terlihat rileks. Bulu matanya panjang, rahangnya yang tegas tampak lebih lembut, dan bibirnya sedikit terbuka. Ia tampak seperti orang yang berbeda. Bukan Adam Hawk yang dingin dan menakutkan, melainkan seorang pria b
Beberapa saat kemudian, Dokter Hendry tiba dengan napas terengah dengan tas medis di satu tangan dan mantel yang belum sempat dikancingkan dengan benar. Bi Mary menyambutnya di pintu dan langsung menuntunnya menaiki tangga."Di mana pasiennya?" tanya Dokter Hendry sambil merapikan kacamatanya."Di sini. Cepat," jawab Adam dari sisi ranjang tanpa menoleh. Tangannya masih menggenggam jemari Chloe, dan ia tampak tidak berniat melepaskannya sedetik pun.Dokter paruh baya itu mendekat, lalu mulai bekerja dengan tenang. Ia memeriksa suhu tubuh Chloe, menempelkan stetoskop di dadanya, memeriksa tenggorokannya, dan mengamati kelopak matanya yang terasa panas. Adam berdiri di sampingnya dengan kedua tangan terkepal, mengamati setiap gerakan seolah sedang menunggu vonis yang mendebarkan."Bagaimana?" tanyanya tak sabar."Tenang dulu, Tuan Hawk." Dokter Hendry melepas stetoskopnya dan menghela napas. "Tidak ada yang serius. Demamnya muncul karena tubuhnya kedinginan terlalu lama dan terguyur huj
Hening di ruang pertemuan itu begitu pekat hingga bunyi jam dinding terdengar jelas di telinga semua orang. Para direksi menunduk dalam-dalam, tak seorang pun berani bernapas terlalu keras. Hanya Sofia yang berdiri membeku di hadapan Adam, dengan wajah yang perlahan kehilangan warna.Namun Sofia bukan wanita yang mudah goyah. Dalam sekejap, ia mengatur napas, menyusun ekspresi, dan membiarkan matanya berkaca-kaca."Adam, aku... aku tidak mengusirnya," ucap Sofia dengan suara bergetar. "Aku sama sekali tidak tahu apa-apa. Kau tahu aku tidak mungkin berbuat sekejam itu."Adam tidak menjawab. Tatapannya tetap dingin, menembus langsung ke dalam matanya."Tadi di pesta, Chloe bertengkar dengan seorang gadis bernama Amanda. Aku tidak tahu apa penyebabnya, tapi mereka saling berteriak. Aku dan Atalia berusaha melerai, tetapi Chloe tiba-tiba lari keluar begitu saja." Sofia menyeka sudut matanya dengan ujung jari. "Aku sempat memanggilnya, Adam. Sungguh. Tapi dia







