Share

Bab 2

Author: Stary Dream
last update publish date: 2026-07-29 19:31:36

Sendok itu diletakkan dengan keras hingga membuat Alisa menggelepar ketakutn. Tak hanya Raja, Elang memberikan tatapan sengitnya pada anak perempuan yang berusia enam tahun itu.

"Rafika, hentikan!" Silvya keluar dari kursi makannya dan mengambil tangan Rafika yang ingin memecahkan barang yang lain.

"Lepasin!" Teriak Rafika melengking.

Brak!

Kini semua orang dan pelayan yang muncul ikut kaget. Raja bangkit dari duduknya dengan menggeser kursi meja makan tersebut hingga terjatuh. Pria ini dengan tenang menyeka sudut bibirnya. Namun mata penuh kemarahan itu terlihat jelas.

"Aku sudah cukup tua untuk menerima keributan, Elang. Beri pelajaran pada anakmu itu!" Raja pergi meninggalkan anak dan menantunya. Sama sekali ia tak mau melihat cucunya yang meronta minta dilepaskan.

"Papa!" Seru Silvya.

Belum lagi dia mendekat, Elang sudah memberikan lirikan tajamnya. Sontak Silvya berhenti melangkah.

"Apa yang kamu janjikan padaku tadi, Silvya?"

Silvya meremas jemarinya dengan ketakutan.

"Maaf, Elang. Anak kita sangat aktif sekali. Kamu tahu kalau dia menderita penyakit, kan?"

"Anakmu. Bukan anakku!" Ucap Elang mengoreksi ucapan istri pertamanya.

"Tapi, Elang.. Rafika itu anak kita.. anak kandungmu.." ujar Silvya memelas.

Elang melirik anak kecil yang tak bisa diatur itu lalu menggeleng. Dengan langkah tegapnya, Elang pergi melenggang begitu saja meninggalkan istri-istrinya.

Alisa yang melihat itu makin ketakutan. Tak sadar ia menyentuh perutnya.

"Jangan sampai anakku perempun.." lirihnya dalam hati.

Makan malam berakhir ricuh karena ulah Silvya dan putrinya. Sekarang waktunya Raja memanggil putranya untuk mengatakan hal penting. Setelah itu, Elang pergi ke pondok istrinya.

Rumah besar dari kayu ini ditempati oleh Raja, Elang dan istri pertamanya. Namun madu keduanya memiliki rumah yang lain.

Mereka menyebutnya sebagai pondok karena bangunannya yang hampir mirip dengan rumah utama walau ukurannya lebih kecil.

Tak hanya satu pondok. Tapi ada empat pondok yang tersebar di belakang rumah. Dimana Alisa yang menempati salah satunya.

Alisa menunggu dengan berdebar kedatangan suaminya. Saat Nilam memberitahu jika Elang akan datang, Alisa langsung pergi ke ruang tamu untik menyambut suaminya.

Ceklek. Pintu dibuka oleh Elang.

Nilam menunduk seakan memberikan hormat. Sementara Alisa menatap suaminya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Selamat malam, mas." Sapa Alisa sopan.

Elang mengibaskan tangannya agar Nilam keluar dari rumah ini. Ia lalu pergi ke kamar dengan Alisa yang mengikuti.

"Besok jam 11 siang kita akan melakukan pemeriksaan kandungan. Papa akan ikut ke rumah sakit." Ucapnya tanpa menoleh.

"Papa ikut??" Alisa meyakinkan pendengarannya.

"Iya. Papa ingin tahu jenis kelamin calon cucunya."

Elang memutar tubuhnya dan berjalan mendekati Alisa yang tertegun. Pria ini menyentuh kedua bahu istri keduanya.

"Seperti yang kami harapkan, Alisa. Kami ingin kamu melahirkan seorang putra."

Alisa meneguk ludah. "Jika yang ku kandung ternyata anak perempuan bagaimana?"

Elang mengambil nafas panjang. Dia harus mencari kata-kata yang tepat untuk istri keduanya ini. Ia tahu karena Alisa yang memang berbeda dengan Silvya. Wanita ini sangat rapuh.

"Aku tetap menerimanya tapi tidak bisa memberikan hal lebih. Seperti Rafika. Tapi aku yakin kamu mengandung anak laki-laki, Alisa. Seperti dulu saat kamu hamil anak pertamamu.."

Alisa lalu mengerjap tangisnya. Dia ingat satu tahun lalu pernah keguguran di usia kandungannya yang masih berusia 5 bulan.

Saat itu, Alisa celaka karena terjatuh dari lantai dua rumah utama. Ia yang sedang berjalan di tangga terpeleset begitu saja hingga membuatnya harus kehilangan. Padahal Alisa saat itu tengah mengandung anak laki-laki. Sesuai harapan Elang.

Dan semenjak keguguran, Alisa merasa hubungannya dengan Elang yang berjarak kini berjurang. Elang seolah menyalahkannya pada keguguran waktu lalu. Sebab itulah, Alisa di depak dari rumah utama dan tinggal di pondok seperti ini. Sementara, Silvya dan putrinya diperbolehkan tinggal di rumah utama.

"Iya.. aku juga berharap begitu." Sahut Alisa tercekat. Ia berharap mendapatkan kabar baik besok siang.

Pagi menjelang, Elang yang sudah memberikan jatah malamnya pada Alisa pulang ke rumah utama. Di ruang kerja, dia sudah menunggu kedatangan istri pertamanya.

"Pelayan bilang kamu mencariku, Elang?" Tanya Silvya tersenyum saat masuk ke ruangan suaminya.

Elang menatap Silvya dari jauh. Di atas kursi kebesarannya.

"Benar. Aku ingin membahas masalah yang semalam."

Deg!

Mata Silvya membulat sempurna. Ia sudah tahu arah pembicaraan ini. Tak bisa! Sungguh Silvya tak mau.

Sontak saja, Silvya langsung berlutut di hadapan suaminya.

"Maafkan Rafika, Elang. Ini salahku yang tidak bisa mendidiknya. Kumohon.. dia masih terlalu kecil untuk menerima hukuman." Ucap Silvya terisak.

"Jika dia tidak bisa dihukum, maka ibunya bisa, kan?"

Silvya mengerjap tangisnya. "Kamu ingin menghukumku?"

"Ya. Mulai hari ini, kamu tidak perlu tinggal di rumah utama. Tinggal di belakang saja. Sama seperti Alisa."

Oh, tidak.. Silvya menggeleng cepat.

"Kumohon jangan usir aku, Elang.." pintanya.

"Aku tidak mengusirmu. Hanya menjaga rumah ini dari tabiat buruk putrimu."

"Kamu tahu kalau anak kita sakit, kan?"

"Sebab itu lah aku membawanya ke tempat yang tenang. Supaya dia tidak bisa mengacau lagi."

Silvya kehilangan kata-katanya. Ia menunduk saat Elang bangkit berdiri dan memandangnya lekat.

"Bukan satu kali ini anakmu membuat masalah, Silvya. Tapi berulang kali. Jangan sampai papa sendiri yang mengusir kalian dari rumah ini."

Silvya meloloskan air mata dari pelupuknya. Awalnya dia cukup percaya diri menjadi istri Elang yang sempurna dan memberikan banyak anak.

Namun setelah melahirkan Rafika, rahim Silvya juga harus diangkat karena bermasalah.

Hanya melahirkan satu anak perempuan dan tidak bisa hamil lagi membuat Raja menjodohkan Elang dengan wanita lain.

Seorang anak dari pria yang pernah menjadi rekan bisnis dari Raja. Namun sayang, rekan bisnis Raja itu meninggal karena kecelakaan. Oleh karena iba, Raja lalu menjodohkan Alisa pada Elang.

Alisa pun diharapkan bisa memberikan keturunan yang terbaik untuk Elang. Dimana calon pewaris harus lahir dari rahimnya. Itu karena Silvya yang memang tak bisa diharapkan.

Silvya menekuk wajahnya setelah mendapatkan peringatan dari Elang. Tangannya terkepal dengan erat setelah bayangan Elang tak terlihat lagi.

"Aku bersumpah kamu tidak akan anak laki-laki, Elang. Ini adalah sumpah dari wanita yang kamu sakiti."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 96

    "Selamat jalan, papa."Regita mengusap peti mati yang mengantarkan Henry ke dalam liang tempat istirahat terakhirnya. Semua orang menundukkan kepala untuk berdoa.Regita memandang peti itu dengan datar. Seolah perpisahan ini tak lagi menyakitkan. Ya, dia sudah menjalani banyak perpisahan dalam hidupnya. Dan pelaku yang sudah memberikannya banyak luka tak pantas untuk mendapatkan air mata.Sekarang Henry sudah tenang di rumah barunya. Papan nisan tertulis nama pendiri perusahaan Barnes yang dulu sempat terkenal. Namun semuanya hancur seperti kepercayaan Henry pada putra kesayangannya."Aku turut berduka, Jane." Michel mengusap bahu Regita dengan simpatik.Regita tersenyum. "Terima kasih, Michel.""Sekarang apa rencanamu? Mengambil alih harta yang tersisa?""Semuanya akan ku simpan, Michel. Aku adalah ahli waris dari papaku. Rumah dan harta tidak bergerak akan aku jual. Tabungan deposito akan ku simpan ke bank Swiss. Jika

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 95

    "Mari kita berpisah."Suara lirih itu terdengar. Mata itu memerah dan berkaca-kaca.Elang yang melihat itu tertegun sejenak. Regita lah yang terlebih dulu nyatanya mengungkapkan keinginannya."Aku tahu pernikahan kita tidak bisa diselamatkan, Elang. Aku sangat berdosa padamu.. dengan sengaja aku menipumu agar aku bisa mencapai tujuanku.. ya, aku jahat sekali." Helaan nafas berat keluar dari mulut Regita."Aku melakukan semua ini untuk membalaskan dendamku pada Jonathan. Dia dan ibunya telah merusak pernikahan orang tuaku.. menghancurkan hidup ibuku hingga mati. Lalu dia berusaha melenyapkanku dengan merancang pembunuhan berencana." Regita meneguk ludahnya. "Aku sangat membenci mereka, Elang. Sebab itulah aku ingin membalaskan kejahatan yang mereka lakukan pada kami."Regita lalu menatap lekat pria yang masih menjadi suaminya dengan air mata yang menitik."Saat pertama kali aku melihatmu, aku sudah jatuh cinta, Elang. Si

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 94

    Tak ada yang bisa mengalahkan penyesalan dari Raja saat ini. Oleh karena keegoisan Raja yang menginginkan cucu laki-laki membuat masalah bertubi-tubi menimpa anak kesayangannya.Istri pertama Elang yang manipulatif dan memiliki keinginan untuk melenyapkan istri yang lain.Istri kedua yang polos namun tak berdaya. Mudah sekali disinggung dan dimanfaatkan.Dan istri ketiga yang menjadi andalan Elang namun rupanya menyimpan rahasia yang menyakitkan.Raja sangat kecewa pada dirinya sendiri. Andai saja dia tak memaksa Elang menikah dengan Silvya ataupun Alisa, mungkin semuanya tak akan seperti ini.Di rumah sakit, Regita sendiri sudah mendapatkan kesadarannya. Di sisinya ada Arthur dan Darius yang tertidur di ranjang bayi. Saat melihat kedua putranya, mata Regita berkaca-kaca. Ia ingin memeluk kedua anaknya."Michel. Anak-anakku." Keluh Regita.Michel yang baru saja terlelap lantas terbangun."Jangan banyak bergerak,

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 93

    Seharian Alisa tak keluar dari kamarnya. Sepanjang hari ini, ia terus memeluk putri tunggalnya. Menangis dan meminta maaf hingga membuat Aliyah meronta dilepaskan.Pintu yang diketuk akhirnya membuat pelukan itu terlepas. Aliyah lolos dan berlari memeluk pengasuhnya."Nyonya.." tegur Nilam. "Anda ingin makan sesuatu?"Alisa menggeleng. "Aku ingin sendirian.""Nyonya.. nyonya Silvya terbukti menjadi pelaku penculikan Arthur dan Darius. Sekarang nyonya Silvya sudah dibawa ke kantor polisi."Jantung Alisa sampai berhenti di tempat. Ia lalu meremas seprai tempat tidur karena ketakutan.Tok. Tok. Suara ketukan pintu membuat Nilam tertunduk. Ada Raja yang datang dan menatap menantu keduanya dari jauh."Alisa.."Alisa mengerjap. Ia menatap dengan penuh ketakutan. Di depan sana ada mertuanya yang pasti ingin menuntut segala hal."Papa! Aku.. aku tidak sengaja melakukannya." Ujar Alisa terisak. "Aku dipaksa.."

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 92

    Dor!Dor!Tembakan itu melesat dengan bebas. Regita berlari saat melihat pistol itu ditujukan pada suaminya. Tubuh Elang ia peluk. Ia balik hingga tembakan tersebut mengenai bahunya.Elang merengkuh pinggang Regita ketika peluru itu bersarang di bahu istrinya. Ia lalu membawa Regita dalam pelukan."Brengsek!"Rico menendang pria itu sekali lagi hingga tak sadarkan diri. Bersama dengan pengawal lain, pria penculik itu berhasil diamankan. Sementara, Regita dibawa ke mobil oleh Elang."Bertahan!!"Elang melepaskan jas kerjanya dan membalut bahu Regita yang bercucuran darah. Wajah Regita memucat. Nadinya mulai melemah. Dibalik kursi kemudi, ia melihat Arthur dan Darius yang dipangku di kursi depan."Ma! Ma!" Arthur dan Darius menangis sambil memanggil nama ibunya.Elang membawa kepala Regita yang terkulai bersender di dadanya."Bertahanlah!" Seru Elang cemas. Ia mengusap wajah Regita yang

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 91

    Nilam dan pengasuh Darius sampai berlari ikut mencari keberadaan kedua bayi yang tiba-tiba menghilang. Sedangkan Alisa memeluk Aliyah dengan erat. Anak itu menangis kencang karena baru saja terbebas dari ketakutan."Maafkan mama, nak." Bisik Alisa melirih. Ia jadi merasa bersalah karena sengaja mengurung Aliyah di kamar mandi."Nyonya! Kami sudah mencari si kembar berkeliling tapi tidak ditemukan!" Seru Nilam melapor."Kita harus memeriksa cctv! Aku sudah mencari mereka berkeliling taman bermain ini!" Ujar Regita muncul dengan emosi yang membuncah.Mata Alisa sampai melotot ketika melihat Regita yang tiba-tiba muncul dengan Michel. Peluh bercucuran tampak di wajahnya yang memerah."Regita.."Regita tak menyahuti. Dia menyuruh Michel untuk memeriksa kamera pengawas. Sementara Regita dan kedua pengasuh anaknya masih melanjutkan pencarian."Astaga! Bagaimana ini?" Alisa semakin ketakutan. Dia lalu diam-diam mengirim pesan p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status