LOGINSendok itu diletakkan dengan keras hingga membuat Alisa menggelepar ketakutn. Tak hanya Raja, Elang memberikan tatapan sengitnya pada anak perempuan yang berusia enam tahun itu.
"Rafika, hentikan!" Silvya keluar dari kursi makannya dan mengambil tangan Rafika yang ingin memecahkan barang yang lain. "Lepasin!" Teriak Rafika melengking. Brak! Kini semua orang dan pelayan yang muncul ikut kaget. Raja bangkit dari duduknya dengan menggeser kursi meja makan tersebut hingga terjatuh. Pria ini dengan tenang menyeka sudut bibirnya. Namun mata penuh kemarahan itu terlihat jelas. "Aku sudah cukup tua untuk menerima keributan, Elang. Beri pelajaran pada anakmu itu!" Raja pergi meninggalkan anak dan menantunya. Sama sekali ia tak mau melihat cucunya yang meronta minta dilepaskan. "Papa!" Seru Silvya. Belum lagi dia mendekat, Elang sudah memberikan lirikan tajamnya. Sontak Silvya berhenti melangkah. "Apa yang kamu janjikan padaku tadi, Silvya?" Silvya meremas jemarinya dengan ketakutan. "Maaf, Elang. Anak kita sangat aktif sekali. Kamu tahu kalau dia menderita penyakit, kan?" "Anakmu. Bukan anakku!" Ucap Elang mengoreksi ucapan istri pertamanya. "Tapi, Elang.. Rafika itu anak kita.. anak kandungmu.." ujar Silvya memelas. Elang melirik anak kecil yang tak bisa diatur itu lalu menggeleng. Dengan langkah tegapnya, Elang pergi melenggang begitu saja meninggalkan istri-istrinya. Alisa yang melihat itu makin ketakutan. Tak sadar ia menyentuh perutnya. "Jangan sampai anakku perempun.." lirihnya dalam hati. Makan malam berakhir ricuh karena ulah Silvya dan putrinya. Sekarang waktunya Raja memanggil putranya untuk mengatakan hal penting. Setelah itu, Elang pergi ke pondok istrinya. Rumah besar dari kayu ini ditempati oleh Raja, Elang dan istri pertamanya. Namun madu keduanya memiliki rumah yang lain. Mereka menyebutnya sebagai pondok karena bangunannya yang hampir mirip dengan rumah utama walau ukurannya lebih kecil. Tak hanya satu pondok. Tapi ada empat pondok yang tersebar di belakang rumah. Dimana Alisa yang menempati salah satunya. Alisa menunggu dengan berdebar kedatangan suaminya. Saat Nilam memberitahu jika Elang akan datang, Alisa langsung pergi ke ruang tamu untik menyambut suaminya. Ceklek. Pintu dibuka oleh Elang. Nilam menunduk seakan memberikan hormat. Sementara Alisa menatap suaminya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Selamat malam, mas." Sapa Alisa sopan. Elang mengibaskan tangannya agar Nilam keluar dari rumah ini. Ia lalu pergi ke kamar dengan Alisa yang mengikuti. "Besok jam 11 siang kita akan melakukan pemeriksaan kandungan. Papa akan ikut ke rumah sakit." Ucapnya tanpa menoleh. "Papa ikut??" Alisa meyakinkan pendengarannya. "Iya. Papa ingin tahu jenis kelamin calon cucunya." Elang memutar tubuhnya dan berjalan mendekati Alisa yang tertegun. Pria ini menyentuh kedua bahu istri keduanya. "Seperti yang kami harapkan, Alisa. Kami ingin kamu melahirkan seorang putra." Alisa meneguk ludah. "Jika yang ku kandung ternyata anak perempuan bagaimana?" Elang mengambil nafas panjang. Dia harus mencari kata-kata yang tepat untuk istri keduanya ini. Ia tahu karena Alisa yang memang berbeda dengan Silvya. Wanita ini sangat rapuh. "Aku tetap menerimanya tapi tidak bisa memberikan hal lebih. Seperti Rafika. Tapi aku yakin kamu mengandung anak laki-laki, Alisa. Seperti dulu saat kamu hamil anak pertamamu.." Alisa lalu mengerjap tangisnya. Dia ingat satu tahun lalu pernah keguguran di usia kandungannya yang masih berusia 5 bulan. Saat itu, Alisa celaka karena terjatuh dari lantai dua rumah utama. Ia yang sedang berjalan di tangga terpeleset begitu saja hingga membuatnya harus kehilangan. Padahal Alisa saat itu tengah mengandung anak laki-laki. Sesuai harapan Elang. Dan semenjak keguguran, Alisa merasa hubungannya dengan Elang yang berjarak kini berjurang. Elang seolah menyalahkannya pada keguguran waktu lalu. Sebab itulah, Alisa di depak dari rumah utama dan tinggal di pondok seperti ini. Sementara, Silvya dan putrinya diperbolehkan tinggal di rumah utama. "Iya.. aku juga berharap begitu." Sahut Alisa tercekat. Ia berharap mendapatkan kabar baik besok siang. Pagi menjelang, Elang yang sudah memberikan jatah malamnya pada Alisa pulang ke rumah utama. Di ruang kerja, dia sudah menunggu kedatangan istri pertamanya. "Pelayan bilang kamu mencariku, Elang?" Tanya Silvya tersenyum saat masuk ke ruangan suaminya. Elang menatap Silvya dari jauh. Di atas kursi kebesarannya. "Benar. Aku ingin membahas masalah yang semalam." Deg! Mata Silvya membulat sempurna. Ia sudah tahu arah pembicaraan ini. Tak bisa! Sungguh Silvya tak mau. Sontak saja, Silvya langsung berlutut di hadapan suaminya. "Maafkan Rafika, Elang. Ini salahku yang tidak bisa mendidiknya. Kumohon.. dia masih terlalu kecil untuk menerima hukuman." Ucap Silvya terisak. "Jika dia tidak bisa dihukum, maka ibunya bisa, kan?" Silvya mengerjap tangisnya. "Kamu ingin menghukumku?" "Ya. Mulai hari ini, kamu tidak perlu tinggal di rumah utama. Tinggal di belakang saja. Sama seperti Alisa." Oh, tidak.. Silvya menggeleng cepat. "Kumohon jangan usir aku, Elang.." pintanya. "Aku tidak mengusirmu. Hanya menjaga rumah ini dari tabiat buruk putrimu." "Kamu tahu kalau anak kita sakit, kan?" "Sebab itu lah aku membawanya ke tempat yang tenang. Supaya dia tidak bisa mengacau lagi." Silvya kehilangan kata-katanya. Ia menunduk saat Elang bangkit berdiri dan memandangnya lekat. "Bukan satu kali ini anakmu membuat masalah, Silvya. Tapi berulang kali. Jangan sampai papa sendiri yang mengusir kalian dari rumah ini." Silvya meloloskan air mata dari pelupuknya. Awalnya dia cukup percaya diri menjadi istri Elang yang sempurna dan memberikan banyak anak. Namun setelah melahirkan Rafika, rahim Silvya juga harus diangkat karena bermasalah. Hanya melahirkan satu anak perempuan dan tidak bisa hamil lagi membuat Raja menjodohkan Elang dengan wanita lain. Seorang anak dari pria yang pernah menjadi rekan bisnis dari Raja. Namun sayang, rekan bisnis Raja itu meninggal karena kecelakaan. Oleh karena iba, Raja lalu menjodohkan Alisa pada Elang. Alisa pun diharapkan bisa memberikan keturunan yang terbaik untuk Elang. Dimana calon pewaris harus lahir dari rahimnya. Itu karena Silvya yang memang tak bisa diharapkan. Silvya menekuk wajahnya setelah mendapatkan peringatan dari Elang. Tangannya terkepal dengan erat setelah bayangan Elang tak terlihat lagi. "Aku bersumpah kamu tidak akan anak laki-laki, Elang. Ini adalah sumpah dari wanita yang kamu sakiti.""Bagaimana, Diana?"Diana datang ke kamar yang ditempati oleh Silvya. Malam sudah menunjukkan pukul 11. Wanita ini bertindak sebagai burung pembawa kabar."Tuan dan asistennya pergi ke restoran nusantara yang berada di tengah kota. Sepertinya tak ada yang mencurigakan, nyonya.""Tunggu sebentar. Restoran nusantara?"Diana mengangguk. "Benar, nyonya. Restoran yang sangat terkenal itu.""Ah.. jadi mereka cuma pergi berdua?"Diana mengangguk. "Benar. Mereka berdua hanya makan bersama. Mungkin mereka ingin membicarakan masalah bisnis."Sepenglihatan mata-mata, keduanya duduk di restoran. Rico tampak memesan makanan sementara Elang sibuk memainkan ponselnya.Silvya tergelak. Ternyata dia sudah gegabah dengan berpikir Elang memiliki calon istri lain."Terima kasih atas bantuanmu."Silvya menarik laci yang ada di samping tempat tidurnya. Mengambil benda berwarna coklat muda dan menyerahkannya pada Diana."Ambil ini.""Terima kasih, nyonya. Dengan senang hati saya akan selalu membantu." Dian
"Hai, Alisa." Silvya tersenyum cerah saat mengunjungi adik madunya."Ada mbak Silvya." Alisa ikut membalas senyuman manis itu. "Silahkan masuk, mbak. Apa mbak sudah sarapan?"Silvya masuk ke rumah kayu milik Alisa dimana tak lebih luas dari seperempat rumah utama."Sudah. Aku kemari membawakanmu ini." Silvya memberikan satu paper bag dari butik ternama."Pakaian hamil untukmu. Kebetulan kemarin aku ke butik langganan untuk membeli beberapa pakaian dan aku melihat ini." Ucapnya baik hati."Ah.. ini cantik sekali." Alisa menerima itu dengan senang hati. "Terima kasih, mbak.""Sama-sama." Silvya tersenyum dengan menyapu sudut rumah dengan matanya. "Elang sudah pergi bekerja?""Sudah, mbak. Baru saja."Silvya mengulum senyum. "Aku tidak melihatnya semalam. Padahal biasanya dia pulang tengah malam setelah dari rumahmu. Tapi rupanya dia menghabiskan waktunya disini bersamamu. Syukurlah, Alisa. Elang pasti sangat menyayangimu. Apalagi kamu mengandung putrinya."Alisa yang mendengar itu samp
Elang memijit dahi hingga pangkal hidungnya. Khayalan macam apa tadi? Kenapa dia tiba-tiba melamar office girl seperti Regita. Astaga! Elang harus memeriksakan diri setelah ini. Sepertinya kepala itu sudah terbentur sesuatu hingga membuatnya hilang akal.Sedangkan di hadapan pria itu, masih ada Regita yang berdiri ketakutan. Wajah wanita itu tertunduk menunggu hukuman yang akan diberikan."Apa kamu juga yang mengganti parfum ruangan ini?" Tanya Elang lagi.Suara itu tidak dingin. Namun cukup menusuk jantung Regita hingga membuat wanita ini semakin menggigil."Iya, tuan. Kemarin parfum ruangan anda habis. Saat saya ingin bertanya pada office boy sebelumnya, ternyata dia sedang sakit. Jadi, saya...."Ucapan Regita terhenti ketika Elang mengangkat tangannya."Cukup. Keluarlah."Regita terperanjat. Ia mengangkat wajahnya dan memandang kebingungan."Keluar dari sini." Ujar Elang mengulangi ucapannya.Sejenak Regita keheranan. Asisten pria itu tadi bilang jika Regita akan terkena hukuman ka
Jika Elang pikir akan leluasa bertemu dengan Regita maka dia salah besar. Wanita itu hanya bekerja di ruangan ini ketika fajar tiba. Pukul 7 menjelang, Regita akan keluar dari ruang kerja Elang dan mengurus yang lain.Dia muncul ketika Jorgi membutuhkannya sewaktu-waktu saja.Aroma parfum ruangan yang berubah, bunga hidup di vas yang selalu diganti membuat suasana tempat Elang bekerja berubah total.Tak ada lagi kesan kuat dan menantang. Berganti dengan lembut dan penuh debaran."Satu jam lagi kita akan rapat dengan tuan Barnes. Beliau ingin mengajak anda untuk bekerja sama di bidang ekspor impor." Lapor Jorgi kala itu.Elang berdeham. "Siapkan jamuan yang terbaik."Elang tahu betul betapa bagusnya reputasi keluarga Barnes. Salah satu pebisnis yang sudah memiliki tiga turunan menguasai di bidang perdagangan.Tuan Barnes Senior sudah pensiun, sekarang diganti oleh Barnes Junior. Sebab itulah, Elang sangat penasaran akan p
"Silvya.."Silvya tersenyum saat melihat wajah suaminya. Ia pun menaruh putrinya dalam pangkuan dan memperlihatkannya pada Elang. Tapi, pria itu hanya melihat sekadarnya."Kami baru saja dari rumah sakit dan memutuskan langsung kesini. Kami tidak mengganggu, kan?" Tanya Silvya sebelum suaminya itu membuka mulut lagi."Tidak. Bagaimana kata dokter?""Rafika baru saja di cek darahnya. Hasil darah putihnya sedikit lebih tinggi. Tapi dokter sudah memberikan antibiotik. Oh, satu lagi.. aku ingin memberitahu sesuatu. Tadi aku pergi ke psikolog anak.""Lalu?""Anak kita mengalami gangguan mental yang parah, Elang. Beliau menyarankan agar Rafika di terapi.""Lakukan saja jika itu yang terbaik." Sahut Elang datar.Silvya mengangguk. Dia mengusap pucuk kepala putrinya."Psikolog itu juga bilang jika anak kita terlalu sensitif. Dia tidak bisa di tempat yang panas atau pun terlalu dingin. Tidak bisa di tempat yang bising maupun sempit. Dia harus di ruangan yang tenang dan lapang." Sambung Silvya.
"Karena kamu office girl baru, kamu akan saya letakkan di bagian luar." Wanita gendut ini menunjuk area taman yang ada di depan perusahaan."Maksudnya, saya membersihkan taman itu?" Tanya Regita memastikan.Wanita gendut yang menjadi kepala cleaning service ini mengangguk."Bersihkan semua area depan termasuk parkiran.""Tapi.. ini luas sekali.." Regita sampai terperangah."Kamu tidak sendiri. Ada dua orang pria yang akan bersamamu membersihkan taman dan parkiran. Sekarang ambil sapu dan kerjakan tugasmu. Jangan sampai tuan Elang datang dan melihat daun kering berhamburan di jalanan!""Baik." Regita mengangguk.Wanita yang sudah memakai seragam kerja berwarna hijau ini mengambil sapu. Ia lalu membersihkan jalanan yang berada di depan lobi utama. Setelah itu, ia akan membersihkan taman.Di rumah kayu yang megah, Elang baru saja selesai bersiap untuk kerja. Saat tengah sarapan, ia mendapati Silvya keluar dari kamarnya sambil menggendong Rafika."Pagi, papa." Sapa Silvya mengajari anakny







