Share

Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga
Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga
Author: Stary Dream

Bab 1

Author: Stary Dream
last update publish date: 2026-07-29 19:30:57

"Siapa namamu?"

Bisiknya lembut. Helaan nafas itu menggelitik wajah hingga telinga Regita. Detak jantung wanita ini berpacu dengan cepat saat tangan pria bermata elang ini menyusuri kakinya.

"Re.. gita." Jawab Regita sesak nafas.

Pria ini menarik diri menatap manik mata wanita yang tampak ketakutan. Wajah itu cantik sekali walau terbalut pucat. Dan entah kenapa, Elang seperti kecanduan saat menatapnya.

"Nama yang indah. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Regita menggeleng cepat. Jantungnya benar-benar ingin melompat saat pria itu memandangnya dengan seksama.

"Ti-tidak, Tuan."

Elang menyeringai. Ia mengangkat tubuhnya. Regita kini bisa bernafas lega.

"Perawat di rumah sakit ini akan mengobati lukamu. Jangan dulu pergi sebelum sembuh." Ucapnya lagi.

"Ba-baik."

Elang membalik diri menuju pintu kamar rawat yang ada di sebelah kanan. Saat handle pintu terdorong, Elang sekali lagi melirik Regita.

Wanita itu nampak ketakutan dengan tangan yang meremas selimutnya.

"Hanya wanita biasa." Elang tersenyum miring.

Pria ini keluar dari kamar. Di depannya ada tiga pengawal yang datang menghadang.

"Kami sudah menyelidikinya, tuan." Lapor pengawal berkepala pelontos. "Dia hanya wanita biasa yang tak sengaja lewat di depan mobil kita."

Elang mengangguk. Saat di perjalanan pulang ke rumah, mereka tak sengaja menabrak seorang wanita yang melintas dengan tiba-tiba.

Wanita itu terjatuh dan terguling-guling di aspal. Pengawal Elang langsung bersikap waspada. Mungkin saja wanita itu adalah kiriman musuh yang hendak mencelakai tuannya.

Mengingat Elang baru saja melakukan akusisi pada perusahaan besar. Tak ayal posisi Elang pasti menjadi ancaman bagi beberapa orang.

"Tolong awasi wanita itu disini. Jika sudah sembuh kembalikan dia ke rumahnya."

Bersama dengan asisten setianya, Rico. Elang pulang ke rumah kayu miliknya. Rumah kayu yang luar biasa besar.

Nampak sederhana dari luar dengan kebun yang menyambut. Namun di tengah terdapat rumah kayu ala vila pedesaan yang lapang. Sangat besar dan dihuni banyak orang.

Elang tiba di rumahnya. Sesampainya di depan pintu sudah ada Alisa yang menunggu.

"Mas Elang." Alisa menyambut suaminya dengan senyum manis. Pria ini pun menatapnya datar.

"Tidak perlu repot menyambutku. Bukannya dokter bilang kamu harus banyak istirahat?"

"Iya. Tapi aku bosan di kamar."

"Malam ini adalah jatahmu. Aku akan mengunjungimu nanti malam."

Elang melewati Alisa begitu saja setelah mengatakan itu. Tak perduli jika raut wajah Alisa yang berubah kecewa.

Dia hanya ingin menyapa suaminya. Empat hari terlewati, Alisa rindu sekali akan belaian dari Elang. Apalagi di kondisinya yang tengah berbadan dua membuat Alisa selalu ingin berdekatan dengan suaminya.

"Nyonya Alisa." Tegur seorang pelayan paruh baya bernama Nilam. "Mari saya antar ke kamar. Anda harus banyak istirahat."

Alisa mengangguk. Dia mengikuti Nilam pergi ke kamar pondok kayunya sendiri.

Sementara, Elang masuk ke kamar utama di bagian tengah rumah kayu ini. Kamar yang memang ditempatkan khusus untuk dirinya seorang.

Tok. Tok.

Pintu yang diketuk membuat Elang menoleh sekilas. Saat pintu itu terbuka, seorang wanita cantik dengan rambut sebahu kembali masuk dan membantu Elang membuka jas kerjanya.

"Aku dengar suara mobilmu tadi. Makanya aku kemari. Apa kamu sudah makan, sayang?" Tanya Silvya perhatian.

"Sudah." Elang lalu menatap Silvya. "Ini bukan harimu."

"Aku tahu. Aku masih ingat jatah hari yang kamu berikan padaku."

"Aku hanya tidak mau Alisa melihatmu keluar masuk ke kamarku seenaknya, Vya. Ingat jika Alisa tengah mengandung."

Silvya tersenyum. Dia adalah istri pertama dari Elang. Teman masa kecil yang menjadi teman hidup karena perjodohan orang tua.

"Aku paham. Aku berani kemari karena melihat Alisa sudah masuk ke kamarnya." Elisa membantu Elang berpakaian dan mengusap punggung kokoh itu. "Nanti malam papa ingin mengajak kita makan malam bersama."

Elang menganggung. Ia tak lupa jika papanya ingin makan bersama dengan anak dan kedua menantunya.

"Aku juga ingin membawa Rafika. Nggak masalah, kan?" Tanyanya.

"Asal dia tidak menyusahkan."

"Aku berjanji dia tidak akan membuat ulah seperti kemarin." Sahut Silvya pasti.

Malam tiba, Elang datang didampingi oleh Silvya. Di kursi makan kepala keluarga ada Raja yang sudah menunggu. Keduanya mengambil tempat duduk masing-masing. Sementara, Alisa tiba lima menit kemudian.

"Maaf aku terlambat. Tadi perutku sakit." Ucap Alisa tersenyum tak enak.

Raja berdeham. "Berapa usia kandunganmu sekarang?"

"Akan masuk empat bulan, pa."

"Apa kita bisa memeriksa jenis kelamin anakmu sekarang?"

Alisa jadi gugup karena mata tajam dari mertuanya.

"Maksudnya malam ini?" Tanya Alisa terbata.

"Besok saja." Sela Elang. "Hari sudah malam."

"Di rumah sakit Cakrawala saja. Dokter disana lebih baik dari rumah sakit manapun."

Elang mengangguk. Keempatnya lalu memulai makan malam bersama.

"Hari ini kamu sudah berhasil mengambil alih YK grup, Elang. Perusahaan kita mulai berkembang menjadi perusahan raksasa di Asia. Tapi itu saja tidak cukup. Papa mau kamu menguasai Eropa dan Amerika. Kalau perlu, seluruh dunia." Ujar Raja memandang lekat.

"Akan kulakukan sebisaku." Sahut Elang meneguk minumannya.

"Sebab itulah aku menginginkan cucu laki-laki yang bisa menjadi pewaris di keluarga ini. Yang bisa memimpin dan meneruskan tanggung jawab Elang nantinya." Pandangan Raja beralih pada Alisa dan Silvya.

Kedua wanita ini menundukkan wajah. Terutama Alisa yang ketakutan. Istri kedua Elang ini belum terbiasa dengan peraturan ketat di rumah ini. Apalagi, Raja yang sangat mengharapkan seorang cucu laki-laki.

"Iya, papa. Aku berharap anak yang dikandung Alisa adalah laki-laki. Jadi, kita bisa memiliki pewaris untuk perusahaan Cakra." Ujar Silvya tulus. Ia memandang adik madunya dengan tersenyum.

Alisa tersenyum canggung membalas ucapan kakak madunya. Namun jantungnya masih bergemuruh. Bagaimana jika dia mengandung anak perempuan bukan anak laki-laki? Oh.. Alisa takut terdepak dari keluarga ini.

Sudah cukup dia keguguran satu kali. Dimana Elang saat itu sangat berharap Alisa bisa melahirkan anak laki-laki. Dan semoga, bayi yang dikandung Alisa adalah sesuai yang diharapkan oleh suami dan juga mertuanya.

Ketenangan keempat orang yang sedang menyantap makanannya ini terganggu akibat suara keras dari luar.

Brakk!

Silvya melotot saat mendengar suara anak kecil yang menjerit setelah memecahkan vas bunga.

"Rafika!" Seru Silvya terkejut.

Prangg!

Tak hanya satu vas bunga. Kini vas bunga yang ada di atas nakas ikut diambil dan dilemparkannya ke dinding rumah. Sedangkan pengasuh anak itu kesulitan menenangkannya.

"Maaf, Nyonya. Rafika nggak bisa dicegah!" Ujar pengasuh anak ini ketakutan.

Raja dan Elang langsung memberikan tatapan tajamnya. Bukan pada Rafika melainkan pada ibunya, Silvya.

"Ajari anakmu itu sopan santun, Silvya!"

Suara menggelegar itu berhasil membuat Silvya gemetaran.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 11

    "Bagaimana, Diana?"Diana datang ke kamar yang ditempati oleh Silvya. Malam sudah menunjukkan pukul 11. Wanita ini bertindak sebagai burung pembawa kabar."Tuan dan asistennya pergi ke restoran nusantara yang berada di tengah kota. Sepertinya tak ada yang mencurigakan, nyonya.""Tunggu sebentar. Restoran nusantara?"Diana mengangguk. "Benar, nyonya. Restoran yang sangat terkenal itu.""Ah.. jadi mereka cuma pergi berdua?"Diana mengangguk. "Benar. Mereka berdua hanya makan bersama. Mungkin mereka ingin membicarakan masalah bisnis."Sepenglihatan mata-mata, keduanya duduk di restoran. Rico tampak memesan makanan sementara Elang sibuk memainkan ponselnya.Silvya tergelak. Ternyata dia sudah gegabah dengan berpikir Elang memiliki calon istri lain."Terima kasih atas bantuanmu."Silvya menarik laci yang ada di samping tempat tidurnya. Mengambil benda berwarna coklat muda dan menyerahkannya pada Diana."Ambil ini.""Terima kasih, nyonya. Dengan senang hati saya akan selalu membantu." Dian

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 10

    "Hai, Alisa." Silvya tersenyum cerah saat mengunjungi adik madunya."Ada mbak Silvya." Alisa ikut membalas senyuman manis itu. "Silahkan masuk, mbak. Apa mbak sudah sarapan?"Silvya masuk ke rumah kayu milik Alisa dimana tak lebih luas dari seperempat rumah utama."Sudah. Aku kemari membawakanmu ini." Silvya memberikan satu paper bag dari butik ternama."Pakaian hamil untukmu. Kebetulan kemarin aku ke butik langganan untuk membeli beberapa pakaian dan aku melihat ini." Ucapnya baik hati."Ah.. ini cantik sekali." Alisa menerima itu dengan senang hati. "Terima kasih, mbak.""Sama-sama." Silvya tersenyum dengan menyapu sudut rumah dengan matanya. "Elang sudah pergi bekerja?""Sudah, mbak. Baru saja."Silvya mengulum senyum. "Aku tidak melihatnya semalam. Padahal biasanya dia pulang tengah malam setelah dari rumahmu. Tapi rupanya dia menghabiskan waktunya disini bersamamu. Syukurlah, Alisa. Elang pasti sangat menyayangimu. Apalagi kamu mengandung putrinya."Alisa yang mendengar itu samp

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 9

    Elang memijit dahi hingga pangkal hidungnya. Khayalan macam apa tadi? Kenapa dia tiba-tiba melamar office girl seperti Regita. Astaga! Elang harus memeriksakan diri setelah ini. Sepertinya kepala itu sudah terbentur sesuatu hingga membuatnya hilang akal.Sedangkan di hadapan pria itu, masih ada Regita yang berdiri ketakutan. Wajah wanita itu tertunduk menunggu hukuman yang akan diberikan."Apa kamu juga yang mengganti parfum ruangan ini?" Tanya Elang lagi.Suara itu tidak dingin. Namun cukup menusuk jantung Regita hingga membuat wanita ini semakin menggigil."Iya, tuan. Kemarin parfum ruangan anda habis. Saat saya ingin bertanya pada office boy sebelumnya, ternyata dia sedang sakit. Jadi, saya...."Ucapan Regita terhenti ketika Elang mengangkat tangannya."Cukup. Keluarlah."Regita terperanjat. Ia mengangkat wajahnya dan memandang kebingungan."Keluar dari sini." Ujar Elang mengulangi ucapannya.Sejenak Regita keheranan. Asisten pria itu tadi bilang jika Regita akan terkena hukuman ka

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 8

    Jika Elang pikir akan leluasa bertemu dengan Regita maka dia salah besar. Wanita itu hanya bekerja di ruangan ini ketika fajar tiba. Pukul 7 menjelang, Regita akan keluar dari ruang kerja Elang dan mengurus yang lain.Dia muncul ketika Jorgi membutuhkannya sewaktu-waktu saja.Aroma parfum ruangan yang berubah, bunga hidup di vas yang selalu diganti membuat suasana tempat Elang bekerja berubah total.Tak ada lagi kesan kuat dan menantang. Berganti dengan lembut dan penuh debaran."Satu jam lagi kita akan rapat dengan tuan Barnes. Beliau ingin mengajak anda untuk bekerja sama di bidang ekspor impor." Lapor Jorgi kala itu.Elang berdeham. "Siapkan jamuan yang terbaik."Elang tahu betul betapa bagusnya reputasi keluarga Barnes. Salah satu pebisnis yang sudah memiliki tiga turunan menguasai di bidang perdagangan.Tuan Barnes Senior sudah pensiun, sekarang diganti oleh Barnes Junior. Sebab itulah, Elang sangat penasaran akan p

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 7

    "Silvya.."Silvya tersenyum saat melihat wajah suaminya. Ia pun menaruh putrinya dalam pangkuan dan memperlihatkannya pada Elang. Tapi, pria itu hanya melihat sekadarnya."Kami baru saja dari rumah sakit dan memutuskan langsung kesini. Kami tidak mengganggu, kan?" Tanya Silvya sebelum suaminya itu membuka mulut lagi."Tidak. Bagaimana kata dokter?""Rafika baru saja di cek darahnya. Hasil darah putihnya sedikit lebih tinggi. Tapi dokter sudah memberikan antibiotik. Oh, satu lagi.. aku ingin memberitahu sesuatu. Tadi aku pergi ke psikolog anak.""Lalu?""Anak kita mengalami gangguan mental yang parah, Elang. Beliau menyarankan agar Rafika di terapi.""Lakukan saja jika itu yang terbaik." Sahut Elang datar.Silvya mengangguk. Dia mengusap pucuk kepala putrinya."Psikolog itu juga bilang jika anak kita terlalu sensitif. Dia tidak bisa di tempat yang panas atau pun terlalu dingin. Tidak bisa di tempat yang bising maupun sempit. Dia harus di ruangan yang tenang dan lapang." Sambung Silvya.

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 6

    "Karena kamu office girl baru, kamu akan saya letakkan di bagian luar." Wanita gendut ini menunjuk area taman yang ada di depan perusahaan."Maksudnya, saya membersihkan taman itu?" Tanya Regita memastikan.Wanita gendut yang menjadi kepala cleaning service ini mengangguk."Bersihkan semua area depan termasuk parkiran.""Tapi.. ini luas sekali.." Regita sampai terperangah."Kamu tidak sendiri. Ada dua orang pria yang akan bersamamu membersihkan taman dan parkiran. Sekarang ambil sapu dan kerjakan tugasmu. Jangan sampai tuan Elang datang dan melihat daun kering berhamburan di jalanan!""Baik." Regita mengangguk.Wanita yang sudah memakai seragam kerja berwarna hijau ini mengambil sapu. Ia lalu membersihkan jalanan yang berada di depan lobi utama. Setelah itu, ia akan membersihkan taman.Di rumah kayu yang megah, Elang baru saja selesai bersiap untuk kerja. Saat tengah sarapan, ia mendapati Silvya keluar dari kamarnya sambil menggendong Rafika."Pagi, papa." Sapa Silvya mengajari anakny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status