Share

Bab 3

Author: Stary Dream
last update publish date: 2026-07-29 19:32:17

Ditemani oleh mertua dan suaminya, Alisa tiba di rumah sakit Cakrawala. Rumah sakit yang merupakan milik dari suaminya sendiri.

Elang seorang pengusaha kelas kalap. Tak hanya beroperasi di bidang jasa. Dia juga membuat rumah sakit Cakrawala yang menjadi bagian dari manajemennya.

Dalam empat tahun, rumah sakit ini berkembang dengan pesat. Maklum saja, Elang merupakan pria ambisius yang menyukai kesempurnaan. Dan hal tersebut juga diperlakukan di rumah. Dimana Elang menuntut kesempurnaan di dua biduk rumah tangganya.

Alisa meremas gaun yang ia pakai. Wanita cantik dengan rambut lurus ini tertunduk untuk menutupi rasa cemasnya.

Hanya dua kursi yang memisahkannya dari jarak Raja. Disana Raja menunggu dengan tenang sambil menarik nafas berat.

Ia tampak diam saja. Namun aura intimidasi begitu kuat. Alisa merasa tercekat. Ia hampir kehabisan nafas.

"Nyonya Alisa Cakrawala." Panggil seorang suster.

Elang menoleh. Ia membantu istrinya yang sedang hamil berdiri.

"Ayo kita masuk." Raja terlebih dahulu berjalan.

Tiba di ruangan dokter, Alisa dibaringkan oleh perawat. Sementara Raja dan Elang menunggu di sebuah kursi yang mengarah langsung ke monitor.

"Apa kabar, nyonya Alisa?" Tanya dokter wanita ini ramah.

"Baik, dokter." Ujar Alisa menutupi rasa gugupnya.

Dokter wanita bernama Laura ini mengarahkan alat USG ke perut Alisa. Ia pun tersenyum.

"Semuanya baik. Perkembangan janinnya bagus. Berat badannya cukup. Sekarang usia kandungannya 21 minggu." Jelas dokter tersebut.

"Laki-laki atau perempuan?" Tanya Raja yang memandang ke arah monitor.

Dokter Laura menggoyangkan sedikit alat tersebut di atas perut Alisa agar janin disana bergerak. Akhirnya terlihat juga..

"Bayinya.. perempuan."

Alisa menutup matanya dan memalingkan wajah ke arah lain. Air mata mulai bergumul di pelupuknya.

Sementara Raja menghela nafas panjang dan bangkit berdiri. Pria yang tak muda lagi itu tetap berjalan dengan gagahnya.

"Papa pulang saja." Ucap Raja dengan raut wajah datar namun dengan sorot mata kekecewaan.

Alisa tak mampu membalas ucapan Raja. Ia rasanya ingin menangis karena sudah mengandung anak yang tak diharapkan.

Sementara, Elang masih menunggu di ruang dokter ini sampai pemeriksaannya selesai.

"Semuanya baik dan sempurna. Bulan depan anda boleh datang kembali untuk melakukan pemeriksaan." Ucap dokter tersebut memberikan selembar resep. "Jangan lupa minum vitamin dan susu hamilnya. Satu lagi, jangan stress supaya kontraksinya berkurang."

"Ba-baik, dok." Jawab Alisa serak.

Elang mengambil resep tersebut dari tangan istrinya dan mengucapkan terima kasih. Bersama Alisa, ia keluar dari ruang pemeriksaan.

"Ambil obat ini di apotik." Perintah Elang pada asisten setianya.

"Baik, tuan. Nanti saya akan mengantar obat ini ke rumah." Jawab Rico.

Elang mengangguk. Ia lalu mengajak Alisa pulang ke rumah.

Sepanjang perjalanan, Alisa menjahit mulutnya. Ia takut berucap sesuatu. Terlebih ia tahu sudah mengecewakan suaminya.

"Mas Elang.." lirih Alisa saat Elang mengantarnya ke pondok kayu.

Elang menoleh dan memandang datar.

"Aku minta maaf karena sudah mengecewakan kamu."

Elang tersenyum tipis.

"Sudah kukatakan, aku tetap menganggapnya sebagai anakku. Tapi aku tidak bisa memberikan hal lebih."

Elang mengusap pucuk kepala Alisa lalu pergi meninggalkan wanita itu. Sementara, Alisa terduduk sambil menangis tersedu-sedu.

Elang kembali ke rumah tua. Berjalan melewati ruang keluarga dan memandang ke arah pintu kamar yang terbuka. Seorang dokter pria keluar darisana.

"Selamat siang, tuan Elang." Sapa dokter pria yang juga bekerja di rumah sakit Cakrawala.

"Siang. Siapa yang sakit?"

"Nona kecil, Rafika. Dia mengalami demam tinggi. Tapi tadi saya sudah memberikannya obat. Jika memang demamnya masih terjadi sampai tiga hari ke depan, kita bisa melakukan pemeriksaan darah."

Elang mengangguk. Ia berjalan melewati dokter tersebut dan masuk ke kamar putrinya. Disana ada Silvya yang tengah mencium pipi Rafika yang tertidur.

"Dia sakit?"

Silvya terkejut akan kehadiran Elang.

"Iya, badan Rafika tiba-tiba demam, Elang."

"Dokter bilang tidak ada masalah dengannya."

"Tapi kumohon belas kasihmu, Elang." Silvya tahu maksud ucapan dari suaminya. "Anak kita sedang sakit. Demamnya tinggi sekali. Kalau kami pindah ke pondok, maka akan jauh sekali jika aku mencari pertolongan."

"Kamu tidak sendiri disana, Silvya. Ada Diana yang akan menjadi pelayanan pribadi kalian."

"Tapi tetap saja.." Silvya mulai terisak. "Aku akan cemas sekali.. ku mohon, Elang.. berikanlah rasa kasihanmu pada kami. Rafika juga putrimu. Pahamilah kondisinya.." ucap Silvya memohon dengan sangat.

Elang memandang Silvya dengan seksama. Sebenarnya rasa cinta pada istri pertamanya sudah memudar. Mungkin memang tidak pernah terbentuk. Sekarang yang tersisa adalah rasa menghargai Silvya sebagai teman masa kecilnya.

"Baiklah. Aku beri waktu satu minggu."

Anak kecil yang terbaring itu hanya dilirik sekilas. Setelah itu, Elang pergi keluar dari kamarnya.

Silvya tersenyum tipis setelah berhasil membujuk Elang. Sekali lagi, Silvya tidak akan tersingkir. Enak saja. Dia adalah nyonya pertama. Nyonya dari Elang Cakrawala. Tak semudah itu ia disingkirkan.

"Diana!" Panggil Silvya dari dalam.

Asisten wanita ini lalu masuk dan menghadap.

"Iya, nyonya."

"Bagaimana?" Tanya Silvya.

Diana tersenyum miring. "Selamat, nyonya. Bayi yang dikandung nyonya Alisa berjenis kelamin perempuan."

Silvya melipat bibir menahan tawanya. Ah.. tak perlu lagi mengotori tangannya. Ternyata semesta mengabulkan doa Silvya untuk memberikan Elang anak perempuan.

"Sesuai harapanku, Elang tidak akan pernah memiliki anak laki-laki." Gumam Silvya. Ia lalu beralih lagi pada asistennya. "Beritahu Nilam kalau aku ingin mengunjungi Alisa. Jangan lupa pesankan dua kotak kue yang akan kita bawa kesana."

"Akan saya lalukan." Diana undur diri dan mengerjakan perintah nyonya pertama.

Tak lama ada Rico yang baru saja kembali dari rumah sakit dengan membawa vitamin milik nyonya kedua.

"Maaf, tuan.. saya kemari untuk mengantar obat milik nyonya Alisa." Ucap Rico sopan saat berkunjung di ruang kerja majikannya.

"Berikan saja pada pelayan. Biar dia yang mengantarnya pada Alisa."

"Baik."

"Apa kabar wanita itu?"

"Nona Regita? Dokter bilang nona bisa pulang besok pagi."

"Bagaimana lukanya?"

"Sudah lebih baik."

Elang mengangguk. "Aku ingin bertemu dengannya nanti sore."

"Saya akan memberitahu tim rumah sakit."

"Tidak perlu. Aku ingin menemuinya sendiri."

Sore menjelang, Elang datang ke kamar rawat milik Regita. Wanita yang tak sengaja ditabrak olehnya kemarin.

Pintu itu dibukanya sekilas. Menyisakan sebuah celah dimana Elang bisa mengintip dengan mata tajamnya.

Menggunakan baju pasien, Regita tampak duduk membelakanginya. Di hadapan wanita itu ada seorang perawat yang membantunya.

"Kakinya masih terasa nyeri?" Tanya suster tersebut.

"Sedikit. Tapi luka di bahu ini masih terasa."

"Ada lecet yang besar disana."

"Apa akan berbekas?" Tanya Regita khawatir.

Suster itu terkekeh. "Mungkin akan menimbulkan bekas. Kalau begitu mari kita obati."

Suster tersebut meminta Regita membuka piyama pasien yang dia pakai.

Dengan perlahan, Regita membuka kancing pakaiannya dan menurunkan piyama itu begitu saja. Rambut Regita yang panjang di sampingkan hingga membuat punggung polos itu terlihat.

Di sebrang sana ada Elang yang tak melepaskan pandangannya.

Dahinya mengernyit seolah mengenal postur tubuh tersebut.

"Dia mirip sekali dengan wanita itu.." ujar Elang mengingat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 96

    "Selamat jalan, papa."Regita mengusap peti mati yang mengantarkan Henry ke dalam liang tempat istirahat terakhirnya. Semua orang menundukkan kepala untuk berdoa.Regita memandang peti itu dengan datar. Seolah perpisahan ini tak lagi menyakitkan. Ya, dia sudah menjalani banyak perpisahan dalam hidupnya. Dan pelaku yang sudah memberikannya banyak luka tak pantas untuk mendapatkan air mata.Sekarang Henry sudah tenang di rumah barunya. Papan nisan tertulis nama pendiri perusahaan Barnes yang dulu sempat terkenal. Namun semuanya hancur seperti kepercayaan Henry pada putra kesayangannya."Aku turut berduka, Jane." Michel mengusap bahu Regita dengan simpatik.Regita tersenyum. "Terima kasih, Michel.""Sekarang apa rencanamu? Mengambil alih harta yang tersisa?""Semuanya akan ku simpan, Michel. Aku adalah ahli waris dari papaku. Rumah dan harta tidak bergerak akan aku jual. Tabungan deposito akan ku simpan ke bank Swiss. Jika

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 95

    "Mari kita berpisah."Suara lirih itu terdengar. Mata itu memerah dan berkaca-kaca.Elang yang melihat itu tertegun sejenak. Regita lah yang terlebih dulu nyatanya mengungkapkan keinginannya."Aku tahu pernikahan kita tidak bisa diselamatkan, Elang. Aku sangat berdosa padamu.. dengan sengaja aku menipumu agar aku bisa mencapai tujuanku.. ya, aku jahat sekali." Helaan nafas berat keluar dari mulut Regita."Aku melakukan semua ini untuk membalaskan dendamku pada Jonathan. Dia dan ibunya telah merusak pernikahan orang tuaku.. menghancurkan hidup ibuku hingga mati. Lalu dia berusaha melenyapkanku dengan merancang pembunuhan berencana." Regita meneguk ludahnya. "Aku sangat membenci mereka, Elang. Sebab itulah aku ingin membalaskan kejahatan yang mereka lakukan pada kami."Regita lalu menatap lekat pria yang masih menjadi suaminya dengan air mata yang menitik."Saat pertama kali aku melihatmu, aku sudah jatuh cinta, Elang. Si

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 94

    Tak ada yang bisa mengalahkan penyesalan dari Raja saat ini. Oleh karena keegoisan Raja yang menginginkan cucu laki-laki membuat masalah bertubi-tubi menimpa anak kesayangannya.Istri pertama Elang yang manipulatif dan memiliki keinginan untuk melenyapkan istri yang lain.Istri kedua yang polos namun tak berdaya. Mudah sekali disinggung dan dimanfaatkan.Dan istri ketiga yang menjadi andalan Elang namun rupanya menyimpan rahasia yang menyakitkan.Raja sangat kecewa pada dirinya sendiri. Andai saja dia tak memaksa Elang menikah dengan Silvya ataupun Alisa, mungkin semuanya tak akan seperti ini.Di rumah sakit, Regita sendiri sudah mendapatkan kesadarannya. Di sisinya ada Arthur dan Darius yang tertidur di ranjang bayi. Saat melihat kedua putranya, mata Regita berkaca-kaca. Ia ingin memeluk kedua anaknya."Michel. Anak-anakku." Keluh Regita.Michel yang baru saja terlelap lantas terbangun."Jangan banyak bergerak,

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 93

    Seharian Alisa tak keluar dari kamarnya. Sepanjang hari ini, ia terus memeluk putri tunggalnya. Menangis dan meminta maaf hingga membuat Aliyah meronta dilepaskan.Pintu yang diketuk akhirnya membuat pelukan itu terlepas. Aliyah lolos dan berlari memeluk pengasuhnya."Nyonya.." tegur Nilam. "Anda ingin makan sesuatu?"Alisa menggeleng. "Aku ingin sendirian.""Nyonya.. nyonya Silvya terbukti menjadi pelaku penculikan Arthur dan Darius. Sekarang nyonya Silvya sudah dibawa ke kantor polisi."Jantung Alisa sampai berhenti di tempat. Ia lalu meremas seprai tempat tidur karena ketakutan.Tok. Tok. Suara ketukan pintu membuat Nilam tertunduk. Ada Raja yang datang dan menatap menantu keduanya dari jauh."Alisa.."Alisa mengerjap. Ia menatap dengan penuh ketakutan. Di depan sana ada mertuanya yang pasti ingin menuntut segala hal."Papa! Aku.. aku tidak sengaja melakukannya." Ujar Alisa terisak. "Aku dipaksa.."

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 92

    Dor!Dor!Tembakan itu melesat dengan bebas. Regita berlari saat melihat pistol itu ditujukan pada suaminya. Tubuh Elang ia peluk. Ia balik hingga tembakan tersebut mengenai bahunya.Elang merengkuh pinggang Regita ketika peluru itu bersarang di bahu istrinya. Ia lalu membawa Regita dalam pelukan."Brengsek!"Rico menendang pria itu sekali lagi hingga tak sadarkan diri. Bersama dengan pengawal lain, pria penculik itu berhasil diamankan. Sementara, Regita dibawa ke mobil oleh Elang."Bertahan!!"Elang melepaskan jas kerjanya dan membalut bahu Regita yang bercucuran darah. Wajah Regita memucat. Nadinya mulai melemah. Dibalik kursi kemudi, ia melihat Arthur dan Darius yang dipangku di kursi depan."Ma! Ma!" Arthur dan Darius menangis sambil memanggil nama ibunya.Elang membawa kepala Regita yang terkulai bersender di dadanya."Bertahanlah!" Seru Elang cemas. Ia mengusap wajah Regita yang

  • Dalam Rengkuhan Cinta Istri Ketiga   Bab 91

    Nilam dan pengasuh Darius sampai berlari ikut mencari keberadaan kedua bayi yang tiba-tiba menghilang. Sedangkan Alisa memeluk Aliyah dengan erat. Anak itu menangis kencang karena baru saja terbebas dari ketakutan."Maafkan mama, nak." Bisik Alisa melirih. Ia jadi merasa bersalah karena sengaja mengurung Aliyah di kamar mandi."Nyonya! Kami sudah mencari si kembar berkeliling tapi tidak ditemukan!" Seru Nilam melapor."Kita harus memeriksa cctv! Aku sudah mencari mereka berkeliling taman bermain ini!" Ujar Regita muncul dengan emosi yang membuncah.Mata Alisa sampai melotot ketika melihat Regita yang tiba-tiba muncul dengan Michel. Peluh bercucuran tampak di wajahnya yang memerah."Regita.."Regita tak menyahuti. Dia menyuruh Michel untuk memeriksa kamera pengawas. Sementara Regita dan kedua pengasuh anaknya masih melanjutkan pencarian."Astaga! Bagaimana ini?" Alisa semakin ketakutan. Dia lalu diam-diam mengirim pesan p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status