LOGINDitemani oleh mertua dan suaminya, Alisa tiba di rumah sakit Cakrawala. Rumah sakit yang merupakan milik dari suaminya sendiri.
Elang seorang pengusaha kelas kalap. Tak hanya beroperasi di bidang jasa. Dia juga membuat rumah sakit Cakrawala yang menjadi bagian dari manajemennya. Dalam empat tahun, rumah sakit ini berkembang dengan pesat. Maklum saja, Elang merupakan pria ambisius yang menyukai kesempurnaan. Dan hal tersebut juga diperlakukan di rumah. Dimana Elang menuntut kesempurnaan di dua biduk rumah tangganya. Alisa meremas gaun yang ia pakai. Wanita cantik dengan rambut lurus ini tertunduk untuk menutupi rasa cemasnya. Hanya dua kursi yang memisahkannya dari jarak Raja. Disana Raja menunggu dengan tenang sambil menarik nafas berat. Ia tampak diam saja. Namun aura intimidasi begitu kuat. Alisa merasa tercekat. Ia hampir kehabisan nafas. "Nyonya Alisa Cakrawala." Panggil seorang suster. Elang menoleh. Ia membantu istrinya yang sedang hamil berdiri. "Ayo kita masuk." Raja terlebih dahulu berjalan. Tiba di ruangan dokter, Alisa dibaringkan oleh perawat. Sementara Raja dan Elang menunggu di sebuah kursi yang mengarah langsung ke monitor. "Apa kabar, nyonya Alisa?" Tanya dokter wanita ini ramah. "Baik, dokter." Ujar Alisa menutupi rasa gugupnya. Dokter wanita bernama Laura ini mengarahkan alat USG ke perut Alisa. Ia pun tersenyum. "Semuanya baik. Perkembangan janinnya bagus. Berat badannya cukup. Sekarang usia kandungannya 21 minggu." Jelas dokter tersebut. "Laki-laki atau perempuan?" Tanya Raja yang memandang ke arah monitor. Dokter Laura menggoyangkan sedikit alat tersebut di atas perut Alisa agar janin disana bergerak. Akhirnya terlihat juga.. "Bayinya.. perempuan." Alisa menutup matanya dan memalingkan wajah ke arah lain. Air mata mulai bergumul di pelupuknya. Sementara Raja menghela nafas panjang dan bangkit berdiri. Pria yang tak muda lagi itu tetap berjalan dengan gagahnya. "Papa pulang saja." Ucap Raja dengan raut wajah datar namun dengan sorot mata kekecewaan. Alisa tak mampu membalas ucapan Raja. Ia rasanya ingin menangis karena sudah mengandung anak yang tak diharapkan. Sementara, Elang masih menunggu di ruang dokter ini sampai pemeriksaannya selesai. "Semuanya baik dan sempurna. Bulan depan anda boleh datang kembali untuk melakukan pemeriksaan." Ucap dokter tersebut memberikan selembar resep. "Jangan lupa minum vitamin dan susu hamilnya. Satu lagi, jangan stress supaya kontraksinya berkurang." "Ba-baik, dok." Jawab Alisa serak. Elang mengambil resep tersebut dari tangan istrinya dan mengucapkan terima kasih. Bersama Alisa, ia keluar dari ruang pemeriksaan. "Ambil obat ini di apotik." Perintah Elang pada asisten setianya. "Baik, tuan. Nanti saya akan mengantar obat ini ke rumah." Jawab Rico. Elang mengangguk. Ia lalu mengajak Alisa pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, Alisa menjahit mulutnya. Ia takut berucap sesuatu. Terlebih ia tahu sudah mengecewakan suaminya. "Mas Elang.." lirih Alisa saat Elang mengantarnya ke pondok kayu. Elang menoleh dan memandang datar. "Aku minta maaf karena sudah mengecewakan kamu." Elang tersenyum tipis. "Sudah kukatakan, aku tetap menganggapnya sebagai anakku. Tapi aku tidak bisa memberikan hal lebih." Elang mengusap pucuk kepala Alisa lalu pergi meninggalkan wanita itu. Sementara, Alisa terduduk sambil menangis tersedu-sedu. Elang kembali ke rumah tua. Berjalan melewati ruang keluarga dan memandang ke arah pintu kamar yang terbuka. Seorang dokter pria keluar darisana. "Selamat siang, tuan Elang." Sapa dokter pria yang juga bekerja di rumah sakit Cakrawala. "Siang. Siapa yang sakit?" "Nona kecil, Rafika. Dia mengalami demam tinggi. Tapi tadi saya sudah memberikannya obat. Jika memang demamnya masih terjadi sampai tiga hari ke depan, kita bisa melakukan pemeriksaan darah." Elang mengangguk. Ia berjalan melewati dokter tersebut dan masuk ke kamar putrinya. Disana ada Silvya yang tengah mencium pipi Rafika yang tertidur. "Dia sakit?" Silvya terkejut akan kehadiran Elang. "Iya, badan Rafika tiba-tiba demam, Elang." "Dokter bilang tidak ada masalah dengannya." "Tapi kumohon belas kasihmu, Elang." Silvya tahu maksud ucapan dari suaminya. "Anak kita sedang sakit. Demamnya tinggi sekali. Kalau kami pindah ke pondok, maka akan jauh sekali jika aku mencari pertolongan." "Kamu tidak sendiri disana, Silvya. Ada Diana yang akan menjadi pelayanan pribadi kalian." "Tapi tetap saja.." Silvya mulai terisak. "Aku akan cemas sekali.. ku mohon, Elang.. berikanlah rasa kasihanmu pada kami. Rafika juga putrimu. Pahamilah kondisinya.." ucap Silvya memohon dengan sangat. Elang memandang Silvya dengan seksama. Sebenarnya rasa cinta pada istri pertamanya sudah memudar. Mungkin memang tidak pernah terbentuk. Sekarang yang tersisa adalah rasa menghargai Silvya sebagai teman masa kecilnya. "Baiklah. Aku beri waktu satu minggu." Anak kecil yang terbaring itu hanya dilirik sekilas. Setelah itu, Elang pergi keluar dari kamarnya. Silvya tersenyum tipis setelah berhasil membujuk Elang. Sekali lagi, Silvya tidak akan tersingkir. Enak saja. Dia adalah nyonya pertama. Nyonya dari Elang Cakrawala. Tak semudah itu ia disingkirkan. "Diana!" Panggil Silvya dari dalam. Asisten wanita ini lalu masuk dan menghadap. "Iya, nyonya." "Bagaimana?" Tanya Silvya. Diana tersenyum miring. "Selamat, nyonya. Bayi yang dikandung nyonya Alisa berjenis kelamin perempuan." Silvya melipat bibir menahan tawanya. Ah.. tak perlu lagi mengotori tangannya. Ternyata semesta mengabulkan doa Silvya untuk memberikan Elang anak perempuan. "Sesuai harapanku, Elang tidak akan pernah memiliki anak laki-laki." Gumam Silvya. Ia lalu beralih lagi pada asistennya. "Beritahu Nilam kalau aku ingin mengunjungi Alisa. Jangan lupa pesankan dua kotak kue yang akan kita bawa kesana." "Akan saya lalukan." Diana undur diri dan mengerjakan perintah nyonya pertama. Tak lama ada Rico yang baru saja kembali dari rumah sakit dengan membawa vitamin milik nyonya kedua. "Maaf, tuan.. saya kemari untuk mengantar obat milik nyonya Alisa." Ucap Rico sopan saat berkunjung di ruang kerja majikannya. "Berikan saja pada pelayan. Biar dia yang mengantarnya pada Alisa." "Baik." "Apa kabar wanita itu?" "Nona Regita? Dokter bilang nona bisa pulang besok pagi." "Bagaimana lukanya?" "Sudah lebih baik." Elang mengangguk. "Aku ingin bertemu dengannya nanti sore." "Saya akan memberitahu tim rumah sakit." "Tidak perlu. Aku ingin menemuinya sendiri." Sore menjelang, Elang datang ke kamar rawat milik Regita. Wanita yang tak sengaja ditabrak olehnya kemarin. Pintu itu dibukanya sekilas. Menyisakan sebuah celah dimana Elang bisa mengintip dengan mata tajamnya. Menggunakan baju pasien, Regita tampak duduk membelakanginya. Di hadapan wanita itu ada seorang perawat yang membantunya. "Kakinya masih terasa nyeri?" Tanya suster tersebut. "Sedikit. Tapi luka di bahu ini masih terasa." "Ada lecet yang besar disana." "Apa akan berbekas?" Tanya Regita khawatir. Suster itu terkekeh. "Mungkin akan menimbulkan bekas. Kalau begitu mari kita obati." Suster tersebut meminta Regita membuka piyama pasien yang dia pakai. Dengan perlahan, Regita membuka kancing pakaiannya dan menurunkan piyama itu begitu saja. Rambut Regita yang panjang di sampingkan hingga membuat punggung polos itu terlihat. Di sebrang sana ada Elang yang tak melepaskan pandangannya. Dahinya mengernyit seolah mengenal postur tubuh tersebut. "Dia mirip sekali dengan wanita itu.." ujar Elang mengingat."Bagaimana, Diana?"Diana datang ke kamar yang ditempati oleh Silvya. Malam sudah menunjukkan pukul 11. Wanita ini bertindak sebagai burung pembawa kabar."Tuan dan asistennya pergi ke restoran nusantara yang berada di tengah kota. Sepertinya tak ada yang mencurigakan, nyonya.""Tunggu sebentar. Restoran nusantara?"Diana mengangguk. "Benar, nyonya. Restoran yang sangat terkenal itu.""Ah.. jadi mereka cuma pergi berdua?"Diana mengangguk. "Benar. Mereka berdua hanya makan bersama. Mungkin mereka ingin membicarakan masalah bisnis."Sepenglihatan mata-mata, keduanya duduk di restoran. Rico tampak memesan makanan sementara Elang sibuk memainkan ponselnya.Silvya tergelak. Ternyata dia sudah gegabah dengan berpikir Elang memiliki calon istri lain."Terima kasih atas bantuanmu."Silvya menarik laci yang ada di samping tempat tidurnya. Mengambil benda berwarna coklat muda dan menyerahkannya pada Diana."Ambil ini.""Terima kasih, nyonya. Dengan senang hati saya akan selalu membantu." Dian
"Hai, Alisa." Silvya tersenyum cerah saat mengunjungi adik madunya."Ada mbak Silvya." Alisa ikut membalas senyuman manis itu. "Silahkan masuk, mbak. Apa mbak sudah sarapan?"Silvya masuk ke rumah kayu milik Alisa dimana tak lebih luas dari seperempat rumah utama."Sudah. Aku kemari membawakanmu ini." Silvya memberikan satu paper bag dari butik ternama."Pakaian hamil untukmu. Kebetulan kemarin aku ke butik langganan untuk membeli beberapa pakaian dan aku melihat ini." Ucapnya baik hati."Ah.. ini cantik sekali." Alisa menerima itu dengan senang hati. "Terima kasih, mbak.""Sama-sama." Silvya tersenyum dengan menyapu sudut rumah dengan matanya. "Elang sudah pergi bekerja?""Sudah, mbak. Baru saja."Silvya mengulum senyum. "Aku tidak melihatnya semalam. Padahal biasanya dia pulang tengah malam setelah dari rumahmu. Tapi rupanya dia menghabiskan waktunya disini bersamamu. Syukurlah, Alisa. Elang pasti sangat menyayangimu. Apalagi kamu mengandung putrinya."Alisa yang mendengar itu samp
Elang memijit dahi hingga pangkal hidungnya. Khayalan macam apa tadi? Kenapa dia tiba-tiba melamar office girl seperti Regita. Astaga! Elang harus memeriksakan diri setelah ini. Sepertinya kepala itu sudah terbentur sesuatu hingga membuatnya hilang akal.Sedangkan di hadapan pria itu, masih ada Regita yang berdiri ketakutan. Wajah wanita itu tertunduk menunggu hukuman yang akan diberikan."Apa kamu juga yang mengganti parfum ruangan ini?" Tanya Elang lagi.Suara itu tidak dingin. Namun cukup menusuk jantung Regita hingga membuat wanita ini semakin menggigil."Iya, tuan. Kemarin parfum ruangan anda habis. Saat saya ingin bertanya pada office boy sebelumnya, ternyata dia sedang sakit. Jadi, saya...."Ucapan Regita terhenti ketika Elang mengangkat tangannya."Cukup. Keluarlah."Regita terperanjat. Ia mengangkat wajahnya dan memandang kebingungan."Keluar dari sini." Ujar Elang mengulangi ucapannya.Sejenak Regita keheranan. Asisten pria itu tadi bilang jika Regita akan terkena hukuman ka
Jika Elang pikir akan leluasa bertemu dengan Regita maka dia salah besar. Wanita itu hanya bekerja di ruangan ini ketika fajar tiba. Pukul 7 menjelang, Regita akan keluar dari ruang kerja Elang dan mengurus yang lain.Dia muncul ketika Jorgi membutuhkannya sewaktu-waktu saja.Aroma parfum ruangan yang berubah, bunga hidup di vas yang selalu diganti membuat suasana tempat Elang bekerja berubah total.Tak ada lagi kesan kuat dan menantang. Berganti dengan lembut dan penuh debaran."Satu jam lagi kita akan rapat dengan tuan Barnes. Beliau ingin mengajak anda untuk bekerja sama di bidang ekspor impor." Lapor Jorgi kala itu.Elang berdeham. "Siapkan jamuan yang terbaik."Elang tahu betul betapa bagusnya reputasi keluarga Barnes. Salah satu pebisnis yang sudah memiliki tiga turunan menguasai di bidang perdagangan.Tuan Barnes Senior sudah pensiun, sekarang diganti oleh Barnes Junior. Sebab itulah, Elang sangat penasaran akan p
"Silvya.."Silvya tersenyum saat melihat wajah suaminya. Ia pun menaruh putrinya dalam pangkuan dan memperlihatkannya pada Elang. Tapi, pria itu hanya melihat sekadarnya."Kami baru saja dari rumah sakit dan memutuskan langsung kesini. Kami tidak mengganggu, kan?" Tanya Silvya sebelum suaminya itu membuka mulut lagi."Tidak. Bagaimana kata dokter?""Rafika baru saja di cek darahnya. Hasil darah putihnya sedikit lebih tinggi. Tapi dokter sudah memberikan antibiotik. Oh, satu lagi.. aku ingin memberitahu sesuatu. Tadi aku pergi ke psikolog anak.""Lalu?""Anak kita mengalami gangguan mental yang parah, Elang. Beliau menyarankan agar Rafika di terapi.""Lakukan saja jika itu yang terbaik." Sahut Elang datar.Silvya mengangguk. Dia mengusap pucuk kepala putrinya."Psikolog itu juga bilang jika anak kita terlalu sensitif. Dia tidak bisa di tempat yang panas atau pun terlalu dingin. Tidak bisa di tempat yang bising maupun sempit. Dia harus di ruangan yang tenang dan lapang." Sambung Silvya.
"Karena kamu office girl baru, kamu akan saya letakkan di bagian luar." Wanita gendut ini menunjuk area taman yang ada di depan perusahaan."Maksudnya, saya membersihkan taman itu?" Tanya Regita memastikan.Wanita gendut yang menjadi kepala cleaning service ini mengangguk."Bersihkan semua area depan termasuk parkiran.""Tapi.. ini luas sekali.." Regita sampai terperangah."Kamu tidak sendiri. Ada dua orang pria yang akan bersamamu membersihkan taman dan parkiran. Sekarang ambil sapu dan kerjakan tugasmu. Jangan sampai tuan Elang datang dan melihat daun kering berhamburan di jalanan!""Baik." Regita mengangguk.Wanita yang sudah memakai seragam kerja berwarna hijau ini mengambil sapu. Ia lalu membersihkan jalanan yang berada di depan lobi utama. Setelah itu, ia akan membersihkan taman.Di rumah kayu yang megah, Elang baru saja selesai bersiap untuk kerja. Saat tengah sarapan, ia mendapati Silvya keluar dari kamarnya sambil menggendong Rafika."Pagi, papa." Sapa Silvya mengajari anakny







