เข้าสู่ระบบSegala kata telah hanyut di kepala. Ancaman halus Dante bukan malah membuat Liv mampu mengeluarkan suara, justru ia merasakan adanya kelu di lidah.
"A-aku ...." Liv ingin mendorong tenggorokannya untuk menjawab Dante. Namun, dia merasa kehadiran batu di sana, buatnya sulit untuk bicara. Pria yang Liv kenal tidak memiliki kesabaran ini, menunggu penuh kesabaran jawabannya. Dia hanya menaikkan alis, selagi Liv utarakan isi kepalanya. "Hmm?" Dante seolah bukan Dante. Dante yang berhadapan dengannya, bagai malaikat yang datang untuk menyelamatkan Liv dari neraka yang merupakan keluarganya. Sangat jauh dengan ekspektasi Liv yang awalnya mengira Liv akan diperlakukan kasar. Atas keberanian yang dipaksa, Liv menjawab dengan suara tersendat-sendat. "Aku ... aku tidak tahu harus berbicara apa." Saat sang dara tengah bingung terhadap situasi yang jauh dari ekspektasi, Dante hanya menatap lamat. Tidak ada secercah pun emosi dari pendaran matanya, membuat Liv sulit menebak isi kepala Dante. "Baiklah." Pria itu akhirnya menjauh dari jangkauan mata Liv, melonggarkan paru-paru Liv untuk kembali mengambil napas. "Karena kau baru di sini, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kebetulan aku tidak sedang sibuk." Ekor mata Dante menggulir menyusuri kamar mereka. Tidak ada rona bahagia di kamar pengantin mereka. Cenderung suram oleh warna gelap yang mendominasi. Sebab kamar ini awalnya kamar pribadi Dante, begitu Liv datang, Dante mengharuskan diri menjadikan kamar ini kamar pengantin mereka. "Boleh...." Jawaban Liv terlalu lirih, menyulitkan Dante untuk menangkapnya. "Kau bilang apa?" Kedua mata Liv berkedip cepat, mengumpulkan keberanian. "Boleh." Kali ini suaranya lebih keras, bukan lagi membisik. Lengan Dante mengulur, tangannya lekas terpampang di depan mata Liv. Tak paham atas maksud Dante, pun Liv arahkan tatap mata sarat akan pertanyaan pada Dante. "Pegang tanganku," kata Dante, ucapannya seolah tahu arti tatap mata Liv. Kala tangannya hendak menyambut uluran tangan Dante, keraguan menerpa. Seperti ada pembatas tak kasat mata di antara mereka, yang mencegah Liv menyentuh Dante. Biarpun demikian, dia bertekad menerima kebaikan Dante. Ketika kulit mereka bertemu, tubuh Liv terasa disengat listrik, hingga jantungnya bertabuh begitu kencang. Belum sempat Liv tenangkan tabuhan jantung, Dante menarik tangannya, berakhir Liv berlabuh di dada Dante. Mata Liv melebar terkejut, segera mengambil upaya untuk keluar dari jebakan Dante. Upaya Liv untuk mendorong Dante, lebih dulu dibaca oleh Dante. Lelaki itu mengambil kesempatan— kedua lengannya mengunci pergerakan Liv, melingkari pinggang Liv, merapatkan Liv di tubuhnya. Adanya jarak yang tak membentangi mereka, memicu kepanikan Liv. Dalam kalut resah sebab Dante merajai tubuhnya, Liv kembali mendorong Dante. Tetapi, perbedaan tenaga membuatnya berakhir terjebak dalam suasana canggung sekaligus panik. "A-apa yang Tuan lakukan?" Tenggorokan Liv tercekat, debaran dalam dada kian menjadi. Alih-alih melepaskan Liv, Dante menelengkan kepala, matanya merekam setiap detail di wajah Liv. Perempuan ini ... jika ditelisik lebih dalam, rupa cantiknya dapat tertangkap begitu jelas. Hidungnya yang mungil nan mancung, bibir warna ranum merekah sempurna, mendorong sisi lain dalam diri Dante. "Apa aku monster di matamu?" Dante bertanya dalam suara rendah, terlampau rendah hingga Liv nyaris tenggelam dalam pesonanya. Tenggorokan Liv menghantarkan saliva, suaranya dapat terdengar. Napas Liv tercekat, tersangkut di tenggorokan. Ada gelenyar asing menghampiri kala intensitas tatapan Dante membatasi geraknya, seolah setiap gerakannya dapat memicu bahaya. "Ti-tidak. Tuan manusia." Jawaban asal dari bibir Liv, tidak Liv sadari dijadikan hiburan untuk Dante. Ada binar aneh di telaga biru Dante. Pria itu tidak berwajah datar seperti biasanya, ada kilat geli kala rungunya mendengar jawaban Liv. Ibu jari Dante mengulur. Perlahan, dia mengusap bibir bawah Liv, gerakannya menuntun gelenyar yang tidak Liv pahami. Yang jelas, isi kepalanya seperti disesap oleh sesuatu, hingga dia kesulitan berpikir. "Bagaimana jika aku menciummu?" Pertanyaan Dante berakhir terpisahnya rengkuhan mereka. Liv kenakan tenaga sepenuhnya, mendorong dada Dante hingga akhirnya jarak menjembatani mereka. "Se-sebaiknya Tuan memperhatikan omongan Tuan." Liv tergagap. Segera Liv palingkan wajah, berlagak tak memikirkan kejadian barusan. Sementara Dante, pria itu tak begitu tanggapi canggung yang Liv rasakan. Dia hampiri istrinya, menyusul tangan merayapi lengan Liv sebelum genggam jemari Liv sebelum menjalankan tungkai keluar dari kamar. Semula Dante hanya genggam tangan Liv, perlahan jemarinya bergerak menyelinap di antara sela-sela jari Liv, menautkan jari mereka. Liv yang merasakan hal itu, lekas menjatuhkan pandang. Apa yang sedang dia lakukan? Liv ingin mempertanyakan perilaku Dante. Namun, urung kala seorang wanita baya hampiri mereka. Jalannya tergopoh-gopoh, tapi tubuhnya masih dapat berdiri tegap. "Selamat sore Signore dan ... Signora." Kala penyebutan Nyonya dilangitkan, Liv mendengar adanya keraguan. Liv tahu, hadirnya dia sebagai Nyonya Greyson tak mudah mereka terima, pasti butuh waktu agar dia dapat berbaur dengan penghuni rumah lain serta budaya-budaya di rumah ini. Namun, Liv tak sengaja menangkap kebencian dari wanita tersebut. "Liv, dia adalah Allison. Kepala pelayan yang akan membantumu ke depannya." Ujung dagu Dante diarahkan pada Allison Wanita berseragam pelayan itu menundukkan wajah. Dia menunjukkan diri penuh penghormatan kepada Liv, sedikit mengejutkan untuk Liv yang biasanya menunduk, bukan dia yang ditunduki. "A-aku Liv Florence." Mata Liv terpejam sejenak, umpati diri sebab kembali berbicara gagap, padahal dia normal. "Nyonya Greyson, senang bertemu dengan anda." Bibir Allison berkedut samar, menahan diri agar tidak terang-terangan merautkan ketidaksukaan pada Liv. "Liv memang belum aku resmikan menjadi Nyonya Greyson, tapi kau harus memberitahu semua orang di mansion, agar menghormati Liv." Kala perintah Dante berikan kepada Allison, rungu Liv diperdengarkan nada suara yang tegas, mengandung otoritas yang tak bisa dibantah. Sekalipun Liv melihat tanda atas kedatangannya akan membawa kerusuhan di rumah ini. Tak apa, Liv. Kamu sudah terbiasa diperlakukan semena-mena, tapi setidaknya Dante tidak seperti itu. Benaknya berusaha menghibur, selagi bibir menyunggingkan senyum. *** "Lahan ini kosong." Dante perlihatkan tempat yang hanya dihampar tanah basah. "Jika kau ingin mengisi waktu luang, kau bebas melakukan apapun di tanah ini." "Bagaimana dengan berkebun?" Liv hendak jongkok guna mengecek kesuburan tanah dengan melepaskan tangannya dari genggaman Dante, tapi Dante memberi tekanan, seakan berbicara 'Tetaplah di sisiku'. "Lakukan saja," sahut Dante. "Mansion ini, aku serahkan semuanya kepadamu." Dante putar badan, buat tubuh mereka saling berhadapan. "Keuangan, pasokan pangan, listrik, semuanya. Kau yang mengurus. Nanti Allison yang akan mengajarimu." Lidah Liv menjulur, menyentuh bibir yang terasa kering. Salivanya menyusuri tenggorokan kala ia tekan. Dia beranikan diri membalas tatapan Dante, kala kepala menimang tugas yang Dante serahkan tanpa pertanyakan kesanggupannya. Liv mengangguk, berikut kalimat ia jadikan jawaban. "A-aku akan melakukannya." "Bagus," sahut Dante, tak lagi menghadap Liv, dia hadapkan diri ke arah tanah yang terhampar. Sejauh mata memandang, Liv tidak menemukan spot menarik di mansion Dante. Setiap sudut terasa suram, memberi nuansa mencekam, sama seperti pemiliknya, dan Liv tumbuhkan tekad untuk menghidupkan mansion ini. ** "Itu istri Tuan?" Pertanyaan dari Ivy mengeruhkan perasaan Allison. Sepeninggal Dante serta Liv, Allison hanya terdiam selagi memandang penuh benci kepada Nyonya Greyson. Ada rasa tak terima, sebab perempuan yang menempati posisi sebagai Nyonya Greyson bukan dari kalangan atas, melainkan wanita yang menjadi jaminan hutang debitur Dante. "Aku rasa penembakan oleh interpol kemarin mempengaruhi kinerja otak Tuan." Allison bersuara sarkas, rasanya ingin menolak kehadiran Liv sebagai nyonyanya. "Apa yang Tuan katakan tadi?" Ivy sempat melihat Dante memperkenalkan Liv, dia sangat penasaran apa yang Dante sampaikan dengan wajah sangat serius. "Tuan ingin aku membimbing wanita jalang itu." Kebencian di wajah Allison terpampang, sebelum menular pada Ivy. "Tuan ingin wanita itu mengurus semua urusan mansion?" Pertanyaan Ivy diberi anggukan. Mulut Ivy terbuka, terperangah, sebelum tangannya naik untuk menutupi mulut. Matanya melotot tak percaya, dengan kepala pertanyakan alasan Dante menjadikan Liv Nyonya Greyson. "Aku tidak mau memiliki Nyonya dari rakyat jelata." Ivy menahan geraman. "Nama Greyson bisa dicoreng dari kalangan atas. Kita kehilangan image kita." "Kau benar." "Kita harus membuat rencana agar wanita itu sendiri yang meninggalkan Tuan, agar nama Tuan tetap dipandang baik oleh orang-orang.""Tuan tolong ke rumah sakit, Nyonya mengalami pendarahan hebat!!"Bagai palu godam menghantam telak dadanya, kalimat itu hancurkan seluruh imajinasi semulanya terangkai indah.Liv? Pendarahan? Benaknya penuh keterkejutan menanyakan hal tersebut, menepis untuk percaya saat ia sendiri telah berekspektasi kebahagiaan rumah tangga mereka.Setiap langkah menapak di ubin, tak begitu ia rasakan pijakannya kala kalut dalam kepala begitu ricuh. Dadanya berdegup jauh lebih kencang, rona di wajah surut oleh ketegangan.Begitu jauh suara-suara di sekitar, nyaris tak dapat didengar saat fokusnya telah pecah berkeping-keping. Ketakutan yang tidak pernah datang bahkan dalam bentuk bayangan sekalipun, terasa begitu sangat nyata.Napasnya terputus-putus, dadanya berat untuk menampung lebih banyak oksigen. Nyaris tubuh gagah itu runtuh begitu tiba di depan ruang emergency room."Tuan!" Allison menyeru, ia hampiri Tuannya yang sedang menyetabilkan aliran napas."Bagaimana bisa terjadi—" Bahkan untuk ber
Sementara waktu Hailey melipir dari keramaian pesta menuju kamar mandi. Baru saja ia mencicipi kek dengan krim penuh sampai mengotori riasannya berujung harus memperbaiki riasan dengan harga ribuan dollar.Di dalam cermin, sosoknya begitu sempurna. Gaun malam jatuh sempurna membentuk siluet indah pada tubuhnya, kilauan dari kalungnya menyimpan kesan kemewahan yang sangat cocok untuknya.Dari dalam tas, ponsel ia raih. Aplikasi kamera pun ia kunjungi sebelum mengabadikan dirinya pada sebuah foto untuk ia kirim pada Liv."Mari kita lihat, siapa yang akan hancur di sini." Terkekeh puas usai mengirim foto dirinya disertai kalimat provokatif.Sentuhan terakhir adalah tatanan rambutnya, selepas semuanya beres Hailey bersiap pergi dari kamar mandi."Akh!"Jeritannya mengalun sebab kejutan berupa kedua pistol yang saat ini menempel di pelipisnya."A-apa yang kalian lakukan?" Tubuhnya bergetar mengetahui posisinya sangat tidak am
"Nyonya tolong hentikan!"Sesungguhnya tidak ada hal mengejutkan yang membuat dada Anna ingin mengeluarkan jantungnya dari apa yang ia lihat saat ini."Berikan itu! Liv sangat membutuhkan alkohol!"Melihat Liv hendak meminum alkohol, wajar jika jantung Anna terasa meloncat. Untung saja ia segera datang dan mencegah hal buruk terjadi."Mohon maaf Nyonya, untuk ini saya melarang. Tidak peduli jika nanti Tuan memecat saya, setidaknya saya bisa menyelamatkan nyawa bayi di kandungan anda." Anna mengoceh, sebotol wine berusaha ia jauhkan dari jangkauan Liv."Hanya satu teguk saja. Itu tidak akan membuat bayi Liv mati." Sementara perempuan itu memohon dengan wajah telah dibanjiri air mata."Ayolah Anna ... Liv sangat membutuhkan alkohol.""Ada cara lain untuk menghilangkan rasa sedih anda." Perlahan, nada suara Anna stabil kembali, jauh lebih lembut saat teringat besarnya luka yang terlihat di wajah basah Liv Greyson.
Matahari belum menempati singgasananya, tetapi alam bawah sadar Dante telah datang memenuhi raga.Teringat rencana mereka untuk berjalan-jalan di pagi hari, sontak Dante periksa sosok yang seharusnya ada mendekapnya.Sayang, yang ia dapat lagi-lagi kekosongan. Hampa dalam benak pun tumbuh, berikut ngilu tak terukur akan adanya kecewa."Pergi lagi?" Suara seraknya bertanya culas. "Sebenarnya apa yang dia pikirkan?"Berdasarkan penyelidikan dari Ace, tidak ada hal mencurigakan dari Liv. Isi ponselnya bersih, tidak ada satupun riwayat mencurigakan seperti perselingkuhan yang sebelumnya Dante curigakan.Tanpa sadar, lidahnya membunyikan decakan keras—bunyikan kemarahan usai dikecewakan yang kedua kalinya oleh orang yang sama.***"Kau tahu ke mana istriku pergi?"Sebab tidak ada satupun orang yang bisa Dante tanyai selain Allison mengenai kepergian Liv, buat Allison terdampar di ruangan suram miliknya."Pag
Matahari dari Timur menyingsing sebelum cahaya merebak penuhi bentala Los Angeles. Karena cahayanya yang terang dari balik jendela, seseorang terbangun.Perlahan tapi pasti, kelopak matanya terbuka. Samar terlihat olehnya kekosongan di sisi, hal aneh yang ia temukan saat bangun tidur.Di hari kemarin dan sebelum-sebelumnya, paginya selalu disambut oleh manis dari senyuman sang istri. Sayangnya hari ini ia tidak diberikan seulas pun senyum dari Liv, justru kekosongan ia dapatkan yang kemudian menjalari benak.Saat hendak turun kemudian menghampiri sang istri yang kemungkinan di luar kamar, matanya lebih dulu menangkap post it di atas nakas.[Liv berangkat kuliah karena ada kelas pagi. Maaf tidak bisa bangun bersama. Liv cinta Dante semuka bumi"Tumben sekali," gumam Dante sebab ini kali pertama ia ditinggalkan.Sekelibat ingatan kemarin malam datang. Saat matanya temukan kejanggalan pada sang istri, membuat
Cklek.Terdengar engsel pintu dari sudut kanan kamar, yang kemudian menampilkan sesosok insan hanya berbalut kaos abu-abu kebesaran yang menenggelamkan tubuh mungilnya.Sebuah handuk bertengger di atas kepala, belum ia singkirkan sebelum mengenakan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.Ting.Bersamaan hairdryer hendak ia ambil, denting notifikasi menyeret atensi, membuatnya beralih pada benda pipih yang tergeletak di sisi nakas."Hailey?" Bibirnya gumamkan nama tersebut.Terbesit perasaan tak enak—mengingat kemarin ia mendapatkan pesan provokatif dari Hailey—untuk saat ini, dia ingin menghindarinya.Awalnya demikian. Namun, sebuah foto yang Hailey kirimkan akhirnya menuntun ibu jari Liv 'tuk membuka pesan tersebut."Bukankah ini—"Dan rasa penasarannya tersebut menjatuhkan Liv pada jurang paling dalam.Tepat di depan matanya, sosok Hailey begitu cantik mengenakan gaun rumbai dengan kalung emerald persis seperti yang ia kenakan sewaktu kencan dengan Dante.Tidak hanya kalung emerald,
Beberapa minggu telah terlewati, luka di punggung Dante berangsur-angsur pulih. Dokter telah menyatakan sepenuhnya, Dante bisa beraktivitas seperti biasa.Meski di hati Liv masih bersemayam perasaan tak rela jika Dante kembali berkecimpung dengan dunianya. Namun, Liv sadar, sebelum hadirnya ia, dar
Sup labu telah Liv suapi beberapa sendok ke dalam mulut Dante, gerakannya seolah telah diperhitungkan —sangat hati-hati, pelan, dan matanya tak terputus dalam memperhatikan cara mengunyah Dante.Tak jauh beda dengan Liv, mata Dante terpasung penuh makna yang sulit didefinisikan. Ini adalah pertama
Alam bawah sadar terseret, menyentak raga semula tenang. Pelupuk matanya segera terbuka, ketakutan seketika menyergap kala ia membuka mata.Keberadaan seseorang yang tadi malam ada di sisinya, Liv cek keberadaannya. Ada. Dante masih ada di sisinya. Napasnya terasa, denyut nadinya masih dapat Liv ra
Engsel pintu berdecit memasuki ruang di telinga. Ruang yang ia tapaki tak memiliki sedikit pun cahaya, mengharuskannya menajamkan penglihatan di tengah gelap gulita.Koridor nampak jauh lebih terang dibantu oleh lampu warm di dindingnya, memudahkan langkah Liv dalam menapak tanpa harus meraba sekit







