Home / Mafia / Dalam Rengkuhan Tuan Mafia / Bab 05. Nyonya Rumah Alias Pelacur

Share

Bab 05. Nyonya Rumah Alias Pelacur

Author: Mami
last update Huling Na-update: 2025-12-18 10:02:54

Mentari tak lagi menempati singgasana, cahaya keemasan di cakrawala telah turun, berganti dengan kegelapan ditaburi bintang. Semilir angin malam terasa begitu dingin malam itu, menembus kehangatan yang Liv harapkan dari sehelai selimut.

Di balkon kamar, sosoknya nikmati kesejukan malam. Berhubung ini musim dingin, entah mengapa, melihat salju turun dari langit, selalu membuat benak Liv terasa hangat. Hangat oleh memori yang dulu selalu menghiburnya.

"Aku kangen Mama." Dia membisik, bisikannya dibawa angin malam yang telah menurunkan salju.

Senyap bagi sebagian orang adalah suasana yang membosankan, lain halnya dengan Liv, dia sangat mendambakan keheningan. Baginya, hening adalah ketenangan yang membuat jiwanya merasa pulang.

Drrt drrrt.

Getaran dari benda pipih di dalam saku piyama menyentak Liv. Gadis itu melepaskan pandangan dari salju yang turun lambat, lekas lihat ponsel dengan layar mempersembahkan nama Hailey sebagai ID caller.

Liv menarik napas, rasanya enggan menerima telepon yang berakhir penghinaan. Namun, menolak pun percuma, Hailey akan terus menghubunginya sampai Liv mengangkat telepon.

"Mana uangku? Kenapa kau tidak mentransfernya?" Baru Liv sambungkan telepon, Hailey sudah menagih uang, padahal Liv pun tidak pernah terpikirkan hal itu.

"Maaf, Ha—"

"Hei! Sekarang kau mau bertindak seenaknya? Setelah Ayah menjadikanmu Nyonya Greyson?" Hailey lebih dulu menyela, suaranya teramat tinggi, buat telinga Liv berdenging.

"Bukan beg—"

"Alasan apa lagi sekarang? Aku tahu kau sedang berpesta dan melupakan keluarga yang selalu memberimu makan!"

Kedua mata Liv dipejamkan, memperluas kesabaran untuk menghadapi saudara tirinya. Dia raup udara hingga sesak, kemudian melepaskannya agar jengkel yang mulai tumbuh dapat sirna.

"Aku akan mengirimnya." Walau Liv sendiri tidak tahu caranya, dia akan mengusahakan mendapat uang dari Dante.

"Sekalian! Kau juga harus meminta barang branded pada Tuan Dante! Jangan sampai kau tidak memanfaatkan hartanya!" Liv jauhkan ponsel dari telinga, tak sanggup mendengar seruan Hailey.

"Seandainya Ayah tidak membuatmu menikah dengan Tuan Dante, kau tidak akan pernah bisa hidup bebas." Adalah kalimat terakhir yang Hailey ucapkan, sebelum sambungan terputus.

Liv lepaskan gawai dari daun telinga. Lama matanya tatap layar ponsel yang telah mati, dengan isi kepala telah berkelana.

Liv tahu, datangnya dia ke mansion Dante karena ayahnya. Tapi keadaan akan lebih baik jika ayahnya tidak menggelapkan dana berakhir menjualnya, maka Liv tidak akan terjebak di dalam mansion mewah ini.

Belum cukup menjualnya, mereka memanfaatkan Liv agar bisa menjadi ATM berjalan. Liv ingin menolak, dia tidak mau memberatkan Dante, dia juga malu meminta uang pada Dante.

Jalan satu-satunya yang Liv pilih adalah; mengirimkan mereka uang yang selama ini ia tabung, menghindari interaksi dengan Dante juga meminimalisir rasa malu.

"Di sini dingin." Pundak Liv tersentak mendapati suara Dante di belakangnya.

Lebih dari itu, Dante menghantarkan kehangatan melalui dekapan di belakang tubuh Liv. Wajah pria itu bertempat di perpotongan leher Liv, menyerukan napas panas dari hidung bangirnya.

Adanya sensasi panas dari udara yang Dante embuskan di kulit lehernya, perut Liv terasa diterbangkan ribuan kupu-kupu, bersama serbuan gelenyar asing.

"Tu-Tuan. To-tolong jangan seperti ini." Ponsel di dalam genggaman bergetar, Liv menggenggamnya terlalu erat.

Mata Liv terpejam kuat, bibirnya dibawa untuk digigit, berupaya menyamarkan tegang ketika Dante mendekapnya.

Napasnya tertahan di rongga hidung, rasakan geli begitu ujung hidung Dante menghidu panjang aroma mawar di lehernya. Lelaki itu mengusap halus bagian sensitif di bawah telinga Liv, hantarkan sengatan aneh dalam diri Liv.

"Jika ingin keluar, pakailah pakaian tebal." Kala bibir pria itu bergerak mengetukkan kata, tubuh Liv bergetar, antara takut serta canggung.

"Ta-tapi, Tuan tidak perlu seperti ini." Rasa takut serta panik terasa menghambat tenggorokan, buat Liv tegak kasar salivanya.

"Sa-saya akan masuk ke dalam. Di sini sangat dingin." Ketakutan yang Liv sampaikan terlampau lirih.

"Sudah ada aku." Jawaban Dante adalah ancaman nyata untuk jantung Liv. "Bukankah dipeluk olehku, lebih hangat daripada memakai selimut tipis ini?"

Seluruh sel di dalam otak Liv terasa berhenti berfungsi, akal sehatnya telah dilumpuhkan oleh panik sekaligus canggung.

Pelukan hangat yang Dante berikan padanya, terasa lebih dari sekadar ancaman. Hal yang tak seharusnya Liv terima.

"Saya tahu, tapi...." Semakin Liv memaksa diri untuk berani, dirinya ditempatkan di sudut paling ujung oleh Dante.

Wajah Dante diangkat usai rungunya diberikan penolakan, telaga birunya memindai profil samping istrinya. Ada kilat geli sesaat di matanya, mendapati Liv yang kelimpungan mencari cara agar keluar dari dekapannya.

"Tapi?" Berlakon menunggu ungkapan Liv, membuat perut Liv terasa terlilit hingga tenggorokannya terdorong untuk mengeluarkan isi perut.

"Kenapa Tuan memeluk saya?" Kepala Liv merendah, matanya jatuh ke taman yang disinari LED warna amber.

"Aku kedinginan." Lingkaran lengan Dante mengunci erat di perut Liv.

Dalam jeruji panik mengurung Liv, hingga saraf otaknya menghintakan fungsi bicara, akhirnya Liv memilih merapatkan bibir, tak lagi memberi penolakan pada sentuhan Dante, sekaligus untuk menetralkan respons tubuh.

"Berlamaan di luar bisa membuat kita flu." Dante menggerakkan tungkai, tanpa sedikitpun membebaskan Liv dari dekapannya.

"Tuan bisa lepaskan saya terlebih dulu." Untuk membebaskan diri, Liv hendak memisahkan tautan tangan Dante di perutnya.

Tetapi, tautan tangan Dante lebih kuat dari yang Liv sangka, buat usahanya berakhir sia-sia. Liv pejamkan mata serta bibir dalam dia gigit. Rasakan sendiri bagaimana Dante membawanya ke dalam.

"Kita bisa menghangatkan diri di ranjang."

Kalimat terakhir Dante, memantik kepanikan Liv. Gadis itu ingin berlari membebaskan diri dari dekapan Dante. Namun, niatnya seakan telah dibaca oleh Dante.

Lelaki itu berhasil membawa Liv ke ranjang, memposisikan tubuh mereka berbaring dengan Liv membelakangi Dante.

Dalam dekapan yang hanya Dante nikmati sensasi hangatnya, isi kepala Liv malah ribut antara bertahan dengan jangkauan aman, atau memberi penawaran agar jiwa dan raganya bebas.

"Perut saya terjepit, apa Tuan tidak bisa melepaskan tangan Tuan?"

"Kamu terlalu banyak menawar." Sayangnya, Dante tidak membiarkan Liv terlepas dalam dekapan posesifnya.

***

"Makanlah." Sepiring steak dan mashed potatoes Dante serahkan pada istrinya.

Senyum tipis terbentang di wajah Liv. 

Rasanya masih mimpi bahwa Dante sangat jauh dari rumornya. Dia memiliki sisi yang tidak pernah dilihat orang lain, tak terkecuali ayahnya.

Padahal, Dante sewaktu menagih hutang pada ayahnya, dia berperan bagai malaikat maut. Namun, yang ada di depannya sekarang menyerupai malaikat baik.

"Terima kasih." Sendok dan pisau, Liv genggam, gunakan kedua benda tersebut untuk memotong daging.

Sepotong daging panggang menyapa indera pengecap Liv. Jus yang keluar dari daging panggang menari-nari di lidah, membuatnya tanpa sadar memekik kecil karena rasa makanan yang tak pernah dia rasakan.

Dante mengernyit. Adalah pertanyaan baginya melihat Liv yang seolah baru pertama kali makan daging panggang. Walau Dante tahu dari keluarga mana Liv berasal.

Hal itu menumbuhkan kesimpulan; apakah Kane membedakan perlakuan Liv dengan putrinya yang lain?

"Kau bisa tersedak jika seperti itu cara makanmu."

Pertanyaan Dante membuat kunyahan Liv terhenti. Pandangan wanita itu lekas beranjak, dipertemukan dengan telaga biru nan tajam milik Dante.

"Maaf?" Seolah tak mendengar pertanyaan Dante, Liv persembahkan tatapan polosnya.

Dante mengembuskan napas. Kedua tangan dilipat di depan dada, sementara punggung dia sandarkan pada dinding tepat di samping Liv.

"Lupakan," katanya, memilih mengabaikan pertanyaannya tadi.

Jauhkan punggung dari dinding, pindahkan tangan dari dada ke dalam saku. Sejenak Dante terpaku pada tindakan-tindakan kecil Liv setiap menyuapi potongan daging.

Matanya tak sedikit pancarkan emosi: datar, seolah dia hidup tanpa jiwa. Bibirnya terkatup rapat, selagi tatapi istrinya. Karena bungkamnya, Dante membuat Liv terasa dipenjara.

Di bawah naungan sorot mata Dante, pencernaan Liv terganggu. Memorinya dilempar ke kejadian semalam, kala Dante menghajar jiwanya habis-habisan dengan kehangatan mengancam.

Tenggorokan Liv memaksa daging untuk tersampaikan ke lambung, tetapi tatapan mata Dante menyerupai laser yang menembusnya, buat tenggorokan Liv lepas kendali berakhir ia tersedak.

"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Liv terbatuk-batuk, dia menutup mulut guna isi mulut tidak keluar.

Kala tangannya meraba nakas sebelum mengambil gelas, tangan Dante meraih lebih dulu gelas yang Liv tuju.

"Minumlah." Pria itu dekatkan bibir gelas pada Liv, dia tahan gelas selama Liv menyesap setengah isinya.

Bibir Liv lepaskan bibir gelas, tanpa sadar mendesah dirasa segar mengaliri tenggorokan. Sebelum mendapati jarak antar mereka nyaris tak terbentang, membuat Liv segera menjauhkan diri.

"Kau selalu terlihat takut padaku." Pria itu berbicara, ada nada jenaka walau sedikit. "Kau takut aku menciummu?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dalam Rengkuhan Tuan Mafia   Bab 09. Bayaran

    Telah terpasang sempurna setelan formal di tubuh Dante, membentuk siluet anggun nan gagah yang membungkus tonjolan ototnya.Begitu cermin dia lihat guna pindai diri, ada satu kecacatan di lehernya—dasi—benda itu belum Dante pasang. Telaga birunya dilempar pada insan yang membantunya bersiap pagi ini—sang istri—dia menatap kagum sosoknya yang berwibawa dalam bungkusan setelan formal."Did I look handsome, My Lady?" Dia membalikkan badan, perlihatkan betapa menawannya dirinya.Labium Lib mengukir senyum kagum. Tertera di telaga almondnya binar kagum untuk sang pria. "Everytime," sahut Liv. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, adalah kesempurnaan dari Dante Greyson. Pria itu diciptakan tanpa sedikitpun celah, seolah dewa dari Yunani.Dalam wajah datar kendati telah diberi pujian, Dante berkata, "Kau tidak merasa ada yang kurang?"Bibir Liv mengkerut, perhatikan lagi penampilan Dante—cari celah dari kesempurnaan yang telah tercipta. Lekas tatapannya mengacu pada leher yang kosong."Ah,

  • Dalam Rengkuhan Tuan Mafia   Bab 08. Martabat Nyonya Greyson

    Di ujung ranjang, sosoknya duduk diam dengan kepala menunduk. Bola matanya terus bergulir ke kanan dan kiri, selama tidak berpusat pada seseorang yang baru membuka setelan kerjanya. Acap kali hidungnya mengembus aroma black opium dari pria ini, ingatan akan malam panas penuh gairah kemarin menyelinap. Memorinya masih menyimpan bagaimana perlakuan pria itu. Sentuhan-sentuhan lembutnya membekas begitu lekat. Terkadang, Liv merasa malu dalam diamnya. Selama dirinya hidup, tidak ada satupun pria menyentuhnya.Ujung sepatu Dante mengetuk. Alas sepatu warna merah sebagai simbol kekuasaannya membunyikan ketukan intimidatif.Lama waktu berselang, buat hening meraja di dalam kamar, Dante baru bersuara, "Aku lihat-lihat kau sering sekali melamun."Ujung telunjuk pria itu menggerakkan dagu Liv, agar kepala wanitanya tidak selalu menunduk."Aku mengerti." Kala bibirnya mengetukkan kata, aroma mint dari mulutnya terembus begitu segar di wajah Liv. "Sulit bagimu beradaptasi di duniaku. Tapi ada s

  • Dalam Rengkuhan Tuan Mafia   Bab 07. Sentuhan Hangat Malam Bersalju

    Bola mata Liv membeliak, mulutnya ternganga lebar selagi desahan-desahan menggelikan, dia nyanyikan. Sentuhan-sentuhan kecil nan panas dari tangan Dante di setiap jengkal sensitifnya mengundang adrenalin Liv, yang terkadang membuat Liv melepaskan erangannya. "Dante, nghh." Sebutan dari Liv sebagaimana bensin untuk Dante yang begitu sibuk memacu diri ke dalam Liv. Ciuman di taman atas izin dari Liv, berlanjut hingga ranjang, membunyikan harmoni romansa di tengah senyap malam, saling bertukar keringat berikut percikan api gairah tanpa ada pemaksaan dari sebelah pihak. "Ukh, Liv. Bagaimana bisa milikmu sangat kecil?" Bunyi peraduan milik mereka tercipta syahdu. Pinggul Dante bergerak berulang maju dan mundur, mendatangkan api gairah. "Kau menjepitku, My Lady. Ukh." Kening Dante mengkerut, rasakan gerakan maju-mundur dari pinggulnya, membuat miliknya terasa sempit di dalam mulut rahim Liv. Jemari Liv menekan kuat pundak Dante, salurkan desiran kuat dari feromonnya. Alis menukik taja

  • Dalam Rengkuhan Tuan Mafia   Bab 06. Luka di Balik Dinding Megah

    "Kenyang?" Liv memandang bingung Kepala Pelayan yang dimaksud Dante. Tidak ada rasa hormat kepadanya yang merupakan Nyonya Rumah di mansion ini. Tatapannya lebih merujuk pada kebencian. Bahkan sapaan hangat pun tidak Liv terima. Suaranya terdengar ketus, caranya menatap seolah ingin mengintimidasi Liv. Liv hanya terdiam, pertanyakan tindakan tidak sopan Kepala Pelayan tersebut. Tangan Kepala Pelayan dengan name tag Allison Kennedy itu mengulur, lekas jemarinya mencengkram surai Liv. "Walaupun di sini kau Tuan anggap Nyonya rumah, tapi statusmu hanyalah pelacur Tuan." Matanya melotot, berikan penekanan di setiap suku kata yang ia lontarkan. Liv pegangi cengkraman Allison, bibirnya merintih sakit. "Akh. Sa-sakit." "Ya. Memang itu yang seharusnya kau dapatkan. Bukan kekuasaan yang kau harapkan." Cengkraman Allison semakin kuat, tatapannya kian memberang. "Kau itu gundik di atas kertas! Bersikaplah sebagaimana mestinya!" Saat tangan kanan Allison gunakan mencengkram rambut Liv, ta

  • Dalam Rengkuhan Tuan Mafia   Bab 05. Nyonya Rumah Alias Pelacur

    Mentari tak lagi menempati singgasana, cahaya keemasan di cakrawala telah turun, berganti dengan kegelapan ditaburi bintang. Semilir angin malam terasa begitu dingin malam itu, menembus kehangatan yang Liv harapkan dari sehelai selimut. Di balkon kamar, sosoknya nikmati kesejukan malam. Berhubung ini musim dingin, entah mengapa, melihat salju turun dari langit, selalu membuat benak Liv terasa hangat. Hangat oleh memori yang dulu selalu menghiburnya. "Aku kangen Mama." Dia membisik, bisikannya dibawa angin malam yang telah menurunkan salju. Senyap bagi sebagian orang adalah suasana yang membosankan, lain halnya dengan Liv, dia sangat mendambakan keheningan. Baginya, hening adalah ketenangan yang membuat jiwanya merasa pulang. Drrt drrrt. Getaran dari benda pipih di dalam saku piyama menyentak Liv. Gadis itu melepaskan pandangan dari salju yang turun lambat, lekas lihat ponsel dengan layar mempersembahkan nama Hailey sebagai ID caller. Liv menarik napas, rasanya enggan menerima tel

  • Dalam Rengkuhan Tuan Mafia   Bab 04. Kesempatan Dalam Kesempitan

    Segala kata telah hanyut di kepala. Ancaman halus Dante bukan malah membuat Liv mampu mengeluarkan suara, justru ia merasakan adanya kelu di lidah. "A-aku ...." Liv ingin mendorong tenggorokannya untuk menjawab Dante. Namun, dia merasa kehadiran batu di sana, buatnya sulit untuk bicara. Pria yang Liv kenal tidak memiliki kesabaran ini, menunggu penuh kesabaran jawabannya. Dia hanya menaikkan alis, selagi Liv utarakan isi kepalanya. "Hmm?" Dante seolah bukan Dante. Dante yang berhadapan dengannya, bagai malaikat yang datang untuk menyelamatkan Liv dari neraka yang merupakan keluarganya. Sangat jauh dengan ekspektasi Liv yang awalnya mengira Liv akan diperlakukan kasar. Atas keberanian yang dipaksa, Liv menjawab dengan suara tersendat-sendat. "Aku ... aku tidak tahu harus berbicara apa." Saat sang dara tengah bingung terhadap situasi yang jauh dari ekspektasi, Dante hanya menatap lamat. Tidak ada secercah pun emosi dari pendaran matanya, membuat Liv sulit menebak isi kepala Dante

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status