LOGIN“Kau mendapatkan uang yang seharusnya menjadi milikku, dan kau….” Pria itu menajamkan sorot mata, selagi kata sengaja ia gantungkan. “…. Kau harus membayarnya.”
Lidah Liv bergetar, ada dorongan agar dia menjawab, menyangkal kesimpulan Dante. Selama ayahnya melakukan penggelapan dana sebagai mandor pertanian kokain di kota mereka, Liv tidak pernah diberikan satu sen pun uang. Bahkan untuk makan pun, mereka selalu memberi Liv roti yang sangat keras, susu yang telah basi. Bahkan keju pun, mereka memberikan Liv keju yang sudah berjamur. “Sa-saya tidak pernah menerimanya.” Dress satin warna putih sebagai gaun pengantinnya diremat kuat, menghantarkan gejolak emosi dalam benak. Warna putih dari gaun yang menandakan kesucian tak begitu berarti dari pernikahan mereka. Kilauan dari bahan satin yang menyimbolkan keanggunan tidak tersampaikan pada Liv yang menjalankan pernikahan ini demi hutang ayahnya. “Tidak perlu berbohong.” Kepalanya menyamping, menggulir ekor mata ke arah Liv. Tepat di belakang Dante, mata Liv disuguhkan lukisan tatto naga memanjang di punggung kiri Dante, disertai lukisan wajah Aphrodite di sana. “Kau anaknya Kane.” Tegas dari cara bicaranya, mempertegas adanya Liv di ruangan yang sama dengannya. “Tidak mungkin Kane tidak memberimu hasil dosanya.” Dengan keberanian yang dipaksa tumbuh, Liv membalas, “Kalau begitu, kenapa Ayah saya menjadikan saya agunannya?" Dante terbungkam. Telaga birunya menyorot tanpa emosi, dirinya sendiri dari cermin. Selama benak bergelut mencari jawaban atas pertanyaan Liv. Bungkamnya Dante, dijadikan kesempatan untuk Liv melanjutkan ucapannya. “Bukankah sudah jelas nilai saya di matanya?” Dante terdiam lagi. Ada dorongan untuk tertawa— tertawakan diri sendiri. Selama dia hidup memimpin jalannya bisnis gelap sebagai Don Mafia, ini adalah kali pertama ada seseorang bisa membungkamnya. Dan itu adalah perempuan yang dia anggap lemah, tanpa mental baja untuk menghadapinya. Perempuan dengan nilai rendah di matanya. Dan ternyata perempuan itu memiliki sisi lain yang menantang. Keberanian yang bahkan tidak Liv sadari. Dante membalikkan badan, membuat tato kepala naga yang masih menyambung dengan tato di punggungnya terpampang. “Haruskah aku mengasihani mu?” Dante berkata datar. “Jelaskan. Bagaimana caranya aku mengasihini hasil dari orang yang telah berkhianat?” Liv segera melarikan pandangan, seolah tatapan Dante adalah sebilah belati yang bisa kapan saja menusuknya. “Saya mau membersihkan diri.” Memilih angkat kaki, enggan dihadapkan dengan suaminya. Sebelum Liv benar-benar angkat kaki, Dante mencegah langkahnya, mencekal lengan Liv, membuat Liv menoleh dengan gurat tanya. “Tidak ada gunanya mandi.” Adalah kalimat terakhir sebelum Dante hempaskan tubuh Liv ke atas ranjang. “A-apa yang mau Tuan lakukan?” Bergerak cepat menjauh dari Dante, ketika radar bahaya berdengung di kepala. “Apa lagi?” Sebelum Liv turun dari ranjang, Dante meraih pergelangan Liv sebelum menarik tubuh kurus istrinya itu. Kepala Liv menggeleng. Seketika takut merayapi jiwanya. Baru hendak menolak, ingatan dengan adanya dia di tempat megah ini menyelinap. Dia adalah agunan untuk Dante. Penebusan atas dosa yang telah ayahnya lakukan, dan Liv sendiri tidak memiliki hak apapun. Kehadirannya tak jauh dari seorang budak. “Sa-saya akan melakukannya. Saya akan melakukannya.” Dengan gerak terburu, Liv memaksa diri membuka gaunnya. “Apa kau berpikir aku akan memakanmu?” tanya Dante, terheran karena Liv terlihat sangat ketakutan. “Akh!” Liv tersentak, terkejut Dante menarik kakinya jauh lebih dekat dengan Dante. “Kau terlalu lama.” Dress pengantin yang berusaha Liv buka, Dante robekkan. Kesakralan dari putih mengkilap dari gaun pengantin itu, tidak ada nilai apapun di mata Dante. Suara robekannya terasa dengungan penghinaan dari pernikahan mereka. “Ah” Daging bibir bagian dalam Liv gigit, rasakan geli yang membuatnya bergidik saat lidah Dante menyesap pundaknya yang telah terbuka. Belum dikejutkan oleh sentuhan lidah Dante, Liv kembali dibuat terkejut saat Dante mulai membuka kaitan kancingnya. Ada degup jantung yang buatnya bergejolak muntah. Tatapannya haus, tapi dirinya jauh lebih takut menatapnya ngegat. Tanpa sadar air matanya luruh membiarkan jemari itu membuka kancingnya satu per satu. Belum pulih dari kejutan sentuhan Dante, Liv kembali tersentak ketika jemari pria itu menyentuh bagian atas dress-nya. Bukan kasar—justru terlalu pelan, terlalu hati-hati, membuat dadanya berdegup tak karuan sampai rasa mual naik ke tenggorokan. Tatapan Dante gelap, haus, tapi juga ragu. Liv ingin menatapnya, ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi, namun ketakutan lebih dulu menahan lehernya kaku. Air matanya luruh tanpa suara saat satu kancing terbuka, lalu yang kedua. Lalu semuanya berhenti. Dante tiba-tiba menarik tangannya, seolah sentuhan itu melukai dirinya sendiri. Ia mundur satu langkah, napasnya berat, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang tak jadi ia lanjutkan. “Maaf,” katanya lirih, nyaris seperti umpatan pada dirinya sendiri. Ia berpaling, menjauh darinya—meninggalkan Liv dengan kancing terbuka, jantung berantakan, dan rasa dingin yang jauh lebih menyakitkan daripada sentuhan apa pun. *** Greyson. Setiap kali nama itu Liv dengar, tanpa harus berpikir lama Liv akan berkata, "Mereka adalah iblis. Titisan Lucifer yang membunuh umat manusia tak berdosa. Menindas rakyat miskin yang tinggal di Los Angeles." Tapi kejadian semalam membalikkan semua persepsi Liv. Liv masih bertanya-tanya, kenapa Dante urung menyentuhnya? Bukankah perjanjian awal dia akan menjadikan Liv pelacurnya? Dihamili, disiksa, lalu dibuang. Bukankah harus seperti itu? Tapi kenapa Dante bertindak seperti manusia memiliki hati? Memiliki kemanusiaan? Padahal, namanya sendiri telah ramai dibicarakan bahwa dia adalah manusia tanpa kemanusiaan, tanpa hati. Dia diciptakan dengan batu neraka. Setiap kata yang dia lontarkan selalu membungkam lawannya. Dia manusia yang mengagungkan kekayaan dan kekuasaan. "Apa yang ada di kepalamu itu?" Lamunan Liv membuyar begitu suara berat Dante menyergap halus di rungu. Telapak sepatu pantofel Dante membunyikan nada. Setiap ketukannya memiliki ciri khas tersendiri, menyuarakan wibawa sekaligus kharismanya. Tiba di depan Liv, Dante angsurkan tangan. Telunjuk diarahkan pada helaian rambut Liv yang terjatuh, lekas ia selipkan untaian rambut itu di belakang telinga Liv. "Kau memiliki hobi yang unik." Tangannya kembali pada tempat semula, tapi telaga birunya tetap setia menatap Liv. Kendati sosok Dante yang dirumorkan tidak dapat Liv buktikan, rasa takut itu tetap nyata Liv rasakan. Itulah alasan dia selalu menunduk, jauhi pertemuan antara tatapan mereka. "Kenapa kau suka sekali melamun?" Kepala Dante diposisikan miring, dia berupaya melihat detail rupa Liv. Liv menjawab tidak dengan kata, dia hanya menggeleng. Kedua sisi celana yang terdapat saku, Dante jadikan tempat untuk mengantongi tangannya. "Kau benar-benar bisu?" Dante bertanya datar, tapi jawaban tak jua diterima. Liv menggeleng lagi. Fragmen memori semalam tersusun sebagaimana belati yang mengoyak jiwanya. Sementara rasa malu telah merayap, menggerayangi benak. Liv membayangkannya serupa dengan serangga menggerayangi tubuhnya. Mengerikan, hingga dia spontan bergidik. Terdapat kerut halus di kening Dante, sayangnya Liv tak dapat melihat wajah itu mengukir ekspresi. Bersama terbuangnya napas dari hidung, Dante posisikan setengah tubuh dengan tubuh Liv yang tengah duduk di tepi ranjang. "Bicaralah." Pria itu memberi perintah, tapi perintahnya sangat kontras dengan perintahnya kepada para bawahannya. Dia menuturkan kata bagai sutra, lembut, selimuti hati Liv yang telah mengeras oleh luka. "Aku tidak akan membunuhmu," imbuh Dante, sementara telunjuknya menggerakkan kepala Liv agar menghadap padanya. "Apa kau ingin aku menciummu? Dengan begitu kau akan berbicara." Adanya kalimat Dante, buat bola mata Liv melebar.Telah terpasang sempurna setelan formal di tubuh Dante, membentuk siluet anggun nan gagah yang membungkus tonjolan ototnya.Begitu cermin dia lihat guna pindai diri, ada satu kecacatan di lehernya—dasi—benda itu belum Dante pasang. Telaga birunya dilempar pada insan yang membantunya bersiap pagi ini—sang istri—dia menatap kagum sosoknya yang berwibawa dalam bungkusan setelan formal."Did I look handsome, My Lady?" Dia membalikkan badan, perlihatkan betapa menawannya dirinya.Labium Lib mengukir senyum kagum. Tertera di telaga almondnya binar kagum untuk sang pria. "Everytime," sahut Liv. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, adalah kesempurnaan dari Dante Greyson. Pria itu diciptakan tanpa sedikitpun celah, seolah dewa dari Yunani.Dalam wajah datar kendati telah diberi pujian, Dante berkata, "Kau tidak merasa ada yang kurang?"Bibir Liv mengkerut, perhatikan lagi penampilan Dante—cari celah dari kesempurnaan yang telah tercipta. Lekas tatapannya mengacu pada leher yang kosong."Ah,
Di ujung ranjang, sosoknya duduk diam dengan kepala menunduk. Bola matanya terus bergulir ke kanan dan kiri, selama tidak berpusat pada seseorang yang baru membuka setelan kerjanya. Acap kali hidungnya mengembus aroma black opium dari pria ini, ingatan akan malam panas penuh gairah kemarin menyelinap. Memorinya masih menyimpan bagaimana perlakuan pria itu. Sentuhan-sentuhan lembutnya membekas begitu lekat. Terkadang, Liv merasa malu dalam diamnya. Selama dirinya hidup, tidak ada satupun pria menyentuhnya.Ujung sepatu Dante mengetuk. Alas sepatu warna merah sebagai simbol kekuasaannya membunyikan ketukan intimidatif.Lama waktu berselang, buat hening meraja di dalam kamar, Dante baru bersuara, "Aku lihat-lihat kau sering sekali melamun."Ujung telunjuk pria itu menggerakkan dagu Liv, agar kepala wanitanya tidak selalu menunduk."Aku mengerti." Kala bibirnya mengetukkan kata, aroma mint dari mulutnya terembus begitu segar di wajah Liv. "Sulit bagimu beradaptasi di duniaku. Tapi ada s
Bola mata Liv membeliak, mulutnya ternganga lebar selagi desahan-desahan menggelikan, dia nyanyikan. Sentuhan-sentuhan kecil nan panas dari tangan Dante di setiap jengkal sensitifnya mengundang adrenalin Liv, yang terkadang membuat Liv melepaskan erangannya. "Dante, nghh." Sebutan dari Liv sebagaimana bensin untuk Dante yang begitu sibuk memacu diri ke dalam Liv. Ciuman di taman atas izin dari Liv, berlanjut hingga ranjang, membunyikan harmoni romansa di tengah senyap malam, saling bertukar keringat berikut percikan api gairah tanpa ada pemaksaan dari sebelah pihak. "Ukh, Liv. Bagaimana bisa milikmu sangat kecil?" Bunyi peraduan milik mereka tercipta syahdu. Pinggul Dante bergerak berulang maju dan mundur, mendatangkan api gairah. "Kau menjepitku, My Lady. Ukh." Kening Dante mengkerut, rasakan gerakan maju-mundur dari pinggulnya, membuat miliknya terasa sempit di dalam mulut rahim Liv. Jemari Liv menekan kuat pundak Dante, salurkan desiran kuat dari feromonnya. Alis menukik taja
"Kenyang?" Liv memandang bingung Kepala Pelayan yang dimaksud Dante. Tidak ada rasa hormat kepadanya yang merupakan Nyonya Rumah di mansion ini. Tatapannya lebih merujuk pada kebencian. Bahkan sapaan hangat pun tidak Liv terima. Suaranya terdengar ketus, caranya menatap seolah ingin mengintimidasi Liv. Liv hanya terdiam, pertanyakan tindakan tidak sopan Kepala Pelayan tersebut. Tangan Kepala Pelayan dengan name tag Allison Kennedy itu mengulur, lekas jemarinya mencengkram surai Liv. "Walaupun di sini kau Tuan anggap Nyonya rumah, tapi statusmu hanyalah pelacur Tuan." Matanya melotot, berikan penekanan di setiap suku kata yang ia lontarkan. Liv pegangi cengkraman Allison, bibirnya merintih sakit. "Akh. Sa-sakit." "Ya. Memang itu yang seharusnya kau dapatkan. Bukan kekuasaan yang kau harapkan." Cengkraman Allison semakin kuat, tatapannya kian memberang. "Kau itu gundik di atas kertas! Bersikaplah sebagaimana mestinya!" Saat tangan kanan Allison gunakan mencengkram rambut Liv, ta
Mentari tak lagi menempati singgasana, cahaya keemasan di cakrawala telah turun, berganti dengan kegelapan ditaburi bintang. Semilir angin malam terasa begitu dingin malam itu, menembus kehangatan yang Liv harapkan dari sehelai selimut. Di balkon kamar, sosoknya nikmati kesejukan malam. Berhubung ini musim dingin, entah mengapa, melihat salju turun dari langit, selalu membuat benak Liv terasa hangat. Hangat oleh memori yang dulu selalu menghiburnya. "Aku kangen Mama." Dia membisik, bisikannya dibawa angin malam yang telah menurunkan salju. Senyap bagi sebagian orang adalah suasana yang membosankan, lain halnya dengan Liv, dia sangat mendambakan keheningan. Baginya, hening adalah ketenangan yang membuat jiwanya merasa pulang. Drrt drrrt. Getaran dari benda pipih di dalam saku piyama menyentak Liv. Gadis itu melepaskan pandangan dari salju yang turun lambat, lekas lihat ponsel dengan layar mempersembahkan nama Hailey sebagai ID caller. Liv menarik napas, rasanya enggan menerima tel
Segala kata telah hanyut di kepala. Ancaman halus Dante bukan malah membuat Liv mampu mengeluarkan suara, justru ia merasakan adanya kelu di lidah. "A-aku ...." Liv ingin mendorong tenggorokannya untuk menjawab Dante. Namun, dia merasa kehadiran batu di sana, buatnya sulit untuk bicara. Pria yang Liv kenal tidak memiliki kesabaran ini, menunggu penuh kesabaran jawabannya. Dia hanya menaikkan alis, selagi Liv utarakan isi kepalanya. "Hmm?" Dante seolah bukan Dante. Dante yang berhadapan dengannya, bagai malaikat yang datang untuk menyelamatkan Liv dari neraka yang merupakan keluarganya. Sangat jauh dengan ekspektasi Liv yang awalnya mengira Liv akan diperlakukan kasar. Atas keberanian yang dipaksa, Liv menjawab dengan suara tersendat-sendat. "Aku ... aku tidak tahu harus berbicara apa." Saat sang dara tengah bingung terhadap situasi yang jauh dari ekspektasi, Dante hanya menatap lamat. Tidak ada secercah pun emosi dari pendaran matanya, membuat Liv sulit menebak isi kepala Dante







