LOGINLilin-lilin aromaterapi di sudut ruangan memberikan suasana tenang. Di sofa panjang dekat meja kerja, Rosalynd menyandarkan kepalanya di dada bidang Kenneth dan menikmati ritme detak jantung suaminya yang teratur. "Cepat sekali mereka tidur malam ini," gumam Rosalynd pelan. Kenneth yang sedari tadi membelai lembut rambut istrinya tersenyum tipis. "Tentu saja. Bagaimana tidak. Seharian ini mereka berlagak seperti prajurit di Medan perang. Valerius mengejar kupu-kupu dan Rosalie juga sibuk menyuapiku bunga." Rosalynd terkekeh pelan. "Tapi, Anda menikmatinya bukan? Sampai-sampai saya tidak pernah membayangkan bahwa seorang Kaisar Agung, pemimpin tertinggi Blackwood mau berbaring di rumput hanya untuk menjadi area panjat untuk anak-anaknya. "Kau mengejek ku, Permaisuri?" goda Kenneth dengan nada rendah sambil mencubit lembut pipi Rosalynd. "Tidak tidak. Ampun. Saya hanya kagum saja sama Anda," balas Rosalynd. Jemarinya merapikan kerah kemeja suaminya. "Anda berubah banyak sekali. Dul
Setelah melalui hari yang lelah karena memimpin rapat dan menyusun strategi perang. Kenneth kembali ke Paviliun Mawar. Ia melihat kedua anaknya sedang bermain bersama istrinya. "Ayah pulang—" kata nya sambil menggendong Rosalie. Ia mengecup pipi Rosalie gemas. Rosalie pun tak kalah gemas dengan tingkah laku ayahnya yang menciumnya tanpa henti. "Nah, sudah ya sayang. Jangan minta gendong ayah dulu. Biarkan ayah istirahat, nanti sore kita main lagi di taman. Hemthhhh," tawar Rosalynd pada kedua putranya. "Tidak. Aku tidak lelah. Kenapa kau seolah-olah malah membuatku lemah dihadapan dua anakku? Apa maksudnya itu?" Kali ini, Kenneth yang merajuk. Ia yang masih menggendong Rosalie berjalan ke balkon. "Eh eh. Mau kemana bayi besarku. Sini, berikan putriku padaku!" bentak Rosalynd. Seolah ingin menggoda istrinya, Kenneth tak bergeming. Ia mematung dan seolah mengerti, Rosalie juga ikut merajuk seperti ayahnya. "Ah, cukup dong. Kalau di diamkan, nanti ibu kalau ada urusan,
Aula Utama Istana Barat diselimuti ketegangan kaku. Di atas kursi kepemimpinan, Kenneth duduk tegap dibalut jubah hitam berlapis emas. Pandangan matanya menelisik lembaran dokumen batas wilayah yang disodorkan oleh para menteri.Beberapa pejabat tua terlihat menunduk dan menahan cemas menunggu keputusan sang Kaisar. Namun, jenderal Caelan yang berdiri tak jauh dari tahta justru harus bersusah payah menahan sudut bibirnya supaya tidak tersenyum.Pipi kiri sang Tiran itu masih membekas merah tipis berbentuk telapak tangan mungil."Caelan," panggil Kenneth dengan suara berat yang membuat para menteri yang duduk di meja panjang seketika menegang. "Kenapa memperhatikan wajahku sejak tadi?"Caelan berdehem pelan, menundukkan kepala sambil mendekat. "Maafkan saya, Yang Mulia. Tampaknya Putri Rosalie memberikan tanda pertempuran yang cukup berbekas di pipi Anda pagi ini."Kenneth mengeryit. Tangannya berusaha menyentuh pipi kirinya sendiri dan menyadari ada bekas tamparan sayang dari putranya
Kenneth mendaratkan kecupan singkat di pipi Rosalynd. Keduanya menikmati keheningan pagi yang berangsur riuh oleh derap langkah mungil di atas karpet tebal. Kehidupan di Paviliun Mawar tidak lagi sunyi seperti dulu. Setiap sudut istana yang dulunya dingin, kini dipenuhi oleh aroma minyak telon dan tawa renyah. Valerius yang masih berada di pangkuan Kenneth mulai bosan. Ia memainkan kancing kemeja ayahnya. Pangeran kecil itu menegakkan punggungnya dan menatap wajah Kenneth dengan kening berkerut. Ekspresinya sangat mirip dengan sang Kaisar ketika sedang meneliti dokumen. Tangannya yang mungil mendadak terulur, menepuk-nepuk pipi Kenneth dengan cukup keras. PLAK! "Ba! Ba! Pa!" celoteh Valerius lantang dan memamerkan empat gigi susu nya yang baru tumbuh separuh. Rosalynd yang menyaksikan kejadian itu seketika menutup mulutnya dan menahan tawa yang hampir meledak. Seorang Tiran Kekaisaran Blackwood, pria yang ditakuti oleh seluruh bangsawan baru saja ditampar ringan oleh bayi berusi
Malam mulai merayap pelan menyelimuti Kekaisaran Blackwood setelah riuh nya acara ulang tahun pertama si kembar. Di dalam peraduan utama Paviliun Mawar, Valerius dan Rosalie sudah terlelap di tempat tidur mereka. Valerius tertidur miring sambil memeluk pedang kayu peraknya, sementara itu Rosalie juga sudah tertidur nyenyak dengan menggenggam ujung selimut sutranya.Sementara, kedua orang tua mereka berdiri berdampingan di balkon luar, menikmati hembusan angin malam yang membawa aroma Mawar segar. "Anak-anak benar-benar kelelahan," bisik Rosalynd sambil menyandarkan kepalanya di bahu kokoh suaminya. "Bahkan, Valerius tertidur saat saya sedang mengusap lembut punggung nya." Sambung nya lagi.Kenneth terkekeh rendah. Lengan besarnya melingkar di pinggang Rosalynd, menarik tubuhnya supaya menyalurkan kehangatan. "Bocah itu seharian sibuk berjalan ke sana kemari. Langkah kakinya masih belum stabil, tapi gaya berjalannya sudah sok gagah.""Ck! Bukannya tak berbeda jauh dengan ayahnya," god
Tujuh bulan berlalu bagaikan hembusan hangat angin musim panas. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba di Paviliun Mawar. Perayaan ulang tahun pertama bagi Pangeran Mahkota Valerius dan Putri Agung Rosalie. Berbeda dengan tradisi Kekaisaran lama yang terikat pesta dansa kaku para pejabat tinggi, Kenneth dan Rosalynd sepakat menggelar perayaan tertutup yang hangat. Hanya ada tawa keluarga, hiasan pita mawar dan hidangan manis yang dipenuhi suasana santai. "Valerius, pelan-pelan Sayang! Jangan berlari melompat-lompat gitu!" seru Rosalynd cemas sambil sibuk merapikan gaunnya. D atas karpet bulu tebas, Valerius yang baru dua minggu lancar berjalan melangkah limbung dengan kaki mungilnya. Pangeran kecil itu tertawa renyah, berjalan cepat berusaha menggapai jubah kerja sang ayah yang baru saja masuk. Kenneth langsung berlutut di atas karpet, merentangkan kedua tangan kekarnya dengan sigap menahan tubuh kecil Valerius sebelum putranya kehilangan keseimbangan. "Hup! Tangkap!" kekeh Ke
Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil mem
Suasana kamar mendadak sunyi. Suara pip dari terputusnya sambungan alat komunikasi di balik pisau itu seolah merenggut semua nya.Kondisi Lily sudah jatuh terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Wajahnya pucat pasi dan netranya terbelalak kaget."N—Nona. A—apa tadi suara Kaisar? Jadi, sejak t
Pintu tersembunyi di balik lemari kayu ek berderit pelan. Jantung Rosalynd berdegup kencang, tangannya spontan menarik sisa robekan gaun untuk menutupi tubuhnya.Akan tetapi, setelah ditunggu beberapa detik keluarlah wanita berpakaian pelayan sederhana melangkah keluar dengan buru-buru."Nona Rosal
Matahari pagi itu belum sempat menampakkan wujudnya di ufuk timur, namun pintu paviliun obsidian sudah digedor dengan sangat berwibawa."Perhatian, selir Rosalynd. Ibu Suri dan Permaisuri Agung telah tiba!" seru dayang Martha dari balik pintu kamar.Rosalynd tersentak kaget.Jantungnya berdegup ken







