LOGINBeberapa hari pasca-eksekusi di Lapangan Agung, suasana Kekaisaran Blackwood perlahan membaik menuju kedamaian. Setelah puas bermain dengan anak-anak mereka, Kenneth kembali menjalankan fungsinya yaitu memimpin Blackwood beserta wilayah kekuasaan di bawahnya. Kenneth duduk di tahta utamanya dengan gagah, memancarkan wibawa dingin dan dominasi mutlak. Sedangkan, Rosalynd yang berada di sebelah kanannya duduk anggun di tahta permaisuri. Hari ini, bukanlah sidang untuk menentukan hukuman, melainkan hari menerima suara rakyat dari berbagai wilayah di perbatasan. Sebuah tradisi lama kekasiaran untuk mendengarkan keluh kesah dan hasil bumi warga pasca-pembersihan fraksi pemberontak. "Bawalah rombongan perwakilan desa Oakhaven untuk menghadap!" perintah Caelan tegas. Rosalynd yang mendengar nama Oakhaven tertegun seketika. 'Oakhaven?' Desa itu tak asing untuknya. Di desa itulah, ia pertama kali bersembunyi dari kejaran Kenneth di tengah panasnya konflik yang bergejolak beberapa tahun
Ciuman lembut yang mendarat di bibir Kenneth meluruhkan sisa-sisa dahaga darah yang sempat tersisa dalam dirinya. Pria itu membalas lumayan halus istrinya dengan ketulusan pekat. Seolah sedang menegaskan bahwa badai besar yang mengancam tahta mereka benar-benar luruh ditelan fajar. Ketika Rosalynd menarik diri dengan meninggalkan rona merah tipis di dua pipinya, Kenneth tersenyum tipis. "Ciuman pembuka pagi yang sangat manis, Sayang." Gumam Kenneth serak. Ia mengusap sudut bibir Rosalynd dengan ibu jarinya sebelum berdiri tegak dari tepi peraduan. Rosalynd terkekeh pelan, kemudian menepuk bahu Kenneth lembut. "Pergilah berganti pakaian, Tuan. Bau jubah perang dan sisa udara dingin Lapangan Agung masih menempel pada tubuh Anda. Saya tidak ingin si kembar alergi." Kenneth terkekeh rendah sambil mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. "Baiklah, Permaisuri. Perintah Anda adalah keharusan yang harus saya lakukan!" Setelah Kenneth melangkah ke baju ganti pribadi di balik tirai belu
Suasana lega yang menenangkan menyelimuti peraduan utama Paviliun Mawar setelah dentang lonceng ketiga meredam sepenuhnya. Rosalynd masih duduk, memangku Valerius dan Rosalie di atas selimut empuk. Udara di dalam kamar terasa hangat, berbanding terbalik dengan dinginnya suasana Lapangan Agung tempat eksekusi baru saja dilangsungkan. Pintu ukir yang tebal mendadak terdorong pelan dari luar. Langkah nya mantap, berwibawa, namun masih menyimpan sedikit keletihan terdengar mendekat. Kenneth melangkah masuk dengan jubah kebesarannya. Hawa membunuh yang dingin dan pekat mendadak luntur tak berbekas begitu pandangannya melihat istri dan kedua anak kembarnya. "Tuan—" panggil Rosalynd lembut. Ia memperhatikan Kenneth yang melepaskan sarung pedang naga hitamnya di atas meja kayu Cendana. Kemudian melonggarkan jubah luar yang masih membawa udara dingin dari panggung eksekusi. Valerius yang melihat kedatangan ayahnya seketika melepas genggamannya dari baju Rosalynd. "Daa! Daaa—naik! Daaa!" ser
Denting lonceng tembaga di puncak Menara Hitam bergema berat membelah kabut pagi yang menyelimuti Lapangan Agung Kekaisaran Blackwood. Suara itu menjadi pertanda dimulainya pengadilan terbuka, sebuah panggung penghakiman terakhir bagi para pengkhianat tahta. Ratusan bangsawan dari berbagai klan utama telah berkumpul di tribun kehormatan. Suasana terasa sangat mencekam. Tidak ada satu pun yang berani bersuara keras. Semua pandangan tertuju pada panggung ekseskusi di tengah lapangan, tempat tiga tiang kayu tebal dengan rantai besi berat telah disiapkan. Langkah kaki yang mantap berbunyi nyaring ketika Kenneth memasuki podium utama. Ia mengenakan jubah hitam berhiaskan sulaman benang emas serta pedang naga hitam yang menggantung di pinggang nya. "Hormat pada Yang Mulia Kaisar!" seru Caelan memberi komando, seketika membuat seluruh bangsawan membungkuk dalam. Kenneth menduduki tahta di podium tinggi. Manik mata nya menatap dingin ke arah pintu besi penjara bawah tanah yang terbuka den
Suasana di Paviliun Mawar sudah sepenuhnya bersih dari ketegangan politik. Keheningan yang awalnya melingkupi peraduan utama, berganti dengan kehangatan keluarga kecil yang baru saja melewati badai besar. Di atas peraduan luas berlapis katun lembut, Valerius dan Rosalie sudah kembali lincah. Suhu tubuh si kembar telah normal sepenuhnya. Valerius sibuk merangkak menaiki dada Kenneth yang sengaja berbaring terlentang, menepuk belum jubah rumah ayahnya dengan tawa renyah yang menggelar. Sementara itu, Rosalie duduk tenang di pangkuan ibunya. Ia sibuk memainkan helai rambut ibunya sambil bergumam yang tidak jelas. "Lihatlah, Tuan," ujar Rosalynd sambil mengusap pipi gembul Rosalie yang mulai merona, segar kembali. "Ekspresi mereka malam ini jauh lebih tenang. Keputusan Anda untuk tidak menumpahkan darah di hadapan mereka tadi pagi adalah pilihan yang bijak." Kenneth terkekeh rendah, membiarkan Valerius menduduki perutnya dan menepuk pelan punggung jagoan kecilnya supaya tidak terjatuh
Keesokan harinya, ketika matahari fajar baru saja membiaskan sinar keemasan hangat di atas langit Kekaisaran Blackwood. Suasana halaman Paviliun Mawar tidak seperti biasanya. Udara dingin yang bisa membekukan siapa pun, beradu rapat dengan aura tegang dari puluhan prajurit elit Black Raven yang berdiri rapi dengan zirah besi hitam mengkilat dan senjata terhunus. Pintu gerbang Paviliun Mawar terbuka pelan. Tiga sosok yang dikawal ketat oleh Caelan melangkah masuk dengan rantai besi melilit di kedua tangan mereka. Raymond, Gavin, dan Cassandra. Wajah ketiga mantan penguasa itu terlihat pucat, kusut dan terguncang. Sepenuhnya telah kehilangan martabat kebangsawanan mereka setelah seluruh senjata, pengawalan dan pengaruh politik mereka dilucuti habis di gerbang luar istana. Di teras Paviliun, Kenneth berdiri tegak seperti gunung batu yang tak tergoyahkan. Jubah kebesarannya berkibar ditiup angin pagi, sementara tangan kanannya bertumpu pada hulu pedang berukir naga hitam. Di sebelahnya,
Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil mem
Suasana kamar mendadak sunyi. Suara pip dari terputusnya sambungan alat komunikasi di balik pisau itu seolah merenggut semua nya.Kondisi Lily sudah jatuh terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Wajahnya pucat pasi dan netranya terbelalak kaget."N—Nona. A—apa tadi suara Kaisar? Jadi, sejak t
Pintu tersembunyi di balik lemari kayu ek berderit pelan. Jantung Rosalynd berdegup kencang, tangannya spontan menarik sisa robekan gaun untuk menutupi tubuhnya.Akan tetapi, setelah ditunggu beberapa detik keluarlah wanita berpakaian pelayan sederhana melangkah keluar dengan buru-buru."Nona Rosal
Matahari pagi itu belum sempat menampakkan wujudnya di ufuk timur, namun pintu paviliun obsidian sudah digedor dengan sangat berwibawa."Perhatian, selir Rosalynd. Ibu Suri dan Permaisuri Agung telah tiba!" seru dayang Martha dari balik pintu kamar.Rosalynd tersentak kaget.Jantungnya berdegup ken







