로그인Brak! Genggaman tangan Kenneth sangat kuat sehingga membuat surat perkamen itu sampai hancur. Napas sang Kaisar memburu parah, netranya memerah berkilat panik dan keputusasaan yang luar biasa. Ancaman bunuh diri itu, bukan gertakan main-main. Kenneth paham betul seberapa keras kepalanya wanitanya jika sedang terdesak. Bayang-bayang tubuh Rosalynd yang melompat dari tebing di Oakhaven kembali melukai ingatannya. "Yang Mulia. Bagaimana dengan instruksi armada tempur di perbatasan?" tanya Sean cemas. Ia menjaga jarak karena melihat aura kehancuran tuannya. "Tarik!" desis Kenneth sambil memegangi dadanya yang terasa ngilu. "Tarik seluruh pasukan! Batalkan blokade pelabuhan! Jangan ada satu pun prajurit yang menyentuh warga kota ini!" Sean membelalak kaget. "Ta—Tapi, Yang Mulia, jika Anda menarik pasukan sekarang, Pangeran Raymond bisa saja—" "Aku bilang tarik semuanya, Sean! Jika terjadi sesuatu dengannya di dermaga itu—maka aku sendiri yang akan memenggal kepalamu dan meratakan sel
Suasana di sepanjang pelabuhan bawah kota Verona mendadak riuh rendah. Bisik-bisik ketakutan di antara para pedagang ikan dan nelayan seolah menjadi desakan panik. "Tolong. Pangeran Raymond, pertimbangkan lah kembali!" "Kami tidak bisa makan jika jalur vital pelabuhan diblokade!" "Jangan korbankan seluruh warga kota hanya demi satu wanita asing, Pangeran!" Desakan demi desakan cemas dari warga yang berkerumun di luar Balai Obat terdengar semakin nyaring. Raymond yang berdiri mematung di depan pintu dan menatap warga Verona dengan rahang yang mengeras parah. "Cukup!" gertak Raymond dengan berat dan menggelegar. Gertakan itu seketika membuat warga yang riuh tadi bungkam seketika. "Aku tidak akan pernah tunduk pada gertakan sampah bajingan Blackwood itu! Bubar kalian semua dan kembali lah ke rumah masing-masing!" Raymond dengan kasar masuk ke dalam Balai Obat dan membanting pintu kayu dengan keras dan menguncinya dari dalam. Urat-urat di seluruh tubuhnya menegang ketika ia menyanda
Rosalynd membuka matanya perlahan. Denyut di kepalanya yang tadinya berdenyut hebat, perlahan mereda. Seolah ia baru saja terbangun dari mimpi buruk yang sangat panjang. Ingatan tentang kecupan hangat di keningnya serta bisikan Raymond semalam mendadak berputar kembali di kepalanya. 'A—apa benar yang tadi dikatakannya? Apa mungkin ini semua juga termasuk skenario dia untuk kembali mendapatkan ku setelah direbut paksa oleh kakaknya?' Dada Rosalynd kembali berdesir hebat. Benih keraguan yang mulai ia tabur perlahan merayap dan kembali membangun benteng pertahanan yang baru di hatinya. Ia sadar, Raymond dan Kenneth adalah dua pangeran berdarah dingin dari garis keturunan yang sama. Klek Pintu kamar Rosalynd mendadak terbuka pelan. Raymond masuk sambil membawa nampan berisi secangkir teh herbal hangat dan sepiring roti gandum. "Sudah bangun, Nona manis?" panggil Raymond dengan suaranya yang lembut. Pria itu menyunggingkan senyum tulus dan mendekati ranjang sederhana Rosalynd untuk
Hembusan angin laut Verona terasa begitu mencekik. Tirai bambu yang menggantung di ambang pintu Balai Obat berdenting pelan. Suasana yang tadinya mencekam oleh benturan senjata, mendadak hening. Sebuah keheningan yang menyiksa dadanya. Kenneth berdiri membeku di tempatnya. Kalimat penolakan Rosalynd yang sangat tajam terus bergema di dalam kepalanya. Memutarbalikkan seluruh kepercayaan dirinya dan obsesi yang selama ini ia pelihara. 'Seorang wanita—yang sangat membencimu sampai ke hembusan napas terakhirnya!' Dada Kenneth sangat sesak, seolah-olah ada pedang tak kasat mata yang menghujam jantungnya. Kaisar Blackwood yang biasanya berdiri angkuh dan memimpin ribuan pasukan kini limbung tipis. "Yang Mulia!" Sean menerobos masuk ke dalam Balai Obat setelah mendengar kegaduhan dari luar. Namun, langkah Sean itu berhenti total ketika melihat kondisi Tuan nya. Wajah Kenneth begitu pucat, tatapannya kosong dan raut wajahnya memperlihatkan rasa sakit yang teramat sangat. Sebuah ekspresi
Sling! Bunyi denting besi beradu begitu keras memecah keheningan Balai Obat. Raymond yang sudah tak sanggup lagi menahan amarahnya melihat jemari Rosalynd dicengkeram, menghunus penuh belati taktis nya tepat ke pergelangan tangan Kenneth. Namun, insting prajurit yang telah ia pelajari sangat kuat dengan cepat menggunakan sarung pedang di pinggang nya untuk menepis tebasan belati. Brak! Benturan dua senjata itu menghantam meja kayu peracikan hingga retak. Cangkir-cangkir tanah liat dan beberapa mangkuk penumbuk herbal terlempar jatuh, pecah berkeping-keping hingga membasahi lantai dengan seduhan herbal yang pahit. "Lepaskan tanganmu dari dia, Kaisar Gila!" bentak Raymond dengan suara yang berat dan penuh dengan ancaman membunuh. Urat-urat di lehernya menegang parah ketika ia menekan bilah belatinya pada sarung pedang Kenneth. Kenneth mendengar itu hanya terkekeh geli. Ia tidak membalas serangan yang diberikan, namun cengkeramannya pada jemari Rosalynd justru semakin kuat dan memb
Sekantong koin emas itu berdenting pelan di atas meja kayu peracikan. Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah jendela dan membuat kilau logam mulia tampak begitu kontras dengan kesederhanaan Balai Obat. Belum sempat jemari Rosalynd bergerak, sebuah tangan kokoh bergerak cepat mendorong kantong emas itu kembali ke hadapan Kenneth. Raymond melangkah lebar dan memasang badan tepat disamping meja racikan untuk memotong jarak pandang Kenneth. Netra hazel nya menatap lurus sang Kaisar dengan aura permusuhan yang kental. "Mohon maaf, Balai Obat ini tidak melayani pembeli yang datang dengan niat yang busuk, Yang Mulia," bentak Raymond dengan suara rendah seperti menahan amarah yang tak terbendung. Kenneth tidak menyenggol belati di balik pakaian nya. Ia justru terkekeh pelan melihat pernyataan Raymond. Kaisar Blackwood itu justru bersedekap dada dan menatap Raymond dari atas sampai bawah. "Niat busuk? Ck! Aku datang sebagai pasien biasa yang ingin berobat dan membayar secara sah, P
"Kaisar malam ini akan datang. Bersiaplah dan jangan berani-berani membuat kesalahan jika kau masih ingin hidup dengan tenang.” Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.Seluruh dunianya seolah hancur saat kakaknya sendiri, Permaisuri Cassandra, menyuruhnya untuk tidur dengan suaminya sendiri…Itu
Matahari pagi itu belum sempat menampakkan wujudnya di ufuk timur, namun pintu paviliun obsidian sudah digedor dengan sangat berwibawa."Perhatian, selir Rosalynd. Ibu Suri dan Permaisuri Agung telah tiba!" seru dayang Martha dari balik pintu kamar.Rosalynd tersentak kaget.Jantungnya berdegup ken
Jarak wajah mereka yang telah menjauh, Kenneth tetap mengunci kedua pergelangan tangan Rosalynd di atas kepala dengan satu tangan besarnya yang kokoh."Ck! Kau pikir aku Sudi menyentuh wanita dari klan Shanza, Rosalynd?" desis Kenneth dengan suara yang mulai merendah.Napas Rosalynd terengah-engah
Cengkeraman tangan Kaisar Kenneth di dagu Rosalynd terasa begitu kuat sehingga membuat tulang rahangnya linu. Rosalynd mendongak pasrah. Wajah Kenneth terlihat sangat tampan namun tanpa menyisakan rasa belas kasih. Hawa panas yang menguar dari tubuh pria itu seolah mampu mengubah suasana di dala







