로그인Di dalam kereta kuda yang tidak memiliki lambang Kekaisaran yang melaju cepat membelah lorong batu Kota Atas, suasana terasa begitu mencekam. Kenneth mencengkeram kuat kepalanya yang terasa hampir pecah. Efek insomnia, guncangan emosi dan denyut migran hebat membuat napas sang Kaisar memburu parah. Namun, di balik rasa sakit yang menyiksa itu, netra Kenneth berkilat penuh obsesi yang semakin liar dan gila. "Dia—wanita itu mirip sekali dengan Rosalynd. Dia pasti Rosalynd!" desis Kenneth dengan suara serak dan perlahan ia menyandarkan kepalanya pada dinding kereta. "Tapi, Yang Mulia. Cara wanita itu menatap dan menolak wanita bernama Lyra itu terasa begitu—" Sean ragu-ragu menanggapi dari sudut kursi. "Bohong—! Tatapan dingin itu merupakan bukti nyata! Dia sangat membenciku karena apa yang terjadi di Istana Utama! Wangi racikan lavender, getaran bahunya ketika ketakutan. Tak ada wanita lain yang dapat menirunya!" Kenneth mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya mem
Plak! Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pergelangan tangan Kenneth pas ketika jemari berlapis kulit hitam yang tinggal satu inci lagi menyentuh kain cadar putih milik Rosalynd. Raymond yang ikut mencengkeram tangan sang Tiran menyentak tubuhnya untuk menggunakan badannya sebagai perlindungan untuk Rosalynd. "Jangan pernah sentuh dia dengan tangan kotormu, Yang Mulia!" bentak Raymond dengan suara bariton nya yang berat dan menggelegar. Netranya dipenuhi dengan kilat merah yang penuh dendam. Kenneth menyipitkan netranya yang sudah menyala-nyala. Urat-urat di lehernya sudah menegang ketika ia menatap Raymond dengan tatapan kebencian yang semakin dalam. "Singkirkan tanganmu, Pangeran! Aku hanya ingin melihat siapa wanita di balik kain murah ini. Jika memang dia bukan Permaisuri ku. Itu tak menjadi masalah untukku!" "Ck! Yang jelas, dia memang bukan Permaisuri mu! Selalu jaga batasanmu sebelum aku melupakan norma diplomatik di tanah Verona ini, Pangeran!" gertak Raymond sambil
Sling! Bunyi gesekan logam tipis yang tajam menusuk telinga mendadak memecah ketegangan di halaman Balai Obat. Kenneth benar-benar menarik beberapa inci bilah pedang kekaisarannya dari sarungnya. Sorot netra kelam sang Kaisar Blackwood itu menyala-nyala karena aura pembunuh dan obsesi gila yang tak terelakkan. Raymond yang berdiri memagari pintu tidak punya pilihan lain. Netranya berkilat bahaya ketika jemarinya mencengkram gagang belati taktis yang terselip di balik pinggang linen nya. "Satu langkah lagi kau menyentuh pintu ini, Kenneth— aku tidak akan segan untuk menumpahkan darahmu disini!" gertak Raymond dengan suara baritonnya yang sangat rendah dan penuh dengan ancaman. "Coba saja kalau kau mampu, Pangeran!" bentak Kenneth dingin. Brak! Kenneth mendorong bahu Raymond dengan hantaman keras demi menerobos pintu. Raymond berusaha sekuat tenaga untuk menahan benturan dengan dada tegapnya dan menepis lengan Kenneth hingga sarung pedang sang Kaisar terhantam ke dinding kayu Bala
'Tiran gila itu—dia benar-benar melangkah ke arah Balai Obat!" Batin Raymond berteriak histeris, diselimuti dengan rasa panik yang luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pria itu menyapu pendangan sekitar lorong. Jika ia menarik pedangnya secara terbuka disini, pertumpahan darah tak terhindarkan. Kota Verona akan gempar dan penyamaran nya akan sia-sia. Tanpa membuang waktu sedetik pun. Raymond segera berbalik. Ia memotong jalur lewat gang-gang sempit kota atas, menerobos tumpukan peti kayu dan lorong berdebu demi mendahului langkah Kenneth yang besar. Sementara itu, di halaman Balai Obat pesisir, suasana siang terasa begitu lenggang. Aroma racikan kayu manis, cengkeh dan minyak lavender menguar lembut ke udara dari tampah-tampah bambu tempat menjemur obat herbal itu. Rosalynd berdiri di dekat meja racikan luar yang berada tepat di samping jendela Balai Obat. Jarinya yang masih gemetar berusaha keras memilah daun-daun kering dan mencoba mengalihkan pikirannya dari per
Suasana di dalam Balai Obat terasa begitu berat dan hening setelah kepergian para prajurit kota. Ruangan kayu itu seolah-olah menguap dan tersapu oleh ketegangan muncul di antara mereka. Rosalynd mematung di tempatnya berdiri. Netranya yang sembab menatap telapak tangan Raymond yang masih terulur di depannya. Janji manis yang diucapkan Raymond malam itu sarat dengan pesan rahasia bersimbol lilin hitam di kotak kayunya."Terima kasih, Tuan Raymond," bisik Rosalynd dingin. Ia sengaja melangkah mundur satu tapak untuk menjauh dari jangkauan Raymond. "Tapi, saya pikir. Saya membutuhkan waktu untuk sendiri saat ini. Pekerjaan di Balai Obat sudah selesai untuk pagi ini."Raymond menatap jemarinya yang terulur tanpa sambutan. Pangeran muda itu menarik tangannya pelan. Sambil mengepalkan telapak tangannya di samping paha. Ada rasa pening dan nyeri yang menikam dadanya seolah melihat dinding pertahanan Rosalynd kembali berdiri."Baiklah, Lyra. Aku pamit dulu. Tapi tolong ingat satu hal." Pesa
Hangatnya sinar mentari pagi menyelinap masuk melalui celah jendela Balai Obat dan menembus meja racikan yang biasanya membawa kehangatan. Namun, suasana pagi itu dirasa cukup berbeda. Ada jarak yang tak kasat mata yang mendadak menjembatani keduanya. Rosalynd merapikan botol-botol ekstrak herbal dengan jemarinya yang masih terasa dingin. Lingkaran hitam tipis terbentuk di bawah matanya karena tidak tidur semalaman. Surat berstempel lilin hitam itu telah disembunyikan rapat-rapat di dasar kotak kayu rahasianya, namun pesan peringatan di dalamnya bergema dan meracuni pikirannya tanpa ampun.Brak!Suara pintu kayu di buka pelan dan membuat Rosalynd tersentak kaget. Raymond mendekat dengan senyuman hangat yang biasanya ia sunggingkan. Pangeran muda itu kembali mengenakan kemeja linen dan membawa aroma Cendana yang sangat familiar untuk Rosalynd."Selamat pagi, Nona Guru." Sapa Raymond lembut sambil meletakkan sekeranjang roti segar di atas meja. "Selamat pagi, Tuan Raymond," balas Rosa
"Kaisar malam ini akan datang. Bersiaplah dan jangan berani-berani membuat kesalahan jika kau masih ingin hidup dengan tenang.” Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.Seluruh dunianya seolah hancur saat kakaknya sendiri, Permaisuri Cassandra, menyuruhnya untuk tidur dengan suaminya sendiri…Itu
Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Akan tetapi, suasana di pelataran paviliun Mawar terasa sangat dingin.Rosalynd melangkah melewati gerbang melengkung yang dipenuhi hiasan mawar merah darah yang cantik dan anggun. Di belakangnya, Lily mengikuti Rosalynd dengan berjalan menunduk sambil mem
Suasana kamar mendadak sunyi. Suara pip dari terputusnya sambungan alat komunikasi di balik pisau itu seolah merenggut semua nya.Kondisi Lily sudah jatuh terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Wajahnya pucat pasi dan netranya terbelalak kaget."N—Nona. A—apa tadi suara Kaisar? Jadi, sejak t
Pintu tersembunyi di balik lemari kayu ek berderit pelan. Jantung Rosalynd berdegup kencang, tangannya spontan menarik sisa robekan gaun untuk menutupi tubuhnya.Akan tetapi, setelah ditunggu beberapa detik keluarlah wanita berpakaian pelayan sederhana melangkah keluar dengan buru-buru."Nona Rosal







