เข้าสู่ระบบ“Silakan, Nona Lilian.” Roland sedikit membungkukkan tubuh, mempersilakan Lilian berjalan di sampingnya.Lilian menoleh, dilihatnya Mante dengan mata berkaca-kaca menahan tangisan, dia ingin sekali merengek agar Mante tidak membiarkannya sendirian bersama orang asing, namun Lilian malu melakukannya karena itu akan semakin merusak reputasinya.Menjaga ketenangan bukanlah perkara mudah bila Lilian berada diantara orang-orang berkarakter keras seperti keluarga Hemilton.Jangankan untuk dekat, untuk berpapasan pun rasanya Lilian ingin pergi bersembunyi.Ragu-ragu akhirnya Lilian melangkah, meski sekali lagi gadis itu sempat menoleh ke belakang, melihat Mante yang tengah memastikan kepergiannya.Pada akhirnya, dengan berat hati Lilian pergi mengikuti Roland yang akan mengantarnya menuju kamar pribadi Mante untuk menunggu dan beristirahat, sementara Mante harus memenuhi panggilan Elisio yang telah menantinya di ruang pribadi.Derap suara langkah kaki heels terdengar di lantai, menyusuri set
Ruangan makan itu sunyi seketika.. Orang-orang saling melihat tak dapat menyembunyikan seberapa terkejutnya mereka dihadapkan pada kenyataan, bahwa ternyata istri Mante memiliki keberanian untuk langsung bersuara.Siapa yang menyangka? Perempuan kecil yang sejak pertama kali menginjakkan kaki di ballroom hanya bersembunyi di balik bahu Mante, gemetar seolah tidak sanggup menghadapi tatapan keluarga Hemilton, ternyata bukan sosok yang bisa terus-menerus diperlakukan sesuka hati.Penampilannya yang penakut, sempat membuat beberapa orang meragukan kemampuannya. Bahkan, diam-diam ada yang menganggap Lilian akan menjadi beban terbesar hidup Mante di masa depan.Namun, begitu perempuan itu akhirnya mengangkat suara, satu kalimat darinya sudah cukup untuk membuat Gabriella Hemilton membeku di tempat.Di balik kacamata yang bertengger di hidungnya, mata Gabriella bergetar hebat menahan amarah. Jemarinya yang keriput mencengkeram tepi meja begitu kuat hingga buku-buku jarinya menegang.Gabrie
Jari-jari Lilian yang gemetar dingin, semakin digenggam lebih erat. Mante mengangkat wajahnya dengan tenang sedikitpun tidak menunjukan reaksi, dia tatap sang nenek dengan dingin tanpa emosi seakan, hinaan yang telah Gabriella lontarkan pada isterinya tidak mempengaruhi apapun.Jach yang tengah duduk tidak jauh dari posisinya Mante justru gelisah. Jach tahu betul reaksi itu, semakin tenang Mante maka semakin banyak hal-hal buruk yang sedang dia rencanakan.Jach tahu Mante mungkin tidak akan mempermasalahkan kritik Gabriella mengenai pernikahannya atau seleranya dalam memilih perempuan. Akan tetapi, jika Gabriella sampai menganggap Lilian tidak pantas menjadi istrinya.. itu layak dipersoalkan.“Ya ampun, Nyonya Gabriella. Anda seharusnya tidak berbicara seperti itu. Bagaimanapun, Lilian sudah menjadi istri cucu Anda. Memang, pernikahannya jauh dari kata pantas, begitu pula dengan masa lalunya,” timpal Nichole, putri tertua Beatrix.“Bukankah terlalu berlebihan jika seorang janda masih
Kemunculan Gabriella Hemilton menjadi kejutan tersendiri bagi seluruh orang yang berada di ballroom. Di usianya yang sebentar lagi genap sembilan puluh tahun, selama ini Gabriella lebih banyak menghabiskan waktu di Zurich, Swiss.Sebagaimana pernikahan dalam lingkaran keluarga berpengaruh, pernikahan Gabriella dan Nathalius dibentuk untuk memperkokoh aliansi bisnis kedua belah pihak. Namun, karena Nathalius berulang kali mengkhianati pernikahan tersebut melalui perselingkuhan dan keberadaan beberapa anak di luar nikah. Akhirnya, Gabriella memilih hengkang keluar negeri. Kendati demikian, Gabriella tidak pernah menuntut cerai apalagi melepaskan kedudukannya sebagai Donna dari Don Hemilton, gelar tetap melekat padanya sekalipun rumah tangganya retak.Kepergian Gabriella tidak pernah benar-benar membuat Nathalius mengubah perilakunya. Nathalius justru membawa Ophelia, salah satu perempuan simpanannya sekaligus ibu kandung Beatrix, untuk menetap di kediaman utama keluarga Hemilton.Sete
Irish mata Lilian bergerak cepat mencari-cari objek yang bisa dijadikan pelarian pandangannya. Lilian sama sekali tidak memiliki keberanian untuk membalas tatapan salah satu orang yang kini tengah memperhatikannya.Jantung Lilian berdebar kencang hingga bisa dia rasakan, setiap denyutnya yang seakan mau melompat jatuh dari dalam dada.Lilian berulang kali mengucapkan kata-kata penenang dalam hati, berusaha membangun keberanian di tengah tekanan yang mengimpitnya. Jari-jarinya bahkan sudah ingin meremas pakaian untuk menyalurkan kegugupan, tetapi ketegangan membuat kedua tangannya hanya terpaku dengan gemetar.Dapat Lilian rasakan pandangan orang-orang dalam ruangan kian tajam. Mereka tidak sekadar memperhatikannya, melainkan sedang mengamati, mempelajari, sekaligus menilai setiap detail tentang dirinya. Seolah-olah Lilian adalah seseorang yang sedang diperiksa kelayakannya sebelum diterima di tengah keluarga mereka.Lilian sama sekali tidak tahu apa yang kini harus dia lakukan. Janga
Lilian menelan salivanya dengan kesulitan. Tidak ada yang salah dari kata-kata Mante, bahkan.. mungkin siapapun wanita yang mendengarnya akan melompat senang karena dijanjikan akan tinggal di tempat yang begitu mirip dengan sebuah istana, tempat yang tidak semua laki-laki bisa memberikannya, tempat yang bahkan mungkin jauh lebih indah dari gambaran istana sebuah buku dongeng.Namun Lilian tidak merasakan kebahagiaan itu, nalurinya justru merasakan ada bahaya yang sulit dia jelaskan dengan kata.Dibandingkan bahagia, justru Lilian bertanya-tanya.. bagaimana caranya dia kabur dari tempat seluas ini? Luasnya bahkan setara dengan mega hotel milik ayahnya yang sempat Lilian jual.Samar Lilian tersenyum, menghargai apa yang sudah Mante katakan.Kendaraan akhirnya memperlambat lajunya setelah melewati hamparan halaman yang begitu luas, lalu berhenti tepat di depan teras utama. Di tempat itu, Roland sang kepala pelayan sudah berdiri menunggu, menyambut kedatangan Mante dan isterinya yang pert
“Hutang orang tua Anda pada pihak bank lebih dari 20 juta dollar belum termasuk bunga, dan Lilian’s hotel ini adalah jaminannya. Saya turut berduka cita atas kecelakaan yang telah menimpa kedua orang tua Anda, Nona Lilian. Tetapi hutang tetap harus dibayar, pihak pasar obligasi tidak bisa menunggu
Jarak yang begitu dekat menyisakan sedikit celah, hangat deru napas Lilian menyapu dinginnya kulit Mante.Pria itu menahan diri untuk tidak bergerak, diam-diam menarik napas ingin mengulang kembali sensasi pertama yang menyapa indranya saat sadar dari pingsan, yaitu aroma lembut milik Lilian. Aroma
“Dipertemuan tadi, semua orang membicarakan hal penting yang bahkan tidak aku tahu.” Seorang pria paruh baya melepaskan setelan jassnya, dengan sigap sang isteri menerimanya dan mengikuti langkah suaminya. “Memangnya apa yang sedang dibicarakan mereka?” tanya Katty penasaran. Dengan wajah muram
Lilian meringkuk tertidur lelap di bathub, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang lelah, mengumpulkan energinya kembali agar bisa kuat menghadapi banyak kenyataan pahit dari kehidupannya yang tidak lagi sama seperti dulu. Bukan hanya kehilangan orang tua, Lilian juga harus siap kehilangan seg







