ANMELDEN"Kalian tidak akan menangkapku," kata Mo Jian dengan nada sangat tenang. Kakinya tetap bergerak menuju pintu lorong tanpa sedikit pun ragu.
Kabut racun tipis yang baru pecah itu mulai menyebar di jalur antara dirinya dan para Pelindung. Udara di lorong pendek itu berubah terasa berat bagi siapa pun yang membaca Qi.
Rafiq Mahrun yang menjaga pintu lorong merasakan kabut itu lebih dulu. Posisinya paling dekat dengan jalur yang dilalui Mo Jian.
&n
"Dan kau membawa pulang lebih banyak," kata Lin Jianfeng."Setengah detik lebih cepat," ulang Bai Yuanfeng pelan.Lin Jianfeng tidak menjawab. Ia hanya mengangkat dagunya sedikit dan mengambil langkahnya ke arah timur laut."Perjalanan baik," kata Bai Yuanfeng ke punggungnya."Begitu juga," jawab Lin Jianfeng tanpa menoleh.Ku Zhen menopang Gu Zhi melalui jalur sempit di sisi utara kota yang tidak banyak dilalui orang di pagi hari.Meridian dada kiri Gu Zhi masih terasa seperti bara yang menolak padam setiap kali ia menarik napas terlalu dalam. Ku Zhen sudah menutup titik rasa sakit itu dengan teknik Qi sementara yang bisa menekan gejalanya namun tidak menyembuhkan apapun. Perbaikan sebenarnya butuh tempat yang tenang, ramuan yang tepat, dan waktu yang tidak sedikit."Kita tidak bisa lewat Pasar Jalur Barat," kata Ku Zhen sambil matanya m
Perjalanan mereka singkat. Gulungan teknik kultivasi dari ruang pusat masih tersimpan rapi di dalam lipatan jubah prajurit pertama, tidak bergerak, tidak disentuh sejak dimasukkan semalam. Tidak ada yang bertanya soal isinya."Yang Mulia," kata prajurit pertama saat mereka hampir mencapai gerbang kota barat. "Kabar tentang Rakhim dan Zaryan. Kapan akan disampaikan kepada kota?""Belum," jawab Khagan tanpa memperlambat langkahnya."Keluarga mereka akan bertanya," kata prajurit itu lagi."Aku tahu," kata Khagan. Nada suaranya turun satu tingkat. "Dan aku akan menjawab mereka secara langsung. Bukan lewat rumor pasar."Prajurit pertama itu tidak bertanya lebih lanjut.Prajurit kedua berbicara lebih pelan. "Yang Mulia, tanpa Rakhim dan Zaryan, posisi pertahanan timur kota perlu diisi. Siapa yang akan mengisinya?"Khagan tidak menjawab segera.
Badai gurun itu mereda menjelang fajar.Pasir yang sudah berputar semalaman turun perlahan ke permukaan tanah dan menutup semua yang ada di bawahnya dengan lapisan yang rata dan tenang, seolah tidak ada yang pernah terjadi di bawahnya. Retakan di atas lokasi ruang pusat tertutup pasir tebal. Tidak ada tanda, tidak ada jejak, tidak ada sisa yang bisa dibaca oleh siapapun yang tidak turun ke sana semalam.Di antara gundukan pasir di sebelah barat kota, dua gundukan kecil terbentuk di permukaan yang tidak akan menarik perhatian siapapun yang tidak tahu apa yang ada di bawahnya. Tidak ada tanda batu. Tidak ada nama. Hanya pasir.Rakhim dan Zaryan tidak kembali ke Ashgar.Kabar mulai beredar di antara kultivator yang bermalam di Rumah Penginapan Angin Gurun sebelum matahari naik setengah jengkal."Ruang rahasia itu runtuh," kata seorang pedagang kepada teman duduknya di kedai pagi sam
Pada jurus kedelapan belas, ada rasa seperti logam panas di dalam mulutnya. Ia menelannya tanpa mengubah ekspresi dan melanjutkan gerakan berikutnya."Kau tidak perlu menyelesaikan ini," kata Rong Tian dengan nada yang turun sangat sedikit dari sebelumnya."Dua puluh tiga," kata Rakhim sambil napasnya menderu. "Aku memutuskan dua puluh tiga.""Kenapa dua puluh tiga?""Karena itu jumlah tahun aku menjaga Ashgar bersama Zaryan."Rong Tian tidak menjawab.Jurus sembilan belas. Dua puluh. Dua puluh satu. Dua puluh dua.Gerakan-gerakan itu semakin lambat. Tenaga di balik setiap jurus semakin tipis, seperti bara yang tidak mendapat udara baru namun tetap dipaksa menyala.Pasir di sekitar kaki Rakhim sudah tidak terlempar lagi karena tidak ada cukup tekanan di dalamnya untuk menggerakkan apapun.Jurus du
Zaryan melepaskan serangannya.Ia melesat duluan dengan seluruh Qi Jiwa Muda level 7 puncaknya yang dilepaskan sekaligus ke satu titik, mengumpulkan semua tenaga yang tersisa dalam meridiannya menjadi satu gelombang yang padat dan cepat.Serangan itu bukan pengujian. Bukan pemanasan. Ini serangan seseorang yang sudah memutuskan bahwa tidak ada cukup waktu untuk berhati-hati.Energi itu membentur sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata biasa di sekitar tubuh Rong Tian.Bukan dinding. Bukan perisai. Bukan teknik pertahanan yang bisa diidentifikasi oleh siapapun yang melihatnya. Energi Zaryan hanya bertemu sesuatu di sana dan berhenti melaju.Dan kembali.Bukan terpental dengan suara keras. Ia kembali dalam gelombang balik yang lebih padat dari saat keluar, seperti cairan yang dipaksa melewati celah yang terlalu sempit lalu dilepaskan dari sisi lain dengan t
Mereka keluar ke permukaan.Dan menemukan badai.Bukan badai pertama yang mereka lewati turun ke lorong sebelumnya. Ini lebih besar.Dinding pasir berputar dari tiga arah sekaligus, membawa suara gesekan pasir yang memenuhi seluruh pendengaran seperti ribuan pisau kecil yang digosok bersama tanpa henti.Jarak pandang turun ke jarak tidak lebih dari sepuluh langkah. Aura kultivator yang biasanya bisa dibaca dari jarak jauh menjadi kacau karena energi runtuhan dari bawah tanah masih merambat ke atas melalui tanah, mengganggu pembacaan Qi dari semua arah sekaligus."Formasi!" seru seseorang dari kelompok sekte-sekte ortodoks yang sudah ada di permukaan lebih dulu."Bagaimana mau formasi kalau tidak bisa melihat siapa ada di mana!" sahut suara yang lain dari balik dinding pasir."Jangan pisah dari kelompok kalian!" teriak suara ketiga yang su







