Partager

7. Perhatian yang lain

Auteur: Wintersnow
last update Date de publication: 2026-04-10 22:31:01

Rocy selalu merasa tak nyaman setiap kali dipanggil ke ruang kerja Duke Lockhart.

Bukan karena ruangannya yang suram atau letaknya yang jauh dari sayap pelayan. Tapi karena setiap kali ia berada di dalam ruangan itu, ia merasa seperti berdiri di tengah lapangan terbuka tanpa celah untuk bersembunyi.

Duke Lockhart memang tidak pernah berteriak. Tidak pernah memukul meja. Bahkan tidak pernah mengancam secara langsung. Ia hanya duduk tenang dan berbicara dengan nada yang sama pelannya dengan suara angin musim dingin yang masuk lewat celah jendela.

Dan entah kenapa itu terasa jauh lebih mengerikan.

"Ada pengiriman dari kota Grenwick yang harus diambil langsung," kata Killian tanpa mengangkat matanya dari dokumen di mejanya. "Kain, bumbu obat, dan beberapa perlengkapan kastil. Aku tidak mau mengirim pegawai biasa untuk urusan ini. Kau yang akan pergi."

Rocy menahan napas. Meskipun pelan, suara Killian terdengar seperti vonis yang tidak dapat dibantah.

Grenwick adalah kota kecil di dekat perbatasan Selatan. Perjalanan pulang pergi memakan waktu setidaknya empat hingga lima hari. 

Rocy mengernyitkan dahi. Bagaimanapun ini terdengar sangat mendadak, ia bahkan belum sempat melakukan apapun pada perhiasan baru Eleonora. Selain itu, sudah lewat beberapa hari setelah majikannya itu terakhir meminum tehnya. Pelayan itu khawatir jika kondisi majikannya itu akan membaik, apalagi Dokter Richard rajin memeriksa keadaan Eleonora pasca keguguran.

Wanita itu lantas merendahkan suaranya, mencoba terdengar penuh dedikasi, "Dengan segala hormat, Tuan Besar. Saya khawatir jika harus meninggalkan Nyonya dalam kondisi seperti ini. Beliau masih sangat terpukul setelah tragedi ini. dan beliau hanya percaya pada saya untuk melayani segala kebutuhan beliau."

“Apa kau berpikir bahwa tidak ada pelayan Lockhart yang cukup kompeten untuk mengurus majikannya?”

Ucapan itu berhasil membuat Rocy gelagapan, “T-tentu saja tidak! Saya tidak berani melakukannya. Namun, saya khawatir jika Nyonya merasa tidak nyaman dengan orang baru."

"Dia akan terbiasa,” Killian menutup dokumen di tangannya dengan gerakan tenang. "Kau akan berangkat besok pagi sebelum fajar. Kereta dan daftar barang akan disiapkan. Kau bisa pergi sekarang untuk berkemas.”

Rocy menunduk dalam. Tak ada ruang negosiasi disana, jadi ia tak punya banyak pilihan. "Baik, Tuan Besar. Saya akan melakukan yang terbaik."

*

"Kau… akan meninggalkan kastil?" tanya Eleonora sambil meremas tangannya dan berusaha memasang wajah sesedih mungkin.

Sore itu cahaya matahari masuk lewat jendela kamar, membuat debu-debu di udara nampak seperti bintik-bintik cahaya kecil. Eleonora duduk di tepi ranjang, sementara pelayannya itu berdiri beberapa langkah di hadapannya dengan wajah yang tertunduk lesu.

Eleonora sadar jika ia tak bisa selamanya menghindar dari Rocy. Dia juga tak mau membuat pelayannya curiga, apalagi setelah insiden beberapa hari lalu dimana ia membentak dan mengusir pelayan tersebut dari kamarnya. Itu memang tindakan yang gegabah, ia tahu. Dan sekarang ia mulai menyesal karena tak bisa mengontrol emosinya. Perempuan itu tak berani membayangkan apa yang akan Rocy ‘laporkan’ pada Baginda Ratu nanti.

Selain itu, dia juga masih belum menemukan petunjuk yang penting. Jadi meskipun enggan, Eleonora merasa perlu untuk ‘menempel’ pada pelayan liciknya tersebut lebih lama lagi..

"Benar, Nyonya." Rocy memasang ekspresi sendu yang sudah ia latih bertahun-tahun. "Tuan Besar memerintahkan saya untuk mengambil beberapa barang pesanan ke Grenwick. Katanya, ini hal yang cukup mendesak. Padahal, saya sebenarnya tidak mau meninggalkan anda dalam keadaan seperti ini.

Sudah bertahun-tahun, saya merawat anda seperti anak saya sendiri. Sungguh tidak bisa dibayangkan jika anda harus dilayani oleh orang asing. Ditambah lagi, kondisi anda masih sangat lemah. Hati pelayan ini terasa berat untuk meninggalkan anda."

Eleonora menurunkan pandangan, berpura-pura gugup. Tangannya meremas ujung selimut. Ia mengangkat kepala dengan ragu, memainkan peran lamanya dengan lihai, "Kalau aku.. Hmm, seandainya aku meminta Killian untuk tidak mengirimmu pergi, apa kau pikir dia akan mempertimbangkannya?"

Mata cokelat Rocy berkilat memancarkan harapan. Dengan kondisi Eleonora yang sekarang, Killian mungkin saja akan merasa iba, "Itu ide bagus, Nyonya! Tuan Besar tidak akan tega jika tahu anda takut ditinggal. Kalau anda mau sedikit saja membujuknya, saya pasti akan diperbolehkan untuk tetap tinggal di sisi anda!"

Eleonora menatap wajah pelayan yang pernah ia anggap sebagai satu-satunya temannya di Lockhart. Perempuan yang di kehidupan sebelumnya menemaninya sampai detik-detik terakhir… sambil menyaksikannya sekarat karena racun.

Ada rasa mual yang naik dari perut. Tapi ia menelannya.

Diggenggamnya selimut lebih erat sambil menurunkan bahu seolah kalah sebelum bertarung. "Aku tidak berani meminta hal seperti itu pada Killian. Dia... dia pasti akan marah."

Rocy mengerutkan dahi kecewa. "Tapi, Nyonya. Setidaknya anda bisa mencobanya. Demi saya."

"Mm, permintaan kecil saja sudah membuatku gugup, apalagi memintanya mengubah keputusannya. Dan juga dia terlihat menakutkan jika sedang marah." Eleonora menunduk, suaranya diturunkan setengah oktaf, “Itu membuatku takut. M-maaf, Rocy. Aku tak bisa membantumu. Aku ini benar-benar payah."

Pelayan itu terdiam sejenak. Lalu bahunya merosot sedikit. Bukan karena iba—melainkan karena rasa kecewa. Tapi setidaknya, ada satu hal yang membuatnya lega. Majikannya itu ternyata masih penakut dan bodoh seperti sebelumnya.

Nampaknya apa yang dikatakan Dokter Richard benar. Keguguran membuat emosinya tidak stabil.. Hm, akan kutambahkan dosisnya setelah aku kembali dari Grenwick. Lalu aku akan menyebarkan rumor jika Duchess menjadi agak gila setelah kehilangan anaknya. Ah, jika Baginda Ratu mengetahui hal ini. beliau pasti akan mengirimkan imbalan yang pantas untukku..

“Kalau begitu, saya tidak bisa berbuat apa-apa," katanya sambil menghela nafas panjang. "Tapi Nyonya, jika saya kembali nanti, ijinkan saya kembali mengurus anda. Beberapa hari ini banyak hal yang terjadi sehingga membuat saya tak bisa merawat anda dengan benar. Pikiran saya terasa berat jika memikirkan keadaan anda. Sungguh.”

Eleonora mengangkat kepala, memberikan senyum kecil yang sekilas nampak seperti seringai. Dia lantas menggenggam tangan Rocy dengan erat, "Tentu saja! Kau sudah merawatku selama ini. Jadi, aku pasti akan membalas usahamu berkali-kali lipat."

Mata pelayan itu berkilat senang dan senyumnya melebar membayangkan hadiah yang akan diberikan Eleonora padanya. Ia membungkuk rendah, kali ini hampir menyerupai gerakan hormat pada majikannya, "Anda sungguh baik hati, Nyonya. Kalau begitu, saya akan kembali ke kamar untuk berkemas."

Eleonora tersenyum samar dan terus melihat ke arah pelayannya yang berjalan keluar kamarnya. Begitu pintu tertutup, senyum itu lenyap dari wajah Eleonora.

“Kenapa tiba-tiba jadi begini? Seingatku, hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Apakah ada sesuatu yang terjadi di Grenwick, atau… di kastil ini?” tanyanya dengan suara pelan pada dirinya sendiri.

Lalu tiba-tiba saja ia teringat percakapannya dengan Killian bahwa ia tak ingin bertemu dengan Rocy untuk sementara waktu. Mendadak, senyum Eleonora muncul. Suaminya ternyata benar-benar mendengarkan keluhannya.

“Yah. Untuk sekarang, ini cukup menguntungkan untukku.”

*

Rocy menemui Iglesias di ruang pencatatan sebelum larut malam, saat lorong-lorong kastil sudah mulai sepi.

"Duke menyuruhku ke Grenwick," katanya langsung, tanpa basa-basi.

Iglesias tidak mengangkat matanya dari buku besarnya. "Aku sudah dengar."

"Eleonora tidak mencoba menahanku. Bahkan tidak bertanya lebih jauh." Rocy menarik kursi dan duduk tanpa dipersilakan. "Kau tahu sendiri dia seperti apa. Takut bayangan sendiri. Kemungkinan besar dia tidak tahu apa-apa. Ah, aku merasa lega. Beberapa hari ini aku sulit tidur karena memikirkan kenapa dia terasa berbeda. Ternyata cuma khayalanku saja. Si bodoh itu masih sama payahnya dengan yang kuingat.."

Iglesias menutup buku catatannya pelan. "Apa yang Duke katakan padamu?"

Rocy memutar bola matanya setelah selesai menceritakan percakpan singkat dengan Killian tadi sore. "Sejak kapan dia peduli pada pegawai baru? Biasanya kalau ada yang menghilang, dia cukup menuliskan nama baru di daftar."

Kepala pelayan itu mengetuk ujung pena ke meja. Sekali. Dua kali, "Dia menyebutkan alasan lain?"

"Tidak." Rocy menyandarkan kepala ke sandaran kursi, menatap langit-langit. "Aku sempat mengusulkan untuk tetap tinggal. Mengatakan bahwa istrinya yang bodoh itu sangat bergantung padaku. Tapi, dia menolaknya mentah-mentah, Yah, kita lihat saja nanti. Bisa apa Eleonora tanpa aku?."

Iglesias tidak menjawab. Tapi di kepalanya, potongan-potongan kecil mulai bergerak.

Duke menyuruh Dokter Richard menyiapkan makanan Eleonora dari klinik.dan mengutus asisten dokter tersebut untuk mengawasi istrinya. Ia juga mulai mengecek laporan pembukuan dan mengirim pelayan pribadi istrinya keluar kastil. Meskipun segalanya seperti tidak saling berkaitan, semua itu terjadi dalam rentang waktu yang terlalu singkat untuk disebut kebetulan.

"Sepertinya Duke sudah mulai memeriksa sesuatu," gumamnya.

Rocy mengangkat kepala. "Memeriksa apa? Keuangan? Duh! Itu sudah kita atur sedemikian rapi selama bertahun-tahun. Tidak mungkin dia bisa menemukan ujungnya. Yang kukhawatirkan hanya tehnya. Aku khawatir efeknya akan berkurang. Dia sudah beberapa hari ini tidak meminumnya dan mendapat pengawasan khusus dari dokter."

Iglesias mendesah panjang. Kemarin ia sudah mencari tahu apa yang sedang terjadi dan nampaknya Killian memang sedang menyiapkan diri untuk pemeriksaan keuangan yang diadakan setahun sekali. Namun, karena akuntannya yang biasa mengurus hal itu sedang jatuh sakit. Killian memutuskan untuk turun tangan.

Salah satu pelayan juga berkata bahwa nampaknya Duke tidak begitu ahli dalam hal tersebut sehingga membuat dua orang pegawai keuangan sampai menggerutu ketika keluar dari ruangan karena Duke bertanya dengan sangat detail, termasuk pada hal-hal yang mendasar.

Apakah aku terlalu banyak berplikir? Kurasa Rocy benar. Mau diteliti seperti apapun, Killian takkan menemukan apa-apa. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Aku akan mengurus tehnya. Jadi, kau tak perlu khawatir. Lalu sesampainya disana, kau bisa langsung mengirim surat pada Baginda Ratu. Grenwick bukan kota besar, jadi takkan ada yang curiga dengan surat seorang pelayan yang datang untuk mengambil barang. Dan lagi, kurasa ini waktu yang tepat untuk mempercepat rencana kita sebelum Killian menyadari apa yang terjadi.”

*

Eleonora baru saja selesai menyisir rambutnya dan bersiap untuk tidur ketika mendengar suara pintu diketuk. Jantungnya sedikit melonjak saat melihat suaminya melangkah masuk, begitu ia membuka pintu. Laki-laki itu masih mengenakan pakaian kerjanya, kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan bekas luka samar di lengan bawahnya.

Di belakangnya, dua pegawai kastil membawa masing-masing satu kotak lagi.

"Taruh di sana." Ia mengangguk ke arah meja panjang di sisi kanan ruangan. Kedua pegawai itu melakukan tugasnya dengan cepat dan pergi setelah menundukkan kepalanya dengan sopan.

Eleonora melihat wajah suaminya dengan wajah bingung. "Apa ini?"

Killian meletakkan kotak terakhir dan membukanya tanpa basa-basi, "Untuk perjamuan minggu depan."

"Oh—" Eleonora berdiri dan mendekat dengan ragu. Gaun itu sangat indah. Warnanya seperti langit saat matahari belum terbit sepenuhnya. Tangannya terulur untuk menyentuh permukaan kain sutra yang lembut dan berkilauan seperti permukaan danau di bawah cahaya bulan.

Gaun itu memang memiliki potongan sederhana, sama seperti gaun-gaun pesta biasanya. Tapi detail sulamannya halus. Tidak berlebihan, tapi jelas terlihat sangat mahal.

Perempuan itu kemudian membuka kotak kedua yang berisi satu set perhiasan perak dengan batu safir. Kalung, anting, dan gelang tipis. Bahkan Eleonora yang tidak paham perhiasan bisa merasakan bahwa ini berbeda dari yang selama ini ia pakai..

Ia menelan ludah. "Ini sangat indah. Terima kasih."

Killian hanya mendengus pelan, seolah pujian itu mengganggu. "Aku akan menyuruh pelayan untuk membuang seluruh isi lemarimu besok pagi.”

“Apa? Kenapa? Tidak ada yang salah dengan isi lemariku.”

“Aku mendengar sebuah laporan,” jawab Killian sambil mendecakkan lidah. Wajah Rolland muncul di otaknya saat berkata, “Bahwa jumlah gaun milk Duchess Lockhart tidak lebih banyak daripada pelayan kastil.”

“Hah? Tapi Lian, itu masih bisa dipakai."

"Sebagai lap pel untuk lantai kastil? Ya, mungkin bisa dipertimbangkan. Aku sudah memanggil orang dari butik Madame Giselle. Mereka akan membawa katalog terbaru nanti. Jadi pilihlah gaun, mantel, dan sepatu, atau apapun yang kau mau. Jangan ada yang terlewat."

Eleonora meremas ujung lengan bajunya. Menjahit ulang seluruh isi lemari dari butik ternama di ibukota? Itu butuh biaya yang luar biasa besar. "Lian, ini sungguh berlebihan... kau tidak perlu menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk pakaian sehari-hariku. Biaya pembangunan rumah kaca juga cukup besar. itu tidak… efisien."

Mendengar penolakan itu, rahang Killian mengeras. Laki-laki itu melangkah maju memangkas jarak di antara mereka, membuat Eleonora harus sedikit mendongak untuk menatap mata abu-abunya, “Tidak efisien? Jadi kau berencana datang ke perjamuan itu dengan menggunakan pakaian compang-camping seperti rakyat jelata? Apakah mempermalukanku termasuk tindakan efisien?”

“Bukan seperti itu, Lian. Aku hanya--,”

“Eleonora, kau adalah wajah dari Lockhart. Sadari posisimu. Dan sioal uang, itu adalah urusanku. berhenti ,mengkhawatirkan hal yang bukan tugasmu. Satu-satunya tugasmu adalah tidak membuatku malu.. Itu saja.“

Ucapan itu membuatnya tertegun selama beberapa detik.

Di kehidupan pertamanya, ia pasti sudah menunduk dan meminta maaf dengan suara bergetar sambil menahan air mata. Ia akan mengira Killian sedang marah padanya atau menganggapnya beban yang harus diurus agar tidak menjadi masalah besar.

Tapi sekarang, dengan semua yang sudah ia ketahui—dengan semua yang sudah ia lihat dari kehidupan sebelumnya—ia mulai menafsirkan kalimat itu secara berbeda.

Killian telah menganggapnya lebih dari sekedar ‘hadiah’ yang dilempar oleh Baginda Raja. Dia adalah Ducheess Lockhart dan layak mendapatkan yang terbaik dari daerah ini.  

Itulah sebabnya Killian mengiyakan pembangunan rumah kaca atau memberikan beberapa baju yang mewah. Bukan karena kasihan atau sebagai bentuk penghinaan. Tapi ini adalah caranya untuk memperhatikannya.

Eleonora sadar jika Killian tidak memperlakukannya sebagai beban. Melainkan sebagai orangnya, bagian dari Lockhart. Sehingga reputasi, kenyamanan, dan kesejahteraannya merupakan bagian dari ‘urusannya’.

Ada sesuatu yang hangat menjalar di dadanya. Suaminya itu ternyata lebih perhatian dari yang ia sangka.

"Aku mengerti," balas Eleonora dengan suara lembut. "Terima kasih banyak, Lian. Aku akan berusaha agar tidak mempermalukanmu."

Ada jeda sebentar sebelum Killian berdehem dan berbalik pergi. Ketika sampai di ambang pintu, ia menghela nafas dan berkata, “Minumlah obatmu dengan baik. Aku tak mau mendengar keluhan Dokter Richard kalau kau melewatkannya.”

Perempuan itu mengangguk sambil mengulum senyum, “Aku akan mengingatnya. Selamat malam, Lian.”

Laki-laki itu melihatnya sebentar sebelum memberikan dengusan sebagai balasan dan pergi begitu saja tanpa menoleh ke belakang.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Dari Puteri Yang Terbuang, Menjadi Duchess Yang Berkuasa   16. Jebakan

    Kilian menyelinap masuk ke dalam ruang pribadinya di perbatasan. Dia melepaskan rambut palsu dan jubah hitamnya sebelum memasukkannya ke laci paling bawah. Dinyalakannya lentera kecil di mejanya sebelum ia mengambil beberapa lembar kertas dari balik kemejanya.Laki-laki itu terus membaca laporan dari informannya itu dengan serius, meskipun ia sudah membacanya tadi.Fokusnya lantas terjadi saat ia mendengar sebuah ketukan halus yang iramanya tak beraturan. Killian menghela nafasnya karena tahu bahwa Rolland-lah yang ada di balik pintu. Ia menata lembaran kertas itu dan berkata, “Masuklah.”“Kau kembali cukup cepat, ya? Aku agak kaget saat melihat lampu tempat kerjamu dinyalakan pada tengah malam begini,” balasnya sambil menaruh tumpukan kertas di mejanya.”Ini laporan yang kauminta. Apa segalanya berjalan lancar?”“Begitulah,” balas Killian singkat sebelum mulai membaca laporan yang dibawa temannya tersebut. Namun beberapa detik kemudian, dahinya berkerut,”Rolland… darimana kau menemuka

  • Dari Puteri Yang Terbuang, Menjadi Duchess Yang Berkuasa   15. Rumor Jahat

    Dokter Richard mengelap dahinya yang berkeringat dengan saputangan. Semalam ia hanya tidur selama tiga jam karena merawat para pedagang yang untungnya berhasil melewati masa kritis. Meskipun ada si Tabib Tua, tapi ia merasa bertanggung jawab sepenuhnya atas pasien-pasien tersebut.Meskipun sudah cukup sibuk, ia masih mendapat tugas tambahan untuk ‘memalsukan’ laporan keadaan Killian dan menyebarkan rumor bahwa sang Duke sedang terkapar tak berdaya.Dan sekarang, tugasnya bertambah lagi yaitu meyakinkan Eleonora untuk kembali ke kastil. Tugas ini dirasa paling berat. Untuk beberapa alasan, ia enggan sekali membohongi perempuan tersebut lebih jauh lagi. Apalagi sekarang Eleonora sudah mengganti gaunnya dengan pakaian perawat yang lebih ringan saat dipakai. Dilihat dari ukurannya yang agak longgar, pasti ia meminjamnya dari Marie.Belum lagi ditambah dengan temuannya soal Cryvenna pallida dalam racun tersebut, membuat kepala lelaki tersebut berdenyut. Migrainnya bisa saja kambuh sekaran

  • Dari Puteri Yang Terbuang, Menjadi Duchess Yang Berkuasa   14. Anting-anting Perak

    Rolland tidak tahu jika istri sahabatnya itu bisa jadi sangat keras kepala. Bahkan setelah mlewati percakapan yang panjang dan melelahkan selama satu jam penuh, dia tak punya cara untuk meyakinkan Eleonora untuk terus berada di dalam rumahnya.Jadi, sekarang di dalam kereta kuda itu, Eleonora duduk berhadapan dengannya dengan senyum ramahnya yang biasa.Masalahnya adalah Killian sudah pergi sejak kemarin setelah mendapat petunjuk tentang siapa pembeli para bandit tersebut. Dia mungkin akan kembali nanti malam atau besok pagi. Tapi, Rolland sendiri tak yakin.Lelaki itu menahan diri untuk tidak menggaruk kepalanya sambil memikirkan bagaimana cara mengalihkan perhatian perempuan ini selama seharian penuh.“Bagaimana kabar adik perempuanmu, Komandan Green?”Pertanyaan tiba-tiba itu membuat pikiran Rolland berhenti, “Dia.. baik-baik saja.”“Kudengar dia akan menikah tahun ini. Dengan Baron dari daerah timur ya?”Rolland menghela nafas panjang, “Benar, dari daerah Wilfred.”Meskipun Eleon

  • Dari Puteri Yang Terbuang, Menjadi Duchess Yang Berkuasa   13. Apotek Magnolian

    Ratu Annelies Merr de Elgresia sedang melipat surat yang telah dibacanya dengan senyum sinis saat suaminya Raja Normand Algor de Elgresia masuk ke dalam ruangan kerjanya dan bertanya, “Ada kabar baik?”“Dia keguguran.”Normand menghela nafas lega, “Syukurlah. Kabar kehamilanitu sudah membuatku sakit kepala. Apalagi isi suratnya saat menceritakan hal itu sangat menjijikan. Apa gunanya anak yang terlahir dari orang yang tak berguna?”“Sudah dapat kabar dari perbatasan?”“Berjalan dengan baik. Dia sedang kritis sekarang. Meskipun dokter datang tepat waktu dan bisa menyelamatkannya, racun itu akan tetap mengendap disana..”Annelies mulai mengambil pena dan menuliskan secarik kertas, “Kudengar hubungan mereka membaik setelah Elonora keguguran. Simpati sesaat mungkin. Tapi, kau harus ingat. Waktu kita tinggal sedikit.”“Aku tahu. Lockhart harus jatuh ke tangan kita sebelum Julian naik tahta,” balas Normand cepat. Selain memiliki kekuatan militer dan beberapa tambang mineral yang berharga,

  • Dari Puteri Yang Terbuang, Menjadi Duchess Yang Berkuasa   12. Akar Vethara

    Eleonora berjalan dengan langkah ringan. Senyumnya juga tidak menghilang sejak tadi pagi. Marie, yang berjalan disisinya nampak ikut senang dengan perubahan mood majikannya tersebut, Bagaimanapun, Duchess Lockhart terlihat lebih sehat dari sebelumnya. Dan lebih tenang, tentunya.Mereka berdua sedang dalam perjalanan untuk kembali ke kamar Eleonora setelah seharian berada di dalam klinik dan membuat beberapa ramuan obat.“Terima kasih atas bantuannya, Nyonya. Padahal Dokter Richard sudah memerintahkan saya untuk menjaga anda agar tidak terlalu kelelahan. Tapi, anda malah terjaga sepanjang malan dan membantu pekerjaan saya dalam meracik ramuan obat.”Eleonora menggeleng, “Tolong rahasiakan ini dari Dokter Richard, tapi aku benar-benar merasa lebih baik saat kembali menggunakan lumpang dan alu porselen lagi. Ah, rasanya seperti bertemu dengan teman lama. Jika ada yang bisa kulakukan lagi, beritahu aku ya. Sampai rumah kaca berhasil dibangun, aku punya banyak waktu luang.”“Saya tidak bis

  • Dari Puteri Yang Terbuang, Menjadi Duchess Yang Berkuasa   11. Hal yang tidak perlu

    Perbatasan timur daerah Lockhart berbeda dari wilayah kastil.Tanahnya lebih keras, udaranya lebih tajam, dan pohon-pohon Birch di sisi hutan berdiri dengan jarak yang terlalu rapat, seperti sekumpulan bayangan.Pos perbatasan kecil itu terdiri dari beberapa bangunan batu rendah dan satu menara pengawas yang tramping tapi cukup tangguh untuk menghadapi angin musim dingin di sana.Dokter Richard menghadap Killian dua jam sebelum matahari tenggelam,"Kenapa kau di sini? Apa kau lupa apa tugas yang kuberikan padamu semalam?" tanyanya dengan suara dingin saat dokter yang sudah puluhan tahun mengabdi di Lockhart itu selesai memberi salam.“Saya hendak mengirim perbekalan medis yang anda minta,” balas Dokter Richard sambil menunduk dan mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kebenaran.“Itu tidak mendesak.”“Tuan Besar., ada sebuah masalah,” balasnya dengan nada berhati-hati sebelum ia menambahkan, “Semalam Duchess bermimpi bahwa anda beserta pasukan akan diserang dan diracuni oleh bandit-

  • Dari Puteri Yang Terbuang, Menjadi Duchess Yang Berkuasa   10. Perbatasan Timur

    Langit-langit klinik adalah hal pertama yang dilihat Eleonora saat membuka mata.Bukan langit-langit kamarnya yang tinggi dengan ukiran kayu di sudut-sudutnya. Melainkan plafon putih bersih yang terlalu polos, diterangi cahaya pagi yang masuk dari jendela kecil di sisi kanan. Bau tanaman kering dan

  • Dari Puteri Yang Terbuang, Menjadi Duchess Yang Berkuasa   8. Berkat Terselubung

    Asisten dari butik Madame Giselle tiba tepat setelah Eleonora menyelesaikan sarapannya. Ditemani dengan Marie, ia turun ke ruang tamu di lantai bawah,Dahinya berkerut saat melewati ;lorong depan sayap timur yang penuh dengan pelayan yang lalu-lalang membawa tumpukan kotak-kotak panjang berlapis ke

  • Dari Puteri Yang Terbuang, Menjadi Duchess Yang Berkuasa   6. Rosemary dan Mint

    Rosemary dan daun mint yang dibawa Marie keesokan paginya ternyata lebih segar dari yang dibayangkan Eleonora. Dua ikat kecil yang masih basah oleh embun pagi itu langsung ia terima dengan kedua tangan terbuka dan wajah berseri-seri. Marie tidak berkata apa-apa. Tapi perempuan muda itu berdiri seb

  • Dari Puteri Yang Terbuang, Menjadi Duchess Yang Berkuasa    5. Putri Palsu

    Eleonora memiringkan kepalanya saat ia melihat seorang perempuan muda masuk ke dalam kamarnya dengan senyum lebar, “Selamat malam, Nyonya. Nama saya Marie Kerr, perawat dari klinik keluarga sekaligus asisten dari Dokter Richard. Duke Lockhart memerintahkan saya untuk datang untuk mengecek keadaan an

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status