LOGINKerutan di dahi Killian semakin dalam saat melihat ekspresi terkesima dari para tabib-tabib yang sedang memeriksa luka para pengawal.
Tabib yang paling tua dari mereka lantas mendekatinya dan berkata, “Anda tidak perlu khawatir, Duke Lockhart. Berkat pertolongan pertama yang tepat, racun-racun ini bisa diatasi sebelum nyawa mereka terancam. Proses pemulihannya juga akan terjadi semakin cepat. Jadi, besok lusa anda sudah bisa melanjutkan perjalanan dengan nyaman.”
“Begitu ya.”
“Saya tidak menyangka jika anda memiliki kemampuan pengobatan yang baik. Menggunakan daun yarrow yang sudah ditumbuk sebagai pertolongan pertama adalah ide yang jenius. Sekaligus pilihan yang sangat murah hati. Tanaman itu cukup langka dan memiliki harga cukup mahal karena agak sulit dibudayakan, tapi anda rela menggunakannya untuk pengawal anda.”
Killian tersenyum kecut, “Itu perbuatan El--, istriku.”
“Istri… anda?” tanya Tabib itu heran, tak menyangka jika Duke Lockhart ternyata sudah menikah. “Jika anda berkenan, bolehkah saya berbicara dengan beliau? Tentu saja, ini menyangkut masalah pengobatan.”
Killian tak mengatakan apapun dan dengan jari telunjuknya, ia memberi tanda pada Eleonora untuk mendekat.
Tabib itu semakin terkejut saat melihat Eleonora. Buru-buru, ia membungkuk dengan sopan, “Saya memberi salam pada putri kerajaan Elgresia. Sebuah kehormatan bisa bertemu langsung dengan bintang kekaisaran. Semoga Dewa selalu memberkati anda sekeluarga.”
“Tegakkan tubuh anda, Tuan Tabib.”
“Sekarang saya mengerti. Tentu saja, dengan adanya anda disini, keberadaan daun yarrow ini bisa dijelaskan. Kalau begitu, tugas saya bisa dikatakan selesai sampai disini. Setelah ini, kami akan bekerja di bawah komando anda, Yang Mulia.”
Killian mengerutkan dahi, “Keberadaanmu disini adalah kehendakku. Kau tak boleh bertindak sesuka hatimu disini.”
Tabib itu kembali membungkkukan tubuhnya, “Maaf, ucapan saya sudah menyinggung anda, Duke. Tapi, Yang Mulia Duchess adalah salah satu lulusan terbaik di bidang herbologi dan pengobatan tradisional. Ilmu yang beliau miliki jauh lebih luas daripada saya. Justru jika saya bekerja sendiri, itu adalah penghinaan bagi Duchess.”
Eleonora melempar senyum samar ke arah suaminya yang nampak kesal. Dengan sengaja, ia merangkul lengan kaku milik suaminya dan meremasnya dengan keras, berusaha menahan saat Killian hendak menariknya secara paksa, “Saya benar-benar tersanjung atas pujian itu, Tuan Tabib. Tapi, saya tentu tak bisa menolak permintaan suami saya. Bagaimanapun, dia tak ingin saya merasa lelah atau kerepotan. Apalagi sisa perjalanan kami masih cukup jauh.”
Tabib itu tertegun untuk beberapa saat setelah mendengar ucapan Eleonora yang terlihat malu-malu. Seingatnya, Duke Lockhart dikenal sebagai sosok yang angkuh, kasar, dan sulit didekati.
Namun siapa sangka jika pahlawan di medan perang juga bisa memiliki sisi lembut pada istrinya. Ini membuatnya teringat akan sebuah pepatah bahwa pernikahan bisa melunakkan hati yang keras.
Tabib Tua itu lantas tersenyum penuh pengertian, “Maaf atas kelancangan saya. Jika begitu, anda sekalian jangan khawatir. Kami akan bekerja keras sehingga perjalanan anda takkan terganggu.”
“Tunggu dulu. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi ini tidak seperti dugaanmu,” sela Killian saat melihat ekspresi laki-laki tua tersebut.
“Saya mengerti, Duke. Tentu saja, di mata saya, anda tetap seorang pahlawan yang gagah dan berwibawa,” balas Tabib Tua itu sebelum pamit untuk membantu anak buahnya.
Killian berdecak kesal. Ditariknya lagi lengannya dengan kasar sebelum ia mengalihkan pandangannya yang tajam ke arah Eleonora yang sedang tersenyum, “Apa yang kau pikir sedang kau lakukan?”
“Tidak ada,” balas perempuan itu santai.
Namun dari sudut matanya, ia bisa melihat pelayan pribadinya sedang mengamatinya dari kejauhan. Ia lantas menggerakkan jarinya untuk menyuruh suaminya mendekat, “Ada banyak mata disini. Tidak ada salahnya membuat mereka berpikir bahwa kita adalah pasangan yang saling mencintai.”
Killian lantas menjauh dari tubuh istrinya dan menatap Eleonora seolah perempuan itu memiliki tiga hidung, “HAH?”
“Dengan begitu, akan ada banyak pihak yang akan mendekati Duchess Lockhart dan kau bisa memanfaatkannya dengan baik,” jawab Eleonora dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh suaminya.
Ada jeda keheningan sebelum Killian menatapnya dengan serius, “Kau sedang mempertaruhkan reputasiku, Nona. Lagipula, umpan lemah sepertimu bisa dimangsa sebelum kau sempat menyadarinya.”
“Jika ada hal buruk yang terjadi, bukankah kau tinggal melindungiku saja? Seperti yang biasa kau lakukan. Sekarang, kita adalah tim yang sedang mencari keuntungan bagi satu sama lain. Kali ini, kita pasti berhasil.”
Killian hendak membalas ucapan itu dengan nada sengitnya yang biasa. Tapi urung saat melihat wajah Eleonora yang mendadak sendu, seolah ucapan tersebut tidak sedang ditujukan kepadanya. Melainkan pada sesuatu yang jauh dari masa kini. Laki-laki itu menghela nafas dengan kasar dan berbalik pergi tanpa mengatakan apapun.
*
Rocy berusaha menahan diri untuk tidak menggaruk lehernya yang terasa seperti disengat puluhan lebah. Rasa gatal itu tidak berkurang meski ia sudah mengoleskan salep dingin yang diberikan oleh salah satu tabib yang sedang dibantunya itu.
Setelah kerusuhan yang terjadi semalam, Eleonora memang memerintahkannya untuk membantu para tabib menyiapkan semua hal yang diperlukan dan tugas ini membuatnya terjaga sepanjang malam.
Meski demikian, ia masih sempat mengirim sebuah pesan rahasia lewat burung merpati, untuk memberitahu Ratu Annelise tentang hubungan Eleonora dan Killian yang ia nilai cukup akrab. Sekitar enam jam kemudian, Rocy menerima surat balasan dengan isi perintah yang singkat.
Laporkan terus semua gerak-gerik mereka dan buat ia tak nyaman di rumah barunya.
Isi surat itu membuat senyumnya semakin lebar. Pasalnya hanya dengan tugas semudah itu, Raja dan Ratu Algresia telah menjanjikan banyak imbalan untuknya. Rocy yakin setelah rencana itu berhasil, ia tak perlu bekerja lagi di sepanjang sisa hidupnya.
Matahari sudah terbit agak tinggi saat Rocy sudah menyiapkan makan siang untuk majikannya. Eleonora sedang duduk di dalam tendanya sambil membaca sebuah buku dengan huruf yang tidak dikenali Rocy.
Pelayan itu menaruh sepiring roti panggang dengan saus mentega di dekat Eleonora,“Silahkan, Yang Mulia. Adakah lagi yang anda perlukan?”
“Apakah suamiku sudah kembali?”
“Belum, Yang Mulia.”
”Tidakkah ia begitu manis? Tahukah kau jika ia bangun pagi-pagi sekali untuk membeli beberapa loyang roti dan bahan makanan untukku? Bahkan sebelum pergi, ia memastikan agar aku tidak kelaparan,”ucap Eleonora dengan senyum lebar. Padahal ucapan barusan hanyalah karangannya saja.
Killian memang pergi ke desa terdekat, tapi bukan sekedar untuk membeli makanan. Melainkan semua perbekalan yang cukup untuk beberapa hari kedepan. Ia juga perlu melakukan penyelidikan mendalam untuk bandit-bandit yang berani menyerangnya.
Meski demikian, Rocy nampaknya menelan kebohongan itu bulat-bulat. Karena Eleonora bisa melihat ekspresi tak suka dari wajahnya. Namun sedetik kemudian, pelayan itu tersenyum ramah dan berkata, “Saya senang jika hubungan anda berdua baik-baik saja, Yang Mulia. Rumor-rumor yang beredar tidak terdengar menyenangkan,”
“Rumor apa?” tanya Eleonora dengan ekspresi pura-pura terkejut.
“Hm. Tapi, ini bukan rumor yang enak didengar,” balas Rocy sambil menundukkan kepala, berpura-pura sungkan. Namun, ini adalah taktik untuk memancing rasa ingin tahu dari lawan bicaranya.
Eleonora tentu bisa membaca niat pelayannya dengan baik dan ia memutuskan untuk ikut dalam permainan tersebut, “Jika ini menyangkut Killian, aku perlu mengetahuinya!”
“Baiklah, jika Yang Mulia memaksa. Saya rasa Duke sedang mempermainkan anda, Yang Mulia. Rumor yang tersebar itu mengatakan jika beliau memiliki teman perempuan yang tinggal di daerah utara. Hubungan mereka pun terlihat sangat dekat.”
“Teman perempuan?”
Rocy mendekatkan diri untuk berbisik di dekat telinga majikannya, “Saya dengar ada beberapa orang yang melihat mereka bermalam di tempat yang sama. Dia adalah putri tunggal dari keluarga Count Delaroz, Roseana von Delaros.”
Eleonora menahan diri untuk tidak menggigit bibirnya. Rumor yang ia dengar masihlah sama seperti kehidupan pertamanya. Dulu, terpengaruh dengan ucapan Rocy, Eleonora sengaja membuat banyak masalah dengan Roseana. Tidak menyadari bahwa ia adalah gadis manis yang memiliki reputasi baik di kalangan bangsawan maupun rakyat biasa.
Hal ini malah membuat Eleonora tidak disukai rakyatnya dan dikucilkan oleh keluarga bangsawan lainnya.
Setelah tiga tahun, barulah ia sadar jika rumor itu keliru. Roseana akhirnya menikah dengan laki-laki lain dan hidup bahagia. Sedangkan Eleonora sudah terlanjur dibenci dan dicap sebagai perempuan pembuat onar.
“Ah, begitu.”
Melihat ekspresi majikannya yang tenang, Rocy mengerutkan dahinya. Reaksi itu tentu berbeda dengan harapannya. Namun, ia segera menambahkan, “Yang Mulia tak perlu khawatir. Saya tahu beberapa cara untuk membuat pernikahan anda tetap harmonis. Saya yakin itu juga yang diharapkan oleh Baginda Raja.”
Dulu, jika mendengar soal ayahnya, Eleonora pasti akan mengerahkan segala cara untuk membuatnya terkesan. Setidaknya, ia ingin terlihat berguna.
Tapi sekarang, ucapan itu terasa seperti olok-olok baginya.
Bagaimana bisa aku sebodoh itu?
“Yang Mulia? Ada masalah?”
“Ah, tidak. Hanya saja, aku melihat sesuatu di lehermu.”
Refleks, Rocy mundur beberapa langkah dan menutup lehernya dengan tangannya, “I-ini hanya gatal biasa!”
“Lukanya sudah infeksi. Akan sangat berbahaya jika tidak ditangani. Kemarilah, aku akan memeriksanya.”
“Anda tak perlu khawatir, Yang Mulia. Tabib telah memberikan salep dan kondisi saya akan membaik dalam waktu singkat,” ucap Rocy dengan cepat. Jantungnya berdebar keras. Takut bila Eleonora bisa melihat kalung yang sedang dipakainya sekarang, ia membungkukkan tubuhnya dan keluar dari tenda dengan langkah lebar.
Sementara Rocy pergi mencari tas untuk menyimpan kalung curiannya, Eleonora menyobek roti buatan pelayannya itu dan setelah beberapa saat, ia bisa mencium aroma pahit yang sangat samar. Ia berdecak kesal karena dulu tak menyadari adanya campuran obat dalam makanannya.
Setelah memeriksanya lagi, Eleonora yakin jika pelayannya itu telah memasukkan obat penenang dalam dosis kecil. Tidak membahayakan.
Tapi jika digunakan terus menerus, bisa menyebabkan otaknya tumpul sehingga sulit mengambil keputusan.
Pantas saja, dulu ia begitu bergantung pada Rocy hingga mengabaikan insting serta kemampuannya sendiri. Sampai akhirnya, pelayan kepercayaannya itu kabur. Meninggalkannya di kastil, meratapi kematian suaminya.
Dilemparkannya roti tersebut di tanah sebelum ia menginjaknya hingga hancur. “Kali ini. aku takkan jatuh pada trik yang sama.”
Killian sedang memeriksa laporan yang diberikan oleh petugas keamanan setempat. Setelah melalui banyak proses interogasi, bandit-bandit itu tetap mengatakan bahwa tidak ada yang memerintahkan mereka untuk melakukan penyerangan pada kelompok Killian. Itu semua murni karena keinginan pribadi dan bagian dari pekerjaan mereka.“Nampaknya, pertemuan dengan anda adalah sebuah kecelakaan yang merugikan mereka,” kata salah satu petugas keamanan di kantor kecil itu. “Bandit-bandit itu memang sering berkeliaran dan membuat keributan dengan para pedagang yang lewat disana. Tapi, tak ada yang bisa kami lakukan selain membayar uang keamanan pada mereka. Selain memiliki banyak anggota , senjata yang mereka miliki cukup berbahaya,”“Seharusnya kalian melaporkannya ke Ibukota. Baginda Raja akan mengirimkan bantuan yang diperlukan.”Petugas itu meringis, “Kami sudah menghabiskan cukup banyak dana untuk membuat laporan keamanan ke Ksatria Elite. Setidaknya, ada tiga laporan yang telah kami kirimkan kes
Kerutan di dahi Killian semakin dalam saat melihat ekspresi terkesima dari para tabib-tabib yang sedang memeriksa luka para pengawal. Tabib yang paling tua dari mereka lantas mendekatinya dan berkata, “Anda tidak perlu khawatir, Duke Lockhart. Berkat pertolongan pertama yang tepat, racun-racun ini bisa diatasi sebelum nyawa mereka terancam. Proses pemulihannya juga akan terjadi semakin cepat. Jadi, besok lusa anda sudah bisa melanjutkan perjalanan dengan nyaman.”“Begitu ya.”“Saya tidak menyangka jika anda memiliki kemampuan pengobatan yang baik. Menggunakan daun yarrow yang sudah ditumbuk sebagai pertolongan pertama adalah ide yang jenius. Sekaligus pilihan yang sangat murah hati. Tanaman itu cukup langka dan memiliki harga cukup mahal karena agak sulit dibudayakan, tapi anda rela menggunakannya untuk pengawal anda.”Killian tersenyum kecut, “Itu perbuatan El--, istriku.”“Istri… anda?” tanya Tabib itu heran, tak menyangka jika Duke Lockhart ternyata sudah menikah. “Jika anda berk
Upacara pernikahan berjalan persis seperti yang diingat Eleonora. Ia memakai gaun pengantin dengan potongan sederhana dan rambutnya disanggul rapi. Wajahnya yang tertutupi dengan cadar putih berjaring-jaring itu tidak menampakkan ekspresi khusus saat Raja Normand menuntunnya hingga ke altar.Killian telah menunggunya dengan setelan militer berwarna putih. Rambutnya disisir ke belakang dan ia mengulurkan tangannya untuk menariknya mendekat. Membuat Eleonora tiba-tiba memikirkan ucapan terakhir yang ia dengar saat suaminya itu dieksekusi.Apa maksudnya dengan melindungiku? Selama ini, Killian tak pernah memperdulikanku. Ia bahkan tak pernah menyentuhku, membuatku menjadi bahan olok-olokan sebagai istri yang tak diinginkan. Jadi, apa sebenarnya yang coba ia lindungi?Saat Pendeta memulai prosesi janji pernikahan, jantung Elelonora berdebar. Suara Killian terdengar tegas saat berkata, “Saya bersedia menikahi Eleonora Keller Elgresia dan menemaninya di kala susah dan senang, sakit maupun s
Sama seperti di kehidupan pertamanya, Raja Normand secara pribadi mengundangnya ke ruang kerjanya, tepat setelah acara makan malam selesai.“Saya menghadap matahari kerajaan Elgresia. Semoga Dewa selalu memberkati kita semua,.”Raja Normand melihatnya dengan pandangan lembut dan perhatian yang dibuat-buat, “Eleonora, anakku. Bukankah waktu berjalan dengan sangat cepat? Sekarang, kau sudah dewasa dan akan menikah dengan orang yang jauh dariku. Kami pasti akan merindukanmu.”Di masa lalu, ucapan itu berhasil membuat Eleonora tersentuh. Tapi sekarang, ia telah melihat segalanya dengan jelas, “Saya harap Yang Mulia selalu dalam keadaan sehat.”Agar aku bisa melumatmu hidup-hidup, tambahnya dalam hati.“Kau sungguh baik sekali,” balasnya setelah menghela nafas. “Aku tak bisa membayangkan kalau kau berada di tempat sejauh itu tanpa ada orang yang kupercaya. Karena itu, aku akan mengirim seorang pelayan pribadi untukmu.”“Itu tindakan yang berlebihan, Yang Mulia. Saya yakin kastil Lockhart m
Duke Killian Lockhart duduk di bangku panjang yang terletak di dekat taman istana yang dirawat dengan baik, menunggu calon istri yang baru ia temui sekali saat dekrit kerajaan diumumkan.Setelah membantu memenangkan perang di daerah perbatasan, alih-alih mendapatkan kenaikan pangkat atau wilayah kekuasaan, Raja Normand malah memberinya hadiah yang paling tidak ia inginkan. Seorang istri.Killian tentu tak bisa menolak perjodohan tersebut karena ia tak sudi dieksekusi karena dianggap sebagai pembelot yang melawan perintah raja. Meski begitu, ia yakin jika raja pasti telah merencanakan sesuatu. Mungkin, pernikahan ini semata-mata hanya bertujuan untuk memperkuat kekuatan kerajaan.Atau untuk sesuatu yang lain. Sesuatu yang jahat dan tak akan ia sukai. Dan jika melihat perangrai raja, Killian lebih mempercayai kemungkinan terakhir.Mata-matanya telah memberikan laporan lengkap. Eleonora merupakan anak haram sang raja dengan seorang penari yang tidak diketahui bagaimana nasibnya.Perempua
Eleonora Keller Lockhart selalu membenci musim dingin.Tapi kali ini, rasa benci itu kian bertambah saat dua pengawal kerajaan menyeretnya keluar dari kastil Lockhart yang telah ia tinggali selama lima tahun ini, menuju alun-alun kota yang ramai. Para penduduk kota melihatnya sambil berbisik-bisik.Perempuan itu tak lagi mengangkat dagunya sebagai seorang Duchess, melainkan sebagai saksi dari pelaku pemberontakan kerajaan yang merupakan suaminya sendiri, Duke Killian Eglias Lockhart.Killian yang dulu selalu berpenampilan rapi dan selalu dielu-elukan sebagai pahlawan medan perang yang gagah berani, kini nampak lesu dan letih dengan kedua tangan yang diikat di belakang punggungnya. Pakaiannya compang-camping dan wajah tampannya tersamarkan dengan luka memar akibat proses interogasi yang kejam.Saat Eleonora bertemu pandang dengan suaminya, ia tak menemukan amarah atau dendam disana. Melainkan sebuah ketenangan yang luar biasa.Perempuan itu merasakan sesuatu yang menyesakkan bergerak d







