MasukRaka tidak peduli dengan setelan jas mahal yang mungkin terkena air teh. Dia tidak peduli dengan tamunya yang masih berdiri di pintu. Dia hanya peduli pada Annasya.
Wajah istrinya yang pucat, matanya yang kosong, tangannya yang menggenggam erat ujung jilbab.
Raka meraih tangan Annasya, memeriksa apakah ada luka akibat pecahan kaca. “Sakit? Ada yang kena?” Suaranya bergetar.
Annasya menggeleng. Masih diam. Matanya masih menunduk menatap lantai.
“Sa
Malam itu, setelah Via pergi, suasana di rumah kecil itu kembali tenang. Chika sudah tertidur di kamarnya dengan boneka kelinci di samping bantal. Mulut mungilnya terbuka sedikit, napasnya teratur dan damai, tidak tahu bahwa dunia orang dewasa di luar kamarnya sedang berusaha keras untuk tetap tenang. Annasya baru saja selesai membereskan gelas-gelas bekas teh dan piring pisang goreng. Raka duduk di kursi ruang tamu, matanya menatap Annasya yang bolak-balik dari dapur ke ruang tamu dengan langkah ringan.“Mas belum tidur?" tanya Annasya sambil mengelap meja kayu tua di depan Raka."Belum. Masih mikirin besok.""Besok?""Besok aku mulai cari kerja lagi. Kaki udah enakan. Nggak enak terus-terusan di rumah. Kamu yang cari nafkah sendiri."Annasya berhenti mengelap. Dia menatap Raka. "Mas, nggak usah buru-buru. Kaki Mas masih belum sembuh total. Istirahat dulu.""Udah hampir dua bulan, Annasya. Cukup lama.""Tapi—""Say
Raka tidak peduli dengan setelan jas mahal yang mungkin terkena air teh. Dia tidak peduli dengan tamunya yang masih berdiri di pintu. Dia hanya peduli pada Annasya.Wajah istrinya yang pucat, matanya yang kosong, tangannya yang menggenggam erat ujung jilbab.Raka meraih tangan Annasya, memeriksa apakah ada luka akibat pecahan kaca. “Sakit? Ada yang kena?” Suaranya bergetar.Annasya menggeleng. Masih diam. Matanya masih menunduk menatap lantai.“Sayang ... lihat aku.”Annasya mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Raka. Ada ketakutan di sana.“Aku ... nggak sengaja, Mas,” bisik Annasya, suaranya pecah.“Nggak apa-apa. Cuma gelas. Nanti bisa beli lagi.” Raka mengusap pipi Annasya yang ternyata basah. Annasya menangis diam-diam. Tanpa suara.Raka memeluknya. Memeluk istrinya di tengah ruang tamu yang lantainya penuh pecahan kaca dan genangan teh hangat. Dia tidak peduli bahwa
Perjalanan pulang dari daycare terasa lebih sunyi dari biasanya. Chika duduk di kursi belakang mobil Bastian dengan boneka kelinci di pangkuannya, sesekali melirik ke luar jendela, sesekali menatap ibunya yang duduk di kursi depan dengan tatapan penuh tanda tanya.Gadis kecil itu tidak mengerti mengapa hari ini ayahnya tidak menjemput mereka berdua. Biasanya Raka selalu datang sendiri, meskipun dengan langkah pincang, meskipun dengan kruk yang kadang membuatnya terlihat lelah.“Bu,” panggil Chika pelan.“Iya, Sayang.”“Kok bukan Papa yang jemput Ibu?”Annasya menoleh ke belakang. Dia tersenyum meski sedikit dipaksakan, tapi cukup untuk menenangkan Chika. “Papa sedang ada urusan. Kita tunggu di rumah.”Chika mengangguk meskipun matanya masih bertanya-tanya. “Urusan apa, Bu?”“Urusan Papa. Nanti Papa jelasin sendiri.”Chika tidak bertanya lagi. Dia kembali as
Foto yang dikirim Aldo masih tersimpan di riwayat percakapan mereka, meskipun Annasya sudah berusaha tidak membukanya lagi.Ia tidak ingin memikirkan itu. Tidak di saat dia baru saja mencoba percaya pada Raka sebagai suaminya.Tapi bayangan Raka dengan setelan jas, duduk di restoran mewah bersama seorang perempuan cantik, perempuan yang tidak pernah dia kenal memang masih melekat di kepalanya."Aku percaya sama Mas Raka," bisik Annasya pada diri sendiri. "Mas Raka sudah bilang dia akan cerita semuanya. Dia akan ceritakan semua hal ke aku. Aku harus percaya."Tapi percaya tidak selalu mudah. Terutama bagi perempuan yang pernah dihancurkan oleh orang yang paling dia percaya.Annasya menghela napas, mengambil kain lap, dan mulai membersihkan meja kaca di depan toko. Tangannya bergerak tanpa sadar tapi pikirannya melayang entah ke mana. Bu Dewi di belakang toko sedang sibuk dengan buku kas, tidak menyadari bahwa pegawainya sedang berjuang melawan kecem
[Aku melihat Raka bersama seorang wanita].Foto itu terkirim. Satu centang, dua centang, lalu berubah menjadi berwarna biru.Sudah dibaca.Aldo menunggu balasan. Tapi tidak ada balasan.Dia memasukkan ponselnya ke saku, tapi matanya tidak pernah lepas dari meja Raka dan perempuan itu.Sementara itu, di meja dekat jendela, Raka sama sekali tidak menyadari keberadaan Aldo. Pikiran dan matanya hanya tertuju pada perempuan di hadapannya.“Kamu baik-baik saja, Raka?” suara perempuan itu lembut, dengan sedikit logat asing, seperti orang yang sudah lama tinggal di luar negeri.Raka menghela napas. “Aku baik, Via. Kamu?”“Baik. Sudah lama kita tidak bertemu. Terakhir ... waktu pamanku meninggal, ya?”Raka mengangguk. “Iya. Sudah hampir tiga tahun.”Perempuan bernama Vianita—atau Via, panggilan akrabnya adalah sepupu Raka. Anak dari adik ibunya.Mereka tumbuh ber
Pagi itu Raka bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena tidak bisa tidur, tapi karena ada urusan yang harus dia selesaikan. Kakinya yang masih dalam masa pemulihan sudah jauh lebih baik.Dia bisa berjalan tanpa kruk meskipun masih sedikit rasa ngilu yang dulu sering datang kini hanya sesekali muncul saat cuaca sedang dingin.Annasya sudah berangkat ke toko Bu Dewi lebih pagi karena ada kiriman barang baru yang harus dirapikan. Chika masih tidur ketika Annasya pergi, jadi Raka yang bertugas mengantarkan gadis kecil itu ke tempat penitipan anak tidak jauh dari rumah.“Papa, Chika nggak mau sekolah,” rengek Chika sambil mengucek matanya.Rambut keritingnya baru saja disisir, dan Raka juga memakaikan bajunya sampai memakaikan bedak ke wajah Chika.“Ini bukan sekolah, Sayang. Ini tempat main. Nanti Chika ketemu teman-teman baru. Seru lho.”“Beneran, Pa?”“Iya Sayang.”Chika mengangguk meskipun matanya masih sayu. Raka menggendongnya dengan hati-hati, karena kakinya masih dalam masa pen







