LOGINSetelah badai kepuasan yang mengunci takdir mereka di ruang kendali bawah tanah, Arga tidak membiarkan Siska berlama-lama di atas meja besi yang dingin. Dengan kelembutan seorang pemilik yang baru saja mengamankan harta paling berharganya, ia menyelimuti tubuh lemas Siska dengan jas taktisnya yang tebal, lalu menggendongnya kembali ke lantai atas.Namun, kegilaan di pulau pribadi ini tidak pernah benar-benar tidur. Saat mereka melangkah kembali ke dalam kamar utama yang megah, badai tropis di luar pulau tiba-tiba pecah. Angin kencang menghantam dinding-dinding kaca tebal, dan suara petir menggelegar, membelah langit malam yang pekat dan menciptakan kilatan cahaya yang dramatis di dalam ruangan.Arga meletakkan Siska di atas karpet bulu domba yang tebal di depan perapian yang menyala hangat. Cahaya jingga dari api menari-nari di atas kulit Siska yang masih berkeringat, memantul pada kalung platina dan permata safir di lehernya yang berkilau dingin."Arga... dengar suara badai itu,
Setelah badai gairah yang melanda di tepian balkon saat matahari terbit, Arga membawa tubuh Siska yang sudah benar-benar mati rasa kembali ke dalam kamar. Namun, istirahat bagi Siska di bawah atap pria posesif ini hanyalah sebuah ilusi yang berumur pendek. Baru beberapa jam Siska tenggelam dalam tidur yang melelahkan, Arga sudah kembali berdiri di sisi ranjang. Kali ini, ia tidak mengenakan pakaian santai vila. Arga mengenakan kemeja taktis hitam ketat yang mencetak jelas lekuk tubuhnya yang kokoh dan berbahaya. Di tangannya, terdapat sebuah gaun sutra tipis berwarna merah menyala—warna yang sengaja Arga pilih untuk mengontraskan kulit putih Siska yang kini dipenuhi tanda kepemilikannya. "Bangun, permaisuriku," bisik Arga, suaranya yang bariton bergetar rendah di dekat telinga Siska. Tangannya yang besar dan kasar merayap masuk ke balik selimut, mencengkram pinggul Siska yang ramping dan menariknya dalam satu gerakan mudah. Siska melenguh, matanya yang sayu terbuka perla
Sinar fajar pertama di pulau pribadi itu mulai memecah kegelapan, melemparkan semburat warna merah darah dan ungu di sepanjang cakrawala laut. Cahaya pagi yang redup itu menyelinap masuk melalui dinding kaca ruang kerja, menerangi siluet dua tubuh yang masih saling mengunci di atas sofa mahoni. Siska terbangun bukan karena alarm, melainkan karena rasa kebas yang menjalar di punggungnya serta sensasi penuh yang tak kunjung surut di bagian intinya. Arga belum melepaskan penyatuan mereka. Pria itu terbangun beberapa menit sebelum Siska, sepasang matanya yang sehitam jelaga menatap lekat ke arah wajah wanita di pelukannya dengan intensitas yang tidak berkurang sedikitpun semenjak semalam. "Kau sudah bangun, Sayang?" suara Arga terdengar sangat berat, serak khas pria yang baru terjaga, namun penuh dengan getaran kepemilikan yang mutlak. Siska melenguh lemah, mencoba menggeser pinggulnya yang terasa sangat pegal, namun gerakan kecil itu justru membuat kejantanan Arga yang bera
Keheningan malam yang pekat kembali menyelimuti kamar utama vila mewah itu, namun udara di dalamnya masih terasa sangat panas dan sarat akan aroma gairah yang tak kunjung padam. Arga tidak bergemak dari posisinya yang menindih Siska. Detak jantung pria itu bergemuruh keras di dada Siska yang telanjang, menciptakan ritme konstan yang mendominasi kesunyian.Siska terengah-engah, matanya terpejam rapat dengan sisa-sisa air mata nikmat yang mengering di pelipisnya. Tubuhnya terasa mati rasa, lemas seperti boneka kain yang kehilangan seluruh kekuatannya. Namun, di bawah kuasa Arga, ia tahu bahwa kata "cukup" adalah sebuah kemewahan yang tidak akan pernah ia dapatkan malam ini.Arga perlahan mengangkat kepalanya, menatap wajah Siska yang tampak begitu pasrah dan rapuh di bawah temaram cahaya bulan yang menembus dinding kaca. Jemari besarnya yang kasar merayap naik, menyusuri rahang Siska yang tegas, lalu turun ke leher jenjang tempat kalung safir itu masih melingkar manis, sebuah tanda
Arga tidak membiarkan momen itu berlalu begitu saja. Begitu klimaks mereda dan Siska terengah-engah dalam dekapannya di dalam jacuzzi, Arga mengangkat tubuh wanita itu keluar dari air dengan gerakan yang sangat tangkas. Tanpa mengeringkan tubuh mereka, ia langsung menggendong Siska masuk kembali ke dalam ruang utama vila. Langkahnya lebar dan pasti, melewati lantai marmer yang dingin hingga ia menghempaskan Siska ke atas tempat tidur berukuran king size yang dilapisi sutra hitam. Kamar itu kini terasa sangat pengap oleh aroma gairah dan sisa-sisa aroma tubuh mereka yang bercampur. Arga tidak langsung menindih Siska. Ia justru berjalan menuju bar kecil di sudut ruangan, menuangkan segelas whiskey dingin, lalu kembali ke sisi tempat tidur. Ia meminum sedikit, lalu membiarkan cairan itu membasahi bibirnya sebelum ia membungkuk dan mencium Siska dengan kasar, memindahkan sensasi dingin dan tajam dari whiskey itu ke dalam mulut wanita yang masih setengah sadar tersebut. "M
Setelah klimaks yang menghancurkan di depan layar proyektor, Arga tidak membiarkan Siska turun dari meja mahoni itu. Ia menatap Siska yang terkulai lemas dengan tatapan lapar yang tidak pernah terpuaskan. Keringat membanjiri tubuh mereka, membuat kulit yang bersentuhan mengeluarkan suara decit yang erotis setiap kali bergeser. "Kau pikir ini sudah selesai, Siska?" bisik Arga, suaranya serak, penuh dengan dominasi yang gelap. "Rendy mencoba meretas satelitku, maka aku akan menunjukkan padanya apa yang terjadi jika ia mencoba menyentuh milikku." Arga meraih sebuah remote kecil di pinggir meja. Dengan satu tekanan tombol, dinding kaca besar yang menghadap ke arah laut perlahan terbuka, membiarkan angin malam yang dingin menusuk kulit mereka yang panas. Di luar sana, di bawah sinar bulan, sebuah helikopter pengintai tanpa awak milik Arga terbang rendah, menyalakan lampu sorotnya tepat ke arah mereka. "Arga... apa yang kau lakukan? Lampu itu... orang-orangmu bisa melihat kita!" Sis
Tubuh Siska bergetar hebat di atas meja kerja Arga, bukan hanya karena kelegaan fisiologis, tetapi juga karena gelombang sensasi yang membanjiri dirinya. Cairan putih itu terus mengalir, membasahi kemeja Arga dan permukaan meja yang dingin. Siska terengah-engah, matanya terpejam, mencoba memproses
***Lampu di ruang kerja Arga meremang, hanya menyisakan sorot lampu meja yang tajam. Siska berdiri di tengah ruangan, tangannya gemetar hebat. Ia merasa seperti domba yang masuk ke sarang serigala. Arga, pria yang selama bertahun-tahun mencoba menghancurkan bisnis kakaknya, kini duduk di hadapan
**Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela kaca besar di ruang makan kediaman Adijaya, namun bagi Siska, cahaya itu terasa begitu menyilaukan dan menghakimi. Ia duduk di kursi kayu jati yang dingin, jari-jarinya gemetar saat memegang cangkir teh hangat. Ia mengenakan blus sutra berwarna kr
Arga tidak membiarkan Siska memulihkan napasnya di ruang kerja itu. Dengan gerakan posesif, ia menyampirkan jas mahalnya ke bahu Siska yang polos, lalu membopong tubuh wanita itu keluar menuju sayap pribadi di rumah mewah tersebut. Koridor panjang yang sunyi itu hanya diisi oleh suara langkah sep







