Beranda / Young Adult / Dekapan Hangat Papa Rivalku / 21. Pecah Perang di Koridor

Share

21. Pecah Perang di Koridor

Penulis: Miss Nonce
last update Tanggal publikasi: 2026-10-23 22:08:20

“Ra, gue mau cerita.” Mikha menahan tangan Rara dengan cepat, namun disentak Rara cepat.

“Apaan, gue kebelet ah.” Rara berlari kecil masuk ke dalam toilet kampus. Mikha pun mengikuti dari belakang.

Namun, baru saja Mikha keluar dari toilet bersama Rara tiba-tiba dorongan kencang dari samping menyapanya.

Srok!

Sebuah dorongan cukup keras dari samping membuat Mikha hampir tersungkur ke lantai, kalau saja Rara tidak menahannya. Tote bag Mikha terlepas, dan isinya—termasuk dompet, pouch makeup, hi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   26. Bertemu Dosen Menyebalkan

    Pagi sekali Mikha sudah bersiap pulang usai menginap di rumah sakit. Suster sudah datang, waktunya Mikha pulang. Tidak cocok di adengan bebauan karbol dan cairan antiseptic, lambung Mikha jadi mulas. Pukul enam pagi lewat sedikit, ia sudah menuruni lantai tiga gedung rawat inap Rumah Sakit dengan langkah gontai. Matanya menyipit, menahan kantuk luar biasa setelah semalaman suntuk bergadang menjaga ibunya yang menurut dokter kondisinya sudha stabil.Pikirannya cuma satu: sampai di apartemen, merebahkan badan di kasur empuk, lalu tidur tanpa gangguan alarm selama dua belas jam penuh.Mikha berjalan sambil menunduk menuju lobi, saking malasnya berinteraksi dengan dunia luar, ia bahkan tidak menyadari bayangan seseorang yang berdiri tepat di depan jalur jalannya.Bruk!"Ehh aduh, maaf..." gerutu Mikha spontan sambil refleks menahan tubuhnya agar tidak menabrak dada bidang seseorang. Ia buru-buru mundur selangkah."Kebiasaan jalan sambil merhatiin ubin lantai, ya? Nanti kalau nabrak tembok

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   25. Terlalu Penasaran

    Pukul delapan pagi tepat, lantai dua perpustakaan masih sepi dan berdebu. Vio berdiri dengan muka ditekuk, menggunakan sarung tangan karet pink, botol berisi disenfektan ditangannya. Takut kena bakteri princess satu ini, makanya peralatan perang dia sangat banyak. Di sampingnya, Priska dan Citra sibuk mengeluh sambil memegang kemoceng. Sementara itu, Mikha dan Rara menyapu di sudut lain."Gila ya, gatal banget ini debu!" gerutu Vio keras-keras, sengaja memancing suasana. "Harusnya yang dibersihin tuh bukan cuma perpustakaan, tapi cewek-cewek murah yang mengotori pemandangan kampus!"Rara langsung berhenti menyapu, memutar badannya siap menyemprot Vio lagi. Tapi Mikha memegang lengan Rara, menahannya.“Udah Ra, biar cepats selesai.”Otak Mikha dari tadi sebenarnya tidak fokus pada kata-kata Vio. Matanya terus melirik ke arah meja tempat Vio meletakkan tas cream-beige terbatas dari Paris itu.Gue harus cari tahu, batin Mikha penasaran setengah mati. Siapa sebenarnya yang beliin Vio tas

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   24. Bermain Api Dengan Om Kama

    Mikha suntuk, sugar Daddy-nya merajuk, karena dia yang asal bicara. Mikha sampai kaget dibentak Kama. Pria itu pergi begitu saja, usai melayangkan tatapan tajamnya.Mikha, hanya bisa menghela napas melihat kepergiannya. Untung hanya dibentak, Mikha sudah ketakutan. Besok-besok dia tidak mau lagi bicara asal, Kama menyeramkan jika sedang marah.“Mikh!” panggilan namanya membuat Mikha menoleh ke arah belakang.Rara berlari menghampirinya. Rambutnya yang digerai terlihat melambai, indah sekali. Kaos putih ketat dipadu kemeja fit bodu dengan jeans belel serta flat shoes Rara terlihat menarik dan fresh. Jangan lupa tote bag keluaran rumah mode terkemuka menghiasi lengannya.“Ra, kuliah. Gue kira lo ke Bandung.” Mikha menunggu Rara, begitu mendekat dia bertanya pada bestie-nya.Rara menggeleng malas, “Enggak jadi, Mikh. Hufth..” ia malah mendesah panjang. “Om gue kere ternyata, sialan agency gue, dikerjain kali gue.”“Kere gimana?” tanya Mikha yang tahu Rara ada agency mencari pria hidung b

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   23. Saling Melepas Penat

    Suasana kamar mandi yang temaram makin membawa mereka dalam keheningan yang intim. Kama melangkah keluar dari bathtub, meraih handuk dan melilitkannya di pinggang tanpa melepaskan pandangannya dari Mikha.Dengan gerakan santai namun penuh dominasi, Kama mengulurkan tangan, meraih jemari Mikha dan membimbingnya keluar menuju area kamar utama. Gemerlap lampu kota di balik jendela kaca besar menjadi satu-satunya pencahayaan yang menyinari ruangan itu."Kemarilah," gumam Kama pendek, membawa Mikha duduk di tepi ranjang.Jemari Kama bergerak perlahan merapikan rambut Mikha yang sedikit berantakan, menyingkirkannya ke belakang telinga. Usapannya berpindah ke pipi Mikha, membuat gadis itu menatap langsung ke dalam manik mata Kama yang kelam. Semua kekhawatiran Mikha—soal tagihan rumah sakit ibunya, soal keputusannya malam ini—seakan memuncak di dada, namun ia memaksakan sebuah senyum tipis."Aku cuma milik Om malam ini," bisik Mikha pelan, menguatkan hatinya sendiri demi sang ibu.Kama tidak

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   22. Kembalinya Sang Sugar Daddy (21+)

    Sudah tiga hari Kama tidak singgah ke apartemen, bahkan Mikha saja sempai menginap di rumah sakit. Tidak ada kabar, baik pesan atau telepon. Jika Kama tidak datang, artinya Mikha bebas. Dia juga tidak mau menghubungi Kama yang menurut Mikha sibuk dengan pekerjaannya.Sampai akhirnya suara pin pintu apartemen ditekan, lalu terbuka. Kama muncul dengan wajah datarnya.Mikha langsung sumringah, sugar Daddy-nya datang di malam hari. Berjalan cepat, ia menyapa Kama dengan sebuah pelukan hangat.“Babe.. rindu aku tuhhhh..”tangan Kama melingkar di pinggang ramping Mikha, hanya memberi tatapan datar. Banyak pekerjaan membuat Kama tidak datang ke apartemen ini.“Banyak kerjaan banget ya babe?” tanya Mikha menuntun Kama duduk di sofa ruang tamu.“Humm..”“Capek ya? Mau dipijat atau mandi?” tawarnya.Kama menyunggingkan senyum tipisnya, menarik Mikha duduk di pangkuannya. “Apa kamu nakal, sayang?” tanya Kama mengulas pipi Mikha lembut.Mikha menggeleng, “Nggak dong, aku nakalnya kalau sama kamu

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   21. Pecah Perang di Koridor

    “Ra, gue mau cerita.” Mikha menahan tangan Rara dengan cepat, namun disentak Rara cepat. “Apaan, gue kebelet ah.” Rara berlari kecil masuk ke dalam toilet kampus. Mikha pun mengikuti dari belakang.Namun, baru saja Mikha keluar dari toilet bersama Rara tiba-tiba dorongan kencang dari samping menyapanya.Srok!Sebuah dorongan cukup keras dari samping membuat Mikha hampir tersungkur ke lantai, kalau saja Rara tidak menahannya. Tote bag Mikha terlepas, dan isinya—termasuk dompet, pouch makeup, hingga beberapa berkas tugas kuliah—berhamburan di lantai lorong yang ramai lalu lalang mahasiswa.Vio berdiri angkuh dengan melipat tangan di dada dengan senyum culas, diapit Citra dan Priska yang terkikik geli."Ops! Sorry ya, sengaja," celetuk Vio tanpa rasa bersalah sama sekali. "Lagian jalan sok elit banget, lantai kampus jadi berasa sempit."“Mata lo sempit!” semprot Rara yang jelas-jelas mereka baru keluar toilet.Mikha berdiri tegasl, “Kurang ajar lo ya, Vio. Lu sengaja kan, sialan!” maki

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   6. Gadis Bayaran Om Kama

    Kama menatap Mikha dengan tatapan penuh arti di bawah cahaya lampu remang ballroom hotel yang mewah. Gaun sutra hitam yang membalut tubuh ramping Mikha seolah menambah aura misterius dan memikatnya. Kulit cokelat eksotis Mikha berkilau lembut, memancarkan keindahan yang tak perlu berlebihan.Beberap

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   5. Temani Saya Selama di Bali!

    Erick meringis, kusut melanda saat sang bos mulai uring-uringan. Hanya kesalahan kecil, dia menyewa jasa wanita untuk dijadikan plus one bagi sang bos. Sialnya, bos tidak suka karena wanita itu terlalu pendiam.‘Kemarin agresif salah. Sekarang pendiam, makin salah.’ Erick mendesah, bosnya ini mauny

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   4. Menyentil Harga Diri Mikha

    Mikha duduk di kursi bar yang remang, sorot matanya tajam menatap Kama yang tengah asyik berbincang dengan rekan bisnisnya. Ia harus menyingkir sejenak, karena akan ada pembicaraan khusus antara Kama dengan kliennya, yang juga membawa wanita. Mikha berbincang santai dengan beberapa wanita yang menj

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   3. Plus One om Duda

    Mikha sudah siap dengan job-nya. Berdandan cantik, duduk anteng di meja rias. Di belakangnya, Rara bertindak sebagai hairstylist, bergantian. Rara memegang catokan, Mikha mau diluruskan rambutnya.“Njrit, pegel gue tiap catok elu, Mikh. Akuin aja sih udah, rambut lo kribo.” Rara mengeluh, sudah set

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status