LOGINMarvin: "Sialan!" raung Marvin frustrasi, menendang keras sisa puing di dekatnya hingga berhamburan. "Bagaimana bisa kalian melewatkannya begitu saja, Leo? Kenapa kau bisa membiarkan istriku pergi begitu saja?!"Leo: "Maaf, Tuan... Nyonya Alina memanfaatkan pergantian shift pengawal dan langsung kabur menaiki taksi yang kebetulan melintas," jawab Leo gemetar di ujung telepon.Marvin mencengkeram kepalanya sendiri, napasnya memburu tak beraturan di tengah dinginnya malam pelabuhan.Marvin: "Cari dia! Kerahkan seluruh mata-mata dan anak buah kita ke setiap sudut kota! Jangan biarkan dia pergi membawa anakku! Aku tidak mau tahu bagaimana caranya kalian menemukan dia!"Leo: "Baik, Tuan! Kami segera bergerak! Dan akan menemukan Nyonya Alina."Marvin melangkah cepat menuju mobilnya, membanting pintu dengan keras, lalu menancap gas bak kesetanan membelah jalanan kota yang basah oleh sisa hujan. Pikirannya dipenuhi ketakutan luar biasa bahwa kali ini ia benar-benar akan kehilangan Alina untuk
"Hentikan mobilnya!" Cithhh!Suara decitan ban mobil Marvin membelah hujan lokal yang mulai turun membasahi kawasan industri tua di tepi pelabuhan. Bangunan pabrik tua yang terbengkalai itu tampak berdiri megah, namun mencekam di tengah kegelapan malam."Tuan Vance, tim pengawal sudah menyebar dan menggepung seluruh akses keluar pabrik, kita tinggal tunggu perintah Tuan untuk bergerak," bisik salah satu pengawal yang memegang senapan laras panjang."Jangan menembak sebelum aku memberi perintah! Tunggu sampai aku melihat situasinya," perintah Marvin dengan suara dingin dan rahang yang mengetat keras. "Tujuan utama kita adalah menyelamatkan Lenika! Jangan sampai dia terluka dan terjadi sesuatu dengan bayi yang ada dalam kandungan nya.""Baik, Tuan. Saya akan menunggu perintah Tuan," balas Leo.Marvin mengokang senjatanya lalu melangkah lebar menerobos pintu besi pabrik yang sudah berkarat. Suara langkah kakinya menggema keras di dalam ruangan yang luas dan berdebu itu.Di tengah ruanga
"Hahaha! Ide bagus, Lenika! Aku akan menghubungi setelah kita sampai, agar kita bisa mempersiapkan segala sesuatunya sebelum dia datang," tawa pria asing itu meledak, menatap Lenika dengan tatapan sinis. "Biarkan si brengsek Marvin itu pontang-panting menuju toko bunga kosong itu, sementara kau yang berada di tanganku! Kita bisa bermain-main sedikit dengan Marvin Vance."Lenika tampak tersenyum dan menoleh ke belakang menatap wajah Alina yang saat itu tampak menitikkan air mata.'Selamat tinggal, Alina. Semoga Marvin segera datang menyelamatkan mu,' gumam Lenika dalam hati.Pria itu langsung menyeret Lenika secara kasar masuk ke dalam mobil van hitam yang terparkir di belakang toko. Van itu menderu kencang, melesat meninggalkan kawasan tersebut sebelum ada yang menyadari.Sementara itu, di dalam toko bunga."Lenika...."Alina terduduk lemas di lantai, memeluk perut buncitnya yang gemetar hebat. Air matanya menetes deras, mengingat kebaikan Lenika yang bertaruh nyawa demi menyelamatkan
"Siapa kau?!" teriak Lenika seraya berdiri dengan tubuh gemetar, mencoba pasang badan di depan Alina."Apa itu penting bagi mu?"Pria berjaket kulit hitam itu terkekeh dingin. Tatapan matanya sangat liar, dan ujung senjatanya teracung lurus ke arah mereka berdua."Aku tidak kenal siapa kalian. Katakan kepadaku, siapa kau?!" seru Lenika,tanya menatap wajah pria itu penuh amarah."Siapa aku? Tanya saja pada suami mu yang sudah mati di neraka, Lenika!" desis pria itu tajam. Ia terus menyorot tatapannya ke arah wajah Lenika. "Atau pada pria brengsek bernama Marvin Vance yang sudah menghancurkan bisnis kelompok kami!"Alina membelalak kaget. Ia refleks mundur beberapa langkah seraya memeluk erat perutnya yang membuncit. "Musuh Marvin, apa kau kelompok Nagoza...?""Pintar sekali, Nyonya Vance!" puji pria itu dengan tawa sinis. "Aku sudah melacak kalian berdua sampai ke kota terpencil ini. Siapa sangka, aku justru mendapat bonus besar... istri kesayangan Marvin Vance yang sedang hamil dan
Alina mematung, dadanya bergemuruh hebat hingga napasnya terasa tertahan di tenggorokan. Jemarinya yang gemetar pelan-pelan meremas apron celemek yang membalut gaun longgarnya.Matanya menatap serius wajah Lenika yang tampak lebih tua dari usianya. Mungkin karena kehamilan dan pikirannya."L-Lenika? Apa itu kau?" bisik Alina dengan suara bergetar. "Bagaimana bisa kau..."Lenika melangkah perlahan mendekat, kedua tangannya yang gemetar mengusap perutnya sendiri yang juga membesar. Raut wajahnya tak lagi memancarkan keangkuhan seperti dulu, melainkan kehampaan dan rasa bersalah yang mendalam. Air matanya seketika jatuh membasahi pipinya."Iya... Ini aku, Alina. Lenika," jawabnya dengan suara terbata-bata. "Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan mu di sini."Alina terdiam, sejenak melihat perut buncit Lenika."Kau tahu? Aku mencari keberadaan mu ke mana-mana, Alina..." ujar Lenika parau, air matanya menetes satu per satu. "Aku dan Marvin mencari keberadaan mu di sudut-sudut kota, hingga
Alina terdiam sejenak. Senyum bahagia di bibirnya perlahan memudar, berganti dengan sorot mata yang dipenuhi kepedihan mendalam saat jemarinya mengusap lembut perutnya yang masih rata."Cinta? Kau tanya aku masih mencintainya?" bisik Alina dengan tawa sumbang yang menyayat hati. "Cinta itu sudah mati bersamaan dengan kepercayaan yang dia hancurkan, Julian. Aku tidak mau membakar diriku lagi dalam api obsesi Marvin. Dia tidak lagi mencintaiku."Julian menatap Alina lekat-lekat, menyadari keteguhan hati wanita di hadapannya. "Baiklah. Kalau itu keputusan mu, aku akan pastikan seluruh jejak mu di kota ini terhapus sempurna dari jangkauan manusia seperti Marvin Vance, biar kau tenang menjalani kehidupan mu di sini.""Terima kasih banyak, Julian... Aku tidak bisa berkata-kata lagi karena kau sudah terlalu banyak membantuku, Julian," ujar Alina tulus, menahan air mata haru. "Kau sudah menyelamatkan nyawaku dan bayi dalam kandunganku, bahkan kau menyelamatkan aku dari Marvin.""Jangan terima
Kapal logistik itu membelah ombak di tengah kegelapan malam. Suara mesin kapal yang menderu konstan menjadi satu-satunya musik latar di dek yang dingin itu. Alina masih terduduk di samping Marvin, jemarinya yang gemetar terlihat bersimbah darah oleh darah Marvin.Marvin meringis, kelopak matanya b
Marvin mencoba mengatur napasnya yang mulai berat. Darah yang merembes di punggungnya membuat kesadarannya perlahan menipis, namun ia berusaha untuk tidak tumbang di depan Alina. "Dengarkan aku, Nona Sterling," bisik Marvin, suaranya kembali sedingin es meski wajahnya pucat pasi. Alina memusatka
Alina merasa dunianya runtuh seketika. Menikah? Di gudang kotor ini? Dengan pria yang selama ini ia anggap sebagai sipir penjara? "Tidak! Kau gila! Aku tidak mau menikah dengannya!" teriak Alina histeris, meronta hingga kursi kayunya berderit keras. "Aku hanya ingin menikah dengan Julian!" Pr
"Putuskan hubunganmu dengan pria brengsek itu, Alina! Keluarga Sterling tidak menerima menantu dari putra musuhnya sendiri!"Suara Arthur Sterling menggelegar di ruang kerja mansion yang mewah. Alina hanya bisa menggigit bibir, menatap ayahnya dengan sorot mata penuh pemberontakan."Aku tidak akan







