Share

Bab 34

Penulis: Rose_roshella
last update Tanggal publikasi: 2026-04-14 12:40:50
"Sialan! Tua bangka itu akhirnya tahu rencanaku," makian Richard bergaung di tengah deru suara helikopter yang semakin mendekat di atas atap mansion.

"Richard, menyerahlah! Pasukan Ayahku sudah mengepung tempat ini!" teriak Alina di sela-sela cekikan tangan Richard yang kian mengerat di lehernya.

"Diam kau, Jalang! Kau ikut denganku! Tak akan aku biarkan pasukan ayahmu menghancurkanku." Richard panik setengah mati.

"Kau bajingan, Richard! Lepaskan aku!" Alina mulai meronta.

Dengan mata melo
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 112 Memberi Nama Belakang

    "Istirahat lah. Aku tidak akan menggangu mu, Alina."Pintu kamar rawat perlahan tertutup rapat. Begitu sosok Marvin menghilang, pertahanan Alina seketika runtuh. Isak tangis yang sejak tadi ditahannya pecah, meremas kuat sprei rumah sakit yang dingin.Di luar ruangan, Marvin menyandarkan punggungnya pada dinding. Pria itu mengusap wajahnya kasar, lalu menatap Leo yang berdiri tak jauh darinya."Tuan Marvin... Apa kau baik-baik saja?" panggil Leo ragu, melangkah mendekat."Aku baik-baik saja, Leo," jawabnya berbohong."Dokter sudah menyiapkan resep obat untuk Nyonya Alina. Ini resepnya," ucap Leo memberikan secarik kertas surat resep kepada Marvin."Tinggalkan di meja," potong Marvin dingin dengan suara parau. "Leo, hubungi pengacara pribadi keluarga Vance sekarang juga."Leo tertegun. "Pengacara? Untuk apa, Tuan?""Aku akan mengurus surat pengakuan anak dan pemberian nama belakang untuk bayi Lenika," jawab Marvin tegas, matanya memerah menatap pintu kamar istrinya. "Tuan... Apa kau y

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 111 Menolak Keinginan Alina

    "Alina! Kau gila?!" bentak Marvin dengan napas memburu, kedua tangannya seketika mencengkeram bahu Alina, memaksa istrinya berbalik menghadapnya."Kau mungkin menganggapku gila. Namun, aku serius mengatakan ini, Marvin."Mata Marvin yang memerah menatap wajah pucat Alina dengan ketakutan yang teramat luar biasa."Tarik ucapanmu, Alina! Tarik ucapanmu sekarang! Aku tidak mau mendengar omong kosong ini!" teriak Marvin gemetar, suaranya pecah di tenggorokan. "Bagaimana bisa kau memintaku menikahi wanita lain?! Hah?! Aku ini suamimu!"Alina terkekeh dingin, sebuah kekehan pahit yang terdengar begitu hampa dan meremukkan hati. Air matanya menetes pelan menembus kain sprei rumah sakit."Lalu aku harus bagaimana, Marvin...? Aku tidak bisa memberikan mu keturunan," bisik Alina dengan nada teramat serak. "Anakku sudah mati... Bayi yang kupertahankan dengan mempertaruhkan nyawaku sendiri sudah tidak ada! Sedangkan di luar sana... Ada wanita yang bisa memberikan mu anak dan harapan untuk mu.""D

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    bab 110 Permintaan Alina

    "I-iya, Alina... Bayiku sehat," jawab Lenika terbata, air matanya luruh makin deras melihat tangan pucat Alina yang bergetar di atas perut buncitnya.Alina menarik tangannya perlahan, menggenggam jemarinya sendiri yang mendadak dingin. Senyum pahit terukir di bibirnya yang pucat, membuat siapa pun yang melihatnya merasa teriris."Baguslah... Setidaknya ada bayi yang beruntung bisa bertahan hidup, jaga baik-baik bayi mu, kesempatan menjadi seorang ibu mungkin tidak datang untuk kedua kali," gumam Alina lirih. Suaranya pecah oleh duka. Ia menolehkan wajahnya yang buta ke arah Marvin, merasakan kesedihan yang tak bisa diungkapkan."Apa dia sudah memiliki calon ayah?" tanya Alina.Lenika tertegun untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia berbicara."Ayahnya sudah meninggal. Aku akan membesarkan dia sendiri. Sementara dia akan memakai nama belakang marga orang tuaku," jawab Lenika, dengan suara lemah."Melvin... Bukankah dulu kau mengatakan bahwa akan memberikan nama belakang mu kepadanya?"

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 109 Rasa Penyesalan

    "Lenika apa yang kau lakukan di sini?" suar bariton dari ujung lorong mendadak memecah keheningan.Lenika tersentak, dengan cepat menghapus genangan air mata di sudut matanya. Seorang pria paruh baya bertubuh tegap, dia adalah Tuan Handoko, ayah kandung Lenika, ia melangkah lebar-lebar mendekatinya dengan raut wajah berang."Ayah...? Aku sedang..." bisik Lenika ketakutan, refleks menyembunyikan air matanya yang sempat keluar."Kau sedang apa berdiri di depan ICU?" tanya Tuan Handoko, menoleh ke arah wajah Marvin yang saat ini berdiri dengan wajah kusut."Marvin. Lenika, kenapa kau berada di sini bersama dengan pria brengsek itu, hah?!" bentak Tuan Handoko rendah, mencengkeram lengan Lenika hingga wanita itu meringis. "Kau lupa apa yang sudah dilakukan Marvin Vance padamu? Dia menolak memberi nama belakang untuk bayimu! Dia mencampakkanmu demi wanita buta itu! Berhenti merengek meminta dia balik kepadamu.""Ayah, pelankan suaramu... Ini rumah sakit," bujuk Lenika gemetar. "Alina baru

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 108 Terpukul

    "Tuan Vance... Tolong tenangkan dirimu," bujuk dokter berusaha memegang bahu Marvin yang gemetar hebat di atas lantai dingin."Bagaimana bisa aku tenang?! Hah? Aku baru kehilangan anakku!" bentak Marvin histeris, matanya merah padam digenangi air mata yang luruh tanpa kendali. Ia mencengkeram jas dokter itu dengan penuh keputusasaan."Saya tahu perasaan Tuan, tapi Tuan harus tenang," kata dokter mencoba untuk menenangkan."Aku baru saja berjanji padanya! Aku baru saja mengelus perutnya beberapa jam yang lalu! Kenapa harus anakku yang mengorbankan nyawanya, Dok? Kenapa dia harus pergi meninggalkan aku secepat ini?!""Benturan di tangga batu itu merusak plasenta secara permanen, Tuan... Kami harus segera mengeluarkan janinnya untuk menyelamatkan nyawa Nyonya Alina, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan janin itu," bisik dokter dengan suara penuh simpati. "Nyonya Alina saat ini sudah sadar di dalam, tapi kondisinya sangat lemah dan terguncang. Sebaiknya jangan kataka

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 107 Keguguran

    "papa janji, Jagoan... Papa akan selalu ada untuk kalian berdua," bisik Marvin lembut, mengecup perut Alina sekali lagi sebelum bangkit berdiri dari ayunan.Ponsel di saku jasnya bergetar pelan. Marvin merogohnya dan melihat nama dokter spesialis kandungan yang menangani Alina di layar."Alina, aku harus mengambil resep dan vitamin tambahan untukmu di rumah sakit pusat, aku tidak akan lama dan akan segera kembali.""Kenapa kau tidak meminta Leo saja?" kata Marvin seraya mengelus lembut pipi Alina. "Aku hanya sebentar. Leo akan menemanimu di sini. Jangan takut, di sini aman."Alina tersenyum manis, memegang jemari Marvin. "Baiklah, Marvin. Pergilah, jangan terlalu lama. Aku dan anak kita menunggu di rumah.""Aku janji," balas Marvin seraya mendaratkan ciuman hangat di kening Alina.***Satu jam kemudian, di Rumah Sakit Pusat.Marvin melangkah tegap menyusuri lorong farmasi lantai tiga dengan raut wajah tenang. Namun, saat hendak berbelok menuju lift khusus, langkah kaki pria itu menda

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 38

    "Marvin! Kau baik-baik saja, kan? Tolong jawaba aku, Marvin! Bangun, Marvin! Aku mohon jangan tinggalkan aku!" tangis Alina pecah, ia meraih kepala Marvin dan mendekapnya ke dadanya. Marvin melenguh pelan, kelopak matanya terbuka sedikit, menatap Alina dengan senyuman lemah yang dipaksakan. "Aku...

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 6

    "Pergi! Aku tidak butuh belas kasihan dari sipir penjara sepertimu!" teriak Alina, tangannya meraba udara dan menjatuhkan nampan bubur hingga isinya berserakan di lantai. Hari-hari di rumah persembunyian menjadi neraka baru bagi Alina. Kegelapan yang menyelimutinya bukan hanya di mata, tapi juga di

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 5

    Tubuh Marvin terasa semakin lemas, beratnya seperti menarik seluruh kekuatannya pergi perlahan. Dia hampir saja terjatuh, namun masih bisa menahan Alina yang terdiam di pelukannya.Suaranya, suara Leo yang penuh kekhawatiran, menyentuh telinganya. "Marvin... Apa kau baik-baik saja?"Marvin bisa me

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 4

    Kapal logistik itu membelah ombak di tengah kegelapan malam. Suara mesin kapal yang menderu konstan menjadi satu-satunya musik latar di dek yang dingin itu. Alina masih terduduk di samping Marvin, jemarinya yang gemetar terlihat bersimbah darah oleh darah Marvin.Marvin meringis, kelopak matanya b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status