Masuk"Lenika apa yang kau lakukan di sini?" suar bariton dari ujung lorong mendadak memecah keheningan.Lenika tersentak, dengan cepat menghapus genangan air mata di sudut matanya. Seorang pria paruh baya bertubuh tegap, dia adalah Tuan Handoko, ayah kandung Lenika, ia melangkah lebar-lebar mendekatinya dengan raut wajah berang."Ayah...? Aku sedang..." bisik Lenika ketakutan, refleks menyembunyikan air matanya yang sempat keluar."Kau sedang apa berdiri di depan ICU?" tanya Tuan Handoko, menoleh ke arah wajah Marvin yang saat ini berdiri dengan wajah kusut."Marvin. Lenika, kenapa kau berada di sini bersama dengan pria brengsek itu, hah?!" bentak Tuan Handoko rendah, mencengkeram lengan Lenika hingga wanita itu meringis. "Kau lupa apa yang sudah dilakukan Marvin Vance padamu? Dia menolak memberi nama belakang untuk bayimu! Dia mencampakkanmu demi wanita buta itu! Berhenti merengek meminta dia balik kepadamu.""Ayah, pelankan suaramu... Ini rumah sakit," bujuk Lenika gemetar. "Alina baru
"Tuan Vance... Tolong tenangkan dirimu," bujuk dokter berusaha memegang bahu Marvin yang gemetar hebat di atas lantai dingin."Bagaimana bisa aku tenang?! Hah? Aku baru kehilangan anakku!" bentak Marvin histeris, matanya merah padam digenangi air mata yang luruh tanpa kendali. Ia mencengkeram jas dokter itu dengan penuh keputusasaan."Saya tahu perasaan Tuan, tapi Tuan harus tenang," kata dokter mencoba untuk menenangkan."Aku baru saja berjanji padanya! Aku baru saja mengelus perutnya beberapa jam yang lalu! Kenapa harus anakku yang mengorbankan nyawanya, Dok? Kenapa dia harus pergi meninggalkan aku secepat ini?!""Benturan di tangga batu itu merusak plasenta secara permanen, Tuan... Kami harus segera mengeluarkan janinnya untuk menyelamatkan nyawa Nyonya Alina, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan janin itu," bisik dokter dengan suara penuh simpati. "Nyonya Alina saat ini sudah sadar di dalam, tapi kondisinya sangat lemah dan terguncang. Sebaiknya jangan kataka
"papa janji, Jagoan... Papa akan selalu ada untuk kalian berdua," bisik Marvin lembut, mengecup perut Alina sekali lagi sebelum bangkit berdiri dari ayunan.Ponsel di saku jasnya bergetar pelan. Marvin merogohnya dan melihat nama dokter spesialis kandungan yang menangani Alina di layar."Alina, aku harus mengambil resep dan vitamin tambahan untukmu di rumah sakit pusat, aku tidak akan lama dan akan segera kembali.""Kenapa kau tidak meminta Leo saja?" kata Marvin seraya mengelus lembut pipi Alina. "Aku hanya sebentar. Leo akan menemanimu di sini. Jangan takut, di sini aman."Alina tersenyum manis, memegang jemari Marvin. "Baiklah, Marvin. Pergilah, jangan terlalu lama. Aku dan anak kita menunggu di rumah.""Aku janji," balas Marvin seraya mendaratkan ciuman hangat di kening Alina.***Satu jam kemudian, di Rumah Sakit Pusat.Marvin melangkah tegap menyusuri lorong farmasi lantai tiga dengan raut wajah tenang. Namun, saat hendak berbelok menuju lift khusus, langkah kaki pria itu menda
"Melvin... aku tidak mau menggugurkan buah hatiku?! Aku tidak mau! Aku tidak akan pernah menggugurkannya, Melvin!" jerit Alina histeris, kedua tangannya seketika memeluk erat perut ratanya.Udara di dalam kamar mewah itu mendadak membeku. Marvin yang sempat terkejut luar biasa kini mengepalkan tangannya kencang, matanya memerah menatap Leo dengan penuh penderitaan."Leo... keluar sekarang!" perintah Marvin parau namun tajam."Tapi Tuan Vance, keputusan ini harus segera...""Aku bilang keluar, Leo!" bentak Marvin rendah, membuat Leo membungkuk dalam dan segera mundur perlahan menyisakan keheningan di antara pasangan suami istri itu.Marvin menghembuskan napas panjang, berlutut di tepi ranjang dan langsung menggenggam kedua tangan Alina yang gemetar hebat."Alina, dengarkan aku dulu, Sayang..." bujuk Marvin lembut, berusaha menenangkan napas istrinya yang memburu."Tidak, Marvin! Aku tahu apa yang ada di pikiranmu! Aku tahu apa yang ada dalam pikiran mu saat ini, Marvin," potong Alina s
"Menggugurkan buah hati kita...? Tidak! Aku tidak akan pernah mengizinkannya, Marvin! Aku tidak mau menggugurkan bayi ini meski itu adalah taruhan nyawaku," jerit Alina histeris, kedua tangannya seketika meremas perutnya erat-erat seolah melindungi janin di dalam rahimnya. Air mata Alina pecah tak terbendung. Suasana di dalam kamar utama yang megah itu berubah menjadi emosional dan penuh kesedihan. Marvin yang berdiri kaku segera melangkah cepat, merengkuh tubuh gemetar istrinya ke dalam pelukan erat. "Alina, tenanglah, Sayang... Dengarkan aku dulu, tidak akan terjadi itu. Aku akan mencarikan pengobatan yang terbaik untuk melindungi nyawa kalian berdua," bisik Marvin dengan suara bergetar parau, menahan gejolak emosi yang meremukkan dadanya. "Bagaimana aku bisa tenang, Marvin? Baru saja aku menerima kabar baik ini, tiba-tiba aku dihadapkan dengan kabar buruk seperti ini," potong Alina seraya terisak parah di dada suaminya. "Ini anak kita! Buah cinta kita! Aku tidak peduli jika
"Kau pikir rasa cinta ini bisa membusuk hanya karena kau tidak bisa melihat, Alina? Aku mencintaimu meski saat ini kau masih belum bisa melihat," bisik Marvin tepat di telinga istrinya, napas hangatnya menyapu kulit leher Alina yang meremang."Entah mengapa, kebutaan ini membuatku putus asa, Marvin," ungkap Alina penuh putus asa.Keheningan melingkupi kamar perawatan itu selama beberapa saat. Alina mengepalkan tangannya di kemeja Marvin, menghirup aroma maskulin suaminya yang selalu memberikan rasa aman."Aku hanya takut, Marvin... Aku takut kalau kau akan bosan dengan orang buta seperti aku," bisik Alina lirih, air matanya menetes pelan menembus kain kemeja Marvin. "Aku takut suatu hari nanti saat kau lelah menuntun langkahku, kau akan menatapku dengan rasa benci, bukan cinta lagi, Marvi. Aku takut jika itu sampai terjadi."Marvin mengurai pelukannya pelan. Tangan besarnya menangkup kedua pipi Alina, mengusap lelehan air mata di wajah pucat istrinya dengan ibu jari secara lembut."D
"Marvin! Kau baik-baik saja, kan? Tolong jawaba aku, Marvin! Bangun, Marvin! Aku mohon jangan tinggalkan aku!" tangis Alina pecah, ia meraih kepala Marvin dan mendekapnya ke dadanya. Marvin melenguh pelan, kelopak matanya terbuka sedikit, menatap Alina dengan senyuman lemah yang dipaksakan. "Aku...
"Pergi! Aku tidak butuh belas kasihan dari sipir penjara sepertimu!" teriak Alina, tangannya meraba udara dan menjatuhkan nampan bubur hingga isinya berserakan di lantai. Hari-hari di rumah persembunyian menjadi neraka baru bagi Alina. Kegelapan yang menyelimutinya bukan hanya di mata, tapi juga di
Tubuh Marvin terasa semakin lemas, beratnya seperti menarik seluruh kekuatannya pergi perlahan. Dia hampir saja terjatuh, namun masih bisa menahan Alina yang terdiam di pelukannya.Suaranya, suara Leo yang penuh kekhawatiran, menyentuh telinganya. "Marvin... Apa kau baik-baik saja?"Marvin bisa me
Kapal logistik itu membelah ombak di tengah kegelapan malam. Suara mesin kapal yang menderu konstan menjadi satu-satunya musik latar di dek yang dingin itu. Alina masih terduduk di samping Marvin, jemarinya yang gemetar terlihat bersimbah darah oleh darah Marvin.Marvin meringis, kelopak matanya b







