เข้าสู่ระบบ"Aaaagh."Darah segar yang merembes dari luka tembak di lengan tidak lagi terasa perih, sebab malam ini, di bawah langit pekat yang menyimpan bom waktu, Marvin sadar bahwa satu-satunya cara untuk pulang dalam keadaan hidup adalah dengan menjadi iblis yang jauh lebih kejam daripada musuhnya.DOR!Suara tembakan kedua memecah keheningan malam di atap gedung barat. Peluru melesat, menggores pipi Pram hingga darah segar menetes ke kerah kemejanya. Pram terhuyung mundur, tangannya yang memegang remote kontrol bergetar hebat."Sialan! Leo, kau berkhianat?!" raung Pram, matanya membelalak panik menatap Leo yang berdiri kokoh di ambang pintu, dan Marvin yang kini sudah berhasil memungut pistol yang dilemparkan Leo."Aku tidak pernah berada di pihakmu, Pram! Bagaimana kau bisa berpikir aku berada di pihak mu?" desis Leo dengan suara baritonnya yang mantap. "Sejak awal, aku adalah bayangan Tuan Marvin. Dan bayangan tidak akan pernah mengkhianati tubuhnya! Kau terlalu berhalusinasi, Pram."Marv
"Jangan khawatir, Ayah. Aku kan membawa dia di hadapan ayah. Tolong jaga Alina," ucap Marvin sebelum dia pergi."Baik, Marvin. Kau jangan khawatir dengan Alina. Aku akan menjaganya dengan baik."Arthur dan Hugo segera membawa Alina pergi dari sana."Marvin! Jangan pergi! MARVIN!!!"Teriakan histeris Alina menggema di sepanjang koridor saat Marvin berbalik dan berlari secepat kilat menembus kegelapan malam menuju gedung barat, tempat maut telah menunggunya.'Bertahanlah, Sayang. Aku akan segera kembali,' gumam Marvin dalam hati.****Sepuluh Menit Kemudian. Atap gedung barat rumah sakit jiwa. Angin malam berembus kencang, menerbangkan ujung gaun putih polos milik Lenika yang masih duduk di tepi pembatas gedung yang sangat tinggi. Di belakangnya, Pram berdiri tegak dengan sebuah pistol di tangan kiri dan remote kontrol di tangan kanannya. Ia siap menembakkan peluru ke arah Lenika.BRAKK!Pintu atap didobrak kasar. Marvin melangkah masuk dengan napas memburu, tubuhnya basah oleh keringat
"Leo! Lihat ke arah layar! Di belakang suster! Perbesar, aku ingin melihat wajahnya!" bentak Marvin, suaranya meninggi hingga membuat Alina tersentak di ranjangnya."Ada apa, Marvin?! Apa yang kau lihat?!" tanya Alina panik, tangannya meraba-raba udara dengan cemas."Pram... Keparat itu ada di sana, Alina! Dia berdiri di antara kerumunan dan dia tersenyum licik!" raung Marvin, matanya melekat lekat pada layar laptop yang dipegang Leo."Leo, hubungi tim pengamanan rumah sakit jiwa sekarang! Tangkap pria bertopi hitam di belakang suster Mia! Aku ingin tahu, bagaimana dia bisa kabur dari penjara?"Di layar video, Leo tampak panik dan langsung berteriak pada interkomnya."Sialan! Baik, Tuan! Petugas, amankan area barat gedung sekarang juga!"BZZZZ...Belum sempat Leo menyelesaikan kalimatnya, layar laptop mendadak bergaris dan bergoyang hebat. Wajah cemas suster Mia berganti dengan sorotan kamera yang sengaja didekatkan pada wajah Pram. Pria itu mendongak, menatap langsung ke arah kamera
"Apa kau bisa membuktikannya kalau dia akan lenyap juga dalam kehidupan mu, Marvin?" Alina memalingkan wajahnya kaku, rasa sakit di hatinya masih begitu berbekas. "Percayalah, dia tidak ada dalam hatiku, Sayang. Aku bisa melenyapkan dia dalam hatiku saat ini juga." "Lalu kenapa kau harus menemuinya di penginapan itu, Marvin? Kenapa kau harus berbohong padaku? Apa ini yang kau bilang tidak ada sedikit pun perasaan mu kepadanya?" "Aku terpaksa, Sayang. Tolong dengarkan penjelasan kita," potong Marvin dengan suara bergetar menahan tangis. Ia menangkup kedua pipi Alina, memaksa istrinya menatap lurus ke dalam matanya yang dipenuhi kejujuran mutlak. "Dia mengancam akan membuat hubungan kita hancur, Alina. Aku tidak mau itu terjadi." Melihat ketulusan dan keputusasaan yang begitu nyata di mata pria sekeras Marvin Vance, pertahanan hati Alina akhirnya runtuh. Air mata bening meluncur di pipinya, dan kali ini, ia tidak mendorong Marvin menjauh. "Apa yang kau katakan itu benar?" tany
"Mati saja kau bersama kebohonganmu, Marvin! Aku akan pilih jalan ini dan kau akan menyesalinya!" "Selamat tinggal, Marvin!" Suara teriakan Alina yang putus asa tersapu angin laut yang menggelegar keras saat tubuh Alina melayang bebas menembus kegelapan malam, menerjunkan diri dari helikopter menuju hamparan lautan ganas di bawahnya. "ALINA! TIDAK!" Tanpa ragu satu detik pun, Marvin melompati cengkeraman Leo dan ikut menerjunkan dirinya ke dalam kegelapan lautan demi menyusul tubuh wanita yang sangat dicintainya. BYURRR! Dinginnya air laut yang membeku langsung menghantam tubuh Marvin. Di antara amukan ombak yang ganas, mata elang Marvin menangkap tubuh Alina yang kian tenggelam di kedalaman samudra. 'Bertahanlah, Alina. Aku tidak akan biarkan kau mati,' gumamnya dalam hati. Dengan sisa tenaga dan napas yang menyesakkan dada, Marvin membelah air, meraih pinggang ramping Alina, lalu membawanya kembali naik berjuang menembus permukaan air. "Hah! Hah! Alina, bertahanlah! Bernapas
"Umpat aku sesukamu, Alina. Aku tidak peduli. Aku harus menyelamatkan kau dari sini secepatnya!" seru Marvin, ia berusaha untuk menahan emosinya. Mendengar ucapan dingin itu, Marvin merasa dunianya runtuh seketika. Namun sebelum ia sempat memohon kembali, suara Leo menyela dari kokpit dengan nada yang sangat tegang. "Tuan Marvin... Saya baru saja menerima laporan dari markas utama di pulau, kau harus tahu ini," ujar Leo, ragu-ragu menatap Marvin melalui kaca spion depan. Marvin mengusap wajahnya yang frustrasi, berusaha mengontrol emosinya. "Ada apa lagi, Leo?!" "Nyonya Lenika... dia ditemukan tak sadarkan diri dan anak buahku sudah membawanya ke rumah sakit," ucap Leo pelan, suaranya gemetar. " "Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Marvin dengan suara datar. "Dia sempat mengalami kontraksi palsu, tapi sekarang sudah ditangani oleh dokter." Marvin tak bertanya lagi. Dia membiarkan berita itu seperti ini angin lalu. "Abaikan wanita itu! Fokus kita hanya keselamatan Alina!" poto
"Marvin! Kau baik-baik saja, kan? Tolong jawaba aku, Marvin! Bangun, Marvin! Aku mohon jangan tinggalkan aku!" tangis Alina pecah, ia meraih kepala Marvin dan mendekapnya ke dadanya. Marvin melenguh pelan, kelopak matanya terbuka sedikit, menatap Alina dengan senyuman lemah yang dipaksakan. "Aku...
"Pergi! Aku tidak butuh belas kasihan dari sipir penjara sepertimu!" teriak Alina, tangannya meraba udara dan menjatuhkan nampan bubur hingga isinya berserakan di lantai. Hari-hari di rumah persembunyian menjadi neraka baru bagi Alina. Kegelapan yang menyelimutinya bukan hanya di mata, tapi juga di
Tubuh Marvin terasa semakin lemas, beratnya seperti menarik seluruh kekuatannya pergi perlahan. Dia hampir saja terjatuh, namun masih bisa menahan Alina yang terdiam di pelukannya.Suaranya, suara Leo yang penuh kekhawatiran, menyentuh telinganya. "Marvin... Apa kau baik-baik saja?"Marvin bisa me
Kapal logistik itu membelah ombak di tengah kegelapan malam. Suara mesin kapal yang menderu konstan menjadi satu-satunya musik latar di dek yang dingin itu. Alina masih terduduk di samping Marvin, jemarinya yang gemetar terlihat bersimbah darah oleh darah Marvin.Marvin meringis, kelopak matanya b







