Compartilhar

BAB 03

last update Última atualização: 2026-02-18 14:39:59

“Maksudnya …,” Sasqia kembali menatap sopir itu ragu. “Saya … masuk ke mobil itu?”

“Benar,” sopir itu mengangguk singkat.

Sasqia menelan ludahnya perlahan.

Ini bukan kali pertama Kapten Tristan membantunya. Bukan pula kali pertama pria itu memintanya ikut dalam satu mobil saat perjalanan menuju hotel.

Selama ini, Sasqia selalu meyakinkan dirinya bahwa semua itu murni kebetulan. Atau mungkin sekadar bentuk kepedulian seorang atasan terhadap bawahannya.

Lagipula, hubungan mereka tak pernah lebih dari sekadar professional kapten dan pramugari. Tidak ada percakapan pribadi yang melampaui batas, tidak ada sikap yang bisa ditafsirkan keliru.

Namun beberapa bulan terakhir, Tristan seolah selalu hadir di saat ia berada dalam situasi sulit. Membela, membantu, dan memperhatikan tanpa banyak kata.

Awalnya Sasqia menganggap itu hanya empati. Sebuah bentuk tanggung jawab seorang pemimpin kru terhadap timnya.

Tapi jika hanya sekadar empati, mengapa perhatian itu terasa terlalu konsisten? Dan jika hanya kebetulan, mengapa kebetulan itu selalu jatuh tepat padanya?

Mengajak satu mobil mungkin terdengar sederhana. Rasional. Praktis. Mereka memang satu tujuan. Namun bagi Sasqia, tindakan itu perlahan terasa lebih dari sekadar efisiensi perjalanan.

Ia tidak ingin berprasangka. Tidak berani juga berharap. Tapi ada sesuatu dalam sikap Tristan, tenang, tidak banyak bicara, namun selalu hadir yang membuatnya tak lagi bisa menganggap semua ini sebagai kebetulan semata.

“Nona.”

Sasqia tersentak pelan, lamunannya buyar ketika sopir Tristan kembali memanggil namanya.

“Silakan ikut saya.”

Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, pria itu meraih koper Sasqia dan membawanya menuju mobil. Pintu sisi Tristan dibukakan.

“Silakan masuk.”

Sasqia terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya melangkah mendekat dan duduk di samping Tristan. Pintu tertutup. Koper dimasukkan ke bagasi.

Ia menoleh pelan ke arah pria di sebelahnya. “Ka-Kapten, ada apa Anda meminta saya ikut?” tanyanya hati-hati.

Tatapan Tristan tetap lurus ke depan, kedua lengannya terlipat di dada. Ia melirik lewat kaca spion tengah, menatap pantulan wajah Sasqia.

“Karena kita satu tujuan,” jawabnya singkat.

Mobil akhirnya melaju meninggalkan bandara menuju hotel tempat mereka menginap.

Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan. Keheningan menekan. Mata Sasqia terasa berat, kelelahan lima belas jam penerbangan akhirnya menuntut hak istirahatnya.

Dalam hati dia menyesal ikut satu mobil dengan atasannya, rasanya tidak sopan tertidur di hadapan kaptennya sendiri.

Namun Tristan memperhatikan. Menyadari.

“Tidur saja kalau kamu mengantuk,” ucapnya datar, tapi nadanya tak sedingin biasanya.

Sasqia tersentak. Ia menoleh, tersenyum kecil. “Terima kasih, Kapten,” bisiknya lembut. Namun ia tetap memaksakan diri terjaga.

Drrtt.

Ponselnya bergetar di dalam saku blazer seragam pramugarinya. Sasqia buru-buru meraih benda pipih itu dari dalam. Nama Mama tertera di layar.

Ia menoleh pada Tristan. “Maaf, Kapten. Boleh saya angkat?”

“Silakan,” jawab Tristan singkat, tanpa menoleh.

Sasqia mengangguk, menggeser simbol hijau di layar, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

“Halo, Ma.”

Suara di seberang terdengar panik, nyaris putus asa. “Qia, cepat kirim uang. Kondisi Papa kamu memburuk. Dokter bilang harus segera ditangani.”

Untuk beberapa saat, Sasqia tak mampu memberi reaksi apa pun. Ia terdiam, pandangannya kosong, mencoba mencerna kalimat-kalimat yang masih menggema di kepalanya.

Saat ini, ia tidak berada di negara yang sama dengan sang ayah. Ia baru saja mendarat, dan penerbangan kembali baru dijadwalkan besok malam.

Sasqia melirik Tristan dari sudut matanya, sementara telinganya tetap menangkap nada mendesak sang ibu di ujung sambungan telepon.

“Ma, nanti Qia hubungi lagi, ya,” suara Sasqia terdengar lebih tenang dari yang ia rasakan. “Qia baru landing di bandara.”

Tanpa menunggu jawaban, ia segera memutuskan panggilan.

Sunyi kembali menyelimuti kabin mobil.

“Ada masalah?” suara berat Tristan akhirnya memecah keheningan.

Sasqia menoleh, lalu tersenyum kecil—senyum yang lebih mirip usaha menenangkan diri. “Tidak ada, Kapten.”

“Jika kamu butuh bantuan,” ujar Tristan singkat, “Katakan saja.”

Tatapan Sasqia mengeras sesaat. Ada ragu yang berkelebat di matanya. Bukan karena ia tak butuh bantuan, ia sangat butuh. Namun ia juga tahu batas.

Tidak. Ia tidak ingin memanfaatkan kebaikan Tristan hanya karena pria itu selama ini bersikap baik padanya. Kali ini masalahnya tidak berhubungan dengan maskapai.

“Terima kasih banyak atas tawarannya, Kapten,” ucap Sasqia akhirnya, memilih jawaban paling aman—tak menerima, juga tak menolak.

Tristan terdiam. Dari kaca spion tengah, ia kembali melirik Sasqia yang tampak menegang, jelas menyembunyikan sesuatu. Ada pertanyaan yang ingin ia ajukan, namun ia menelannya kembali.

Beberapa menit kemudian, mobil mereka berhenti.

Sopir turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Tristan. Di sisi lain, Sasqia membuka pintunya sendiri dan turun, menatap bangunan megah di hadapannya.

Hotel itu terlalu mewah.

Tristan berdiri di samping mobil, menunggu sopir mengeluarkan koper mereka dari bagasi.

“Ini, Tuan,” ujar sopir sembari menyerahkan koper Tristan.

“Hm,” Tristan menyahut singkat, lalu melangkah masuk ke dalam hotel tanpa menoleh lagi.

Sasqia masih berdiri terpaku di depan pintu masuk, menatap bangunan itu dengan dahi berkerut. Ini jelas bukan hotel yang bekerja sama dengan Enver Blue Airways, bukan tempat kru biasanya menginap.

“Ke-kenapa … ke sini?” gumamnya pelan. Ia menoleh pada sopir. “Maaf, ini bukan hotel tempat saya menginap, Sir. Tolong antar saya ke hotel kru. Biasanya saya di—”

“Tidak, Nona,” potong sopir itu cepat. “Tuan Tristan memang meminta saya membawa Anda ke hotel ini. Silakan masuk.”

Sasqia terdiam ketika sopir itu justru membawa kopernya masuk, tanpa menyerahkannya. Jantungnya berdegup tak karuan.

Di dalam lobi hotel yang elegan, Tristan sudah menunggu. Di tangannya, sebuah kartu akses berwarna hitam dengan logo hotel tercetak emas.

“Kamar kamu,” katanya singkat, mengulurkan kartu itu pada Sasqia. “Satu lantai dengan saya.”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 10

    Sasqia baru saja tiba di kamar kosnya setelah dari rumah sakit. Ia belum sempat bertemu langsung dengan ayahnya. Dokter Jevier memintanya kembali setelah beristirahat usai bekerja, mengingat ia baru saja menempuh penerbangan panjang. Lagipula, saat ia sempat mengintip ke ruang rawat, sang ayah masih terlelap. Pria paruh baya itu memang sering terjaga sepanjang malam, dan baru bisa tidur ketika pagi menjelang. Sasqia membuka koper perlahan. Di antara lipatan pakaian, ia mengeluarkan sebuah kotak mainan. Boneka beruang berwarna krem dengan syal kecil bergambar Menara Eiffel, serta sebuah kotak musik balerina berwarna merah muda yang anggun. “Semoga Sherly suka,” gumamnya pelan sambil tersenyum tipis. “Nanti sore aku ke rumah untuk kasih ini ke dia. Setelah itu, jenguk Papa lagi ke rumah sakit.” Pandangannya beralih ke kasur sederhana di sudut kamar. “Sekarang istirahat dulu,” katanya pada diri sendiri, lalu tersenyum kecil. “Tapi mandi dulu, deh.” Sebelum masuk ke kamar mandi, Sa

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 09

    “Kapten?” bisik Sasqia lirih. Matanya mengerjap pelan, menatap pria yang kini berdiri begitu dekat di hadapannya. Jarak wajah mereka hanya satu tarikan napas. Tristan menelan ludah berat. Jakunnya naik turun jelas. Pandangannya sempat jatuh pada bibir Sasqia, bibir yang beberapa detik lalu tanpa izin telah ia kecup—sebelum akhirnya beralih ke mata indah wanita itu. “Maaf, saya lupa diri. Saya pikir kamu mantan saya,” ucapnya, suaranya rendah namun tegas. Ia kembali menegakkan punggungnya, memberi jarak yang semestinya. “Jika kamu merasa keberatan, kamu berhak menuntut saya atas pelecehan.” Mulut Sasqia terbuka, namun tak satu pun kata keluar. Ia hanya menelan ludah, dadanya naik turun tak beraturan. “Tidak perlu, Kapten,” katanya akhirnya. “Karena Kapten tidak sengaja atau bermaksud apa-apa.” “Tidak, Sasqia,” ucap Tristan tenang, namun sorot matanya serius. “Saya tetap bersalah. Apa yang bisa saya lakukan untuk menebusnya?” “Kapten …,” Sasqia menunduk sejenak, seolah menimbang

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 08

    Di restoran hotel Paris itu, Tristan duduk seorang diri, menunggu Sasqia menyusul. Baru tiga menit berlalu sejak ia mengambil tempat, sementara secangkir teh hangat yang dipesannya baru saja tiba. “Silakan menikmati teh hangatnya, Tuan.” Tristan mengangguk singkat saat pramusaji meletakkan cangkir di hadapannya. Jemarinya meraih porselen putih itu, meniup pelan uap tipis yang mengepul, lalu menyeruput sedikit. Aromanya lembut, rasanya pas—tidak terlalu pahit, tidak pula manis. “Saya sempat mengira salah orang,” ucap sebuah suara dari sisi kanannya. “Ternyata benar, adikku ada di sini.” Tanpa menoleh, Tristan sudah mengenali siapa pemilik suara itu. Kaelix Enver Valerio—kakak kandungnya, sekaligus CEO Maskapai EBA. Kaelix berdiri santai di sampingnya, kedua tangan masuk ke saku celana, senyum miring menghiasi wajah tampannya. Ia lalu menarik kursi di hadapan Tristan dan duduk, seolah kehadirannya tak perlu izin. “Sudah lama kita tidak sarapan bersama,” ujarnya ringan. “Sejak sa

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 07

    Bra itu jatuh ke lantai tanpa suara. Sasqia mengerang pelan di dalam mulutnya dan Kaelix, saat payudaranya terbebas, menggantung indah. Kaelix langsung meremasnya, bukan kasar, tapi penuh nafsu yang terkendali. Jempolnya memilin puting yang sudah mengeras, membuat Sasqia menggeliat dan mencengkeram bahu Kaelix lebih erat. “Ahh ... pelan-pelan,” desahnya Sasqia lirih, membuat Kaelix tersenyum tipis. Kaelix mengangkat tubuh Sasqia dengan mudah, membawanya ke ranjang king-size yang sudah siap dengan seprai putih bersih. Sasqia terbaring di sana, napasnya tersengal, matanya setengah terpejam karena malu dan hasrat yang mulai membara tanpa diduga. Kaelix melepas bathrobe-nya. Tubuhnya telanjang sempurna, otot perutnya yang kotak-kotak terukir jelas, garis V sampai ke pangkal pahanya, rapi seperti dipahat. Bisepnya mengencang setiap kali ia bergerak, menunjukkan seberapa kuat pria itu sebenarnya, dada bidang, dan batangnya yang sudah tegak sempurna, tebal dan panjang, ujungnya sudah b

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 06

    Mulut Sasqia ternganga. Matanya melebar, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari Kaelix. “Anda … Anda sedang membeli saya?” suaranya bergetar, antara marah dan terluka. Kaelix tersenyum tipis. Ia sedikit membungkukkan punggung tegapnya, mendekat hingga suaranya jatuh tepat di dekat telinga Sasqia. Bibir pria itu nyaris menyentuh daun telinganya. “Saya menawarkan pertukaran yang adil,” bisiknya tenang. “Kamu butuh uang. Saya hanya butuh teman untuk menghabiskan malam dingin di Paris.” Ia kembali berdiri tegak, seolah pembicaraan barusan hanyalah urusan bisnis biasa. Sasqia tersinggung. Dadanya naik turun cepat. Ia bangkit berdiri dengan gerakan tajam. “Maaf,” ucapnya tegas. “Saya bukan wanita seperti itu. Saya punya harga diri. Saya tidak menjual diri saya untuk uang.” Belum sempat Kaelix menanggapi, ponsel Sasqia yang tergeletak di atas meja bergetar, layar menyala menampilkan panggilan masuk. Keduanya refleks menoleh. Nomor rumah sakit. Nama dokter yang

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 05

    Setiap kali Sasqia memejamkan mata, yang terbayang justru ruang perawatan rumah sakit—wajah pucat ayahnya, suara mesin medis yang berdengung pelan. Ia sudah mencoba mencari pinjaman. Menghubungi beberapa teman, bahkan membuka aplikasi pinjaman daring. Namun nominal yang dibutuhkan terlalu besar, dan waktunya terlalu sempit. “Mungkin pergi sebentar ke bar bisa bikin kepala lebih ringan,” gumamnya pelan. Ia bangkit dari ranjang, menatap sekeliling kamar yang elegan itu. Lampu temaram, karpet lembut, tirai panjang dengan pemandangan kota Paris yang berkilau di kejauhan. “Kemewahan seperti ini pun gak ada artinya kalau Papa kesakitan,” bisiknya lirih. Sasqia mengusap wajahnya pelan, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya. Ia tak merias wajah, tak pula mengganti pakaian tidurnya yang sederhana. Hanya mengenakan long coat tebal berwarna krem untuk menutupi piyama tipisnya, lalu keluar dari kamar. Hotel itu memiliki tiga bar berbeda, namun ia memilih rooftop bar—ingin merasakan angin mala

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status