FAZER LOGIN“Maksudnya …,” Sasqia kembali menatap sopir itu ragu. “Saya … masuk ke mobil itu?”
“Benar,” sopir itu mengangguk singkat. Sasqia menelan ludahnya perlahan. Ini bukan kali pertama Kapten Tristan membantunya. Bukan pula kali pertama pria itu memintanya ikut dalam satu mobil saat perjalanan menuju hotel. Selama ini, Sasqia selalu meyakinkan dirinya bahwa semua itu murni kebetulan. Atau mungkin sekadar bentuk kepedulian seorang atasan terhadap bawahannya. Lagipula, hubungan mereka tak pernah lebih dari sekadar professional kapten dan pramugari. Tidak ada percakapan pribadi yang melampaui batas, tidak ada sikap yang bisa ditafsirkan keliru. Namun beberapa bulan terakhir, Tristan seolah selalu hadir di saat ia berada dalam situasi sulit. Membela, membantu, dan memperhatikan tanpa banyak kata. Awalnya Sasqia menganggap itu hanya empati. Sebuah bentuk tanggung jawab seorang pemimpin kru terhadap timnya. Tapi jika hanya sekadar empati, mengapa perhatian itu terasa terlalu konsisten? Dan jika hanya kebetulan, mengapa kebetulan itu selalu jatuh tepat padanya? Mengajak satu mobil mungkin terdengar sederhana. Rasional. Praktis. Mereka memang satu tujuan. Namun bagi Sasqia, tindakan itu perlahan terasa lebih dari sekadar efisiensi perjalanan. Ia tidak ingin berprasangka. Tidak berani juga berharap. Tapi ada sesuatu dalam sikap Tristan, tenang, tidak banyak bicara, namun selalu hadir yang membuatnya tak lagi bisa menganggap semua ini sebagai kebetulan semata. “Nona.” Sasqia tersentak pelan, lamunannya buyar ketika sopir Tristan kembali memanggil namanya. “Silakan ikut saya.” Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, pria itu meraih koper Sasqia dan membawanya menuju mobil. Pintu sisi Tristan dibukakan. “Silakan masuk.” Sasqia terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya melangkah mendekat dan duduk di samping Tristan. Pintu tertutup. Koper dimasukkan ke bagasi. Ia menoleh pelan ke arah pria di sebelahnya. “Ka-Kapten, ada apa Anda meminta saya ikut?” tanyanya hati-hati. Tatapan Tristan tetap lurus ke depan, kedua lengannya terlipat di dada. Ia melirik lewat kaca spion tengah, menatap pantulan wajah Sasqia. “Karena kita satu tujuan,” jawabnya singkat. Mobil akhirnya melaju meninggalkan bandara menuju hotel tempat mereka menginap. Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan. Keheningan menekan. Mata Sasqia terasa berat, kelelahan lima belas jam penerbangan akhirnya menuntut hak istirahatnya. Dalam hati dia menyesal ikut satu mobil dengan atasannya, rasanya tidak sopan tertidur di hadapan kaptennya sendiri. Namun Tristan memperhatikan. Menyadari. “Tidur saja kalau kamu mengantuk,” ucapnya datar, tapi nadanya tak sedingin biasanya. Sasqia tersentak. Ia menoleh, tersenyum kecil. “Terima kasih, Kapten,” bisiknya lembut. Namun ia tetap memaksakan diri terjaga. Drrtt. Ponselnya bergetar di dalam saku blazer seragam pramugarinya. Sasqia buru-buru meraih benda pipih itu dari dalam. Nama Mama tertera di layar. Ia menoleh pada Tristan. “Maaf, Kapten. Boleh saya angkat?” “Silakan,” jawab Tristan singkat, tanpa menoleh. Sasqia mengangguk, menggeser simbol hijau di layar, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya. “Halo, Ma.” Suara di seberang terdengar panik, nyaris putus asa. “Qia, cepat kirim uang. Kondisi Papa kamu memburuk. Dokter bilang harus segera ditangani.” Untuk beberapa saat, Sasqia tak mampu memberi reaksi apa pun. Ia terdiam, pandangannya kosong, mencoba mencerna kalimat-kalimat yang masih menggema di kepalanya. Saat ini, ia tidak berada di negara yang sama dengan sang ayah. Ia baru saja mendarat, dan penerbangan kembali baru dijadwalkan besok malam. Sasqia melirik Tristan dari sudut matanya, sementara telinganya tetap menangkap nada mendesak sang ibu di ujung sambungan telepon. “Ma, nanti Qia hubungi lagi, ya,” suara Sasqia terdengar lebih tenang dari yang ia rasakan. “Qia baru landing di bandara.” Tanpa menunggu jawaban, ia segera memutuskan panggilan. Sunyi kembali menyelimuti kabin mobil. “Ada masalah?” suara berat Tristan akhirnya memecah keheningan. Sasqia menoleh, lalu tersenyum kecil—senyum yang lebih mirip usaha menenangkan diri. “Tidak ada, Kapten.” “Jika kamu butuh bantuan,” ujar Tristan singkat, “Katakan saja.” Tatapan Sasqia mengeras sesaat. Ada ragu yang berkelebat di matanya. Bukan karena ia tak butuh bantuan, ia sangat butuh. Namun ia juga tahu batas. Tidak. Ia tidak ingin memanfaatkan kebaikan Tristan hanya karena pria itu selama ini bersikap baik padanya. Kali ini masalahnya tidak berhubungan dengan maskapai. “Terima kasih banyak atas tawarannya, Kapten,” ucap Sasqia akhirnya, memilih jawaban paling aman—tak menerima, juga tak menolak. Tristan terdiam. Dari kaca spion tengah, ia kembali melirik Sasqia yang tampak menegang, jelas menyembunyikan sesuatu. Ada pertanyaan yang ingin ia ajukan, namun ia menelannya kembali. Beberapa menit kemudian, mobil mereka berhenti. Sopir turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Tristan. Di sisi lain, Sasqia membuka pintunya sendiri dan turun, menatap bangunan megah di hadapannya. Hotel itu terlalu mewah. Tristan berdiri di samping mobil, menunggu sopir mengeluarkan koper mereka dari bagasi. “Ini, Tuan,” ujar sopir sembari menyerahkan koper Tristan. “Hm,” Tristan menyahut singkat, lalu melangkah masuk ke dalam hotel tanpa menoleh lagi. Sasqia masih berdiri terpaku di depan pintu masuk, menatap bangunan itu dengan dahi berkerut. Ini jelas bukan hotel yang bekerja sama dengan Enver Blue Airways, bukan tempat kru biasanya menginap. “Ke-kenapa … ke sini?” gumamnya pelan. Ia menoleh pada sopir. “Maaf, ini bukan hotel tempat saya menginap, Sir. Tolong antar saya ke hotel kru. Biasanya saya di—” “Tidak, Nona,” potong sopir itu cepat. “Tuan Tristan memang meminta saya membawa Anda ke hotel ini. Silakan masuk.” Sasqia terdiam ketika sopir itu justru membawa kopernya masuk, tanpa menyerahkannya. Jantungnya berdegup tak karuan. Di dalam lobi hotel yang elegan, Tristan sudah menunggu. Di tangannya, sebuah kartu akses berwarna hitam dengan logo hotel tercetak emas. “Kamar kamu,” katanya singkat, mengulurkan kartu itu pada Sasqia. “Satu lantai dengan saya.”Ruang praktik mendadak terasa lebih sunyi setelah pemeriksaan selesai. Dokter tidak langsung memberikan penjelasan seperti biasanya. Tatapannya bergantian menyusuri layar USG, hasil laboratorium, lalu kembali lagi ke monitor di hadapannya. Sesekali alisnya berkerut tipis, seolah ada sesuatu yang belum benar-benar sesuai dengan dugaan awalnya. Di kursi sebelah, Sasqia tanpa sadar meremas ujung rok yang menutupi lututnya. Tatapannya bergantian antara dokter dan Kaelix, berharap wanita paruh baya itu segera mengucapkan sesuatu. Namun yang terdengar hanya suara pendingin ruangan. Keheningan yang semula terasa biasa perlahan berubah menyesakkan. Kaelix akhirnya memecahnya. “Ada sesuatu, Dok?” Dokter mengangkat kepala, tetapi bukannya menjawab, ia kembali memperbesar gambar pada layar. Jemarinya menggeser beberapa data sebelum perlahan melepas kacamatanya. “Tunggu sebentar.” Kaelix menarik napas pendek. Tatapannya beralih kepada Sasqia. Wanita itu mencoba membalas dengan senyum tip
Sasqia membulatkan matanya. Bukan karena terkejut, melainkan karena merasa muak. “Apa?” tatapannya menusuk tajam. “Mas sadar sedang bicara apa?” Raka tak bergeming. “Saya tidak sedang memfitnah suami atau pun kakak kamu. Saya melihat sesuatu.” Sasqia mengepalkan jemarinya di gagang troli. “Aku kasih waktu Mas lima detik buat narik ucapan itu. Kalau gak ….” Raka memotong ucapannya. “Kalau saya bohong, saya siap bertanggung jawab. Tapi kalau saya benar ...,” ia menatap Sasqia tanpa berkedip. “apa kamu siap menerima kenyataannya?” _____ Sejak meninggalkan supermarket, pikiran Sasqia tak benar-benar tenang. Kalimat-kalimat yang dilontarkan Raka terus berputar di kepalanya. Sekali lagi bukan karena ia mempercayainya. Melainkan karena ia yakin pria itu sengaja sedang berusaha mengusik rumah tangganya. “Aku yakin Mas Raka cuma lagi cari cara buat bikin hubungan aku sama Mas Kael retak,” gumamnya lirih sambil menggenggam kemudi. “Lagipula sekarang Kak Shiren udah punya pekerjaan bagu
Sasqia baru saja selesai routine skincare malamnya. Wajahnya sudah bersih, lembap, dan sedikit berkilau di bawah lampu kamar yang redup. Ia mematikan lampu wardrobe, lalu melangkah pelan menuju ranjang. Kaelix sudah berbaring di sana, tubuhnya setengah tertutup selimut, satu tangan di belakang kepala. Matanya terbuka ketika mendengar langkah istrinya. Seperti biasa setiap malam, tatapannya langsung melembut begitu melihat Sasqia. Sasqia naik ke ranjang dan berbaring di sampingnya. Belum sempat ia membenarkan posisi, Kaelix sudah bergeser mendekat. Lengannya melingkar di pinggang Sasqia, menariknya pelan ke arah tubuhnya. Bibirnya mendarat di pelipis istri, lalu turun ke pipi, sebelum akhirnya mencium bibir Sasqia lembut. Ciuman itu perlahan menjadi lebih dalam. Tangan Kaelix mulai meraba pinggang ramping Sasqia, naik pelan ke sisi tubuhnya, jari-jarinya menyusuri kulit yang masih hangat. Napasnya terasa lebih dalam di dekat telinga Sasqia. “Sayang ….” bisik Kaelix, suaranya rend
“Mama sakit?” tanya Sherly polos sambil mendongakkan wajah mungilnya ke arah sang ibu. Shiren segera menggeleng dan tersenyum menenangkan. “Nggak, Sayang. Mama baik-baik aja. Tadi cuma agak pusing sedikit, sekarang udah mendingan.” Ia lalu melirik Kaelix sekilas sebelum kembali menatap putrinya. “Om Kael tadi udah kasih Mama obat.” Kaelix mengangkat sebelah alis. “Bukan saya,” ujarnya datar. “Pembantu saya yang mengambilkannya.” Tanpa memperpanjang pembicaraan, pria itu membungkukkan tubuhnya lalu mengulurkan kedua tangan ke arah Sherly. “Sini.” Sherly langsung menyambut dengan antusias. Begitu tubuh mungilnya terangkat ke dalam gendongan Kaelix, kedua lengannya spontan melingkar di leher pria itu. “Hehe ... Om tinggi banget,” seru bocah itu. Sudut bibir Kaelix terangkat tipis. “Karena Om sudah dewasa.” “Iya juga, ya.” Jawaban polos Sherly membuat Sasqia tak kuasa menahan tawa kecil. Kaelix pun membawa bocah itu melangkah menjauh menuju taman belakang, membiarkan Sherly ter
“Aduh ....” Tubuhnya sedikit limbung hingga harus berpegangan pada pagar tangga. Tatapan Kaelix melirik singkat ke wajah kakak iparnya itu. “Kamu kenapa?” Shiren mengangkat wajah perlahan. Senyumnya dipaksakan, seolah tak ingin merepotkan. “Nggak apa-apa ...,” ia menggeleng pelan. “Cuma akhir-akhir ini kepala sering pusing. Mungkin kecapekan.” Shiren kembali memegangi pelipisnya. “Ah ....” Kaelix memperhatikannya beberapa detik. Tak ada kepanikan. Tak ada perubahan ekspresi. Pria itu hanya menoleh ke arah salah seorang pelayan yang kebetulan melintas. “Bi.” Pelayan itu segera menghampiri. “Iya, Tuan?” “Tolong ambilkan obat sakit kepala. Siapkan juga air hangat.” “Baik, Tuan.” Pelayan itu langsung bergegas menuju dapur. Shiren sempat terdiam. Ia berharap Kaelix akan menghampirinya, atau setidaknya memegang lengannya. Namun pria itu tetap berdiri di tempatnya. Jarak mereka bahkan tak berubah sedikit pun. “Kalau memang badanmu tidak enak,” ucap Kaelix datar, “setelah minum
Shiren berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya untuk terakhir kali sebelum mengambil sebuah paper bag yang telah ia siapkan sejak pagi. Di dalamnya tersimpan beberapa botol jamu racikan yang akan ia berikan kepada Sasqia. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya. Tak lama kemudian, langkah kaki kecil terdengar mendekat. “Mama ....” panggil Sherly sambil memeluk kaki ibunya. Shiren menoleh dan langsung membelai lembut kepala putrinya. “Iya, sayang?” “Mama cantik.” Shiren terkekeh pelan. “Terima kasih.” “Mama mau ke mana?” Sherly menatap ibunya dengan kepala miring. “Mama mau ajak Sherly jalan-jalan.” Mata Sherly langsung membulat antusias. “Ke mana?” “Ke rumah Tante Qia dan Om Kael.” Seketika wajah mungil itu berbinar. “Serius?” Shiren mengangguk sambil tersenyum. “Iya. Makanya ayo kita berangkat sekarang.” Ia menggenggam tangan kecil putrinya, sementara tangan satunya membawa paper bag tersebut. Sherly yang sedari tadi memperhatikan bungkusan itu tak bisa menahan rasa
“Sssh ….” Sasqia meringis pelan ketika Tristan mengoleskan salep pada lututnya yang mulai membiru. “Tahan sedikit. Sebentar lagi selesai,” ujar Tristan lembut. Ia berjongkok di hadapan Sasqia yang duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu hati-hati untuk sekadar mengobati luka
Suara sendok beradu pelan dengan piring. Sasqia membeku. Kakek mengangkat alisnya tinggi. Kaelix tersenyum tipis—bukan karena terhibur, melainkan karena tertantang. Sementara Sasqia merasakan jantungnya berdetak tidak wajar. Tristan tetap tenang, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sepenu
Lebih bagus? Untuk dia? “Kapten.” Sasqia menggeleng tegas, berusaha mengusir debar aneh di dadanya. “Tidak perlu. Saya hanya perlu mengambil kembali kalung yang Mama saya ambil.” Tristan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Tatapannya tenang, namun sulit ditebak. “Jadi
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?







