Se connecter“Mas, kamu udah bikin CV buat lamar kerja nanti?” tanya Shiren pada suaminya malam itu. Raka yang tengah rebahan di sofa sambil memainkan game di ponselnya hanya melirik sekilas. “Belum.” Shiren mengernyit. “Belum?” ulangnya memastikan. “Iya,” sahut Raka santai tanpa rasa bersalah. “Memangnya kapan mau dimasukin? Emang udah buka lowongan?” “Gak ada info lowongan, sih,” jawab Shiren sambil duduk di sofa sebelahnya. “Tapi kan Tuan Kaelix udah bilang suruh masukin surat lamaran aja. Mau posisi apa juga terserah.” Raka akhirnya mematikan game di ponselnya. Ia mengubah posisi duduknya, lalu menatap lurus sang istri. “Kamu sendiri udah bikin?” Shiren langsung membuang pandangannya ke arah lain. “Hm … belum.” “Kenapa?” Wanita itu menghela napas panjang sebelum menjawab pelan, “Jadi kamu serius mau aku kerja juga?” Sudut bibir Raka terangkat tipis. “Iya.” Jawaban singkat itu membuat Shiren menatapnya kembali. “Kita kerja bareng-bareng,” lanjut Raka santai namun terdengar serius.
Kabin mobil terasa begitu sunyi usai mereka meninggalkan area pemakaman. Tak ada percakapan. Hanya suara dedaunan kering yang samar terdengar di malam yang dingin. Tristan fokus menatap jalanan di depan dengan wajah tenang, namun sorot matanya tampak kosong. Seolah sebagian pikirannya masih tertinggal di makam Mina. Sementara Sasqia beberapa kali melirik ke arahnya diam-diam. Dadanya terasa sesak. Bukan karena cemburu, melainkan karena baru menyadari sebesar apa luka yang selama ini dipendam pria itu seorang diri. Perlahan, Sasqia memberanikan diri mengulurkan tangannya. Jemarinya menggenggam tangan Tristan yang berada di atas persneling. Tristan sedikit tersentak. Pria itu melirik tangan kecil tersebut sekilas sebelum akhirnya menoleh ke arah Sasqia. “Maaf …,” ucap Sasqia lirih. “Saya gak bermaksud bikin Mas harus nginget masa lalu yang menyakitkan itu lagi.” Tatapan Tristan melembut tipis. “Saya cuma …,” Sasqia menunduk pelan. “Saya takut.” “Takut apa?” tanya Tristan rendah.
“Ja-jadi …,” napas Sasqia tercekat. “Mas belum putus?” Tristan memejamkan mata sejenak sebelum menghembuskan napas panjang. “Saya akan jelaskan semuanya,” ucapnya rendah. “Tapi tidak lewat telepon.” Sasqia menggigit bibirnya pelan. “Terus?” tanyanya lirih. “Kita bertemu sekarang,” jawab Tristan cepat. “Saya jemput kamu.” Sasqia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bersuara pelan, “Saya kirim alamatnya sekarang.” Tanpa menunggu balasan lagi, wanita itu langsung memutus sambungan telepon sepihak. Tristan menurunkan ponselnya perlahan. Tatapannya kemudian beralih mengelilingi kamar. Foto-foto kenangan, dan masa lalu yang selama ini masih diam di tempatnya. _____ Di sisi lain, Sasqia duduk seorang diri di sebuah kafe kecil usai bertemu Jevier di rumah sakit dua jam lalu. Segelas kopi di hadapannya bahkan sudah dingin sejak lama. Selama dua jam itu pula pikirannya terus dipenuhi hal yang sama. Tentang Tristan. Tentang perempuan bernama Mina. Dan tentang dirinya yang mungkin
‘Saya hanya … tidak ingin kamu salah paham. Jika suatu saat ada yang mengatakan saya menjadikan kamu pelarian, jangan pernah percaya itu.’ Kalimat Tristan itu mendadak terngiang jelas di kepala Sasqia. Membuat dadanya terasa semakin sesak. “Kapan vidio itu diambil, Dok?” tanya Sasqia pelan, tatapannya lurus menatap Jevier. Jevier terdiam sejenak sebelum menjawab. “Dua hari lalu.” Sasqia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan seolah berusaha tetap tenang. “Terima kasih karena sudah khawatir sama saya, Dok,” ucapnya akhirnya. “Tapi saya rasa … ini tidak perlu.” Jevier mengernyit tipis. “Saya tidak mau ada kesalahpahaman,” lanjut Sasqia pelan. “Apalagi Dokter adiknya Mas Tristan. Kalau nanti ada masalah dalam hubungan kami, saya tidak mau orang lain ikut terseret.” Tatapannya turun sebentar ke jemarinya sendiri sebelum kembali menatap Jevier. “Biarkan saya menjalani semuanya sendiri. Apapun yang akan terjadi nanti.” “Lagipula …,” Sasqia tersenyum kecil meski
Jevier terus menatap layar ponselnya sejak tadi, menunggu balasan dari Sasqia setelah mengirim vidio yang diam-diam ia rekam dari kamar Tristan. Pesan itu sudah dibaca. Dua centang biru terpampang jelas di layar. Namun belum ada balasan apa pun. Tok. Tok. Tok. Ketukan pintu membuat Jevier tersentak kecil. Ia buru-buru mematikan layar ponselnya lalu meletakkannya di atas meja kerja. “Permisi, Dok,” sapa seorang perawat yang masuk ke ruangannya. “Pasien Anda sudah menunggu.” Jevier menghela napas pelan sebelum bangkit dari kursinya. “Baik, saya ke sana.” Ia sempat melirik ponselnya sekali lagi, seolah berharap ada balasan dari Sasqia. Namun layar itu tetap sunyi. Akhirnya Jevier berjalan keluar ruangan. Dan tepat setelah pintu tertutup, layar ponselnya kembali menyala. Panggilan masuk dari Sasqia. _____ Di sisi lain, Sasqia duduk di tepi ranjang sambil terus mencoba menghubungi nomor Jevier. Namun panggilannya tak kunjung diangkat. “Kenapa gak diangkat sih!” gumamnya pelan.
Sasqia berjalan pelan sambil mengamit lengan Mahendra yang menuntunnya keluar kamar. Wajahnya masih sedikit pucat, meski kondisinya jauh lebih baik dibanding semalam. Begitu tiba di dapur, mereka menemukan Kaelix berdiri di depan meja island dapur. Pria itu tengah menuangkan bubur hangat ke dalam mangkuk, uap tipis mengepul di udara. “Nak Kael,” panggil Mahendra sopan. “Kami izin pamit pulang.” Kaelix mengangkat pandangannya sebentar lalu mengangguk kecil. “Tapi sebelum itu, sarapan dulu, Pak,” ucapnya tenang. “Saya sudah membuatkan bubur.” “Tidak perl—” “Semalam terjadi kecelakaan di jalan raya,” sela Kaelix datar sebelum Sasqia sempat menyelesaikan kalimatnya. Tangannya menarik salah satu kursi untuk Mahendra, lalu kursi di sebelahnya untuk Sasqia. “Akibat hujan deras, petir, dan sempat mati lampu di beberapa titik kota,” lanjutnya tenang. “Beruntung Anda dan Sasqia memilih menginap.” Tatapannya beralih pada keduanya. “Kalau tidak … kita tidak tahu apa yang bisa terjadi.”
“Terima kasih banyak, Dok,” ucap Mahendra dengan tulus. “Sama-sama, Pak.” Jevier tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya kepada Sasqia yang sejak tadi terlihat diam. “Ada masalah, Sas?” tanyanya, membuyarkan lamunan wanita itu. Sasqia tersentak pelan, kemudian tersenyum kecil. “Nggak ada,
“Mas semalam ke rumah sakit, ya?” tanya Sasqia pelan, membuka percakapan lebih dulu saat mereka makan siang bersama. Sendok di tangan Tristan terhenti di udara. Ia lalu meletakkannya kembali di atas piring, sebelum menatap Sasqia. “Kamu tahu dari mana?” Sasqia tersenyum kecil. “Semalam Tuan Kael
“Om Tristan ke mana, Sus?” tanya Sana siang itu dengan suara kecil. Usai makan dan menelan obatnya, tubuh mungilnya diminta beristirahat. Ia sudah berbaring di atas ranjang rumah sakit, selimut menutupi hingga dada. Babysitter yang menemaninya duduk di kursi dekat ranjang, mengusap pelan rambut h
“Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s







