Share

BAB 262

last update publish date: 25.07.2026 00:08:59

“Mas ... udah gak marah sama aku?” tanya Sasqia pelan.

Mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan bandara, membelah jalanan ibu kota yang mulai dipadati kendaraan menjelang sore.

Kaelix, yang duduk di sampingnya, menoleh sekilas. “Sejak kapan saya marah sama kamu?”

Sasqia tersenyum tipis. “Maksudnya ... masih kecewa.”

Tak ada jawaban. Kaelix kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela, membiarkan deretan gedung pencakar langit berganti satu demi satu.

Melihat tak ada respons, seny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Tati S
othoor cepat sasqia hamil biar kael percaya lagi dan makin cinta sama qia
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 264

    “Ada apa, Martha?” tanya Miriam ketika melihat asisten pribadinya datang tergesa-gesa siang itu. Martha menutup pintu ruang kerja lebih dulu sebelum melangkah mendekat. Raut wajahnya tampak serius. “Saya baru mendapat informasi, Nyonya.” Miriam meletakkan cangkir tehnya di atas meja. “Informasi apa?” “Tuan Kaelix membawa Nyonya Sasqia ke rumah sakit pagi tadi.” Alis Miriam langsung bertaut. “Rumah sakit?” “Iya, Nyonya.” “Untuk apa?” “Pemeriksaan kandungan.” Martha menarik napas sejenak sebelum melanjutkan. “Tuan Kaelix ingin memastikan kondisi rahim istrinya setelah mengonsumsi pil kontrasepsi.” Jari-jari Miriam yang semula tenang di atas meja perlahan menegang. “Apa ... apa Kael juga tahu kalau saya—” “Tidak.” Martha buru-buru menggeleng. “Setidaknya sampai informasi yang saya dapat, Tuan Kaelix belum mengetahui siapa yang berada di balik semua itu.” “Dan ... Nyonya Sasqia juga tidak pernah menyebut nama Anda sampai detik ini.” Helaan napas panjang akhirnya keluar dari b

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 263

    “Apa yang kamu lakukan tadi?” tanya Tristan dingin. Jevier yang sedang menuangkan segelas air minum menghentikan gerakannya. Ia menoleh sekilas ke arah sang kakak. “Maksudnya?” “Memeluk Sana.” Nada bicara Tristan terdengar datar, tetapi sorot matanya menyiratkan sesuatu yang jauh lebih tajam. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Atau ... kamu mulai ingin mengakui kalau dia anak kandungmu?” Jevier terkekeh pelan, seolah menganggap ucapan itu tak lebih dari lelucon. “Saya hanya memeriksa pasien.” “Pasien?” Tristan menyandarkan bahunya pada kusen pintu. “Sana tidak sakit separah itu.” “Dia demam sejak kemarin.” Jevier menjawab tanpa nada emosi. “Pagi tadi saya memeriksanya. Sebagai dokter, kalau ada orang sakit di depan mata saya, tentu saya akan membantu.” Tristan mendengus pelan. “Aneh.” “Apa yang aneh?” Jevier menyipitkan matanya. “Barusan Sana bilang dia sehat-sehat saja.” “Itu karena dia tidak ingin kamu khawatir.” Jevier menatap lurus ke arah kakaknya. “Dia sendiri yang bila

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 262

    “Mas ... udah gak marah sama aku?” tanya Sasqia pelan. Mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan bandara, membelah jalanan ibu kota yang mulai dipadati kendaraan menjelang sore. Kaelix, yang duduk di sampingnya, menoleh sekilas. “Sejak kapan saya marah sama kamu?” Sasqia tersenyum tipis. “Maksudnya ... masih kecewa.” Tak ada jawaban. Kaelix kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela, membiarkan deretan gedung pencakar langit berganti satu demi satu. Melihat tak ada respons, senyum Sasqia perlahan memudar. “Berarti ... Mas masih kecewa sama aku, ya?” Keheningan kembali menyelimuti mobil. Beberapa detik kemudian, Kaelix akhirnya membuka suara. “Apa kamu benar-benar sudah berhenti minum obat itu?” Pertanyaan itu membuat Sasqia langsung menoleh. “Udah, Mas.” Ia mengangguk cepat. “Aku benar-benar udah berhenti.” Tanpa ragu, ia meraih kedua tangan suaminya dan menggenggamnya erat. “Aku mau punya anak dari Mas.” Tatapan Kaelix jatuh pada jemari kecil yang menggenggam tan

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 261

    “Om Jev ....” Langkah Jevier yang semula hendak menuju ruang kerjanya terhenti. Ia menoleh ke arah kamar Sana yang pintunya terbuka sedikit. Tanpa banyak berpikir, ia mengubah arah langkahnya. Di atas ranjang, Sana terbaring di balik selimut tebal. Wajah mungilnya tampak pucat, sementara sebuah kompres penurun demam menempel di dahinya. “Kamu kenapa?” tanya Jevier pelan sembari mendekat. “Sana sakit, Om,” jawab gadis kecil itu lirih. “Om, kan, dokter. Periksa Sana, ya, biar cepet sembuh.” Jevier tersenyum tipis. Ia duduk di tepi ranjang, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Sana. Masih hangat. “Sudah diperiksa dokter?” Sana mengangguk pelan. “Udah. Kata Nenek cuma demam biasa.” “Kamu sudah minum obat?” “Udah.” “Kalau begitu tinggal istirahat. Besok juga pasti lebih enakan.” Sana menghembuskan napas pelan. “Sana gak mau sakit lama-lama.” “Kenapa?” Jevier mengernyitkan alisnya. “Nanti Papa Tristan sedih kalau pulang kerja lihat Sana masih demam.” Senyum di wajah Je

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 260

    “Mama ... bajunya bagus.” Sherly bertepuk tangan kecil melihat ibunya yang pagi itu sudah berdiri rapi dengan seragam barunya. “Mama jadi cantik.” Shiren tersenyum lebar. Ia merapikan kerah seragamnya, lalu berputar pelan di depan putrinya. “Iya, dong. Sekarang Mama udah naik jabatan. Jadi seragamnya juga beda.” Sherly mengangguk kagum. “Lebih bagus daripada yang dulu.” “Ya harus, dong,” sahut Shiren dengan nada bangga. “Sekarang Mama udah bukan office girl lagi.” Bocah itu tersenyum semakin lebar. “Berarti gaji Mama banyak?” Shiren terkekeh pelan, lalu berjongkok hingga sejajar dengan tinggi putrinya. “Iya. Kenapa memangnya? Kamu mau dibeliin apa?” Sherly mengerucutkan bibir, berpikir cukup lama. Matanya kemudian berbinar. “Sherly mau Papa pulang.” Senyum di wajah Shiren perlahan menghilang. “Papa?” “Iya.” Sherly mengangguk polos. “Sekarang Papa juga udah kerja lagi, kan? Terus Mama juga udah kerja yang bagus. Jadi Papa gak usah capek-capek kerja terus. Papa bisa tinggal

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 259

    Sasqia baru saja selesai membersihkan diri di suite baru yang disiapkan Kaelix. Begitu keluar dari kamar mandi, ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Sunyi. Tak ada sosok suaminya. “Mas ...?” panggilnya pelan. Rambut panjangnya masih setengah basah, beberapa helainya menempel di pipi. Bathrobe putih yang dikenakannya membungkus tubuh mungilnya dengan rapi. Tak lama kemudian pintu suite terbuka. Kaelix melangkah masuk dengan wajah setenang biasanya. “Mas dari mana?” tanya Sasqia sambil menghampirinya. “Dari luar,” jawab Kaelix singkat. Ia berjalan melewati sang istri menuju sofa, lalu melirik arloji di pergelangan tangannya. “Sebentar lagi makan malam. Kita makan di kamar saja.” Sasqia mengangguk kecil. “Iya, Mas.” Ia kemudian membuka koper, mengambil pakaian bersih, lalu duduk di depan meja rias. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Kaelix melalui pantulan cermin. Sementara itu, Kaelix duduk tenang di sofa. Tatapannya sesekali mengikuti setiap gerakan sang istri yang

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 90

    “Mas semalam ke rumah sakit, ya?” tanya Sasqia pelan, membuka percakapan lebih dulu saat mereka makan siang bersama. Sendok di tangan Tristan terhenti di udara. Ia lalu meletakkannya kembali di atas piring, sebelum menatap Sasqia. “Kamu tahu dari mana?” Sasqia tersenyum kecil. “Semalam Tuan Kael

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 89

    “Om Tristan ke mana, Sus?” tanya Sana siang itu dengan suara kecil. Usai makan dan menelan obatnya, tubuh mungilnya diminta beristirahat. Ia sudah berbaring di atas ranjang rumah sakit, selimut menutupi hingga dada. Babysitter yang menemaninya duduk di kursi dekat ranjang, mengusap pelan rambut h

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 48

    “Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 43

    “Jangan bilang kamu belum punya jawabannya,” ujar Tristan pelan, matanya menyipit tipis. “Sudah hampir satu minggu, kan? Besok tepat hari ketujuh sejak saya menyatakan perasaan.” Jantung Sasqia berdegup keras. Tujuh hari. Ternyata Tristan menghitungnya

    last updateLast Updated : 2026-03-24
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status