LOGIN“Tante Sasqia cantik dan baik,” celetuk Sana riang dari kursi samping kemudi sambil memeluk boneka kesayangannya. Tristan yang sedang menyetir melirik sekilas ke arah bocah itu. Senyum tipis terulas di bibirnya. “Kamu suka Tante Sasqia?” Sana langsung mengangguk cepat. “Suka. Pokoknya Sana suka semua yang Papa suka.” Ia tersenyum lebar. “Kalau Papa suka, berarti orangnya baik.” Tristan terkekeh pelan. “Kalau Papa gak suka?” godanya. “Nah, kalau Papa gak suka ...,” Sana berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Sana juga gak suka.” Tristan mengangkat satu alis. “Oh ya?” “Iya.” Sana mengangguk mantap. “Sama kayak Mama Yo—” Kalimatnya terputus. Bocah itu buru-buru menggeleng. “Eh, salah. Tante Yola maksudnya.” Senyum Tristan perlahan memudar. “Kenapa dengan Tante Yola?” tanyanya tenang, meski nada suaranya terdengar lebih rendah dari sebelumnya. Sana memainkan jari-jarinya yang mungil. “Papa gak suka Tante Yola, kan? Jadi Sana juga gak suka.” Tristan menghembuskan napas panjang. “Sa
Perjalanan pulang berlangsung jauh lebih hening dibandingkan saat mereka berangkat. Sasqia yang duduk di kursi belakang sesekali melirik ke arah sang ayah. Sejak mereka meninggalkan restoran, Mahendra lebih banyak diam sambil menatap jalan raya di luar jendela. Tidak ada senyum. Tidak ada candaan. Pria itu hanya tenggelam dalam pikirannya sendiri. “Pa ....” Sasqia akhirnya memanggil pelan. Mahendra yang sejak tadi menatap keluar jendela langsung menoleh. “Iya?” Sasqia meraih tangan sang ayah yang berada di atas pangkuannya. “Papa dari tadi diem terus.” Mahendra tersenyum tipis. “Memangnya tidak boleh diam?” “Boleh.” Sasqia mengerucutkan bibirnya. “Tapi bukan diem yang kayak gini.” “Kayak gimana?” “Kayak lagi mikirin sesuatu.” Mahendra terkekeh pelan. “Perasaan kamu terlalu peka.” “Papa ngomong apa aja sama Mas Tristan waktu aku sama Sana ke toilet?” Pertanyaan itu membuat Mahendra terdiam sejenak. Ia menatap wajah putrinya beberapa saat sebelum menghela napas perlahan.
“Maaf jika saya lancang,” ucap Mahendra hati-hati. “Tapi saya sulit percaya kalau seseorang seperti kakak Anda bisa menelantarkan anak kandungnya sendiri.” Tatapan Tristan perlahan menggelap. “Ayah biologis Sana bukan pria yang baik, Pak.” Mahendra terdiam. “Sedangkan kakak saya ...,” Tristan berhenti sejenak. “Dia hanya terlalu membenci ibunya.” Suasana meja mendadak sunyi. Tak ada suara selain dentingan alat makan dari meja lain. Mahendra perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Namun justru semakin banyak pertanyaan bermunculan di kepalanya. Tristan kembali membuka suara. “Sebenarnya ada satu hal lagi yang belum diketahui banyak orang tentang Sana.” Mahendra langsung menatapnya. “Apa itu?” Tatapan Tristan perlahan berubah tajam. “Identitas ayah kandungnya yang sebenarnya.” “Baiklah,” ucap Mahendra setelah beberapa saat terdiam. “Kita lupakan dulu pembahasan tentang Sana.” Tristan mengangguk pelan. “Di sini seharusnya saya yang bertanya mengenai keseriusan Anda terhadap a
“Kamu tidak bilang kalau akan membawa Papa kamu.” Kalimat pertama yang keluar dari mulut Tristan begitu ia duduk di kursi sebelah Sana membuat Sasqia tersentak kecil. Wanita itu langsung tersenyum kikuk. “Dadakan, Mas.” Ia menggaruk pelipisnya pelan. “Maaf. Saya cuma kepikiran sekalian aja. Biar Mas sama Papa bisa kenalan langsung.” Sasqia melirik Mahendra yang sejak tadi memperhatikan Tristan dengan saksama. “Papa juga dari kemarin penasaran pengen ketemu Mas.” Sudut bibir Tristan terangkat tipis. “Untung saya sudah siap bertemu dengan Papa kamu.” Mahendra ikut tersenyum kecil. “Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya.” Tristan menoleh. “Di mana, ya?” “Rumah sakit.” Mahendra menyipitkan mata, berusaha mengingat. “Kalau tidak salah, waktu saya kontrol.” Sasqia langsung mengangguk antusias. “Oh iya!” Ia menepuk dahinya sendiri. “Waktu itu aku yang antar Papa ke rumah sakit.” Tristan akhirnya mengingat. “Benar. Sepertinya memang pernah.” Mahendra mengangguk pelan sebelum me
“Besok kamu tidak sibuk, kan?” tanya Tristan pada Sasqia melalui sambungan telepon. Ada jeda beberapa detik. “Nggak, Mas. Ada apa?” tanya Sasqia penasaran. “Saya ingin mengajak kamu bertemu dengan Sana.” “Sana?” nada bicara Sasqia terdengar bingung. “Keponakan saya. Dia ingin bertemu dengan kamu.” Seketika Sasqia teringat pada bocah kecil yang pernah diceritakan Tristan sebelumnya. “Oh ...,” gumamnya pelan. “Iya, saya ingat dia siapa. Anaknya Tuan Kaelix, kan?” Tristan terdiam. Tatapannya lurus ke arah Sana yang sedang duduk di atas karpet ruang tengah sambil memainkan boneka Barbie miliknya. “Iya,” jawabnya pelan. “Sana anak Kael.” “Baik, Mas.” “Kalau begitu sampai jumpa besok.” “Oke.” Panggilan pun berakhir. Tristan menurunkan ponselnya perlahan. Namun belum sempat ia mengatakan apa pun, suara bel apartemen tiba-tiba berbunyi nyaring. Ding dong. Sana langsung mengangkat kepalanya. “Siapa itu?” tanyanya antusias. Pembantu rumah tangga segera berjalan menuju pintu untu
“Melihat Tuan Kaelix ... seperti melihat Nyonya Miriam.” Kalimat itu bergema pelan di kepala Sasqia. Tatapannya masih terpaku pada wajah pria di hadapannya, dingin, tenang, dan sulit ditebak. Kaelix membalas tatapan itu tanpa berkedip sedikit pun, sudut bibirnya terangkat tipis. “Maaf,” ucap Sasqia hati-hati sambil menggenggam erat kantong belanjaannya. “Saya buru-buru harus pulang.” “Saya antar sekalian.” Balas Kaelix cepat, seolah tak memberinya kesempatan untuk menolak. Sasqia kembali menatap pria itu beberapa detik sebelum menggeleng pelan. “Tidak perlu. Saya bisa pulang sendiri.” Setelah mengatakan itu, Sasqia segera berbalik dan melangkah pergi. Rahang Kaelix mengeras. Pria itu langsung turun dari mobilnya, membuat sang sopir refleks menoleh kaget. Kaelix berjalan cepat menyusul wanita itu. Dan sebelum Sasqia sadar, tangan besar pria itu sudah menahan lengannya. Sasqia tersentak. “Menghindar, hm?” bisik Kaelix rendah di dekat telinganya. Sasqia buru-buru menarik lenga
Sasqia masih menatap layar ponselnya beberapa detik setelah panggilan itu berakhir. Nama Tristan perlahan menghilang dari layar, namun suaranya seolah masih tertinggal di telinganya. Ia menghela napas pelan, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. “Telepon da
“Dok ….” Sasqia perlahan menarik kembali tangannya dari genggaman Jevier. Gerakannya halus, tapi tegas. “Terima kasih atas niat baiknya. Tapi benar, saya tidak ingin merepotkan Anda.” “Saya tidak merasa direpotkan, Sasqia,” balas Jevier tenang. Nada su
“Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk
Sejenak, Jevier hanya mampu menatap Mahendra tanpa suara. Dadanya bergetar halus, detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini. Dan yang lebih mengejutkan, ia tak benar-benar ingin mengelak.







