แชร์

BAB 152

ผู้เขียน: Langit Parama
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-13 00:04:47

“Adik saya sendiri.”

Kening Mahendra langsung berkerut. “Nak Tristan ...?”

Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Kaelix lebih dulu membuka suara.

“Sekarang giliran saya.”

Mahendra menegakkan tubuhnya. “Apa yang ingin Anda sampaikan?”

Sudut bibir Kaelix terangkat membentuk senyum tipis yang sulit diartikan. “Sasqia menerima lamaran Tristan.”

“Ya.”

“Dan Anda sudah menerimanya?” satu alis Kaelix terangkat tipis. “Apa Anda benar-benar yakin dengan calon suaminya?”

Mahendra mengangguk
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (3)
goodnovel comment avatar
Vitta Achmad
sasqia sm kaelix saja, udah ditandai kaelix dr awal tristan tak bs move on dr masa lalu tak bs diharapkan
goodnovel comment avatar
Fitriani Ningsih
awalnya aku dukung tristan saskia tp tristan gak mau lepas dr masa lalunya makin k sini agak kecewa sama sikap tristan, sikap egoisnya mulai terlihat,mending kaelix dia lebih tegas
goodnovel comment avatar
Nia Khair
kael udah kael,,,, cari cewek lain ajaaa,, gini amaat
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 152

    “Adik saya sendiri.” Kening Mahendra langsung berkerut. “Nak Tristan ...?” Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Kaelix lebih dulu membuka suara. “Sekarang giliran saya.” Mahendra menegakkan tubuhnya. “Apa yang ingin Anda sampaikan?” Sudut bibir Kaelix terangkat membentuk senyum tipis yang sulit diartikan. “Sasqia menerima lamaran Tristan.” “Ya.” “Dan Anda sudah menerimanya?” satu alis Kaelix terangkat tipis. “Apa Anda benar-benar yakin dengan calon suaminya?” Mahendra mengangguk pelan. “Saya sudah menanyakan hal yang paling penting bagi seorang ayah.” “Apa itu?” “Masa depan anak saya.” Ruangan kembali hening. Mahendra melanjutkan dengan nada tenang. “Saya bertanya apakah dia serius dengan Sasqia. Saya juga menjelaskan kondisi keluarga kami apa adanya. Tentang penyakit saya, keadaan ekonomi kami, dan berbagai beban yang selama ini dipikul Sasqia.” Tatapan Kaelix tak bergeser sedikit pun. “Lalu?” “Jawabannya cukup meyakinkan.” Mahendra tersenyum tipis saat menging

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 151

    “Kamu gak kerja, Ka?” tanya Soraya saat menemukan Raka sedang makan santai di ruang tengah. Tatapannya menyipit tajam, penuh selidik. Raka menghela napas panjang, meletakkan sendoknya perlahan. “Sepertinya saya mau resign, Ma.” “Apa? Resign?” Soraya membuang napas kasar, dagunya terangkat tinggi. “Kamu baru kerja berapa hari sudah mau resign? Kamu kira gampang cari kerjaan, hm?” Raka tersenyum tipis, bangkit dari kursi, dan melangkah mendekati Soraya dengan gerakan yang santai tapi penuh maksud. Tubuhnya yang tinggi menjulang di depan ibu mertuanya itu. “Memang tidak gampang, Ma,” jawabnya lembut, suaranya turun satu oktaf. “Tapi saya akan cari yang lebih layak, gaji lebih besar, dan tentunya … lingkungan yang lebih menyenangkan.” Soraya mendengus, tapi ada sedikit kegugupan yang terselip di balik sikap angkuhnya. “Gaji office boy di perusahaan Tuan Kaelix itu jauh lebih besar daripada pekerjaanmu di tempat lain. Itu masih lumayan.” Raka tidak langsung menjawab. Ia mengulurkan t

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 150

    Sasqia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia bahkan tak berani menatap wajah Tristan terlalu lama. Perubahan ekspresi pria itu cukup membuat jantungnya berdebar tidak karuan. “Maaf, Mas ....” Suaranya terdengar lirih. Nyaris tenggelam oleh suara pendingin ruangan dan dentingan sendok dari meja lain. “Maaf karena saya baru bilang sekarang.” Tak ada jawaban. Tristan hanya menatapnya diam. Dan itu justru membuat Sasqia semakin gugup. Rahang pria itu terlihat mengeras. Tatapannya sulit dibaca. “Kalau Mas mau membatalkan pernikahan ini ... saya tidak masalah.” Kalimat itu terasa berat keluar dari mulutnya. Namun tetap ia paksa. “Sekali lagi, saya minta maaf.” Jemarinya saling meremas di bawah meja. “Lagipula ... Ibu Mas Tristan memang tidak setuju dengan saya, kan?” Sasqia tersenyum tipis. Senyum yang terasa pahit. “Jadi daripada Mas harus melawan restu orang tua karena saya, mungkin lebih baik—” “Tunggu.” Tristan memotong ucapannya. Sasqia langsung terdiam. Tatapan pria itu

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 149

    Dua orang pembantu tengah sibuk membereskan barang-barang peninggalan Mina yang selama bertahun-tahun memenuhi kamar Tristan. Bingkai foto. Buku. Kotak kenangan. Hingga beberapa pakaian yang masih tersimpan rapi di dalam lemari. Semua itu atas perintah Tristan sendiri. Namun pekerjaan mereka belum sepenuhnya selesai ketika pintu kamar mendadak terbuka. Tristan masuk dengan langkah panjang. Tatapannya langsung tertuju pada beberapa kardus yang sudah terisi penuh. Rahangnya perlahan mengeras. “Berhenti.” Suaranya rendah, namun cukup membuat kedua pembantu itu langsung menghentikan pekerjaan mereka. “Tuan?” tanya salah satunya ragu. “Jangan diteruskan.” Keduanya saling berpandangan sejenak. “Baik, Tuan.” Mereka segera meletakkan barang yang sedang dipegang. “Kami permisi.” Tristan hanya mengangguk singkat. Tak lama kemudian, kamar itu kembali sunyi. Pria itu berdiri seorang diri di tengah ruangan. Tatapannya perlahan menyapu setiap sudut kamar. Berhenti pada sebuah foto besa

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 148

    Setetes darah segar mengalir dari sudut bibir Kaelix. Namun alih-alih marah atau membalas, pria itu hanya memiringkan wajahnya sedikit. Tatapannya perlahan kembali terangkat pada Tristan, tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dipukul. “Kamu memukul saya, Tris?” tanyanya pelan. Nada suaranya rendah, nyaris tak menunjukkan emosi apa pun. Tristan berdiri tegak dengan dada naik turun. “Itu belum seberapa untuk mulutmu yang kurang ajar, Kael.” Kaelix menyipitkan mata. “Kurang ajar?” “Iya.” Tristan melangkah maju satu langkah. “Kamu terus membawa-bawa wanita yang sudah meninggal. Menghina wanita yang sudah hamil dan melahirkan anakmu. Dan sekarang kamu tidak mau mengakui darah dagingmu sendiri.” Rahangnya mengeras. “Jadi, ya. Itu pantas kamu dapatkan.” Kaelix perlahan mengangkat tangannya, menyeka darah di sudut bibir dengan punggung tangan. Saat melihat noda merah di kulitnya, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum tipis. Senyum yang membuat suasana semaki

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 147

    “Akhir-akhir ini kamu lebih sering berada di rumah ini,” ucap Tristan sembari menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya menyorot ke arah Kaelix. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Apa ada sesuatu yang sedang kamu pastikan, Kael?” Suasana meja makan mendadak terasa lebih dingin. Miriam menghela napas pelan. “Rumah ini juga rumah Kael, Tris,” tegurnya. “Dia anak Ayah dan Ibu. Tidak ada yang salah jika dia pulang.” Tatapannya beralih pada suami dan ketiga putranya secara bergantian. “Justru Ibu senang melihat kalian berkumpul seperti ini. Orang tua, anak-anaknya, kakak dan adik dalam satu meja makan.” “Tapi bukan itu alasan Kaelix pulang, kan?” balas Tristan tenang. Kaelix yang sejak tadi menikmati kopinya akhirnya mengangkat pandangan. “Saya datang karena Ibu yang meminta.” Tristan terkekeh pelan. “Dari dulu Ibu juga sering meminta kamu pulang. Tapi apa pernah dituruti?” Ia menggeleng. “Tidak, kan?” Rahang Kaelix mengeras sesaat. “Itu karena saya baru menyadari satu hal.” Tatapa

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 93

    “Terima kasih banyak, Dok,” ucap Mahendra dengan tulus. “Sama-sama, Pak.” Jevier tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya kepada Sasqia yang sejak tadi terlihat diam. “Ada masalah, Sas?” tanyanya, membuyarkan lamunan wanita itu. Sasqia tersentak pelan, kemudian tersenyum kecil. “Nggak ada,

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-03
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 90

    “Mas semalam ke rumah sakit, ya?” tanya Sasqia pelan, membuka percakapan lebih dulu saat mereka makan siang bersama. Sendok di tangan Tristan terhenti di udara. Ia lalu meletakkannya kembali di atas piring, sebelum menatap Sasqia. “Kamu tahu dari mana?” Sasqia tersenyum kecil. “Semalam Tuan Kael

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-02
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 89

    “Om Tristan ke mana, Sus?” tanya Sana siang itu dengan suara kecil. Usai makan dan menelan obatnya, tubuh mungilnya diminta beristirahat. Ia sudah berbaring di atas ranjang rumah sakit, selimut menutupi hingga dada. Babysitter yang menemaninya duduk di kursi dekat ranjang, mengusap pelan rambut h

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-02
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 48

    “Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-25
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status