تسجيل الدخول“Kita ke mana, Pak?” tanya Zidan saat Kaelix masuk ke kursi belakang mobil. “Butik,” balas Kaelix singkat. Zidan ragu sejenak sebelum menjawab hati-hati, “Nona Sasqia sudah pulang, Pak. Beliau meminta saya antar langsung ke rumah sakit. Pak Mahendra dilarang istrinya untuk dibawa ke apartemen yang sudah Tuan siapkan.” Kaelix memejamkan mata sejenak, rahangnya mengeras. “Jadi Pak Mahendra masih di rumah sakit?” “Saya kurang tahu pasti, Pak. Mungkin sudah dibawa pulang ke rumah mereka.” Kaelix diam beberapa saat, lalu berkata dingin, “Kembali ke perusahaan saja.” “Baik, Pak.” _____ Di rumah sakit, suasana di ruang rawat inap Mahendra kembali memanas. “Mama bener-bener mau Papa pulang ke rumah itu?” suara Sasqia tajam dan penuh amarah. “Rumah yang masih penuh jejak pengkhianatan Mama dengan Mas Raka? Mama mau Papa melihat lagi kamar itu? Kasur itu? Ruangan tempat Mama tidur dengan suami anaknya sendiri?!” Sasqia menatap Soraya dengan mata memerah, napasnya memburu. “Mama mau bi
“Tuan Kaelix meminta Anda untuk mencoba set perhiasan ini tanpa melepas gaunnya, Nona,” ucap karyawan butik dengan sopan sambil membawa kotak perhiasan mewah. “Hah?” Sasqia tercengang. Ia baru saja melepaskan gaun sebelumnya dan masih dalam proses berganti. “Harus banget, ya?” Karyawan itu mengangguk. “Permintaan langsung dari Tuan Kaelix.” Sasqia menghela napas panjang, wajahnya memerah. “Baiklah, saya pasang sendiri aja.” “Kalau kesulitan, silakan panggil saya, Nona,” kata karyawan itu sebelum meninggalkan ruang ganti. Sasqia berdiri di depan cermin full body sambil mencoba memasang kalung dan anting yang sangat indah. Ia fokus menunduk, berusaha mengaitkan resleting di punggung gaun yang agak sulit. Karena terlalu konsentrasi ke bawah, ia sama sekali tidak memperhatikan cermin di hadapannya. Tiba-tiba ia merasakan tangan hangat menyentuh punggungnya, perlahan menarik resleting ke atas dengan gerakan terampil. “Terima kasih,” gumam Sasqia pelan, masih menunduk. Tapi tangan
“Mas ... gimana ceritanya Sasqia bisa sampai akan menikah dengan Tuan Kaelix?” tanya Soraya sambil merapikan barang-barang milik suaminya yang sudah disusun rapi di atas sofa. Hari itu Mahendra dijadwalkan pulang dari rumah sakit. Kondisinya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi sudah cukup stabil untuk menjalani perawatan lanjutan di rumah. Mahendra yang duduk bersandar di atas brankar menghela napas panjang. “Aku juga tidak tahu pasti,” jawabnya pelan. “Semuanya terjadi terlalu cepat.” Soraya menoleh. “Tapi keputusan itu datang dari Sasqia sendiri, kan?” Mahendra mengangguk singkat. “Iya.” Senyum tipis langsung terbit di wajah Soraya. “Kalau begitu bukannya bagus, Mas?” Mahendra mengernyit. “Bagus bagaimana?” Soraya duduk di tepi sofa. “Ya ... menurutku Tuan Kaelix memang lebih cocok untuk Sasqia.” “Apa yang membuat kamu berpikir begitu?” tanya Mahendra. Soraya mengangkat bahu pelan. “Beliau membantu keluarga kita tanpa banyak bicara. Waktu Mas sakit, beliau juga yang meny
“Saya tunggu di bawah, sekarang,” ucap Kaelix singkat sebelum langsung memutus panggilan. Ia menyandarkan punggungnya ke jok belakang mobil, hendak memejamkan mata sejenak ketika kaca jendela di sampingnya diketuk pelan dari luar. Di balik kaca gelap itu, Sasqia berdiri sambil mencondongkan tubuhnya, wajahnya tampak lelah namun gelisah. Kaelix membuka pintu mobil dengan santai. “Masuk.” Sasqia menghela napas ringan sebelum naik dan duduk di sampingnya. Bau parfum pria itu langsung memenuhi indranya. “Papa saya hari ini boleh pulang, jadi saya tidak bisa ikut ke tempat yang Anda rencanakan,” katanya pelan. Kaelix menatapnya sekilas, suaranya tajam tapi tenang. “Biarkan Mama kamu yang mengurus. Apa gunanya dia ada di sana kalau bukan untuk itu?” Sasqia menggeleng, tatapannya lurus ke depan. “Mama saya bukan sosok istri yang seharusnya. Kalau bukan saya yang melakukannya, tidak ada yang akan peduli pada Papa.” “Saya akan meminta perawat pribadi membawa Papa kamu pulang ke apartem
“A-apa maksud Dokter mengatakan seperti itu?” tanya Sasqia, menatap Jevier lurus dengan mata membelalak. Jevier menghela napas pelan, tatapannya penuh keprihatinan yang dibuat-buat. “Awalnya saya memang tidak setuju kamu menikah dengan Kak Tristan, karena saya tahu dia masih terikat dengan masa lalunya. Saya takut kamu hanya akan jadi pelarian. Tapi sekarang …,” Ia menatap Sasqia lebih intens. “Dibandingkan Kak Kaelix, menikah dengan Kak Tristan jauh lebih baik.” Sasqia menelan ludah susah payah. “Dok ….” “Kak Kaelix itu,” Jevier melanjutkan dengan suara rendah, seolah sedang mengungkap rahasia gelap, “bukan orang yang terlihat. Dia licik, Sas.” “Selama ini dia membantu keluarga kamu bukan karena kebaikan hati, melainkan karena ada rencana besar di baliknya. Dia sengaja membuat kamu terjebak dalam hutang budi yang tidak akan pernah bisa dibayar.” Napas Sasqia tercekat. Jevier tersenyum pahit, lalu mencondongkan tubuhnya lebih dekat. “Dia sengaja menguasai kamu, membuatmu tidak
Kaelix baru saja kembali ke kantornya siang itu. Begitu membuka pintu ruang kerjanya, ia mendapati seorang wanita paruh baya duduk anggun di sofa tengah ruangan, kakinya menyilang dengan sempurna. “Akhirnya kamu datang juga, Kael,” sapa Miriam dengan senyum tipis, wajah cantiknya yang sudah mulai menua terlihat tegang. “Sejak malam itu, kamu tidak pulang ke mansion sama sekali.” “Saya punya tempat tinggal sendiri. Mansion hanya tempat persinggahan,” balas Kaelix datar sambil melangkah masuk. Ia duduk di single sofa di hadapan ibunya dengan gerakan santai namun penuh wibawa. Miriam menatap putra sulungnya lekat-lekat. “Ibu masih penasaran, dari mana kamu mendapatkan keyakinan untuk menikahi Sasqia? Dia kekasih adikmu sendiri, dan pernikahan mereka baru dibatalkan. Belum lagi latar belakang keluarganya yang sangat bermasalah.” Ia menghela napas dramatis. “Pernikahan itu sakral, Kael. Kamu hanya boleh menikah sekali seumur hidup. Ibu mohon, pikirkan kembali sebelum terlambat.” Kae
“Tuan, kita sudah sampai.” Suara sopir membangunkan Tristan yang duduk di kursi belakang. Ia baru saja tiba di vila tempat kakeknya beristirahat. Sejak mendarat di bandara, ia langsung menuju ke sini—bahkan sempat terlelap sebentar di perjalanan. Ia membuka mata perlahan, lalu keluar dari mobi
“Apa yang mereka lakukan di dalam?” Kaelix bergumam lirih sambil menatap langit malam yang bertabur bintang. Ia duduk seorang diri di bangku taman vila, diterangi cahaya lampu kekuningan yang temaram. Di antara jemarinya, sebatang rokok menyala redup. Bara merah di ujungnya berkedip setiap kali i
“Sssh ….” Sasqia meringis pelan ketika Tristan mengoleskan salep pada lututnya yang mulai membiru. “Tahan sedikit. Sebentar lagi selesai,” ujar Tristan lembut. Ia berjongkok di hadapan Sasqia yang duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu hati-hati untuk sekadar mengobati luka
“Project apa yang dimaksud Kael, Sas?” Pertanyaan itu meluncur begitu pintu kamar tertutup. Nada Tristan tidak tinggi, tapi cukup membuat Sasqia menelan ludah. Pria itu berdiri tak jauh darinya, sorot matanya tajam, menunggu jawaban. Sasqia melipat bibir, mengalihkan pandangan. Ada rasa malu yan







