LOGIN
"Leo, hentikan..." Violet masih mencoba melepaskan diri.
Tapi tangan Leo yang lain mulai menjelajah, menyusup ke bagian bawah tubuh Violet.
"Ah!" Violet tak kuasa menahan desahan yang lolos dari bibirnya.
Beberapa saat yang lalu...
**
"Apa? Tombol logout-nya tidak ada?" gumam Violet. Alisnya mengkerut. Ia menekan-nekan menu di dunia game virtual itu.
Pandangan Violet kemudian celingukan di ruang kendali game. Heran karena sistem AI miliknya tak bersuara. "Bobo? Jangan tidur terus! Kenapa aku tidak bisa ke—"
Belum selesai bicara, tanah di bawah kakinya tiba-tiba retak, seperti kaca yang pecah.
"Eh?!"
Retakan itu melebar. Lantai di bawahnya tiba-tiba runtuh.
Tubuh Violet terjatuh ke dalam kegelapan. "Aaakh!"
Ketika membuka mata, Violet tidak lagi berada di ruang VR. Ia perlahan berdiri dan mendapati dirinya berada di hutan yang terlalu nyata untuk sebuah game. Angin, bau tanah, bahkan detak jantungnya terasa jelas seperti di dunia aslinya.
Rasa penasaran Violet seolah terjawab oleh munculnya sosok koala mungil dan gendut yang melayang di depan matanya.
"Hoam! Sepertinya ada yang memanggilku," katanya sambil menguap.
Violet menggeram kesal padanya, dan langsung mengomel. "Aku yang memanggilmu! Kenapa kamu tak melakukan tugasmu dengan benar?! Di mana kita sekarang?"
Bobo, koala gendut itu, hanya mengorek telinganya malas. Dia mengabaikan protes Violet seolah sudah biasa, lalu membuka jendela sistem.
"Aku sedikit sibuk karena memindahkanmu kemari. Sekarang kita ada di dunia Beastmen. Dan kamu adalah player dengan status khusus sebagai Living Pheromone tingkat S."
Violet mengerjap keheranan. "Apa? Aku jadi player? Seharusnya aku administrator. Dan kenapa ada status Living Pheromone padaku?"
Bobo belum menjawab, mendadak muncul suara geraman berat terdengar dari kejauhan.
"Grrh!"
Sosok singa besar dengan kilatan petir di setiap langkahnya muncul dari balik pepohonan.
Seketika Violet menelan ludah. Ia kenal singa itu, dan sudah berkali-kali ia melihatnya. "Leo Reign?"
Leo Reign adalah Jenderal klan singa—salah satu boss NPC paling berbahaya yang Violet sendiri bantu desain. Tapi ada satu masalah. Menurut Lore Game, Leo harusnya dikurung karena mengalami Loss of Reason.
Dan sekarang, singa itu menatap Violet seperti mangsa.
Violet panik. 'Ini gawat.'
Violet berbisik pelan pada koala di sampingnya. Hanya dia yang bisa melihatnya. "Bobo! Apa yang harus kulakukan?"
Leo semakin mendekat, dan siap menerkamnya.
Ada yang aneh terjadi!
Tapi aroma tubuh Violet membuat Leo berhenti sesaat. Lalu mata emasnya berubah lebih liar, seolah menemukan sesuatu yang telah lama ia cari.
"Kamu lupa status seorang Living Pheromone? Kamu hanya perlu menyentuh target untuk menenangkannya. Itulah dirimu," ujar Bobo memberitahu.
Violet terdiam sejenak. Ia masih tak percaya masuk ke dalam game, tapi saat ini situasinya darurat. Ia perlahan mendekat. Satu tangannya terulur lalu menyentuh kening singa besar itu.
Aroma serta sentuhan Violet membuat Leo yang menggila perlahan tenang, seperti api membara yang disiram air dingin.
Tak lama, tubuh Leo bersinar dan mulai menyusut. Singa itu berubah menjadi sosok manusia-binatang.
Leo terpejam. Ekor singa masih ada di tubuhnya dan rambut pirang yang terang.
"Astaga!"
Violet terkejut karena tubuh Leo yang telanjang bulat. Ia refleks menutup mata, malu.
'Bukankah harusnya otomatis dia mengenakan pakaian? Kenapa harus telanjang begitu?' Violet keheranan.
Namun dengan Violet menyadari, bahwa dirinya benar-benar masuk ke dunia game.
"Bagus. Kamu sudah berhasil menjinakkan Leo Reign," seru Bobo bersorak. Lalu ia kembali menutup mulutnya yang menguap. "Sekarang waktunya aku tid—"
"Hei, tunggu dulu!" ucap Violet segera menghentikannya. Dia berbalik mencoba mengabaikan pemandangan erotis di depannya, lalu lebih fokus pada koala gendut itu.
"Kenapa kamu tiba-tiba membawaku ke sini? Kembalikan aku ke dunia asalku!"
Dengan sangat terpaksa, Bobo tetap membuka matanya yang sudah mengantuk.
"Aku hanya menjalankan perintah dari game. Kamu harus bertahan hidup di dunia ini, dan gunakan kemampuan Living Pheromone untuk menenangkan Beastmen. Jika gagal, kamu tidak bisa kembali ke dunia asalmu," jelas Bobo dengan nada malas, padahal itu adalah hal serius bagi Violet.
Mendengar hal itu, seketika Violet membelalak. Ia kembali memprotes.
"Bagaimana bisa aku tidak boleh kembali? Kenapa harus aku? Aku seorang tester, bukan pemain!"
Violet Luviera, seorang tester game di sebuah perusahaan game. Ia awalnya tengah melakukan tes terakhir sebelum game bernama Beastmen Dominion diluncurkan. Dan error pun terjadi, hingga ia berada di tempat ini.
Violet mengusap kasar wajahnya sedikit frustasi.
"Cepat kembalikan aku ke dunia asalku!" desaknya penuh paksaan.
Namun Bobo hanya menguap, tak menanggapi. "Hoam, terima saja. Aku juga ikut terkurung bersamamu di sini."
"Karena itu—" unjuk rasa Violet seketika terhenti saat Bobo menyela kalimatnya.
"Lihat di belakangmu, Violet."
Violet mengerutkan alis. Penasaran, ia pun berbalik.
Leo ternyata terbangun. Ia bangkit dengan tubuh tinggi kekar dan berotot. Mata emasnya bersinar menatap tajam Violet. Wajahnya memerah dan napasnya tersengal.
"Leo Reign melewati beberapa musim kawin karena dikurung sangat lama. Insting reproduksinya sangat tinggi. Dan dia rawan mengalami Loss of Reason lagi," ucap Bobo memberitahu.
Violet membeku di tempat. Dalam hati ia bergumam. Itu peringatan paling menakutkan dibandingkan fakta dirinya masuk dalam game.
"Wangi... kamu sangat wangi," Leo bergumam pelan dengan suara berat.
Violet menelan ludah. Refleks, kakinya perlahan mundur. Tatapan matanya turun pada tubuh telanjang Leo. Dan di antara selangkangan pria setengah binatang itu, terdapat benda keras yang besar dan panjang sudah berdiri tegak.
Violet langsung bergidik ngeri. 'Astaga, ini gila. Kok bisa miliknya sebesar itu?'
Pesta masih berlangsung. Tapi Violet memilih untuk pergi lebih dulu dari aula karena lelah. Yang tersisa hanya orang-orang dari empat klan besar yang masih menikmati pesta.Suasana masih cukup kondusif di antara para Beastmen itu.Violet pergi menuju satu ruangan yang pernah ia gunakan untuk berganti pakaian di istana Raja Targos. Namun, ia heran dengan ketiga suaminya tadi yang pergi.'Mereka ke mana, ya? Sampai sekarang belum kembali,' pikirnya penasaran.Di lorong, Violet bertemu salah satu pelayan dan langsung bertanya."Hei, em..." Sejenak, Violet agak ragu mengatakannya. "Apa kamu lihat suamiku?"Pelayan itu membungkuk sopan."Suami-suami Nona Violet sedang di ruang kerja Raja. Ada di lantai dua," jawabnya, lalu menawarkan. "Mau saya antar?"Violet tersenyum tipis dan menggeleng. "Tidak perlu. Aku tahu tempatnya."Pelayan itu berlalu, sambil menunduk untuk yang terakhir kali sebelum pergi.Violet pun melanjutkan langkah, menuju anak tangga di depan sana. Baru mencapai pertengaha
"Tentu saja hari ini. Tidak ada alasan untuk menunda," ucap Raja Targos dengan santai. Ia berdiri lalu memerintah pada para pelayannya. "Ayo, semua persiapkan secepatnya. Kita pergi ke kuil Dewa Binatang!"Violet menepuk jidatnya, frustrasi setengah mati.'Aku benar-benar akan menikah dengan empat Beastmen hari ini juga? Astaga, bagaimana bisa hidupku berubah secepat ini?' batinnya masih tak percaya.Para pelayan dan prajurit Klan Gajah bergerak cepat, mempersiapkan prosesi pernikahan.**Kuil itu megah, dikelilingi pepohonan raksasa dengan bunga-bunga bercahaya. Di dalamnya, patung Dewa Binatang menjulang tinggi dari batu giok putih.Violet berdiri di depan patung itu, gaun putih sederhana bersulam emas membalut tubuhnya. Rambutnya dihiasi mutiara dan bunga-bunga kecil.'Astaga, aku belum pernah menikah,' gumam Violet dalam hati, gugup. 'Kenapa sekalinya menikah malah dengan empat pria sekaligus?'Di hadapannya, empat Beastmen berdiri tegap, rapi dengan pakaian formal. Violet merasa
"Benar, Nona Violet. Dengan menjadi suamimu, mereka bisa leluasa melindungimu dari ancaman." Targos menegaskan.Begitu Targos mengumumkan keputusan itu, aula yang tadinya hening seketika bergemuruh. Para Beastmen dari berbagai klan mulai ribut.Seekor Beastmen Harimau dengan loreng tebal di wajahnya berdiri."Kenapa harus dari empat klan itu saja? Manusia dengan Living Pheromone langka seharusnya milik yang terkuat!"Yang lain ikut berseru setuju. "Benar! Kami juga berhak. Kita harus bertarung mendapatkannya! Hanya satu yang terkuat yang pantas!"Dari kerumunan, Kael yang sejak tadi hanya diam ikut menghasut. Wajah rubahnya tampak menyeringai licik."Mereka pikir mereka siapa? Hanya karena mereka klan besar, mereka bisa seenaknya mengambil manusia murni? Ini tidak adil!"Suasana semakin memanas. Beberapa Beastmen mulai mengeluarkan cakar mereka, siap bertarung.Para pemimpin keempat klan yang terpilih dengan berani menerima tantangan. Namun, sebelum itu terjadi, Targos segera menghent
'Apa aku akan mati?' pikir Violet penuh kepasrahan yang tak rela. Tubuhnya terjun bebas ke bawah.Dari bawah, Leo melompat tinggi. Tangannya yang kekar meraih tubuh Violet tepat sebelum ia menyentuh tanah.Violet memejamkan mata rapat-rapat, tubuhnya gemetar ketakutan. Saat ia membuka mata, di depannya adalah pria pertama yang ia lihat di dunia ini."Bunga, kamu tidak apa-apa?" suara Leo berat namun penuh kecemasan. "Apakah elang itu melukaimu?"Violet terdiam. Bayangan saat Leo menidurinya secara paksa terlintas dalam kepalanya."Lepaskan aku!"Refleks, Violet mendorong Leo. Ia turun secara paksa dari pangkuan Leo, hampir jatuh karena kakinya lemas."Bunga—" Leo hendak meraih Violet, tapi Violet langsung menyela dengan suara lantang."Jangan mendekat!"Leo terdiam, terkejut dengan reaksi Violet. Matanya menangkap sesuatu di lengan Violet—tetesan darah dan anak panah kecil masih menancap di sana.'Itu, panah dari klan Singa,' pikirnya."Bunga, kamu terluka. Sepertinya anak buahku tida
"Kamu pikir aku akan percaya dengan rubah licik sepertimu? Kamu dirancang tak punya empati atau kepedulian pada orang lain, Kael Veyron," gumam Violet dalam hati sambil terus berlari.Ingatan Violet sebagai tester game bekerja cepat. Peta Beastmen Dominion terlintas jelas di benaknya. Sungai yang baru saja ia lewati adalah sungai Mant.'Kalau dari sini, aku bisa keluar dari wilayah Benua Shartia,' pikirnya pantang menyerah.Ada satu tempat yang ingin Violet datangi, yakni Pulau Edrin. Pulau yang tak pernah terjadi kekacauan antar klan dan hanya ada ketenangan. Dan yang paling terkenal dengan sikap netralnya adalah Klan Gajah.Violet bergegas melanjutkan perjalanan, meski tubuhnya sudah lelah. Klan Gajah terkenal dengan sikap netralnya, berbeda dengan klan lain yang selalu berseteru satu sama lain. Tempat yang paling aman untuk bersembunyi, setidaknya untuk sementara.Tiba-tiba, langkah Violet terhenti. Suara auman singa bergema di kejauhan, dalam dan menggetarkan tanah. Violet langsun
"Kamu mengenalku, ya. Kamu berasal dari mana?" celetuk Kael bertanya.Violet tersadar dari lamunannya dan langsung menghindari tatapan licik Kael. Kepalanya sedikit menunduk."Aku, tidak ingat," jawabnya dengan suara pelan.Violet memilih pura-pura bodoh di depan Kael. Ia menggerutu dalam hati."Kamu tidak ingat, tapi kamu tahu namaku?" Kael menyipitkan mata, sedikit curiga. "Padahal aku baru melihatmu di sini. Aneh, kan?"Violet memalingkan wajah, berusaha menghindari tatapan tajam itu. "Entahlah. Aku tidak tahu kenapa bisa di sini. Tapi aku tahu orang-orang terkenal sepertimu.""Oh, ya? Memangnya menurutmu aku siapa?" balas Kael, nada bicaranya ringan, tapi tatapannya terus mengamati setiap reaksi Violet."Pemimpin Klan Rubah."Kael tersenyum lebar, matanya ikut menyipit puas. Ia mengulurkan tangan, berniat membantu Violet bangkit.Tapi Violet menepis pelan. Ia bangkit sendiri, meski tubuhnya masih lemas dan kakinya gemetar hebat."Terima kasih sudah menolongku."Kael hanya tertawa







