LOGINTama meraih robekan kain tadi yang terjerat di antara ranting pohon. Dahinya mengernyit, kain tadi seperti syal yang terlilit di antara ranting, yang di tarik secara paksa tanpa si pemilik tahu. Batin Tama terus berbisik, mungkinkah robekan kain ini milik seseorang yang memang sengaja, atau sekedar lewat?
Setelah mendapatkan, Tama bergegas membawanya masuk. Di sebelah gerbang, tepatnya di sisi tembok dekat pohon bonsai yang terawat, ada sebuah kardus asing yang membuat Tama lagi-lagiAston maju sambil mendorong bahu Leon dengan tatapan tajam. Urat di lehernya menonjol biru, membuat aliran darah dalam tubuhnya mendidih, merasa tertipu dengan penyerahan diri Leon waktu itu. Padahal Aston sudah menyewa Pengacara guna kelancaran jalan hukum untuk menghadapi Leon nanti. Tapi nyatanya pria itu malah asik bebas dan berkeliaran di antara mereka."Kenapa kamu bisa bebas seperti ini?!" sentak Aston. Alena juga tak kalah syok. Ia sejak tadi mengusap lengan suaminya, melayangkan tatapan kecewa, benci, bahkan muak terhadap kembaran sahabatnya itu. Dan mungkin inilah rencana Leon selanjutnya yang sudah tercium Alena jauh-jauh hari. Tak mungkin Leon menyerahkan dirinya begitu saja jika tidak ada hal licik yang sudah pria itu rencanakan. "Kenapa, Aston? Kamu kaget? Kaget melihat saya dapat menghirup udara yang sama dengan kamu?" bantah santai Leon menggerakan kedua tangannya, menunjukan pada Aston seberapa besar kekuasaannya. Alena bergel
Karena memang di rasa keadaan sudah lebih tenang, dan tidak akan ada gangguan lagi, Aston berencana mengajak sang Istri untuk dinner di luar. Mungkin sudah lama semenjak Alena di nyatakan hamil, baru malam ini Aston mengajak sang istri. Keadaan Alena pun sudah lebih baik, mualnya berkurang, pusingnya pun sudah hilang. Alena sudah rapi dengan dressnya dan make up tipis. Malam ini Alena memakai midi dress, dress simple bewarna merah tua selutut yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Apalagi kehamilannya semakin terlihat, hal itu semakin membuat Alena terlihat manis dalam balutan dress tersebut.Alena hanya menjepit pita sisi rambutnya ke belakang, mengenakan sepatu flat shoes senada dengan dressnya, lalu tak lupa tas lengan bewarna hitam. Alena berputar kecil merasa bahagia. "Sayang... Dimana kemejanya?" bisik Aston dari arah walk in closet. Alena memutar jengah matanya. "Selalu saja seperti itu. Apa perlu aku kasih tulisan segede gaban biar orang tua
Pagi itu sekitar pukul 2 siang, Aston mendapat tamu penting, seorang Advokat yang nantinya akan menjadi garda untuk jalannya sidang penentuan hukum Leon. Seorang pria berpenampilan rapi, memakai stelan jas mewah, menenteng tas kerja baru saja masuk ke dalam rumah setelah Aston mempersilahkan masuk."Terimakasih atas kedatangannya, Pak Indrawan," kata Aston setelah saling jabat tangan sejenak."Terimakasih kembali, Dokter Aston. Suatu kehormatan saya bisa menangani perkara masalah rumah tangga anda saat ini," balas sang Advokat.Aston lalu mempersilahkan untuk duduk terlebih dulu. Alena keluar sambil membawakan dua cangkir teh hangat untuk tamu dan suaminya. Begitu Alena sudah duduk, Aston mulai menjelaskan semua yang terjadi sejak penculikan sekaligus penyekapan waktu lalu.Pak Indrawan pun mendengarkan serta mengamati dengan seksama. Alena juga ikut andil menceritakan semuanya, dan hampir mengalami syok berat setelah penyekapan itu."Bai
Alena masih meremat gawai dalam genggaman tangannya. Emosionalnya malam ini seperti roller coaster, hingga membuat kepalanya padat memerah dari ujung pelipis sampai ketegangan otot leher. Mungkin jika wanita dalam foto itu ada di depan matanya, pasti sudah hampir remuk wajah wanita itu di cabik-cabik oleh tangannya. "Dasar jalang nggak tahu diri! Bertemu saja kita di jalan, hidupmu tak akan selamat!" sergah Alena kembali. Tut!Panggilan akhirnya terputus sepihak dari wanita bernama Maya tadi. Merasa terpojokan dan kalah argumen, membuatnya merasa malu, ternyata istri seorang Dokter Aston begitu berani. Dan Alena pun sudah tak asing lagi dengan berbagai macam model wanita seperti tadi. "Dasar wanita sakit! Otaknya sudah gesrek. Kalau nggak hamil, malam ini juga aku cari kamu! Kurang ajar, bisa-bisanya nempel-nempel nggak jelas sama suami orang. Dia pikir aku terus nyalahin Kak Aston gitu?!" gerutunya. Alena masih mengontrol napasnya. Sampai-samp
Pukul 10 malam, sesuai jadwal, Aston memutuskan bersiap-siap untuk pulang. Ia berjalan tegap melewati lorong lantai 4. Melupakan semua kejadian demi kejadian, menekan pikirannya: bahwa malam ini juga dirinya harus segera sampai rumah dan menemani sang Istri.Di saat ia akan masuk dalam lift, secara reflek Aston mundur sambil membulatkan mata lebar, barusan - pasiennya bernama 'Maya' tiba-tiba limbung dan langsung menghambur dalam tubuhnya begitu saja.Aston mencoba menghempaskan. Pandangannya sudah tajam menahan jengkel. Wanita tadi sangat bau alkohol."Oh, ma-maaf! Sa-saya tidak sengaja," ucapnya dengan khas orang mabuk.Sementara Aston masih diam sejenak. Ia tipikal orang yang bekerja menggunakan logika, daripada tindakan. Dan jika di pikir secara nalar, bagaimana bisa wanita tadi kembali lagi ke lantai 4 sudah dalam keadaan mabuk? Padahal 2 jam yang lalu wanita tadi baru saja mengeluhkan kesehatan kandungannya kepada Aston. Lalu, drama apalagi
Tama meraih robekan kain tadi yang terjerat di antara ranting pohon. Dahinya mengernyit, kain tadi seperti syal yang terlilit di antara ranting, yang di tarik secara paksa tanpa si pemilik tahu. Batin Tama terus berbisik, mungkinkah robekan kain ini milik seseorang yang memang sengaja, atau sekedar lewat?Setelah mendapatkan, Tama bergegas membawanya masuk. Di sebelah gerbang, tepatnya di sisi tembok dekat pohon bonsai yang terawat, ada sebuah kardus asing yang membuat Tama lagi-lagi menyipitkan mata. "Apa itu?"Tama buka kardus tadi. Alangkah terkejutnya melihat sebuah bangkai tikus besar dengan lumuran darah. Hidung Tama sampai berkerut di pangkalnya, menarik kaos tadi untuknya tutupkan pada hidungnya. Karena sebagai Dokter bedah ia sudah tak asing lagi dengan darah, jadi Tama tak terlalu terkejut. Ia menduga, mungkin teror ini ada hubungannya dengan benda jatuh yang Alena dengar tadi."Brengsek! Siapa lagi yang meneror Mas Aston? Pasti ini ada orang ise
Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak se
"Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang.Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu,
Semenjak kecaman pedas yang Alena terima dari suaminya, semenjak itu pula Tama semakin menunjukan sikap acuh bahkan terkesan tak peduli dengan semua hal yang menyangkut Istrinya. Bukan hanya sehari dua hari Alena mencoba mengetuk pintu hati sang Suami, namun lagi-lagi yang dirinya dapat sebuah penol
Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah







