تسجيل الدخول"Kak Aston... Ini semua?"
Aston mengangguk, berdiri di samping Alena sambil mengamati ekspresi bahagia Iparnya itu. Alena menoleh, tersenyum dengan mata memanas. "Alena... Saya minta maaf," bisik Aston menggapai kedua tangan Iparnya. Kemudian Aston kecup perlahan dengan lembut. Air mata Alena menetes. Selama menjadi Istrinya Tama, tak pernah sekali pun suaminya itu memberinya kejutan. Tama memang selalu memberikannya uang, namun pria itu selaluAston terpaku, seolah apa yang akan di katakan seniornya itu sudah dapat ia tebak. Duduk pun terasa resah, sesekali ia memandang Alena - baru saja hari bahagia itu menimpa hubungannya, tapi sudah datang ujian yang melanda. Hingga, suara Dokter di sebrang memecah kesadarannya. "Hallo, Dok..." "Hallo, Aston... Surat dari Tuan Jackson sudah keluar. Mungkin tinggal menunggu 3 hari saja kamu dapat terbang ke Korea." Pernyataan itu mengguncang dada Alena yang kini tiba-tiba senyumnya luntur. Aston tahu kekasihnya tersentak. Ia berusaha menenangkan dengan menggapai tangan kecil itu untuknya genggam. "Baik, Dok! Terimakasih atas informasinya." Setelah itu panggilan terputus. Aston menyimpan gawainya, menatap Alena masih dengan wajah tenang. Untuk sejenak, ia ingin menjelaskan apa yang di maksud 'Pertukaran Dokter' itu. "Pertukaran Dokter? Apa maksudnya, Kak? Kak Aston mau pergi dan
Aston agak ragu. Wajahnya seolah tak percaya. Sementara Mama Lusy, setelah mengatakan itu, dirinya langsung melenggang masuk ke dalam. Aston menatap Alena, dagu kekasihnya itu menyuruhnya masuk. Karena tak ada pergerakan apapun saking terperanjatnya, Alena langsung menarik tangan itu. Menggelendeng Aston hingga tiba di ruang tamu."Duduk, Aston!" suara Mama Lusy mendominan.Alena duduk di dekat Mamanya, ia hanya mengangkat bahu acuh, seolah tak tahu apa-apa.Rasanya panas dingin, lebih menyeramkan daripada dinginnya ruangan operasi. Bagi Tama, tajamnya pisau bedah lebih tajam tatapan Mama Lusy. Sudah bertahun-tahun menjadi Dokter, menghadapi segala macam keluhan penyakit, mengenal sifat-sifat seseorang dibalik cara penyampaian ucapannya, tapi baru kali ini ia merasa berhadapan dengan seorang Profesor Doktor yang sangat profesional.Setelah menatap dengan cara menelisik, barulah Mama Lusy membuka suara."Kamu kapan melamar putri saya?!"
Aston yang baru saja masuk ke dalam mobil terdiam sejenak. Kedua tangannya sudah mencengkram setir mobil, tapi begitu menoleh ke samping, dahinya mengernyit tipis mendapati sang kekasih terdiam dengan wajah berpaling.Tangannya menggapai lengan Alena. "Sayang, hei... Kamu kenapa kok murung gini?"Alena menepis tangan kekar Aston. Ia menegakkan wajahnya ke depan, menghela napas kembali, membuat Aston semakin berpikir - apa yang terjadi dengan kekasihnya itu."Alena... Apa saya membuat kesalahan lagi? Atau, ada hal yang tidak kamu sukai dari kalimat saya tadi? Saya minta maaf jika semuanya membuat kamu sakit hati," lirihnya. Aston menggapai kedua tangan Alena, menggenggamnya erat-erat."Nggak ada! Alena cuma berpikir, ternyata sejauh itu hubungan Kak Aston dengan Rania. Kak Aston juga sudah melamarnya demi membuktikan keseriusan Kakak." Alena tertunduk, suaranya lebih parau daripada sebelumnya. "Mungkin benar yang di katakan Rania, kalau cinta Kaka
Siang itu, setelah dirasa cukup tenang, Aston bergegas meninggalkan Cafe dan langsung menuju kantor Polisi. Selain menjadi saksi mata bagaimana sadisnya Rania menculik Alena, ia juga ingin melihat: apakah mantan kekasihnya itu sudah mengakui kesalahannya, atau malah semakin menjadi-jadi.Selama perjalanan itu, Aston menggenggam tangan Alena seolah tak ingin wanita itu pergi dari sisinya lagi. Dan ia pun menjadi kuat, kehadiran Alena dalam hidupnya memang sepengaruh itu.Alena juga tak kalah bahagia. Ia kini mengulas senyum lembut, mengusap bahu sang pujaan, lalu menyandarkan kepalanya pada pundak Aston.Tak lama itu mobil Aston sudah memasuki halaman Kantor Polisi. Setelah memasuki sebuah ruangan mediasi perkara, memberikan beberapa fakta kenyataan semalam, kini Aston dan Alena meminta untuk melihat keadaan Rania yang sudah mendekam di balik sel jeruji.Sebelum sidang terlaksana, Rania masih menjadi tahanan sementara, dan belum memakai pakaian tah
Aston juga ikut tersentak dengan permintaan orang tua Rania saat ini. Ia menatap Alena sekilas - bagaimana bisa Tante Lidya berbicara secara gamblang di depan wanita yang sudah menjadi korban kekejaman Rania sendiri? Batin Aston bergolak, entah di sengaja atau tidak, seolah orang tua Rania tidak menghargai keberadaan kekasihnya."Bagaimana, Tante? Tante Lidya meminta calon suami saya untuk membantu putri Tante agar dapat bebas? Apa Tante tidak tahu, sebusuk apa kelakuan putri kesayangan Tante di belakang?" Alena menatap kuat, rahangnya sampai ikut menggeretak."Diam, kamu!" tekan Tante Lidya menajamkan matanya pada Alena.Aston tidak terima kekasihnya di bentak seperti itu. "Tante... Sudah cukup saya diam selama ini. Asal Tante tahu, Rania yang sudah menyuruh orang buat memukuli saya begitu menjebak saya di dalam hotel! Jika tahu pada akhirnya dia akan menculik calon Istri saya, maka sudah dari kemarin saya sendiri yang sudah menjebloskan Rania ke kantor
Alena juga dapat melihat nama yang terpampang. Nama Lidya - ibunda dari Rania. Ia tak ingin berasumsi negatif, tapi kenyataan itu sulit membuatnya berpikir positif. Ia hanya takut jika Aston akan mudah terbujuk oleh pengaruh di luar.Aston menatapnya seolah meminta persetujuan. Ia hanya hanya mengangguk, mempersilahkan Aston menerima panggilan Tante Lidya."Hallo, ada apa, Tante?" tanya Aston dengan suara beratnya. Wajah tampan dibalik kacamata kerja itu sangat serius, masih menyisakan rasa muak teringat tingkah Rania."Hallo, Aston... Apa siang ini kita bisa bertemu? Ada yang ingin Tante bicarakan sama kamu, mengenai...." Tante Lidya berhenti dengan rasa sesak yang tertahan.Aston yang melod-speaker panggilannya agar Alena dapat mendengar, kini keduanya saling tatap penuh kerutan tipis pada dahinya."Mengenai apa, Tante?" Aston berpura-pura tak tahu."Rania, Aston! Tante sudah perjalanan menuju Cafe depan rumah sakit. Tante akan
Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak se
Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah
Aston tidak menjawab dengan kalimat panjang. Ia hanya memberikan tatapan tegas yang memberi isyarat bahwa perintah medisnya tidak untuk didebat. Pria itu melangkah menuju alat pemindai ultrasonografi (USG) di samping ranjang pasien dan mulai mengenakan sarung tangan latex medis."Saya perlu melakuk
"Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang.Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu,







