分享

DPK 020

last update publish date: 2026-04-15 23:01:57

Carlos mengulum senyumnya saat matanya menangkap bercak berwarna merah di leher sahabatnya.

“Semalam … berapa ronde?” godanya sembari menaik turunkan alisnya.

“Kamu kira aku petinju, apa?”

Senyum Carlos semakin lebar. “Ganas juga ya, pacar kamu. Macem kucing liar, suka gigit.”

Carlos mengangkat kedua tangannya seolah seekor kucing yang memperlihatkan cakar dan taringnya. “Auung … meong.”

Hanson langsung melotot. Ia mengangkat tangan kanannya untuk menutup bekas gigitan di lehernya.

“Bukan
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 052

    Carlos masuk ke ruang kerja Hanson. Satu tangannya di rambut Vanessa, mencengkeram kuat sambil menggiringnya masuk. Wajahnya kaku seolah tak peduli teriak kesakitan gadis itu. “Hentikan! Lepaskan!” Vanessa berusaha melepaskan tangan Carlos dari rambutnya. Tetapi perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh. Vanessa terlalu lemah untuk melawan.Di belakang keduanya, Pak Rusman masuk mengikuti. Begitu sampai di sana, Carlos mendorong Vanessa ke lantai, membuat wanita itu terjerembab begitu saja tepat di hadapan Hanson. “Argh!” jerit Vanessa.Hanson duduk di belakang mejanya. Ia duduk dengan tenang. Dadanya bergerak naik turun pertanda emosi tengah menggelegak dalam dada.“Tutup pintunya.” Hanson berkata datar.Carlos menutup pintu. Kini di ruangan itu menjadi sunyi. Pak Rusman mengambil tempat di kursi tamu tanpa diminta. Dia membuka kopernya, dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen yang dia susun rapi di atas pahanya. Sepertinya bersiap untuk sesuatu.Carlos berdiri di sisi kanan ruangan

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 051

    Syuting hari itu selesai lebih cepat dari jadwal. Andhika sudah menunggu di parkiran dengan mesin menyala ketika Kiara keluar dari pintu samping studio. Ia membuka pintu belakang bahkan sebelum Kiara sempat meraih gagangnya. “Terima kasih.” Kiara melempar tas ke sudut belakang dan masuk. “Siap, Nona.” Perjalanan pulang berlangsung dalam diam. Kiara menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Kepalanya sedikit berdenyut. Begitu sampai, Andhika memarkirkan mobil di garasi. Kiara masuk ke dalam rumah. Rumah Hanson terasa lebih sepi dari biasanya di jam-jam sore. Hanson biasanya sudah pulang menjelang pukul enam. Walaupun terlambat, Kiara bisa mendengar suara mobilnya dari kamar. Tapi sekarang baru pukul empat lebih. Kiara melepas sepatunya di depan pintu dan melempar jaketnya ke sofa. Ia meraih remote televisi dari atas meja kecil di sudut ruang tamu. Kiara mengerutkan dahi saat menyadari benda berlayar pipih itu tak menyala walau jemarinya menekan tombolnya. Ia mencoba menekan s

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 050

    Hanson sudah ada di ruang kerjanya sejak pukul tujuh kurang seperempat.. Di mejanya, tiga tumpukan berkas menunggu untuk ditandatangani dan dua layar monitor menyala bersamaan.Ia bekerja dalam diam yang biasa. Sampai pintu ruang kerjanya diketuk.“Masuk.”Carlos masuk. Biasanya dia terlihat tenang. Tetapi, pagi ini langkahnya sedikit berbeda sedikit terburu-buru. Ekspresinya terlihat tidak nyaman.“Hans.” Carlos menutup pintu di belakangnya.Hanson mengangkat kepalanya. “Ada apa?”Carlos tidak segera menjawab. Ia mendekat ke meja dan meletakkan ponselnya di atas permukaan meja itu, menghadap ke arah Hanson. Layarnya sudah terbuka pada sebuah halaman.“Kamu perlu melihat ini dulu.”Hanson meraih ponsel itu. Matanya menatap layar. Sebuah artikel dari portal berita hiburan.ARTIS PENDATANG BARU K, KEPERGOK KENCAN DENGAN PRIA MISTERIUS DI CAFE HOTEL LOTUS.Di bawah judul itu, dua foto berdampingan.Foto pertama, diambil dari jarak yang cukup jauh dengan kualitas kamera telefoto yang jela

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 049

    Sinar matahari pagi menyusup melalui celah tirai jendela ruang rias ketika Kiara duduk di depan cermin besar yang dikelilingi lampu bulat berwarna putih hangat. Make up artist-nya sedang sibuk menyapukan foundation ke pipi kirinya ketika ponsel Kiara bergetar di atas meja rias.Kiara melirik layarnya. Matanya melihat nama Beckie mengambang di layarnya.“Maaf, Rin. Aku terima telepon sebentar.” Kiara mengangkat tangannya.Rini mundur, berpura-pura sibuk merapikan peralatan di sampingnya.“Halo, Beck—”“Ara.” Suara Beckie terdengar dari seberang. Suaranya kali ini lebih pelan dan lega. “Adikku sudah siuman.”Kiara menghela napas dan tersenyum. “Serius? Syukurlah!”“Serius.” Terdengar Beckie menarik napas panjang di seberang sana. “Tadi pagi. Dokternya bilang operasi semalam berjalan baik. Masa kritis sudah berlalu. Walau dia masih lemah dan masih banyak yang harus dipantau, tapi dia sudah membuka mata, Ra. Dia sudah sadar.”“Syukurlah!” Kiara menutup matanya sebentar. “Iya. Aku sangat

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 048

    Malam itu, mobil Hanson terparkir di sudut jalan yang tidak jauh dari rumahnya sendiri. Mesin mati, lampu dimatikan. Dari sini, rumah itu masih terlihat. Seperti yang sudah direncanakan.Kiara duduk di kursi penumpang dengan jantung yang terus berdebar. Hanson di belakang kemudi, matanya tidak beranjak dari layar ponsel di tangannya yang menampilkan feed CCTV. Empat kotak kecil yang masing-masing memperlihatkan sudut-sudut berbeda dari dalam rumahnya.Suasana di dalam mobil sunyi. Tidak ada musik. Tidak ada percakapan. Mereka fokus.Edwin Luminto melangkah masuk melalui pintu samping. Ia sudah tahu tata letak rumah ini. Ia tahu di mana ruang kerja Hanson. Ia tahu lorong mana yang dekat dengan tangga, tahu kamera CCTV mana yang sudah dia minta untuk dimatikan sejak dua jam lalu pada kenalannya.Yang tidak Edwin tahu, kamera yang dimatikan itu sudah digantikan oleh dua unit baru yang dipasang Andhika sehari sebelumnya. Di sudut yang berbeda, dengan sudut pandang yang berbeda, yang justr

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 047

    Pagi datang dengan kabut tipis yang belum sepenuhnya pergi. Kiara berdiri di trotoar di depan sebuah kafe kecil yang belum terlalu ramai. Tangannya menggenggam dua benda. Flashdisk hitam kecil di satu tangan. Potongan isolasi bening yang sudah direkat rapi di atas lembar plastik bening.Angin pagi menyapu rambutnya. Kiara menatap jalanan di depannya. Sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan. Edwin turun.Ia mengenakan kemeja abu-abu gelap dan celana hitam. Wajahnya terlihat segar. Sementara Kiara justru sebaliknya, terlihat lesu karena hampir tidak tidur sama sekali.Edwin mendekat tanpa tergesa.“Pagi yang indah,” sapanya begitu berdiri di depan Kiara.“Ini barang yang kamu minta.”Kiara menyerahkan flashdisk dan lembaran isolasi bening itu secara bersamaan. Edwin menerima keduanya. Matanya memeriksa isolasi bening itu terlebih dahulu. Ia memegangnya menghadap cahaya matahari pagi. Di bawah sinar itu, samar-samar terlihat jejak sidik jari yang tertinggal di permukaan perekat. Lima

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status