LOGINDua bulan telah berlalu sejak badai besar itu meluluhlantakkan fondasi hidup Jolina. Waktu, meski tak benar-benar menyembuhkan luka, setidaknya telah mengubah bentuk rasa sakit itu menjadi sesuatu yang lebih keras dan tajam.
Jolina tidak lagi bangun dengan tangisan di pagi hari. Ia tidak lagi menatap cermin dengan pandangan seorang korban. Rambutnya kini sering ia ikat kencang, menonjolkan garis rahangnya yang tegas, dan matanya kini memancarkan keberanian yang dingin—sebuah transformasi yang lahir dari abu penderitaannya. Meski ia masih bergantung pada perlindungan Felix, Jolina bukan lagi "boneka" yang hanya bisa menunggu. Ia belajar untuk mengamati, belajar untuk diam, dan belajar untuk memahami dunia gelap suaminya. Anehnya, selama dua bulan terakhir, dunia seolah memberikan gencatan senjata yang tidak terduga.Tak ada lagi teror dari Oliver, tak ada lagi gangguan dari ayahnya, Roberson. Segalanya tampak tenang, namun Jolina tahu, ketenangan di duniKeheningan kembali merayap di ruang kerja rahasia itu setelah monitor menampilkan pesan ancaman dari Oliver. Sinyal merah yang berkedip-kedip seolah menjadi alarm bagi nyawa mereka, namun reaksi Felix sungguh di luar dugaan. Alih-alih melompat berdiri, menyiapkan senapan laras panjangnya, atau berteriak memanggil tim taktisnya, Felix justru kembali duduk dengan tenang di samping Jolina.Jolina, yang masih terbalut kemeja hitam besar milik Felix, menatap suaminya dengan dahi berkerut. Jantungnya masih berpacu karena pesan Oliver tadi."Felix? Kenapa kau hanya diam? Oliver baru saja mengirim pesan ancaman... bukankah kita harus bergerak sekarang? Menghadangnya sebelum dia sempat melakukan rencananya?"Felix tidak langsung menjawab. Pria itu justru memutar tubuhnya, menghadap Jolina sepenuhnya. Tatapannya bukan lagi tatapan Don yang haus darah, melainkan tatapan yang sangat aneh. Begitu dalam, intens, dan seolah sedang mencoba merekam setiap inci wajah Jolina ke dalam memorinya. Tangan
Lampu temaram di ruang kerja rahasia itu seolah ikut memanas seiring dengan deru napas yang memenuhi udara. Felix menatap Jolina dengan tatapan yang membara, seolah sedang memuja dewi yang baru saja bangkit dari kematian. Tantangan Jolina tadi benar-benar meruntuhkan pertahanan terakhirnya. Tanpa memutus kontak mata yang intens, Felix bergerak dengan kecepatan predator yang penuh kendali. Dengan satu gerakan halus namun bertenaga, Felix membalikkan posisi mereka. Kini, Jolina terbaring di atas sofa kulit yang dingin, sementara Felix mengurungnya di bawah tubuhnya yang kekar. Jolina bisa merasakan otot-otot lengan Felix yang mengeras saat pria itu menopang berat tubuhnya di sisi kepala Jolina. Felix melepaskan kancing kemejanya yang tersisa dengan satu sentakan, membiarkan kain hitam itu jatuh dan terlempar ke sembarang arah. Kemudian, ia melepaskan celana dan pakaian dalamnya dengan gerakan efisien, disusul de
Dua bulan telah berlalu sejak badai besar itu meluluhlantakkan fondasi hidup Jolina. Waktu, meski tak benar-benar menyembuhkan luka, setidaknya telah mengubah bentuk rasa sakit itu menjadi sesuatu yang lebih keras dan tajam. Jolina tidak lagi bangun dengan tangisan di pagi hari. Ia tidak lagi menatap cermin dengan pandangan seorang korban. Rambutnya kini sering ia ikat kencang, menonjolkan garis rahangnya yang tegas, dan matanya kini memancarkan keberanian yang dingin—sebuah transformasi yang lahir dari abu penderitaannya. Meski ia masih bergantung pada perlindungan Felix, Jolina bukan lagi "boneka" yang hanya bisa menunggu. Ia belajar untuk mengamati, belajar untuk diam, dan belajar untuk memahami dunia gelap suaminya. Anehnya, selama dua bulan terakhir, dunia seolah memberikan gencatan senjata yang tidak terduga. Tak ada lagi teror dari Oliver, tak ada lagi gangguan dari ayahnya, Roberson. Segalanya tampak tenang, namun Jolina tahu, ketenangan di duni
Logam pistol itu terasa dingin dan asing di jari-jari Jolina yang gemetar. Ia menatap Felix yang berlutut di depannya dengan dada yang menempel pada laras senjata. Pria ini, yang biasanya menjadi lambang kekuasaan dan ketakutan, kini tampak begitu pasrah. Felix menyerahkan hidupnya secara cuma-cuma, seolah kematian adalah satu-satunya pelarian yang pantas bagi dosa-dosanya. Jari Jolina sudah berada di pelatuk. Satu tarikan kecil, dan badai ini akan usai. Namun, semakin ia menatap mata Felix yang dipenuhi keputusasaan, semakin ia merasakan dadanya sesak oleh sesuatu yang lebih menyakitkan daripada peluru. Bahu Jolina berguncang hebat. Isak tangis yang tertahan selama berhari-hari akhirnya meledak, menghancurkan benteng pertahanan terakhirnya. Dengan gerakan kasar, Jolina melempar pistol itu ke arah pojok ruangan. Senjata itu mendarat dengan bunyi dentuman yang memekakkan telinga di atas lantai kayu, namun tidak
Mansion megah milik Felix Wesley yang biasanya memancarkan aura kekuasaan dan kemewahan, kini terasa seperti makam raksasa yang dingin. Langit-langitnya yang tinggi seolah menekan napas siapa pun yang berada di dalamnya. Jolina telah kembali, namun ia tidak benar-benar "pulang". Tubuhnya ada di sana, duduk tegak di pinggiran ranjang besar mereka, namun jiwanya seolah tertinggal di lorong rumah sakit yang dingin atau hancur bersama ledakan yang merenggut nyawa ibunya. Sejak mereka menginjakkan kaki kembali di mansion setelah dua hari di rumah sakit, Jolina tidak pernah mengeluarkan suara. Pandangannya kosong, menatap lurus ke arah jendela yang menampilkan pemandangan taman tanpa benar-benar melihatnya. Ia tidak menangis. Tidak ada isak tangis yang memilukan, tidak ada air mata yang mengalir deras. Ia hanya diam, kaku seperti patung porselen yang retak, yang bisa hancur kapan saja hanya dengan satu sentuhan. Fel
Keheningan kamar yang tadinya dipenuhi ketegangan brutal, seketika pecah oleh jeritan tertahan Jolina. Rasa sakit yang tajam dan panas merobek perut bawahnya, membuatnya meringkuk seperti janin yang sedang sekarat. Di bawah cahaya lampu kristal yang mewah, warna merah yang pekat mulai merembes di atas sprei sutra putih, melebar dengan cepat seperti noda dosa yang tak terhapuskan. Jolina terus mengaduh kesakitan, tangannya mencengkeram sprei hingga buku jarinya memutih. Cairan merah itu tidak berhenti, ia terus menetes, menyusuri paha Jolina yang pucat, meninggalkan jejak horor di atas tempat tidur yang seharusnya menjadi tempat perlindungan. "Felix... sakit... tolong..." rintih Jolina dengan sisa kekuatannya. Matanya mulai berkaca-kaca, bukan hanya karena nyeri fisik, tapi karena firasat buruk yang menghantam batinnya. Felix Wesley, sang Don yang tak kenal takut, mendadak mematung. Kemarahan buta yang tad







