LOGIN
“Apa kau meremehkanku? Aku sedang mencari calon istri, bukan wanita penghibur!”
Suara itu menggelegar di seluruh penjuru ruang VIP sebuah club malam. Di antara barisan wanita berpakaian seksi yang tengah menunduk takut, ada satu orang wanita yang tak terpengaruh oleh teriakan itu. Zoey Caroline. Wanita itu memperhatikan pria tampan yang duduk di tengah ruangan. Pria itu adalah Dimitri Volkov, pria paling berpengaruh di kota ini. Dan alasan Zoey datang jauh-jauh ke kota ini. Awalnya, ia hanya ingin melihat sendiri seperti apa sosok yang namanya begitu ditakuti dan dihormati banyak orang. Namun setelah menyaksikan pemandangan di hadapannya secara langsung, Zoey akhirnya mengerti. Pria ini benar-benar bisa membantunya balas dendam. Di tengah keheningan itu, seorang pria berjas hitam melangkah mendekati Dimitri, tampaknya hendak mengatakan sesuatu. Namun Dimitri bahkan tidak memberinya kesempatan. “Keluar.” Seluruh orang di dalam ruangan langsung bergerak. Para wanita yang sejak tadi berdiri berjajar segera bergegas menuju pintu keluar, dan tak sampai satu menit ruangan itu perlahan kosong. Namun Zoey tidak ikut bergerak. Ia tetap berada di tempatnya, menunggu dengan sabar. Dan seperti yang ia harapkan, tak lama kemudian perhatian Dimitri akhirnya tertuju padanya. "Kau belum pergi." Zoey memberanikan diri mengangkat wajah perlahan. "Tidak." Salah satu pengawal menatapnya seolah ia sudah kehilangan akal. Semua orang tahu reputasinya. Dimitri bukan pria yang bisa didekati sembarangan. Namun Zoey seolah tak takut padanya, meski sebenarnya jantungnya berdetak keras. Dimitri memperhatikannya selama beberapa saat sambil mengetuk sandaran kursi dengan jarinya. "Kau tidak terlihat seperti mereka." Zoey diam. Ia tahu pria itu sedang mengamatinya. "Gadis baru?" "Jika Tuan ingin menyebutnya begitu." Sudut mata Dimitri sedikit menyipit. Jawaban itu jelas bukan jawaban yang ia harapkan. "Melihat kau tak ikut keluar, sepertinya kau membutuhkan sesuatu dariku." Jantung Zoey kembali berdetak lebih keras. Namun ekspresinya tidak berubah. "Aku mendengar Tuan sedang mencari seorang istri." Hening. Tatapan Dimitri tidak lepas darinya. Seolah pria itu sedang mencoba melihat sesuatu yang tersembunyi di balik wajah tenangnya. Beberapa detik berlalu. Kemudian Dimitri menoleh singkat ke arah para pengawal. "Keluar." Mereka pun segera bergerak keluar, menyisakan Zoey dan Dimitri di ruangan itu. Dimitri bangkit dari kursinya, langkahnya tenang. Namun cukup untuk membuat tekanan di dalam ruangan berubah. Zoey menahan diri untuk tidak mundur ketika pria itu berhenti tepat di depannya. "Kau membutuhkan sesuatu dariku." Zoey tidak menyangkal. Pria seperti Dimitri terlalu cerdas untuk dibohongi dengan alasan murahan. "Aku bisa mengatakan hal yang sama tentang Tuan." Untuk beberapa detik, tak ada yang berbicara. Udara di antara mereka terasa semakin berat. Tatapan Dimitri tidak bergeser sedikit pun dari wajah Zoey. Seolah sedang membongkar setiap lapisan kebohongan yang mungkin ia sembunyikan. Kemudian, tanpa peringatan, pria itu mengangkat satu tangan. Zoey menegang. Jari-jari Dimitri mencengkeram dagunya dan memaksanya mengangkat wajah lebih tinggi. Tidak cukup kasar untuk menyakitinya, tetapi cukup kuat untuk menunjukkan siapa yang memegang kendali. "Nyalimu besar." Suara berat itu terdengar rendah dan berbahaya. Zoey berusaha mempertahankan ekspresinya. Meski jantungnya berdetak semakin cepat, ia tidak memalingkan wajah. Dimitri sedikit memiringkan kepala, mengamatinya dari jarak yang sangat dekat. "Aku sudah melihat banyak orang datang kepadaku." Ibu jarinya bergerak perlahan di sepanjang rahang Zoey. "Mereka menginginkan uang." Hening. "Kekuasaan." Tatapan tajam itu seolah menembus pertahanannya. "Atau perlindungan." Zoey menelan ludah pelan. "Lalu kau?" Cengkeramannya sedikit mengencang. "Apa yang kau butuhkan dariku?" Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun Zoey tahu itu bukan sekadar pertanyaan. Itu adalah ujian. Satu jawaban yang salah bisa membuat semuanya berakhir malam ini. Ia menatap balik mata kelam pria di hadapannya. "Akses." Alis Dimitri terangkat tipis. "Hanya itu?" "Sementara ini." Keheningan kembali turun. Dimitri terus menatapnya beberapa saat, seolah menimbang apakah jawaban itu cukup jujur atau justru terlalu berani. Kemudian perlahan ia melepaskan dagu Zoey. Tidak ada senyum di wajahnya. Namun sorot matanya berubah sedikit. Seolah rasa penasaran yang sebelumnya hanya kecil kini mulai tumbuh. “Kau benar.” Dimitri menatapnya tanpa ekspresi. "Keluargaku memaksaku memilih satu wanita sebelum akhir bulan. Dan aku benci dipaksa." Keheningan kembali memenuhi ruangan. Lalu Dimitri berbicara. "Ikut aku pulang." Kalimat itu membuat Zoey membeku. "Apa?" "Jika kau memang datang karena membutuhkan sesuatu dariku..." Tatapan pria itu tertuju pada wajah Zoey. "...maka kau pasti bersedia membuktikan dirimu." Zoey tidak menjawab. Ini lebih mudah daripada yang ia bayangkan. Namun juga jauh lebih berbahaya. Karena semakin dekat ia dengan Dimitri, semakin besar risiko yang harus ia hadapi. Dimitri berbalik menuju pintu.."Mulai hari ini, kau ikut seleksi calon istriku." Ia berhenti sejenak. Lalu menoleh, tatapan tajam mereka bertemu. "Dan jika aku puas ..." Jantung Zoey berdegup keras. "... kau akan menjadi istri kontrakku." ***Tanpa mengganggu ketenangan itu, Dimitri akhirnya berbalik dan melangkah pergi. Ia memilih menjaga jarak seperti biasanya. Baginya, melihat Zoey tersenyum dari kejauhan sudah lebih dari cukup. Sementara itu, Zoey tetap tenggelam dalam dunia novel kesayangannya, sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang telah diam-diam menjaga kebahagiaannya sejak awal. Waktu terus berlalu. Sinar matahari yang semula hangat perlahan bergeser, menyinari sisi lain ruangan. Suasana tetap tenang, hanya ditemani suara gemericik air dari taman dan sesekali kicauan burung yang hinggap di ranting-ranting pohon. Zoey menutup halaman terakhir novel yang sedang dibacanya. Ia menghembuskan napas panjang. "Bagus sekali..." Novel itu berhasil membuatnya larut dalam kisah para tokohnya hingga lupa pada waktu. Namun, rasa kantuk perlahan mulai menyerangnya. Ia meregangkan tubuh, lalu menyandarkan punggung pada sofa empuk. Secangkir teh di atas meja sudah tak lagi mengepulkan uap hangat. "Hoam..." Zoey menu
"...kenapa harus selalu berpura-pura sedingin itu?" Di luar ruangan, Margaret yang belum benar-benar pergi melihat senyum kecil yang akhirnya muncul di wajah Zoey. Wanita paruh baya itu menghembuskan napas lega. Setidaknya, untuk pertama kalinya sejak gadis itu datang ke rumah ini, ia melihat secercah ketenangan di wajah sang nyonya muda. Margaret pun melangkah pergi dengan hati yang lebih ringan, membiarkan Zoey menikmati ruang pribadinya tanpa gangguan. Setelah pintu tertutup, suasana kembali sunyi. Hanya terdengar gemericik air dari pancuran kecil di taman dan desir angin yang menggerakkan dedaunan di luar jendela. Zoey masih memegang kartu kecil pemberian Dimitri. Jari-jarinya mengusap perlahan tulisan tangan pria itu sebelum akhirnya ia menyelipkan kembali kartu tersebut ke belakang bingkai foto lavender. Senyum tipis masih menghiasi bibirnya. "Aneh sekali..." gumamnya pelan. "Perhatian seperti ini... kenapa tidak pernah diucapkan secara langsung?" Ia menggeleng kecil sa
"Kalau Tuan muda melihat foto ini..." gumam Margaret dalam hati. "...mungkin beliau akhirnya bisa sedikit tersenyum." Wanita paruh baya itu memandangi hasil foto di layar ponselnya sejenak. Senyum Zoey yang tulus terasa begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Sejak gadis itu datang ke rumah ini, wajahnya lebih sering dihiasi kebingungan dan kesedihan daripada kebahagiaan. Sayangnya, Dimitri bukan tipe pria yang pandai menunjukkan perhatian lewat kata-kata. Ia selalu memilih diam, dan diamnya sering kali disalahartikan. Margaret menghela napas pelan sebelum menyimpan kembali ponselnya. Sementara itu, Zoey masih berdiri di depan pintu ruang yang baru saja menjadi miliknya. Matanya tak lepas dari taman kecil yang terbentang di balik jendela kaca besar. "Emm..." Ia menoleh ke arah Margaret. "Kalau boleh... apa aku bisa sarapan di ruanganku saja?" Nada suaranya terdengar hati-hati, seolah khawatir permintaannya akan dianggap merepotkan. Namun Margaret justru terkekeh pelan. "
"...Berapa lama lagi aku harus hidup dengan pertanyaan yang tak pernah kau jawab, Dimitri?"Tidak ada jawaban.Yang terdengar hanyalah gema pintu yang baru saja tertutup, disusul langkah kaki Dimitri yang perlahan menghilang di sepanjang koridor rumah.Zoey tetap berdiri di tempat. Pandangannya terpaku pada pintu itu, seolah berharap pria tersebut akan kembali masuk dan mengatakan bahwa semua yang terjadi hanyalah kesalahpahaman. Namun harapan itu tak pernah terwujud.Dengan napas panjang, ia mengusap air mata yang masih membekas di pipinya. Kepalanya terasa penuh oleh begitu banyak pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.Akhirnya ia berbalik dan berjalan menuju kamar mandi. Suara air yang mengalir memenuhi ruangan, tetapi tidak mampu mengusir kekacauan di dalam pikirannya.Tiba-tiba sebuah kalimat kembali terngiang di telinganya."Lakukan peranmu dengan baik."Kalimat itu terdengar begitu jelas, seolah seseorang baru saja mengucapkannya tepat di samping telinganya.Zoey memejamkan ma
"Semalam kau pergi ke mana?" tanya Zoey pelan, tanpa mengalihkan pandangannya dari Dimitri. Ruangan itu seketika dipenuhi keheningan. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar, seolah ikut menunggu jawaban yang tak kunjung datang. Dimitri, yang sedang merapikan lengan kemejanya di depan cermin, berhenti sesaat. Ia menoleh ke arah Zoey dengan ekspresi yang begitu tenang, setenang permukaan danau yang tak pernah memperlihatkan apa yang tersembunyi di dasar. "Keluar." Hanya satu kata. Jawaban singkat itu membuat Zoey menghembuskan napas panjang. "Itu bukan jawaban." "Itu jawaban." "Bukan jawaban yang kumaksud." Tanpa menunjukkan tanda-tanda terganggu, Dimitri mengambil jam tangan dari atas nakas. Ia memakainya dengan gerakan santai, seolah pertanyaan Zoey tidak lebih penting daripada rutinitas paginya. Zoey mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Aku bangun tengah malam," katanya lirih, namun jelas. "Ruang kerjamu kosong. Kau juga tidak ada di kamar." Dimitri tidak menyang
Suara air terus mengalir dari balik pintu kamar mandi.Zoey masih berdiri di tempat yang sama, seolah kakinya kehilangan kemampuan untuk bergerak. Tatapannya berulang kali berpindah antara pintu yang tertutup rapat itu dan beberapa tetes darah yang menghiasi lantai marmer putih di dekat kakinya."Siapa yang baru saja kau habisi, Dimitri Volkov?" gumamnya pelan sambil melirik ke arah pintu kamar mandi.Jemarinya mengepal tanpa sadar.Beberapa detik kemudian, suara air itu berhenti.Klik.Pintu kamar mandi terbuka.Dimitri melangkah keluar dengan rambut yang masih sedikit basah. Pria itu berjalan menuju wastafel tanpa mengatakan apa pun, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.Tatapan Zoey mengikuti setiap gerakannya. Hingga akhirnya Dimitri menoleh, dan mata mereka bertemu."Apa?" tanya Dimitri datar.Zoey tersentak kecil."Kenapa kau menatapku seperti itu?"Zoey segera mengalihkan pandangan, tetapi sudah terlambat. Dimitri jelas menyadari ekspresi aneh di wajahnya.Ia menggigit bibir







