تسجيل الدخولTanpa mengganggu ketenangan itu, Dimitri akhirnya berbalik dan melangkah pergi. Ia memilih menjaga jarak seperti biasanya. Baginya, melihat Zoey tersenyum dari kejauhan sudah lebih dari cukup. Sementara itu, Zoey tetap tenggelam dalam dunia novel kesayangannya, sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang telah diam-diam menjaga kebahagiaannya sejak awal. Waktu terus berlalu. Sinar matahari yang semula hangat perlahan bergeser, menyinari sisi lain ruangan. Suasana tetap tenang, hanya ditemani suara gemericik air dari taman dan sesekali kicauan burung yang hinggap di ranting-ranting pohon. Zoey menutup halaman terakhir novel yang sedang dibacanya. Ia menghembuskan napas panjang. "Bagus sekali..." Novel itu berhasil membuatnya larut dalam kisah para tokohnya hingga lupa pada waktu. Namun, rasa kantuk perlahan mulai menyerangnya. Ia meregangkan tubuh, lalu menyandarkan punggung pada sofa empuk. Secangkir teh di atas meja sudah tak lagi mengepulkan uap hangat. "Hoam..." Zoey menu
"...kenapa harus selalu berpura-pura sedingin itu?" Di luar ruangan, Margaret yang belum benar-benar pergi melihat senyum kecil yang akhirnya muncul di wajah Zoey. Wanita paruh baya itu menghembuskan napas lega. Setidaknya, untuk pertama kalinya sejak gadis itu datang ke rumah ini, ia melihat secercah ketenangan di wajah sang nyonya muda. Margaret pun melangkah pergi dengan hati yang lebih ringan, membiarkan Zoey menikmati ruang pribadinya tanpa gangguan. Setelah pintu tertutup, suasana kembali sunyi. Hanya terdengar gemericik air dari pancuran kecil di taman dan desir angin yang menggerakkan dedaunan di luar jendela. Zoey masih memegang kartu kecil pemberian Dimitri. Jari-jarinya mengusap perlahan tulisan tangan pria itu sebelum akhirnya ia menyelipkan kembali kartu tersebut ke belakang bingkai foto lavender. Senyum tipis masih menghiasi bibirnya. "Aneh sekali..." gumamnya pelan. "Perhatian seperti ini... kenapa tidak pernah diucapkan secara langsung?" Ia menggeleng kecil sa
"Kalau Tuan muda melihat foto ini..." gumam Margaret dalam hati. "...mungkin beliau akhirnya bisa sedikit tersenyum." Wanita paruh baya itu memandangi hasil foto di layar ponselnya sejenak. Senyum Zoey yang tulus terasa begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Sejak gadis itu datang ke rumah ini, wajahnya lebih sering dihiasi kebingungan dan kesedihan daripada kebahagiaan. Sayangnya, Dimitri bukan tipe pria yang pandai menunjukkan perhatian lewat kata-kata. Ia selalu memilih diam, dan diamnya sering kali disalahartikan. Margaret menghela napas pelan sebelum menyimpan kembali ponselnya. Sementara itu, Zoey masih berdiri di depan pintu ruang yang baru saja menjadi miliknya. Matanya tak lepas dari taman kecil yang terbentang di balik jendela kaca besar. "Emm..." Ia menoleh ke arah Margaret. "Kalau boleh... apa aku bisa sarapan di ruanganku saja?" Nada suaranya terdengar hati-hati, seolah khawatir permintaannya akan dianggap merepotkan. Namun Margaret justru terkekeh pelan. "
"...Berapa lama lagi aku harus hidup dengan pertanyaan yang tak pernah kau jawab, Dimitri?"Tidak ada jawaban.Yang terdengar hanyalah gema pintu yang baru saja tertutup, disusul langkah kaki Dimitri yang perlahan menghilang di sepanjang koridor rumah.Zoey tetap berdiri di tempat. Pandangannya terpaku pada pintu itu, seolah berharap pria tersebut akan kembali masuk dan mengatakan bahwa semua yang terjadi hanyalah kesalahpahaman. Namun harapan itu tak pernah terwujud.Dengan napas panjang, ia mengusap air mata yang masih membekas di pipinya. Kepalanya terasa penuh oleh begitu banyak pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.Akhirnya ia berbalik dan berjalan menuju kamar mandi. Suara air yang mengalir memenuhi ruangan, tetapi tidak mampu mengusir kekacauan di dalam pikirannya.Tiba-tiba sebuah kalimat kembali terngiang di telinganya."Lakukan peranmu dengan baik."Kalimat itu terdengar begitu jelas, seolah seseorang baru saja mengucapkannya tepat di samping telinganya.Zoey memejamkan ma
"Semalam kau pergi ke mana?" tanya Zoey pelan, tanpa mengalihkan pandangannya dari Dimitri. Ruangan itu seketika dipenuhi keheningan. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar, seolah ikut menunggu jawaban yang tak kunjung datang. Dimitri, yang sedang merapikan lengan kemejanya di depan cermin, berhenti sesaat. Ia menoleh ke arah Zoey dengan ekspresi yang begitu tenang, setenang permukaan danau yang tak pernah memperlihatkan apa yang tersembunyi di dasar. "Keluar." Hanya satu kata. Jawaban singkat itu membuat Zoey menghembuskan napas panjang. "Itu bukan jawaban." "Itu jawaban." "Bukan jawaban yang kumaksud." Tanpa menunjukkan tanda-tanda terganggu, Dimitri mengambil jam tangan dari atas nakas. Ia memakainya dengan gerakan santai, seolah pertanyaan Zoey tidak lebih penting daripada rutinitas paginya. Zoey mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Aku bangun tengah malam," katanya lirih, namun jelas. "Ruang kerjamu kosong. Kau juga tidak ada di kamar." Dimitri tidak menyang
Suara air terus mengalir dari balik pintu kamar mandi.Zoey masih berdiri di tempat yang sama, seolah kakinya kehilangan kemampuan untuk bergerak. Tatapannya berulang kali berpindah antara pintu yang tertutup rapat itu dan beberapa tetes darah yang menghiasi lantai marmer putih di dekat kakinya."Siapa yang baru saja kau habisi, Dimitri Volkov?" gumamnya pelan sambil melirik ke arah pintu kamar mandi.Jemarinya mengepal tanpa sadar.Beberapa detik kemudian, suara air itu berhenti.Klik.Pintu kamar mandi terbuka.Dimitri melangkah keluar dengan rambut yang masih sedikit basah. Pria itu berjalan menuju wastafel tanpa mengatakan apa pun, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.Tatapan Zoey mengikuti setiap gerakannya. Hingga akhirnya Dimitri menoleh, dan mata mereka bertemu."Apa?" tanya Dimitri datar.Zoey tersentak kecil."Kenapa kau menatapku seperti itu?"Zoey segera mengalihkan pandangan, tetapi sudah terlambat. Dimitri jelas menyadari ekspresi aneh di wajahnya.Ia menggigit bibir







