แชร์

EPISODE 5 WAJAH DI BALIK KETENANGAN

ผู้เขียน: Vyn
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-18 19:50:46

Lorong bawah tanah itu panjang dan dingin. Zoey berjalan di belakang Andrian tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Suara langkah sepatu mereka menggema pelan di sepanjang dinding beton.

“Ruangan ini aman untuk sementara, Nyonya,” ucap Andrian saat berhenti di depan pintu besi.

Klik.

Pintu terbuka.

Zoey masuk lebih dulu. Matanya langsung menyapu seluruh ruangan. Tidak ada jendela. Satu pintu masuk. Satu kamera di sudut atas.

“Tak ada yang boleh masuk tanpa izin Tuan Dimitri,” lanjut Andrian.

Zoey meliriknya pelan. “Termasuk kau?”

“Kalau diperintahkan, saya tetap masuk.”

Zoey tersenyum kecil. “Setidaknya kau jujur.”

Andrian hanya menunduk singkat sebelum keluar.

BRAK.

Pintu tertutup. Ruangan langsung sunyi. Zoey berjalan mendekati meja kecil di sudut ruangan sambil mengingat kembali kekacauan tadi. Serangan itu terlalu rapi. Target mereka jelas. Dimitri.

Zoey memejamkan mata sesaat. “Starling...” bisiknya lirih.

Nama itu selalu kembali. Namun sebelum pikirannya melangkah lebih jauh...Suara langkah terdengar dari luar. Ia langsung siaga. Tangannya meraih vas besi di atas meja.

Bruk. Pintu terbuka cepat. Dimitri muncul bersama Andrian. Kemeja putih Dimitri penuh bercak darah. Salah satu lengannya robek. Tatapan Zoey langsung tertuju ke rahangnya yang terluka.

“Kau terluka?” Tanyanya sedikit cemas.

“Bukan darahku.” Jawab Dimitri cepat.

Andrian maju sedikit. “Tuan, dokter sudah menunggu di mansion.”

“Batalkan.”

Andrian langsung diam. “Tapi luka Anda—”

“Aku bilang batalkan.” Nada Dimitri langsung memotong.

Zoey menyipitkan mata. “Kau keras kepala sekali.”

Tatapan Dimitri beralih padanya. “Dan kau terlalu banyak bicara.”

Zoey hampir membalas ketika Dimitri tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya.

“Kita pergi.”

“Hei...”

“Sekarang.”

Ia menarik Zoey keluar ruangan tanpa memberi kesempatan untuk protes. Mereka berjalan cepat melewati lorong bawah tanah. Beberapa pria bersenjata berjaga di sepanjang jalan. Zoey melirik mereka satu per satu.

“Pengamanan sebanyak ini?” gumamnya.

“Satu orang dalam kami mati,” jawab Andrian serius.

Zoey langsung menoleh. “Orang dalam?”

“Dia dibunuh sepuluh menit setelah serangan terjadi.”

Tatapan Zoey berubah tajam. “Kalian pikir ada pengkhianat?”

“Bukan pikir,” jawab Dimitri dingin. “Memang ada.”

Mereka tiba di luar gedung. Mobil hitam sudah menunggu. Dimitri membuka pintu belakang lalu mendorong Zoey masuk.

“Sopan sekali,” sindir Zoey.

BRAK. Pintu ditutup keras. Beberapa detik kemudian Dimitri masuk dan mobil langsung melaju cepat meninggalkan area itu. Suasana di dalam mobil terasa berat.

Andrian duduk di depan sambil terus melihat ponselnya. Wajahnya jauh lebih tegang dari biasanya. Ponselnya tiba-tiba berdering.

“Ya.” Ia mendengarkan beberapa detik. Lalu ekspresinya berubah drastis. “Apa?!”

Dimitri langsung menoleh. “Ada apa?”

Andrian menurunkan ponselnya perlahan. “Rumah sakit diserang.”

Deg. Zoey langsung menatapnya.

“Bagaimana keadaan kakek?” tanya Dimitri tajam.

Andrian diam beberapa detik. “Jenazahnya hilang.”

Mobil langsung sunyi. Tatapan Dimitri berubah gelap. “Ulangi.” Suara lebih tegas.

“Jenazah Tuan Nikolai dicuri lima menit lalu.”

Zoey menoleh ke arah Dimitri. Untuk pertama kalinya, ia melihat emosi nyata di wajah pria itu. Marah. Bukan marah biasa. Tapi dingin dan berbahaya. “Putar balik,” ucap Dimitri.

“Saya sudah arahkan orang ke sana,” jawab Andrian cepat. “Kalau kita kembali sekarang, kita terlambat.”

Dimitri mengepalkan tangannya kuat.

Zoey memperhatikan semuanya diam-diam. Lalu berkata pelan, “Ini bukan soal mayat.”

Tatapan Dimitri langsung beralih padanya. “Maksudmu?”

“Mereka mencari sesuatu.” Tambahnya

Andrian mengernyit. “Sesuatu?”

Zoey menyandarkan tubuh pelan. “Kalau Cuma ingin mempermalukan keluarga Volkov, mereka cukup menyerang saat pemakaman.”

“Lalu menurutmu tujuan mereka apa?” tanya Dimitri.

Zoey diam beberapa detik sebelum menjawab, “Mungkin ada sesuatu di tubuh kakekmu.”

Mobil kembali sunyi. “Apa maksudmu?” tanya Andrian serius.

“Bisa jadi bukti.” “Atau pesan.”

Tatapan Dimitri semakin tajam. “Kau tahu sesuatu?”

Zoey tersenyum tipis. “Kalau aku tahu, aku tidak akan duduk diam di sini.”

Belum sempat Dimitri membalas, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal.

Andrian langsung waspada. “Tuan...”

Namun Dimitri sudah mengangkat panggilan itu. Sunyi beberapa detik.

Lalu terdengar suara tawa pelan dari seberang. “Selamat malam, Dimitri Volkov.”

Tatapan Dimitri langsung berubah dingin. “Siapa kau?”

Pria itu tertawa lagi. “Kau terlambat.”

Zoey memperhatikan wajah Dimitri yang perlahan mengeras.

“Kalau ingin melihat mayat kakekmu lagi...” lanjut suara itu santai, “datang sendiri.”

Klik. Telepon terputus.

Mobil dipenuhi ketegangan.

“Lacak nomornya,” perintah Dimitri.

“Sudah mati,” jawab Andrian cepat.

Dimitri menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum berkata pelan, “Ada satu masalah lagi.”

Zoey mengernyit. “Apa?”

Tatapannya beralih lurus padanya. “Dia menyebut namamu.”

Deg.

Tubuh Zoey langsung membeku. “Apa maksudmu?”

Dimitri menatapnya tajam. “Dia bilang...” suaranya merendah, “Bawa gadis Starling itu bersamamu.”

Sunyi.

Andrian langsung menoleh ke arah Zoey.

Ia bisa merasakan tatapan mereka sekarang. Penuh curiga.

“Siapa kau sebenarnya, Zoey?” suara Dimitri terdengar rendah dan menusuk.

Zoey menggenggam jemarinya erat.

"Aku..."

"Kenapa mereka mengincarmu?"

Zoey terdiam.

Dimitri tidak memberinya kesempatan untuk menghindar.

"Siapa sebenarnya kau?"

Hening.

"Apa hubunganmu dengan keluarga Starling?"

Tatapannya semakin tajam.

"Atau jangan-jangan kau bagian dari mereka?"

Zoey menggeleng cepat.

"Bukan."

"Kalau begitu jelaskan."

Zoey mengalihkan pandangan ke jendela mobil.

Lampu-lampu kota berlari di balik kaca.

"Tidak sekarang."

Rahang Dimitri mengeras.

"Aku tidak suka jawaban setengah-setengah."

"Dan aku tidak suka dipaksa menceritakan masa laluku."

Suasana di dalam mobil langsung menegang.

Andrian yang duduk di depan bahkan memilih diam.

Dimitri menatap Zoey beberapa saat.

"Jadi aku harus mempercayaimu tanpa mengetahui siapa dirimu?"

Zoey tertawa kecil.

"Bukankah itu yang sedang kita lakukan sejak awal?"

Dimitri tidak membalas.

Tatapan mereka saling mengunci.

Tidak ada yang mau mundur.

Akhirnya Zoey mengembuskan napas panjang.

"Siapa aku sebenarnya tidak penting untuk saat ini."

"Bagiku itu penting."

"Tidak lebih penting daripada alasan kita bekerja sama."

Dimitri menyipitkan mata.

Zoey melanjutkan,

"Fokus kita sekarang adalah keluarga Starling."

"Dan?"

"Dan mereka baru saja mencuri sesuatu darimu."

Tatapan Dimitri berubah dingin.

Zoey mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

"Mereka mengambil jasad kakekmu."

Sunyi.

"Kalau kau ingin membalas mereka, jika kau ingin mengetahui apa yang sebenarnya sedang mereka rencanakan..."

Ia menatap Dimitri lurus.

"Maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah merebut kembali jasad itu."

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 47 Wajah di Balik Bayangan

    Suasana di dalam rumah mendadak berubah tegang.Tak seorang pun bergerak. Hanya suara napas mereka yang terdengar samar di antara bunyi alarm yang terus meraung. Lampu indikator berwarna merah berkedip tanpa henti, memantulkan bayangan di wajah mereka.Dimitri masih menatap layar monitor.Pria yang berdiri di depan gerbang itu tidak bergerak sedikit pun. Wajahnya tertutup bayangan topi, tetapi ketika kamera memperbesar gambar, kemiripannya dengan Dimitri terlihat semakin jelas.Terlalu jelas. Seolah-olah Dimitri sedang melihat dirinya sendiri dari masa lalu.Dimitri mengepalkan tangan. Ia tidak tahu siapa pria itu, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang terasa begitu familiar.Zoey berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajah gadis itu tampak pucat. Ia beberapa kali menatap layar, kemudian beralih kepada Dimitri."Dimitri..." suaranya terdengar pelan. "Siapa sebenarnya dia?"Dimitri tidak langsung menjawab.Tatapannya tetap tertuju pada monitor. "Aku belum tahu."Victor yang be

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 46 — Tamu di Tengah Malam

    Pintu rumah perlahan terbuka bahkan sebelum Dimitri sempat mengetuk.Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya telah memutih, tetapi sorot matanya masih setajam pisau. Tatapannya langsung jatuh pada Dimitri."Kau terlambat.""Jalanan sedikit ramai," jawab Dimitri tenang.Pria tua itu mendengus pelan. "Kalau masih bisa bercanda, berarti keadaanmu belum terlalu buruk."Barulah pandangannya beralih kepada Zoey."Jadi... ini gadis yang kau bawa."Zoey sedikit gugup. "Saya Zoey."Pria itu mengangguk singkat. "Masuklah. Berdiri di luar terlalu lama bukan ide yang bagus."Rumah itu tampak sederhana dari luar, tetapi bagian dalamnya jauh berbeda. Dinding dipenuhi rak buku tua. Beberapa monitor keamanan menampilkan gambar dari kamera yang terpasang di berbagai sudut halaman. Tak jauh dari ruang tamu terdapat sebuah ruangan dengan peralatan komunikasi dan komputer yang masih menyala.Zoey memperhatikan semuanya dengan heran. "Tempat ini...""Bukan rumah bi

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 45 — Di Balik Topeng Malam

    Petugas berseragam itu berdiri tepat di samping pintu mobil. Senyumnya tampak sopan, tetapi matanya terlalu dingin untuk seorang aparat yang sedang menjalankan pemeriksaan rutin."Silahkan turun, Tuan."Dimitri tidak segera bergerak. Ia justru menatap kartu identitas yang tergantung di dada pria itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya."Lencana yang bagus," katanya datar.Pria itu tersenyum tipis. "Terima kasih.""Tapi sayangnya..." Dimitri memiringkan kepala. "Nomor registrasinya sudah tidak digunakan sejak tiga tahun lalu."Senyum di wajah pria itu menghilang.Dalam hitungan detik, Dimitri membuka pintu mobil dengan tenang lalu berdiri. Zoey yang masih duduk di kursi belakang menahan napas.Keheningan menyelimuti jalan itu. Beberapa pria berseragam lain mulai mengalihkan perhatian mereka ke arah Dimitri."Kalau kalian ingin menggeledah mobilku," ujar Dimitri santai, "setidaknya gunakan identitas yang lebih meyakinkan."Suasana langsung berubah tegang.Namun, pria yang berdiri

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 44 — Bayangan yang Mengawasi

    Peringatan anonim itu masih terpampang di layar ponsel Dimitri, seolah menjadi bayangan yang mengikuti mobil mereka menembus pekatnya malam."Jangan pernah buka flash drive itu... jika kalian masih ingin tetap hidup."Tak ada nama pengirim. Tak ada nomor yang bisa dilacak. Hanya sederet kata yang cukup membuat suasana di dalam mobil berubah mencekam.Zoey memecah keheningan lebih dulu. "Itu... ancaman?"Dimitri tidak langsung menjawab. Ia mengunci layar ponselnya, lalu menyandarkan tubuh ke jok belakang."Bukan sekadar ancaman," ucapnya tenang. "Itu peringatan."Zoey mengernyit. "Apa bedanya?""Ancaman dibuat untuk menakut-nakuti." Tatapan Dimitri tetap lurus ke depan. "Peringatan diberikan oleh seseorang yang tahu apa yang akan terjadi."Jawaban itu justru membuat Zoey semakin gelisah."Berarti... ada orang lain yang mengetahui kita berhasil mengambil flash drive itu?""Ada.""Padahal Dominic sendiri mengira kita pulang dengan tangan kosong.""Itulah yang membuat keadaan menjadi mena

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 43 — Rencana Kedua

    Pesan singkat itu hanya terdiri dari beberapa kata."Misi gagal. Target sudah mengetahui pelacak."Dimitri membaca isi layar ponselnya tanpa mengubah ekspresi. Dalam hitungan detik, perangkat kecil itu kembali masuk ke saku jasnya.Zoey menatapnya cemas. "Gagal?" bisiknya.Dimitri mengangguk tipis. "Rencana A gagal."Jantung Zoey kembali berdebar. "Lalu sekarang?"Sudut bibir Dimitri terangkat membentuk senyum tipis. "Kalau seorang pemain catur hanya menyiapkan satu langkah, dia sudah kalah sejak awal."Zoey mengerutkan dahi. "Maksudmu...""Rencana B."Di sisi lain aula, Dominic Cassarius masih berdiri di tempatnya. Tatapannya sesekali mengarah kepada Dimitri, seolah memastikan tidak ada gerakan mencurigakan.Bagi Dominic, semuanya telah berakhir.Ia yakin orang-orang yang menyamar sebagai Sheikh Khalid Al Rashid itu tidak berhasil mendapatkan apa pun malam ini.Itul

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 42 — Mata yang Terus Mengawasi

    Pesta amal itu terus berlangsung seolah tidak pernah terjadi apa pun.Alunan musik klasik mengisi aula megah, berpadu dengan dentingan gelas kristal dan tawa para tamu yang terdengar hangat. Lampu-lampu gantung memantulkan cahaya keemasan di atas lantai marmer, menciptakan suasana elegan yang mampu menipu siapa saja.Zoey berusaha mempertahankan senyum tipis setiap kali berpapasan dengan tamu lain. Sesekali ia mengangguk sopan ketika seseorang menyapa Dimitri. Dari luar, ia tampak tenang.Padahal, jantungnya berdetak jauh lebih cepat daripada sebelumnya.Tanpa sadar, pandangannya kembali mencari satu sosok di antara kerumunan.Dominic Cassarius.Wanita itu kini berdiri bersama beberapa tokoh penting dunia bisnis. Ia tersenyum, mengangkat gelas wine, lalu tertawa pelan menanggapi lelucon salah satu tamu.Tak ada yang akan mengira bahwa di balik senyum ramah itu, pikirannya masih bekerja tanpa henti.Zoey yakin Dominic belum melupakan dirinya.Wanita itu sedang menyusun potongan-potonga

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status