共有

Chapter 24

作者: Reartha
last update 公開日: 2026-05-25 21:32:32

“Kalau begitu,” ucap Rionegro setelah keheningan cukup lama menggantung di antara mereka, “sebelum kita melangkah lebih jauh... mungkin lebih baik kita benar-benar saling mengenal dari awal.”

Kalimat itu membuat Yusallia terdiam sejenak.

Ada sesuatu yang terasa aneh dari usulan itu, tetapi sekaligus masuk akal. Mereka sudah melewati satu malam yang mengubah hidup keduanya, sudah membicarakan kehamilan, tanggung jawab, bahkan pernikahan. Namun ironisnya, ada begit
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 65

    Hari-hari setelah itu tetap berjalan. Dan justru karena semuanya tetap berjalan seperti biasa, hati Yusallia terasa semakin berat. Pagi masih datang tepat waktu. Alarm masih berbunyi. Cahaya matahari masih jatuh di lantai apartemen dengan warna lembut yang sama. Rionegro masih bangun lebih dulu di banyak hari, menyalakan lampu dapur, menyiapkan sarapan sederhana, memeriksa jam, lalu memastikan vitamin dan susu Yusallia tidak terlewat. Rumah sakit tetap sibuk. Kampus tetap menuntut waktu Rionegro. Malam tetap kembali membawa mereka ke bawah atap yang sama. Tidak ada yang benar-benar berubah dari luar. Namun di dalam diri Yusallia, semuanya justru terasa bergerak ke arah yang semakin melelahkan. Ia menjalani hari-harinya dengan tubuh yang tetap bergerak, dengan senyum yang masih bisa dipasang, dengan jawaban-jawaban yang masih terdengar normal saat orang lain bertanya kabarnya. Di rumah sakit, ia tetap menjadi

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 64

    Hari Minggu itu datang dengan cara yang terlalu tenang untuk hati Yusallia yang sudah terlalu penuh.Pagi turun perlahan ke apartemen mereka lewat cahaya lembut yang menyelinap dari sela tirai ruang tengah, jatuh di lantai, di tepian sofa, dan di wajah seorang pria yang tertidur di sana dengan kepala sedikit miring ke satu sisi. Televisi mati. Laptop di meja masih terbuka setengah. Satu gelas air tinggal separuh. Dan di ruang yang begitu sunyi itu, Yusallia berdiri diam di ambang lorong sambil memandang Rionegro lebih lama dari yang seharusnya.Semalam pria itu tertidur di sofa.Bukan karena ada masalah besar. Bukan pula karena mereka bertengkar. Beberapa hari terakhir justru tidak ada pertengkaran sama sekali. Hanya ada sunyi yang panjang, hati-hati, dan dingin. Rionegro tetap menjalankan semuanya seperti biasa-makanan, jadwal, obat, pengingat kecil, dan segala bentuk perhatian yang bisa ia ukur. Sementara Yusallia, pelan-pelan, belajar hidup di dalam per

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 63

    Seminggu bisa terasa sangat lama ketika dua orang tinggal di bawah atap yang sama, tetapi tidak benar-benar saling menjangkau. Setelah malam itu, malam ketika Yusallia mencoba membuka satu pintu kecil dalam diri Rionegro dan justru merasa langkahnya tertahan di depan sesuatu yang tak bisa ia lewati, apartemen itu tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada suara meninggi. Tidak ada piring dibanting, tidak ada kalimat kasar yang sengaja dilempar untuk melukai. Semuanya tetap rapi. Tetap tenang. Tetap tertata dengan cara yang dari luar mungkin terlihat dewasa dan wajar. Namun justru karena itulah, suasananya terasa jauh lebih dingin. Apartemen itu masih sama seperti sebelumnya. Lampu-lampu tetap menyala hangat saat malam datang. Dapur kecil tetap bersih. Meja makan tetap tertata. Kamar Yusallia tetap nyaman, begitu juga ruang kerja kecil Rionegro yang hampir selalu ditempati pria itu saat ada dokumen yang harus dib

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 63

    Seminggu bisa terasa sangat lama ketika dua orang tinggal di bawah atap yang sama, tetapi tidak benar-benar saling menjangkau.Setelah malam itu, malam ketika Yusallia mencoba membuka satu pintu kecil dalam diri Rionegro dan justru merasa langkahnya tertahan di depan sesuatu yang tak bisa ia lewati, apartemen itu tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada suara meninggi. Tidak ada piring dibanting, tidak ada kalimat kasar yang sengaja dilempar untuk melukai. Semuanya tetap rapi. Tetap tenang. Tetap tertata dengan cara yang dari luar mungkin terlihat dewasa dan wajar.Namun justru karena itulah, suasananya terasa jauh lebih dingin.Apartemen itu masih sama seperti sebelumnya. Lampu-lampu tetap menyala hangat saat malam datang. Dapur kecil tetap bersih. Meja makan tetap tertata. Kamar Yusallia tetap nyaman, begitu juga ruang kerja kecil Rionegro yang hampir selalu ditempati pria itu saat ada dokumen yang harus dibaca. Kota di luar

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 62

    Malam Senin itu datang dengan kelelahan yang menempel tipis di tubuh mereka berdua. Jakarta di luar jendela apartemen masih menyala seperti biasa, dengan lampu-lampu kendaraan yang bergerak panjang di kejauhan dan gedung-gedung tinggi yang tetap hidup bahkan ketika jam kerja orang-orang seharusnya sudah selesai. Di dalam apartemen, suasananya jauh lebih tenang. Lampu ruang tengah dinyalakan seperlunya. Televisi mati. Pendingin ruangan berdengung pelan. Dan aroma makan malam sederhana yang baru saja selesai mereka santap masih tertinggal tipis di udara. Yusallia baru pulang dari rumah sakit satu jam sebelumnya. Hari itu cukup melelahkan. Bukan hari terburuknya, tetapi cukup padat untuk membuat bahunya terasa berat sejak sore. Sementara Rionegro juga baru kembali dari kampus dengan wajah yang tampak sama tenangnya seperti biasa, hanya sedikit lebih lelah di sekitar mata. Mereka sempat makan malam bersama, berbicara seperlunya tentang hal-hal kecil, jam pu

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 61

    Siang di awal pekan selalu punya suasana yang khas di lingkungan kampus.Tidak benar-benar tenang, tapi juga tidak sechaotic jam-jam pagi ketika mahasiswa masih berlarian mengejar kelas pertama mereka. Matahari siang jatuh terang di pelataran fakultas, memantul di kaca-kaca gedung dan trotoar yang mulai dipenuhi bayangan pohon. Dari arah jalan utama kampus, suara motor, langkah kaki, dan percakapan mahasiswa terdengar bercampur jadi latar yang terlalu akrab untuk diperhatikan lagi.Di kafe kecil dekat gedung dosen, suasananya tidak jauh berbeda.Beberapa meja terisi dosen yang sedang makan siang cepat sambil membuka laptop, sebagian lain ditempati mahasiswa yang masih mengerjakan tugas meski jam istirahat sudah berjalan. Mesin kopi sesekali mendesis. Sendok beradu pelan dengan cangkir. Dan di salah satu meja dekat jendela, Savira sudah duduk lebih dulu dengan segelas kopi dingin di tangannya.Ia melirik jam di pergelangan tangan, lalu mendecak kec

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 47

    Siang hari di kampus selalu punya suasana yang khas. Tidak pernah benar-benar tenang, tetapi juga tidak sampai terasa sesak. Di sekitar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, mahasiswa berlalu-lalang dengan ritme yang nyaris sama setiap awal minggu. Ada yang berjalan cepat sambil menatap jam

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 46

    Yusallia menelan ludah. Di sisi lain meja, ibu Rionegro akhirnya membuka suara. Dan reaksinya benar-benar berbeda. Ia tidak tampak marah seperti ayah Rionegro. Tidak juga tampak terkejut berlebihan. Wajahnya tetap datar, nyaris tenang secara profesiona

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 44

    Perjalanan menuju restoran itu berlangsung lebih tenang daripada yang Yusallia bayangkan. Bukan karena ia sudah tidak gugup. Justru rasa gugup itu tetap ada, duduk manis di dadanya dan sesekali bergerak tiap kali mobil berhenti di lampu merah atau berbelok ke jalan yang lebih ramai

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 45

    Pintu ruang VIP itu terbuka pelan. Untuk sepersekian detik, Yusallia merasa seolah seluruh suara di sekitarnya menghilang. Padahal ruangan itu tidak benar-benar sunyi. Pendingin udara tetap berdengung halus. Suara alat makan dari meja lain di luar ruangan mungkin masih ada, hanya t

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status