تسجيل الدخولEric yang sedang memeriksa barisan ketiga juga menyadari kehadiran Boris. "Boris! Hei, Boris!" dia berteriak sambil melangkah mendekat. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau seperti ini?"Tapi Boris melewati Eric begitu saja tanpa menoleh sedikitpun. Seperti sipir kepala itu tidak ada, seperti suaranya hanya angin yang lewat.Eric berdiri membeku dengan wajah yang tidak percaya. Tidak pernah dalam lima belas tahun karirnya ada napi yang berani mengabaikan pertanyaannya secara langsung.Theo yang melihat Boris mendekatinya dengan tatapan kosong itu merasakan ketakutan yang luar biasa. Tubuhnya gemetar hebat, kaki-kakinya terasa lemah hingga hampir tidak bisa menopang berat badannya sendiri.*Dia datang untuk membunuhku,* pikir Theo panik. *Dia masih mau menyelesaikan apa yang dimulainya kemarin.*Napas Theo menjadi pendek dan cepat. Keringat dingin mengalir deras di pelipisnya. Ia ingin lari, tapi kaki tidak mau bergerak. Trauma dari penyiksaan kemarin membuat tubuhnya membeku.Seluruh
Boris hanya bisa mengangguk panik dengan gerakan yang terbatas karena kepala masih ditekan. Tubuhnya gemetar hebat karena ketakutan yang melampaui batas."Bagus," Evan melepaskan tekanannya dan berdiri.Boris terkapar di lantai toilet yang basah dan kotor, terisak tanpa suara. Wajahnya penuh kotoran, wibawanya runtuh total. Sang penguasa Blok E yang dulu ditakuti kini tidak lebih dari manusia patah yang terhina.Evan berjalan ke wastafel, mencuci tangannya dengan sabun seperti tidak terjadi apa-apa. Air mengalir membersihkan darah dan kotoran, suara gemericik air menciptakan kontras aneh dengan isakan Boris di lantai."Ingat baik-baik, Boris!" Evan berkata tanpa menoleh, suaranya bergema di ruang toilet. "Mulai hari ini, kau bukan lagi predator di Blok E. Kau hanyalah anjing yang baru saja dijinakkan. Dan anjing yang baik... tahu kapan harus tunduk."Boris bangkit perlahan dari lantai toilet yang basah dan kotor, tubuhnya masih gemetar hebat. Wajahnya pucat dengan tatapan mata kosong,
Evan bangkit dan berjalan santai menuju belati yang tergeletak di lantai basah. Dia mengambilnya dengan gerakan yang tidak tergesa, memeriksanya sejenak, kemudian melemparnya keluar ruangan dengan kekuatan yang membuat senjata itu melesat dan berhenti saat menancap dalam di dinding.Sony membelalak kaget, penasaran ia menghampiri dan berusaha mencabut belati itu dari dinding tapi tak mampu."Dan sekarang," Evan berbalik menghadap Boris yang masih terduduk, "aku akan meminta baik-baik, maukah kau ikut denganku dan meminta maaf pada Theo atas perlakuan biadabmu kemarin?"Boris menatap Evan dengan mata yang masih penuh kebencian meski bercampur was-was. Ego dan kebanggaannya sebagai salah satu penguasa Blok E tidak mengizinkannya untuk tunduk."Tidak akan pernah!" Boris mendesis dengan suara yang bergetar tapi masih keras kepala. "Lebih baik aku mati daripada meminta maaf pada pecundang seperti dia!"Evan mengangguk perlahan, seperti sudah memprediksi jawaban itu."Baiklah," Evan berkata
Boris menyeringai dengan kepuasan yang prematur. Dia tidak tahu bahwa dia baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya.Tanpa peringatan lebih lanjut, Boris menyerang.Tubuh besarnya meluncur ke depan, belati di tangannya mengarah langsung ke wajah Evan dengan tusukan yang mematikan, bidikan yang sempurna ke mata kanan.Tapi Evan dengan cepat memiringkan kepalanya, belati melewati hidungnya. Begitu dekat hingga Evan bisa merasakan angin dari gerakan itu, tapi tidak menyentuh kulitnya sama sekali.Boris tidak berhenti. Pengalaman bertahun-tahun dalam pertarungan jalanan membuatnya tahu untuk tidak memberikan jeda pada lawan.Dia menyerang lagi, kali ini sapuan horizontal ke arah leher Evan. Gerakan yang dirancang untuk memenggal kepala dalam satu tarikan.Evan refleks menunduk. Bilah tajam itu menyapu udara tepat di atas rambutnya dengan bunyi ‘wuush’."Jangan cuma menghindar, Pengecut!" Boris berteriak dengan frustasi yang mulai menguasai. "Lawan aku sekarang!"Evan hanya mengh
Sony meronta-ronta mencoba melepaskan cengkeraman, kedua tangannya mencakar-cakar lengan Boris dengan sia-sia. Wajahnya mulai membiru, mata melotot penuh ketakutan, lidah hampir terjulur keluar. Ia tak bisa bernapas, paru-paru terasa terbakar meminta oksigen."Ku... kumohon..." Sony berusaha berbicara tapi hanya suara tercekik yang keluar. "Tidak... bisa... napas...""Permintaan maaf saja tidak cukup!" Boris mengangkat tangan kanannya yang memegang belati tinggi-tinggi, bersiap menghajar wajah Sony dengan gagang pisau yang keras.Tapi sebelum tangannya terayun, dari ekor matanya, Boris merasakan kehadiran seseorang yang berdiri di ambang pintu. Kehadiran yang membuat bulu kuduknya sempat berdiri, dan jantungnya berdetak lebih cepat tanpa dia mengerti alasannya.Ia menoleh perlahan, dan membeku.Evan berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan bersilang di depan dada. Posturnya santai, tapi ada sesuatu dalam caranya menatap yang membuat suasana terasa mencekam. Mata robotiknya yang ber
Evan menepuk bahu Theo dengan lembut. "Bagus. Kita mulai latihan besok pagi sebelum sarapan. Sekarang pergi mandi yang bersih. Baumu sangat mengganggu."Theo tertawa untuk pertama kalinya malam itu, suara yang terdengar lega dan penuh harapan. "Baik, Pelatih!"Setelah Theo pergi ke kamar mandi umum untuk membersihkan diri dengan benar, Evan kembali duduk di tempat tidur atas. Tapi kali ini bukan untuk membaca.Dia memutar ulang memori yang didapat dari Theo, menghafalkan setiap wajah yang menyiksa temannya dengan detail yang sempurna.Boris. Wajah pria besar itu muncul pertama dengan jelas. Senyum sadis saat membenamkan kepala Theo ke toilet. Tawa mengejek saat melihat Theo tersedak air kotor.Ricky. Pria jangkung yang meludahi wajah Theo. Ekspresi puas melihat penderitaan orang lain.Miguel. Pemerkosa sadis yang menendang tempat sampah dengan tawa yang mengerikan.Santos. Pria berbadan besar yang mengotori toilet yang sudah bersih tanpa rasa bersalah.Viktor. Yang berdiri di pintu me







