เข้าสู่ระบบFLASHBACK SEBELUM GUANGYI TIBA Di DESA... "Nona, anda akan aman di sini. Jadi, tetap diam, ya," ujar Lidiya setelah memasukkan Ying Xuan ke sebuah ruang bawah tanah. "Lidiya, di sini gelap. Shuan-Shuan tidak suka di sini, Shuan-Shuan mau ke Ibu," rengek Ying Xuan. Lidiya mulai berkeringat dingin. Bukan berarti ia tidak pernah mencoba membawa Ying Xuan ke Nyonyanya. Tapi, saat ia buru-buru menggendong Ying Xuan waktu itu dan melewati kamar sang Nyonya, ia melihat semua orang terkapar tak sadarkan diri. Oleh karena itu, Lidiya yang merasakan bahaya langsung membawa Ying Xuan ke gubuk reyot di tengah hutan sebelah barat, guna menyembunyikannya. "Ny-Nyonya saat ini sedang ada urusan. Nona muda sudah lihat paman menyeramkan tadi, kan. Anggap saja kita sedang bermain petak umpet dengannya dan Nona jangan sampai ditemukan," bujuk Lidiya. "Tapi, Lidiya. Di sini sangat gelap. Shuan-Shuan takut," uj
Melihat tampang pria yang mencurigakan itu, Lidiya spontan menarik Ying Xuan ke belakang untuk melindunginya. "Siapa kau?! Apa kau tahu kalau ini kediaman seorang pejabat. Menerobos masuk tanpa izin akan dikenakan denda..." Lidiya tiba-tiba merasa matanya sangat berat, dan... Brukk! Melihat Lidiya tiba-tiba jatuh pingsan, Ying Xuan kecil langsung menggoyang-goyangkan tubuh Lidiya guna membangunkannya. "Lidiya....Lidiya...kau kenapa?" ujar Ying Xuan kecil. "Pelayan mu sangat berisik, Ying Xuan. Jadi, aku menidurkannya. Sementara dia tersadar, kau ikutlah denganku. Kita memiliki banyak urusan yang harus dibicarakan," ujar pria dengan rambut hijau itu. Tepat saat si pria berambut hijau mengulurkan tangannya ke arah Ying
Dengan ditemani Pelayannya dan Guangyi yang memakai mantra transparan, Ying Xuan bermain dengan sangat gembira. Meski saat itu wajah Ying Xuan dipenuhi kebahagiaan, tapi berbeda halnya dengan Lidiya "Nona terus berbicara sendiri. Apa mungkin...Nona bisa melihat hantu?" gumam Lidiya sambil melirik ke sekitar taman. Lidiya ketakutan. Tapi mengingat tidak terjadi apapun pada Ying Xuan, ia mencoba memberanikan diri dan meyakinkan hatinya kalau hantu yang dilihat Ying Xuan adalah hantu baik. "Lidiya...Lidiya!" panggil Ying Xuan. "Ya, Nona. Apa ada yang anda butuhkan?" tanya Lidiya. "Lidiya, Shuan-Shuan sudah lapar. Ayo kita kembali ke kediaman," ajak Ying Xuan.. "Baik, Nona." Ajakan tersebut sudah dinanti-nantikan
Melihat Guangyi terdiam, Ying Xuan kecil meraih ujung baju Guangyi dengan tangan mungilnya. "Ada apa, Paman?" ujarnya. "Tak apa, Ying Xuan. Tidurlah. Hari-hari ke depannya, kau tidak akan merasakan sakit lagi." "Benarkah?" tanya Ying Xuan kecil dengan raut pucat. "Ya," jawab Guangyi sembari tersenyum lembut. "Hihihi....Paman, kau sangat tampan saat tersenyum. Kau tahu, Paman. Aku sudah menderita sakit seperti ini sejak lama. Mendengar Paman mengatakan aku tidak akan kesakitan lagi, aku merasa sangat senang." Melihat senyum polos Ying Xuan kecil, Guangyi merasa sangat bahagia. Tak lama setelah itu, Ying Xuan akhirnya tertidur lagi. Tidur Ying Xuan kali ini sangat lelap, sampai suara Lidiya yang baru saja pulang, tidak membangunkanny
Setibanya Guangyi di rumah, ia sangat beruntung karena tabib Bai sudah kembali dari rumah pasiennya. "Yang Mulia?! Anda kenapa?" tanya Tabib Bai. "Old Bai! Segera periksa Ying Xuan!" Guangyi membuka lengan jubahnya, dan menampakkan Ying Xuan kecil yang tengah meringis kesakitan. "Apa yang terjadi pada Istri anda, Yang Mulia?" tanya tabib Bai. Guangyi menatap tabib Bai dengan penuh kekesalan."Aku tidak akan datang padamu jika aku tahu apa yang terjadi padanya." "Te-Tenanglah, Yang Mulia. Saya akan segera memeriksanya," ujar tabib Bai sambil menelan ludahnya. Saat Guangyi meletakkan tubuh mungil Ying Xuan di tempat tidur, tabib Bai langsung memeriksa kondisinya. Tabib Bai tampak berkeringat dingin karena melakukan satu kesalahan saja bisa berakibat fatal baginya.
Sementara orang-orang di kediaman pejabat Wang tertidur, Guangyi mengajak Ying Xuan kecil ke sungai terdekat untuk menangkap ikan. Air sungai yang tengah surut, menampakkan pemandangan alam yang sangat indah. Airnya jernih dan terawat, sehingga ikan-ikan yang berenang di air dangkal itu pun terlihat jelas. "Paman! Ikannya sangat besar di sana!" seru Ying Xuan kecil dengan girangnya. "Baik, akan segera ku tangkap untuk Shuan-Shuan kecil," ujar Guangyi. "Hihihi...semangat, Paman! Semangat!" seru Ying Xuan sambil melompat pelan. Karena melompat, Ying Xuan kehilangan keseimbangannya. Batu di sungai sangat licin, mengakibatkan kaki kecil Ying Xuan kesusahan menapak dengan benar. "Kyaaa! Paman!" pekik Ying Xuan. Secepat kilat Guangyi berlari ke arah Ying Xuan dan menangkapnya. Dalam dek
Mendapat kesempatan untuk memojokkan Ying Xuan setelah penampilan bersinarnya tadi, Selir Shuan Shu langsung angkat bicara, karna tak ingin melewatkan moment tersebut. "Ya, Selir Agung. Katakan pada kami, dari siapa anda belajar berpedang? Bukankah...Anda belum pula
Melihat betapa semangatnya Selir Shuan Shu ingin menjatuhkan dirinya, dari balik cangkir anggur yang ia pegang saat itu, Ying Xuan menyeringai. "Manusia fana sangat sombong. Dulu, aku memang pernah menjadi manusia fana, dan sekarang aku juga telah menjadi manus
Soal perjamuan yang akan diadakan istana untuk menyambut para utusan dari Kekaisaran Xianlong. Ying Xuan yang tidak ingin datang dengan penampilan gendutnya, berusaha mati-matian untuk diet sebelum hari perjamuan tiba. Selama diet, Ying Xuan hanya memakan sayur saja
Melihat sikap Ying Xuan yang tenang dan tegas, Kaisar yang merasa situasi itu semakin menarik, mulai melirik ke arah Ibu Suri yang tampak sangat kesal. "Selir Agung, seperti yang kau katakan, atas dasar apa Pelayan rendahan sepertinya harus dipercaya. Kau







