LOGINSaat Ibu Suri terus memelototi Assassin itu agar tidak meliriknya, Ying Xuan yang menyadari hal itu ikut melirik ke arah Ibu Suri sambil tersenyum.
"Jadi, bagaimana anda akan membantahnya sekarang, Ibu Suri?" tanya Ying Xuan. "Penjahat itu bahkan belum mengatakan apa pun dan kau begitu semangat menuduhku, Permaisuri," balas Ibu Suri. "Tapi, dia terus melirik ke arah anda, bisakah anda menjelaskan maksudnya?" taPenguasa Angin terlalu meremehkan sumpah di depan Kaisar langit, hanya karena sang Kaisar baru saja kembali setelah 100.000 tahun. Namun siapa sangka, hal remeh tersebut justru menjatuhkannya. Memalsukan kebeneran di depan sang Kaisar yang memimpin langit adalah sebuah dosa besar. Dengan begitu, Penguasa Angin ditangkap tanpa perlawanan. Kejadian tersebut membuat Penguasa Matahari tercengang, karena reputasi Ying Xuan yang telah hilang selama lebih dari dua puluh tahun lamanya, telah kembali dalam sekejap. "Penguasa Angin tidak pantas mengemban gelarnya karena berbohong. Keserakahan adalah salah satu dari tujuh dosa. Seorang penguasa tidak berhak memiliki itu. Oleh karena nya, dengan otoritasku, aku mencabut gelarnya sebagai Penguasa dan menurunkannya sebagai manusia biasa untuk menjalani tujuh kehidupan kesengsaraan sebagai penebusan dosa!" Mendengar usaha yang ia bangun selama puluhan tahun akan hancur da
Saat ledakan terjadi, Guangyi melihat itu. Guangyi bisa tahu kalau kekuatan yang meledak itu milik Ying Xuan. Dengan tubuh kecilnya yang tidak pernah berkultivasi, mengeluarkan kekuatan sebanyak itu bisa membunuh Ying Xuan. Guangyi mengetahui itu, dan dengan secepat mungkin ia ingin sampai di tempat ledakan umtuk mengatasi situasi terburuk yang akan terjadi. "Ku mohon....ku mohon tidak lagi," ujar Guangyi sambil melompati pohon satu ke pohon yang lain. Sisa satu hari lagi sampai kekuatan Guangyi kembali. Dan hal itulah yang Guangyi sayangkan. "Andai saja aku lebih kuat. Aku akan tiba di sana secepat kilat. Ying Xuanku, ku mohon. Kali ini tunggu aku," ujar Guangyi. Sesampainya Guangyi di sana, ia hanya menemukan sisa keberadaan Penguasa Gunung yang perlahan lenyap dan sisa aura Ying Xuan yang memudar. Guangyi yang panik pun mencari ke segala arah, berharap dapat menemukan Ying Xuan di s
FLASHBACK SEBELUM GUANGYI TIBA Di DESA... "Nona, anda akan aman di sini. Jadi, tetap diam, ya," ujar Lidiya setelah memasukkan Ying Xuan ke sebuah ruang bawah tanah. "Lidiya, di sini gelap. Shuan-Shuan tidak suka di sini, Shuan-Shuan mau ke Ibu," rengek Ying Xuan. Lidiya mulai berkeringat dingin. Bukan berarti ia tidak pernah mencoba membawa Ying Xuan ke Nyonyanya. Tapi, saat ia buru-buru menggendong Ying Xuan waktu itu dan melewati kamar sang Nyonya, ia melihat semua orang terkapar tak sadarkan diri. Oleh karena itu, Lidiya yang merasakan bahaya langsung membawa Ying Xuan ke gubuk reyot di tengah hutan sebelah barat, guna menyembunyikannya. "Ny-Nyonya saat ini sedang ada urusan. Nona muda sudah lihat paman menyeramkan tadi, kan. Anggap saja kita sedang bermain petak umpet dengannya dan Nona jangan sampai ditemukan," bujuk Lidiya. "Tapi, Lidiya. Di sini sangat gelap. Shuan-Shuan takut," uj
Melihat tampang pria yang mencurigakan itu, Lidiya spontan menarik Ying Xuan ke belakang untuk melindunginya. "Siapa kau?! Apa kau tahu kalau ini kediaman seorang pejabat. Menerobos masuk tanpa izin akan dikenakan denda..." Lidiya tiba-tiba merasa matanya sangat berat, dan... Brukk! Melihat Lidiya tiba-tiba jatuh pingsan, Ying Xuan kecil langsung menggoyang-goyangkan tubuh Lidiya guna membangunkannya. "Lidiya....Lidiya...kau kenapa?" ujar Ying Xuan kecil. "Pelayan mu sangat berisik, Ying Xuan. Jadi, aku menidurkannya. Sementara dia tersadar, kau ikutlah denganku. Kita memiliki banyak urusan yang harus dibicarakan," ujar pria dengan rambut hijau itu. Tepat saat si pria berambut hijau mengulurkan tangannya ke arah Ying
Dengan ditemani Pelayannya dan Guangyi yang memakai mantra transparan, Ying Xuan bermain dengan sangat gembira. Meski saat itu wajah Ying Xuan dipenuhi kebahagiaan, tapi berbeda halnya dengan Lidiya "Nona terus berbicara sendiri. Apa mungkin...Nona bisa melihat hantu?" gumam Lidiya sambil melirik ke sekitar taman. Lidiya ketakutan. Tapi mengingat tidak terjadi apapun pada Ying Xuan, ia mencoba memberanikan diri dan meyakinkan hatinya kalau hantu yang dilihat Ying Xuan adalah hantu baik. "Lidiya...Lidiya!" panggil Ying Xuan. "Ya, Nona. Apa ada yang anda butuhkan?" tanya Lidiya. "Lidiya, Shuan-Shuan sudah lapar. Ayo kita kembali ke kediaman," ajak Ying Xuan.. "Baik, Nona." Ajakan tersebut sudah dinanti-nantikan
Melihat Guangyi terdiam, Ying Xuan kecil meraih ujung baju Guangyi dengan tangan mungilnya. "Ada apa, Paman?" ujarnya. "Tak apa, Ying Xuan. Tidurlah. Hari-hari ke depannya, kau tidak akan merasakan sakit lagi." "Benarkah?" tanya Ying Xuan kecil dengan raut pucat. "Ya," jawab Guangyi sembari tersenyum lembut. "Hihihi....Paman, kau sangat tampan saat tersenyum. Kau tahu, Paman. Aku sudah menderita sakit seperti ini sejak lama. Mendengar Paman mengatakan aku tidak akan kesakitan lagi, aku merasa sangat senang." Melihat senyum polos Ying Xuan kecil, Guangyi merasa sangat bahagia. Tak lama setelah itu, Ying Xuan akhirnya tertidur lagi. Tidur Ying Xuan kali ini sangat lelap, sampai suara Lidiya yang baru saja pulang, tidak membangunkanny
Mendapat kesempatan untuk memojokkan Ying Xuan setelah penampilan bersinarnya tadi, Selir Shuan Shu langsung angkat bicara, karna tak ingin melewatkan moment tersebut. "Ya, Selir Agung. Katakan pada kami, dari siapa anda belajar berpedang? Bukankah...Anda belum pula
Setelah Ying Xuan secara tidak langsung menentang otoritas Ibu Suri, para pelayan yang melayani Ibu Suri, mulai menunjukkan sifat sombong mereka terang-terangan. "Humph! Coba lihat siapa ini? Bukankah ini Selir Agung kita yang mulia," ujar salah satu Pelayan yang saat itu tidak sengaja berpapasan
sore harinya, Ying Xuan bersama dua pelayannya yang bernama Rumei dan Shia, tengah berjalan-jalan di taman samping di Istana Harem. "Yang Mulia, di sini adalah tempat kesukaan anda. Dulu, anda sering datang ke sini untuk memetik beberapa tangkai
Di dunia kultivasi, terdapat tujuh Penguasa langit, dan lima Penguasa Bumi. Penguasa langit terdiri dari Penguasa Bulan, Penguasa Matahari, Penguasa Angin, Penguasa Awan, Penguasa Hujan, Penguasa Bintang, dan Penguasa Yin Yang. Sedangkan Penguasa Bumi, terdiri dari penguasa Gunung, Penguasa Lauta







