Masuklima bulan telah berlalu. Selama hidup di Oakhaven, Florence merasa hidupnya lebih tenteram. Walaupun dalam sudut hatinya kosong, asalkan anak dalam kandungannya aman, Florence rasa itu sudah cukup untuk sekarang. "Jangan memaksakan dirimu, istirahatlah." Sebuah suara dari belakang membuat Florence menoleh sebentar. Blake baru saja pulang dari pasar membawa sekarung beras beserta ikan segar. Florence tersenyum samar, kemudian kembali memusatkan dirinya untuk menumbuk beberapa dedaunan herbal. "Ini tinggal beberapa pesanan obat lagi. Berhentilah khawatir," balas Florence dengan ringan. Blake lalu menurunkan karung beras dari pundaknya ke lantai dapur. Ia lalu berjalan menuju bak air untuk mencuci ikan. Florence mengamati Blake dalam diam. Selama mereka di Oakhaven, Blake selalu membawakan bahan makanan untuk Florence dan Elara–anak perempuan yang ia selamatkan dari Ordo Sanctus. Florence dan Blake memutuskan untuk pisah rumah, mengingat mereka pendatang baru di sini. Walaup
Sesuai dengan rencana pelarian mereka, Blake membawa Florence melintasi samudera menuju Kepulauan Oakhaven, sebuah wilayah pesisir terpencil di ujung benua yang dikelilingi kabut tebal dan hutan cemara. Di sana, hukum kerajaan Aethelgard maupun Ironhard hanyalah dongeng jauh yang tak berani menyentuh daratannya. Mereka menetap di sebuah rumah kayu sederhana di pinggir tebing yang menghadap ke laut lepas. Di malam pertama mereka tiba, suara deburan ombak yang menghantam karang menjadi saksi bisu runtuhnya pertahanan emosional Florence. Florence duduk di depan perapian yang menyala, memeluk secangkir teh hangat dengan tangan yang masih gemetar. Blake berdiri di dekat jendela, matanya tetap siaga mengawasi kegelapan hutan di luar, namun hatinya tertuju sepenuhnya pada wanita yang tampak begitu rapuh di depannya. "Blake..." suara Florence memecah kesunyian, parau dan penuh luka. "Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang tidak ada ujungnya." Blake berbalik, menatap Florence dengan
Florence mengerjapkan matanya perlahan. Langit-langit sel yang dingin dan lembap telah berganti menjadi atap kayu tua yang rendah. Suara derit jeruji besi pun menghilang, digantikan oleh suara api yang berderak pelan di tungku kecil. Ia berusaha bangkit, namun kepalanya masih terasa sangat berat akibat sisa obat tidur yang disuntikkan sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di penjara bawah tanah, melainkan di sebuah pondok kecil yang sangat tersembunyi. "Kau sudah bangun?" Florence menoleh. Di sudut ruangan yang remang, seorang wanita berdiri dengan jubah hitam yang menutupi gaun mewahnya. Saat wanita itu mendekat ke cahaya lampu minyak, jantung Florence seolah berhenti. Wajah itu... wajah yang selama ini ia lihat di cermin setiap pagi. "Clarice?" bisik Florence parau. "Iya, ini aku," sahut Clarice dengan nada yang bergetar. Ia tidak berani menatap mata Florence secara langsung. Di samping Clarice, berdiri Blake yang tampak siaga dengan pedang di pingg
Sisa-sisa pemberontak mulai melarikan diri ke arah tebing, namun Duke Cassian tidak membiarkan mereka lolos begitu saja. Ia memacu kudanya dengan beringas; tak ingin menyisakan satu mulut pun yang berani mencoreng kehormatan istrinya."Yang Mulia, tunggu! Itu terlalu berbahaya!" peringat salah satu pengawal dari kejauhan.Duke Cassian tuli terhadap peringatan itu. Ia terus memacu derap langkah kudanya melewati jembatan kayu sempit yang membelah jurang Stonegate. Namun, tepat saat kaki kudanya menginjak bagian tengah jembatan, sebuah ledakan hebat mengguncang fondasi kayu tersebut.BOOM!Bubuk mesiu yang telah ditanam secara rahasia oleh para pemberontak meledak tepat di bawahnya. Lidah api membubung tinggi, melahap struktur jembatan dalam sekejap. Duke Cassian terjebak di tengah kobaran yang meruntuhkan segalanya. Kudanya meringkik ngeri sebelum akhirnya mereka terperosok ke dalam jurang salju yang tak berdasar.Tubuh Cassian menghantam bebatuan tajam sebelum akhirnya tenggelam di bal
Duke Cassian memacu kudanya di garis paling depan. Setiap hentakan tapal kuda yang menghantam tanah salju di perbatasan Stonegate terdengar seperti detak jantung yang memburu. Perbatasan antara Kerajaan Aethelgard dan Ironhard ini tampak begitu suram di bawah langit yang mendung. Dasar keparat! Kutuk Duke Cassian di pertengahan. Pikirannya berkecamuk. Wilayah Stonegate ini selalu saja menjadi duri dalam daging. Ia merasa geram karena para penduduk di sini seolah menutup mata atas kebaikan Florence yang pernah berkunjung ke sini sebagai Duchess Silverhood. Sekarang, mereka justru membalasnya dengan pemberontakan keji, hanya karena termakan fitnah murah bahwa Duchess mereka terlibat dalam kejahatan Ordo Sanctus. Begitu Duke Cassian tiba di titik pertemuan, langkah kudanya terhenti. Di depannya, barisan manusia bertopeng dengan parang yang berkilat di tangan mereka sudah bersiaga. Jumlah mereka tak main-main. Kurang lebih lima puluh orang. Itu adalah angka yang cukup menekan jika di
Florence terdiam. Tenggorokannya tercekat.Anak perempuan itu seharusnya menjadi bukti kunci bahwa Florence menyelamatkannya, bukan menjualnya. Namun, sejak kekacauan di Valeridge pecah dan pengawal bayangan Duke Cassian tidak kembali, mereka menghilang tanpa jejak. Ordo Sanctus pasti sudah melenyapkannya atau menyembunyikannya agar Florence tidak memiliki pembelaan."Saya ... saya tidak bisa mendatangkannya sekarang, Yang Mulia. Berikan saya waktu dan keleluasaan untuk menjemput saksi dari saya. Dia adalah seoran anak yang akan ditumbalkan oleh mereka yang berhasil saya selamatkan," suara Florence lantang meskipun tangannya gemetar.Seorang jaksa berdiri dari duduknya. Ia merapikan sebagian jubahnya yang kusut. "Waktu dan keleluasaan?" Jaksa itu tertawa hambar, suaranya menggema di aula yang dingin. "Sungguh sebuah pembelaan yang klise, Duchess. Anda meminta waktu untuk mencari saksi yang secara 'ajaib' menghilang tepat saat pengkhianatan Anda terbongkar? Tidakkah itu terlalu nyama
Sebelum kereta kuda berangkat menuju dermaga, Duke Cassian, Florence, dan Fabian berkumpul di ruang kediaman mereka di Valeridge yang tertutup rapat. Cahaya lilin yang temaram memantulkan bayangan serius di wajah mereka. "Fabian, kau sudah mengerti tugasmu?" tanya Duke Cassian sembari memeriksa k
Suasana di perjamuan teh semakin memanas dengan tuduhan yang dilemparkan para bangsawan kepada Florence. Namun, keributan itu terhenti seketika saat langkah kaki yang berat dan berwibawa mendekat. Duke Cassian muncul dengan wajah yang jauh lebih dingin daripada biasanya, didampingi oleh Sir Fabian
Pesta jamuan teh di kediaman Marchioness Selva masih berlanjut dengan pertunjukan sirkus. Namun Florence yang tidak begitu menikmatinya, menyingkir untuk berjalan menikmati keindahan arsitektur di sana.Namun ketika ia kembali ke tempat duduknya, kerumunan orang terlihat di satu titik. Florence men
Seminggu telah berlalu semenjak Florence tiba kembali ke Kastil Silverhood. Di tengah huru-hara kabar kehilangan Duke Cassian dan Duchess Clarice saat perjalanan pulang dari Stonegate, mereka tiba dengan dramatis, dijemput oleh prajurit Silverhood pada malam badai salju. Perbincangan hangat tentan